
Keesokan harinya, Clara menikmati kebersamaan bersama kedua orang tuanya. Sudah lama ia tidak merasakan di manja orang tuanya, kehidupan yang serba sulit membuatnya lebih banyak berpikir dewasa selama ini. Orang tuanya memang tidak pernah membeda-bedakan kasih sayangnya terhadap anak-anaknya, itulah sebabnya mengapa Cindy dan Clara tidak pernah punya perasaan iri satu sama lain.
Karena mall rata-rata baru akan buka pukul 10.00 jadi sambil menunggu mereka menghabiskan waktu dengan menonton tv sambil mengobrol. Pagi-pagi Clara tertidur dalam pangkuan ibunya.
"Tidak terasa ya Pak, anak-anak sudah dewasa, bahkan Cindy sudah menikah dan sebentar lagi akan melahirkan. Kita akan segera di panggil kakek dan nenek," ucap Bu Dina.
"Iya Bu, padahal rasanya seperti baru saja kemarin kita menimang mereka. Semoga anak-anak bisa hidup bahagia semua ya, Bu," balas Pak Jarwo.
"Amin. Tapi aku kok masih kepikiran sama Clara, sampai sekarang orang tua tunangannya masih belum merestui, mereka pasti merasa sedih," ucap bu Dina.
"Kita terus berdoa saja untuk mereka, semoga hati orang tua Nak Juan segera di lembutkan," kata pak Jarwo berharap.
"Iya, Pak. Lihatlah anak kita ini, sepertinya dia sangat merindukan kasih sayang kita, dari pagi maunya bermanja-manja," ucap Bu Dina sambil tetap mengusap-usap rambut Clara.
"Iya Bu, wajar dia seperti itu karena Clara dan Cindy di paksa dewasa sebelum waktunya karena keadaan," balas Pak Jarwo.
Tring... tring... tring...
Ponsel Clara berdering, dengan malas dan masih setengah mengantuk ia menggapai ponselnya yang ia letakkan di meja sebelah sofa tempatnya berbaring.
"Iya, halo," jawabnya sembari menguap.
"Tumben tidak ucap salam Sayang, kamu baru bangun tidur ya?" tanya Juan.
"Ya maaf, aku mengantuk sekali. Assalamualaikum Sayang," jawab Clara.
"Waalaikum salam, pasti ketiduran di pangkuan ibu lagi ya?" tanya Juan.
"Kok kamu tahu sih, sudah ngalahin cenayang saja," jawab Clara.
"Hati kita kan saling terhubung, jadi pasti tahu. Oh ya setengah jam lagi aku sampai sana, kalian siap-siap ya," ucap Juan.
"Baiklah, sampai ketemu nanti. Assalamualaikum," ujar Clara.
"Waalaikum salam,"
Clara dan orang tuanya segera berganti pakaian, mereka mengenakan baju sederhana yang nyaman di pakai. Tiga puluh menit kemudian Juan tiba.
__ADS_1
"Sayang, ibu dan bapak tanya apa kamu tidak malu pergi dengan mereka yang penampilannya sederhana begitu?" tanya Clara.
"Buat apa malu, yang penting bersih dan nyaman di pakai, tidak perlu terlalu peduli terhadap penilaian orang lain," jawab Clara.
"Tuh kan apa Clara bilang, Bapak dan Ibu seperti baru mengenal Juan saja," ucap Clara.
"Maaf ya Nak, kami hanya takut mempermalukan kamu dengan penampilan kami yang seperti ini," ucap Pak Jarwo.
"Saya tidak malu kok Pak, ayo kita berangkat," ajak Juan.
Hanya butuh waktu sekitar 20 menit untuk tiba di tempat tujuan. Mall masih belum terlalu ramai karena baru saja buka.
"Kita ke salon saja dulu biar badan segar, di sana ada spa, facial, creambath, dan pijat refleksi juga biasanya ada," ajak Juan.
"Tapi apa pria seperti kita juga akan di dandani, Nak?" tanya pak Jarwo dengan polos.
"Salon tidak hanya untuk rias wajah Pak, kita bisa keramas sambil di pijat-pijat, ada pijat refleksi juga, dan banyak lagi pilihan lainnya," jawab Clara.
