Menggapai Harapan

Menggapai Harapan
Bab 141 Tasya dan Juan?


__ADS_3

"Kakak tidak sedang bercanda bukan?" tanya Clara tidak percaya.


"Ini masih kecurigaan ku, aku akan terus mengawasinya. Padahal kandungan ku sudah besar, jika tahu dia akan begini aku pasti tidak mau hamil lagi,"


Cindy tertunduk sedih, namun masih berusaha menahannya. Clara segera menggenggam tangannya dan berusaha menghiburnya.


"Semoga saja ini hanya prasangka Kakak saja, biasanya orang hamil memang terlalu sensitif. Walaupun kalian waktu itu menikah cepat karena suatu kejadian, tapi aku selalu berharap kalian akan bahagia sampai maut memisahkan," ucap Clara.


"Aku juga berharap begitu Cin, jangan sampai kamu menjadi janda di usia muda. Semoga pernikahan kalian selalu langgeng," sahut Jhony.


Setelah cukup lama mengobrol Cindy berpamitan karena tidak bisa keluar terlalu lama. Clara memberinya sedikit uang namun Cindy menolak, karena dirinya merasa prihatin dengan adiknya yang harus rela jadi pelayan di klub malam demi menghasilkan uang.


***


Di sudut lain kota Surabaya tampak dua orang pria dewasa tengah mengobrol di dalam kantor. Bukan masalah bisnis yang mereka bicarakan, melainkan masalah perasaan yang di terlalu paksakan.


"Mungkin sebaiknya kamu mulai membuka hati, ya walaupun bukan kepada gadis pilihan papa mu, kamu bisa mulai mencoba dengan wanita lain," saran Andre.


"Jika menurut mu itu mudah, kenapa kamu tidak mencobanya sendiri," ucap Juan kesal.


Andre menggaruk kepalanya yang tidak gatal, memang memberi saran lebih mudah dari kenyataannya. Sampai sekarang saja dia juga masih betah menyendiri, patah hati 2x membuatnya enggan membuka hati lagi.


"Aku sama sekali tidak punya pilihan wanita, berbeda dengan mu yang memang ingin di jodohkan orang tua mu. Jujur ya Tasya adalah gadis yang cantik, dari keluarga yang sederajat dengan kita. Tapi jika dia di jodohkan dengan ku pun, aku tidak akan mau,"


Kata-kata terakhirnya membuat mereka sama-sama tertawa terbahak-bahak. Memang gadis yang bernama Tasya itu sangat cantik, kaya dan fashionable, tapi sayang sekali gadis seperti itu bukan tipe mereka berdua. Mereka lebih suka yang natural dan sederhana, seperti Clara dan Cindy.


"Eh tunggu dulu, bukankah kamu ada Sandra. Dia sepertinya sangat mencintai kamu, kenapa tidak kamu terima saja dia," ledek Juan.


"Ok, aku akan terima dia asal kamu menerima Tasya," tantang Andre.


"Sialan kamu, Dre,"

__ADS_1


Juan menimpuk sahabatnya itu dengan bungkus rokok di depannya, namun Andre yang dengan sigap menghindar membuat benda itu justru terkena pria yang berada di belakang Andre. Juan langsung meminta maaf kepada pria itu, sedang Andre menutup mulutnya agar tidak tertawa.


"Semua gara-gara kamu, aku sampai harus minta maaf kepada pria itu," ucap Juan.


"Enak saja, salah siapa tadi main timpuk segala. Aku hanya spontan menghindar,"


keduanya masih saling menyalahkan, walaupun sebenarnya mereka tidak serius. Baru setelah sampai di dalam mobil keduanya kembali tertawa. Dua orang pria yang sama-sama sudah dewasa namun enggan untuk dekat dengan wanita lagi. Entah sampai kapan, mungkin hanya waktu yang bisa menjawabnya.


***


Sementara itu Clara dan Jhony baru sampai di rumah, sebuah mobil mewah terparkir di halaman. Dengan sangat hati-hati mereka mulai memasuki rumah, namun baru sampai di pintu mereka mendengar mami Sita sedang berdebat dengan seseorang.


"Kalau kamu memang menyukai pria itu ya kamu harus berusaha sendiri, jangan selalu mengandalkan mami," ucap mami Sita.


"Bilang saja mami memang tidak mau membantu ku lagi. Mami baik terhadap orang asing namun jahat kepada anak sendiri," balasnya.


