
"Apa Mas Bagas serius?" tanya Bella masih belum percaya.
"Tentu saja, Bel," jawabnya mantap.
"Tapi Mas Bagas belum begitu mengenal ku, aku takut nanti Mas kecewa setelah tahu kekurangan ku," ucap Bella.
"Kalau kita mencari yang sempurna tidak akan pernah ada, kita hanya bisa saling melengkapi, saling mengerti dan menghargai," balas Bagas.
"Iya, Mas benar," ucap Bella setuju.
"Lalu apa jawaban mu, Bel?" tanyanya tak sabar.
"Iya Mas, aku bersedia," jawabnya malu-malu.
"Alhamdulillah, semoga aku tidak mengecewakan mu. Aku akan berusaha untuk membuat mu selalu bahagia," ucap Bagas.
"Iya Mas, aku percaya Mas orang yang baik," balas Bella.
"Terima kasih, ayo kita makan dulu nanti keburu dingin makanannya," ajak Bagas.
"Iya, Mas,"
Makan malam ini mungkin takkan pernah mereka lupakan. Ternyata rencana Juan dan Clara mendekatkan mereka berhasil. Mereka pasti senang jika mengetahuinya.
"Ehem, ehem, kalian masih betah ya di sini?" goda Juan melihat Bagas dan Bella masih asyik saling berpandangan.
"Apa sih Mas, mengganggu saja," jawab Bagas pura-pura tidak peduli.
"Dih yang lagi jatuh cinta terasa dunia milik berdua, yang lain ngontrak," ledek Juan.
"Hahaha, iya nanti Mas Juan bayar kontrak pada ku," sahut Bagas tidak bisa menahan tawa lagi.
"Hahaha, kita tinggal saja mereka, sepertinya mereka betah di sini, Sayang," ucap Clara.
__ADS_1
"Kalian mau lari dari tanggung jawab ya, sudah membawa kami kesini malah mau di tinggal," balas Bagas.
Mereka bercanda, saling menggoda satu sama lain membuat tempat itu ramai dengan tawa mereka. Karena banyak pasang mata yang melihat mereka, mereka memutuskan untuk pulang saja.
***
Sementara itu di desa, Jhony sedang di buat kesal dengan ibunya yang memaksa menjodohkannya dengan seorang gadis di desanya yang masih tetangga jauh dengan mereka.
"Kamu kenapa menolak, Jhon? Sinta itu gadis yang baik, berpendidikan, keluarganya juga jelas bibit, bebet, bobotnya," tanya bu Tini.
"Bu, Jhony masih belum ingin menikah. Aku masih belum punya pekerjaan yang pasti, jadi tolong jangan paksa aku," jawab Jhony.
"Ibu tidak ingin kamu langsung menikah, berkenalan saja dulu agar tahu dia itu gadis yang baik. Kamu bisa kerja membantu pamannya seperti biasanya. Cindy saja sudah mau menikah, kamu calon saja belum punya," balas bu Tini.
"Tetap saja walau awalnya hanya perkenalan, nantinya ibu pasti menyuruh cepat menikah. Aku masih ingin membahagiakan ibu, tolong jangan carikan aku jodoh dulu. Biarlah aku mencari gadis pilihan ku sendiri," ucap Jhony.
"Tapi kapan, Jhon? dari dulu selalu bilang seperti itu, tapi nyatanya sampai detik itu belum ada seorang gadis pun yang kamu kenalkan. Bapak mu sudah tidak ada, ibu juga sudah tua. Harus menunggu sampai kapan lagi, ibu ingin segera menimang cucu, ingin melihat kamu bahagia," balas bu Tini mulai menitikkan air mata.
"Jaga bicara mu itu, jangan sampai malaikat mengamini dan membuat perkataan mu menjadi nyata. Ibu sudah tua, ingin seperti orang lain yang sudah menggendong cucu. Kamu memang tidak memikirkan perasaan ibu mu ini, Jhon," balas ibunya kesal.
"Maksud Jhony bukan begitu, Bu. Aku hanya tidak ingin cepat-cepat menikah, aku belum siap untuk bertanggung jawab terhadap hidup orang lain. Masalah nikah itu tidak mudah, harus benar-benar siap mental dan juga materi. Jhony masih belum mapan, orang tua gadis itu juga pasti mikir bagaimana nanti aku akan menafkahi anaknya jika pekerjaan ku saja belum jelas," ucap Jhony bijak.