"Oh, kirain," pak Jarwo baru paham.
Akhirnya mereka semua sepakat untuk memilih pijat refleksi semua. Walaupun hanya 30 menit namun sudah membuat peredaran darah tubuh mereka semakin lancar sehingga badan terasa lebih nyaman.
"Mereka pasti tidak mau, Sayang," ucap Clara.
"Kalau begitu kamu yang membantu mereka memilih semuanya, jika kalian tidak memilih maka aku yang akan memilih untuk semuanya," balas Juan.
"Ya, baiklah," ucap Clara mengalah.
Mereka pun pergi berbelanja pakaian dan yang lainnya. Clara membantu orang tuanya memilih, karena mereka awalnya tidak mau. Clara juga tidak ada pilihan selain mengikuti kata-kata Juan, karena jika sampai Juan yang memilih pria itu pasti akan memasukkan apa saja yang menjadi pilihannya tanpa melihat harganya. Berbeda dengan Clara yang selalu melihat harganya dulu sebelum memasukkan ke tas belanjanya.
Lima belas kantong belanja sudah memenuhi dua troli yang mereka bawa. Setelah lelah berbelanja mereka memutuskan beristirahat sambil makan di restoran. Awalnya Clara meminta di makan di foodcourt, tapi Juan menolak karena ingin membawa calon mertuanya ke tempat yang lebih nyaman.
"Nak Juan kenapa tidak makan di pinggir jalan saja, harga makanan di sini bisa buat beli beras 10 kilo," ucap bu Dina saat melihat daftar menu.
"Tidak apa-apa, Ibu dan Bapak kan jarang main kesini seperti ini. Sudah jangan di lihat harganya, ibu pilih saja mana yang ibu suka," balas Juan.
"Tapi sayang uangnya, Nak," ucap bu Dina lagi.
__ADS_1
Sebelum Juan menjawab, ada seseorang yang menyentuh pundaknya dari belakang, membuat dirinya segera menoleh.
"Loh Mama, kok ada di sini? Mama dengan siapa?" tanya Juan terkejut.
"Ini sedang makan dengan papa mu, itu dia di sana," tunjuk ibunya.
"Oh begitu. Oh ya Ma kenalkan ini orang tua Clara," Juan memperkenalkan mereka.
"Oh iya, saya namanya Juan," sapa ibu Juan ramah.
"Kami orang tua Clara," balas ibu Clara tidak kalah ramah.
Mereka bersalaman dan saling mengenalkan diri, ibu Clara tidak menyangka ternyata ibu Juan ramah sekali, padahal setahunya orang tua Juan tidak merestui hubungan mereka.
"Ya sudah di lanjut saja, saya mau kembali kesana. Clara, Juan, mama kembali ke tempat papa ya," ibu Juan berpamitan.
"Iya, Ma,"
"Iya, Tante,"
"Pak, ibu mau pipis tolong di antar ya," pinta ibu Clara.
"Bapak mana tahu tempatnya, Bu," ucap Pak Jarwo.
"Mari saya tunjukkan Pak, Bu, sekalian saya mau ke kasir," ajak Juan.
"Ayo, Nak," pak Jarwo dan bu Dina segera bangkit mengikuti Juan.
"Toiletnya ada di belakang kasir, Ibu dan Bapak lurus saja ke belakang. Saya mau membayar dulu di kasir ya,"
"Iya Nak, terima kasih," ucap Pak Jarwo.
Mereka segera ke belakang sesuai petunjuk Juan, benar saja tidak jauh dari sana ada toilet pria dan wanita. Baru saja akan masuk mereka di sapa seseorang.
"Kalian orang tua Clara ya?" tanyanya.
"Iya benar, Pak," jawab pak Jarwo.
__ADS_1
"Kalian sama saja dengan putri kalian, memanfaatkan putra ku untuk kesenangan kalian. Kalian hanya mengejar harta anak ku, dasar orang kampung! Sampai kapanpun aku tidak akan merestui mereka," ucapnya lalu pergi meninggalkan orang tua Clara yang masih diam karena merasa bingung dan terkejut.