"Cukup Tasya, jangan bawa orang lain ke dalam masalah ini. Kamu sudah dewasa, jika kamu memang mencintai Juan ya kamu tahlukkan dia. Percuma jika kamu memiliki raganya namun hatinya bukan untuk mu, jadi wanita harus punya harga diri, jangan sampai mengemis cinta pria," teriak mami.


Jhony dan Clara berpandangan, yang mereka pikirkan sama. Apakah Juan yang sedang mereka bicarakan adalah Juan Hartono yang masih berstatus suami Clara, atau orang lain?


"Aku tidak tahu, Jhon. Aku tidak ingin menduga-duga" jawab Clara.


Sementara mami dan putrinya masih saja berdebat, tidak ada yang mau mengalah. Jhony dan Clara menjadi serba salah, mau masuk atau tetap di luar sama-sama tidak nyaman.


"Kita tunggu dulu saja ya, mereka sedang bertengkar," bisik Clara.


"Heh, kalian sedang menguping ya? Semua ini gara-gara kalian, mami jadi tidak perhatian lagi kepada ku," hardik Tasya.


Mereka sangat terkejut dengan kehadiran gadis itu yang tiba-tiba sudah berada di depan mereka.


"Maaf Kak, kita tidak pernah mempengaruhi mami dengan hal-hal buruk. Tadi kami mau masuk, tapi melihat kalian bertengkar kami jadi sungkan," jawab Clara.

__ADS_1


"Alah kalian alasan saja, awas ya jika memanfaatkan Mami ku," pekiknya.


Dengan langkah angkuh khas wanita kaya yang arogan wanita itu meninggalkan rumah, matanya menatap tajam kepada mereka berdua sebelum akhirnya ia masuk ke dalam mobil mewahnya.


"Loh kalian sudah pulang ya? Sejak kapan kalian di sana?" tanya mami yang melihat mereka di depan pintu.


"Sebenarnya sudah tadi Mi, tapi..." Jhony tak melanjutkan ucapannya karena Clara menyenggolnya.


"Kenapa? Apa kalian mendengar aku bertengkar dengan Tasya?" tanyanya.


"Apa sebaiknya kita cari kos saja Mi, kami tidak mau mami bertengkar dengannya gara-gara kami," jawab Jhony.


Mami menghela napas, ia merengkuh keduanya untuk masuk rumah. Mereka duduk di ruang tamu yang mewah itu.


"Dia itu memang begitu jika keinginannya tidak di turuti, semua orang terkena imbasnya. Selama ini aku selalu mengikuti kemauannya selama itu bisa, tapi jika menyangkut tentang cinta harusnya dia bisa sendiri," jelas mami.


"Bukankah Mami punya uang, biasanya orang kaya akan menggunakan uang dalam hal apapun,"


Jhony dan Clara adalah salah satu korban kedigdayaan kekuasaan oleh orang kaya. Hidup mereka hancur dipermainkan oleh takdir yang tidak dapat mereka tolak.


"Aku tidak seperti itu Sayang, aku sudah berusaha mendekatkan mereka melalui rencana perjodohan dengan orang tuanya. Namun aku bisa melihat dengan pasti, pria itu sama sekali tidak tertarik kepada putri ku. Sepertinya dia mau diajak bertemu hanya karena ingin menghormati orang tuanya saja," jelas mami.


"Seandainya semua orang kaya seperti Mami, pasti tidak ada korban seperti kami," ucap Jhony keceplosan.


"Oh ya? Ceritakanlah apa yang sudah menimpa kalian," pinta mami.


Clara dan Jhony saling bersitatap, mata mereka menyiratkan keraguan. Mereka memang tipe orang yang tidak mudah percaya kepada orang asing, walaupun menurut mereka mami Sita sangat baik, namun banyaknya kejadian membuat mereka menjadi lebih waspada.


"Cerita hidup kami terlalu rumit Mi, nanti jika sudah waktunya akan kami beritahu. Tolong jangan tersinggung ya, Mi," balas Clara.


"Iya tidak apa-apa, kalian istirahat saja ya kalian pasti lelah. Aku akan telepon pak Danuarta dulu, untuk membicarakan masalah Tasya tadi,"

__ADS_1


Mami berlalu begitu saja, meninggalkan rasa gelisah di hati Clara.


'Tidak mungkin semua ini kebetulan, Juan? Danuarta? Apa jangan-jangan memang benar yang akan di jodohkan dengan putri mami Sita adalah suami ku?' batin Clara.


__ADS_2