Kali ini Ibu Tini tidak membalas ucapan Jhony, sebenarnya ia hanya ingin melihat putra semata wayangnya hidup bahagia sebelum ia tiada. Mungkin ia terlalu memaksakan kehendak, padahal ia sadar apa yang di ucapkan Jhony itu benar, tidak akan ada orang tua yang telah jika anak gadisnya hidup menderita karena suaminya belum punya pekerjaan tetap.
"Sebenarnya ibu hanya meminta mu untuk berkenalan saja dulu, agar kalian sama-sama tahu. Perkara lanjut atau tidak, ibu hanya bisa berdoa yang terbaik untuk mu, Nak," balas bu Tini, kali ini dengan nada lembut.
Jhony melangkah menghampiri ibunya, ia mengusap wajahnya dengan penuh rasa sayang. Wajah keriput ini adalah bukti kasih sayangnya selama ini kepada putranya. Sayang sekali setelah melahirkan Jhony waktu itu dia di vonis tidak bisa hamil lagi karena suatu hal yang tidak ibunya jelaskan. Sehingga bisa di pastikan Jhony adalah sumber kebahagiaannya apalagi setelah kematian ayahnya.
"Sabar ya Bu, aku akan selalu akan mencoba membuat mu bahagia dengan cara ku. Aku bukannya tidak mau berkenalan dengan seorang gadis, hanya saja aku masih belum siap. Tolong mengerti ya, Bu," ucapnya lembut.
"Maaf ya Nak, ibu terlalu egois pada mu. Ibu hanya ingin memastikan kamu bahagia sebelum kepergian ibu untuk selama-lamanya," balas bu Tini lirih.
"Jangan berkata seperti itu, Ibu akan panjang umur sampai aku menikah dan sampai keturunan-keturunan ku nanti lahir," ucap Jhony.
__ADS_1
"Amin, semoga Allah mengabulkan doa mu itu," ujar bu Tini.
Tiba-tiba pintu di ketuk, terdengar seorang gadis memberi salam di depan rumah. Bu Tini segera melangkah memenuhi panggilannya.
"Waalaikum salam, eh Nak Sinta ayo masuk," sambut bu Tini mempersilahkan tamunya masuk.
"Terima kasih, Bu," ucap Sinta sembari masuk ke dalam rumah.
"Ini ada sedikit oleh-oleh dari ibu, beliau baru datang dari Banyuwangi. Semoga ibu suka ya," ucap gadis itu sembari tersenyum.
"Terima kasih sudah repot-repot memberi ini, sampaikan rasa terima kasih untuk ibu mu ya," balas bu Tini.
"Iya, Bu. Tidak repot kok, ibu juga sering memberikan kami makanan, apalagi jika Nas Jhony datang dari Surabaya," ujarnya.
"Oh iya Jhony sedang ada di sini, sebentar ibu panggil. Jhon, Jhony sini sebentar ini ada tamu," panggil bu Tini.
"Ya, Bu," jawab Jhony segera melangkah keluar dari kamarnya.
"Ini Nak Sinta membawakan kita oleh-oleh, katanya ibunya baru datang dari Banyuwangi," jelas bu Tini.
"Oh iya, terima kasih Sinta," ucap Jhony kaku.
Sebenarnya mereka telah mengenal sejak kecil bahkan sering bermain bersama, hanya saja saat sudah sekolah mereka jarang bertemu lagi karena sidang mempunyai teman masing-masing. Selama ini ia hanya mendengar cerita gadis ini melalui ibunya yang tiada hentinya memujinya. Jhony tidak menyangka Sinta sekarang tumbuh menjadi gadis cantik, tidak mungkin rasanya dia belum punya kekasih.
"Sama-sama Mas, sudah lama pulang ke desa ini Mas?" tanya Sinta mencoba mencairkan suasana.
"Baru beberapa hari kok, sekarang kegiatan mu apa?"
"Aku sudah bekerja, jadi admin di gudang tembakau Mas,"
"Wah kamu wanita karir ya, pasti sudah punya kekasih ya," tebak Jhony.
Gadis itu tidak langsung menjawab, ia melirik Jhony dan juga bu Tini yang sepertinya sedang menunggu jawabannya.
__ADS_1