
Bagas segera menggendong tubuh Juan yang sudah tergeletak di depan kamar mandi. Ia segera menghubungi dokter keluarga Juan untuk datang memeriksanya.
"Bagaimana keadaannya, Dok?" tanya Bagas.
"Tubuhnya sangat lemah, sebaiknya di pasang infus jika memang kesulitan untuk makan. Sepertinya dia sangat depresi sekali jadi kalau bisa jangan pernah tinggalkan dia sendiri," jawab dokter ini.
"Sayang kamu di mana, jangan tinggalkan aku," Juan mengingau.
Bagas dan dokter menghela napas dalam, sepertinya Juan benar-benar terpukul akan kepergian istrinya.
"Tapi saya tidak bisa bersamanya setiap saat karena banyak yang juga harus saya urus, saya sudah berjanji untuk mencari istrinya sampai ketemu," ucap Bagas.
"Lebih baik memakai jasa perawat, selain bisa merawat mereka juga lebih tahu tentang apa yang harus di lakukan terhadap pasien," dokter itu memberi saran.
"Baik saya setuju, tapi tolong perawatnya jangan yang muda ya Dok," ucap Bagas.
"Baik, besok pagi saya antar kesini,"
"Ok Dok, terima kasih ya," Bagas mengantar dokter itu sampai depan pintu.
Bagas segera mendekati Juan yang masih tertidur. Ia merasa sangat kuatir sekali dengan kondisinya. Ia memutuskan untuk memberitahu ibunya Juan, bagaimanapun Juan adalah darah dagingnya.
"Tante, Bagas hanya ingin memberi tahu jika Mas Juan sedang sakit. Ia sangat terpukul karena istrinya pergi, sekarang dia depresi sekali sampai tidak mau makan," ucap Bagas.
"Apa? Dia ada di mana sekarang?" tanya ibunya Juan sangat kuatir.
"Di apartemennya, besok aku mulai memakai jasa perawat untuk menjaganya. Aku harus segera menemukan Clara, jika tidak Mas Juan bisa gila karena dia sangat mencintai istrinya," jawab Bagas.
"Baiklah aku segera kesana sekarang," ibunya Juan segera bergegas menuju apartemen.
Sekitar dua puluh menit kemudian pintu apartemen di ketuk seseorang. Ternyata ibunya Juan yang datang, Bagas segera membukakan pintu untuknya.
"Bagaimana keadaan Juan?"
"Tadi aku sudah menyuapinya, dia hanya makan sedikit. Sekarang dia sudah tertidur lagi. Keadaannya sangat memprihatinkan, Tante," jawab Bagas.
__ADS_1
Bagas segera mengantarnya ke kamar Juan. Ibunya menangis tersedu melihat kondisi putranya yang memprihatinkan.
"Hari ini biar aku yang menemaninya, kamu pulang saja. Tapi besok kamu datanglah kesini lagi," ucap ibunya Juan.
***
Di tempat lain Clara yang sedang sibuk mempersiapkan surat lamaran kerja untuk besok baru saja membaringkan tubuhnya di kasur. Kesibukan membuatnya sedikit lupa dengan kesediannya, namun ketika sendiri dalam kesunyian seperti saat ini membuatnya teringat kembali kepada suaminya.
"Juan, kamu sedang apa di sana? Apa kamu merindukan aku seperti aku merindukan mu? Apakah kamu mencari ku?" ucap Clara penuh tanda tanya.
Ia mengambil foto pernikahannya, di tatapnya wajah tampan suaminya dalam foto dengan berurai air mata. Rasa rindunya membuncah membuat dirinya tidak tahan untuk menangis. Setelah beberapa lama dia tertidur karena kelelahan.
Keesokan harinya setelah sarapan dan mengenakan pakaian rapi untuk melamar pekerjaan, ia pergi ke rumah pak Iman.
"Assalamualaikum," Clara memberi salam.
"Waalaikum salam, eh Nak Clara, ayo masuk," ajak bu Rina.
"Iya Bu, terima kasih,"
"Ada, sedang sarapan. kata bapak, Nak Clara mau mencari kerja ya?" tanya bu Rina.
"Benar Bu, katanya di sini banyak home industri dan pabrik. Saya tidak keberatan kerja apa saja yang penting halal," jawab Clara.
"Semoga di terima ya Nak, yang sabar saja setiap manusia pasti di beri cobaan, hanya saja berbeda-beda ujiannya. Semoga semua segera berlalu dan bisa kembali berkumpul bersama keluarga," ucap Bu Rina.
"Amin, terima kasih ya Bu,"
Saat mereka mengobrol pak Iman datang dari arah dapur dan ikut bergabung.
"Nak Clara apa tidak keberatan jika bapak mengantar pakai motor, karena lebih menghemat waktu?" tanya pak Iman.
"Tidak apa-apa Pak, dengan begitu justru akan lebih cepat sampai dan tidak terkena macet," jawab Clara.
Mereka akhirnya berangkat. Clara menaruh lamaran kerjanya di pabrik gula, pabrik biskuit dan pabrik makanan ringan, dan yang dua lagi ia taruh di home industri sepatu, tas dan sandal di dekat kosnya.
__ADS_1
"Di sini kerjanya sistemnya borongan, upahnya juga tidak banyak karena kita cuma home industri. Mbak sangat cantik dan sepertinya dari kalangan ekonomi menengah keatas, apa bisa bekerja seperti ini?" tanya bu Ina, pemilik home industri itu.
"Tidak masalah Bu, sebelumnya saya juga pernah kerja di pabrik walau hanya sebentar. Saya hanya orang biasa kok Bu, rumah saya jauh di desa 5 jam dari seni," jawab Clara.
"Oh begitu, kalau memang berminat besok pagi bisa mulai kerja di sini," ucap bu Ina.
"Sungguh, Bu?" tanya Clara masih belum percaya.
"Benar, yang penting serius dan niat bekerja. Nanti kita ajari karena kita juga baru mulai merintis juga, kita memberikan kesempatan kepada orang-orang yang memang mau belajar dan serius bekerja," jawab bu Ina.
"Alhamdulillah Bu, saya sangat senang dan bersyukur sekali," ucap Clara.
Setelah mereka berbicara tentang upah, waktu kerja dan hal lainnya Clara akhirnya berpamitan.
"Bagaimana Nak Clara, apa di terima?" tanya pak Iman.
Clara menunjukkan wajah murung, wajahnya tertunduk membuat pak Iman mengira dia tidak dapat pekerjaan.
"Ya sudah Nak tidak apa-apa, nanti kita cari yang lain ya. Sekarang kita pulang dulu, ayo makan siang dulu di rumah bapak," ucap Pak Iman.
"Tapi saya di terima, Pak," balas Clara sembari mengubah mimik wajahnya dari sedih menjadi gembira.
"Alhamdulillah, bapak kita tidak di terima. Wajah Nak Clara tadi seperti bersedih," ucap Pak Iman.
"Maaf ya Pak, tadi hanya ingin menggoda Bapak. Saya lihat bapak terlalu kuatir kepada saya, padahal kita baru kenal tapi Bapak sudah menganggap saya seperti keluarga. Terima kasih ya, Pak," balas Clara tulus.
"Sama-sama Nak, bapak sudah pernah merasakan kesusahan dan alhamdulillah juga ada yang menolong. Jadi sekarang juga ingin memberi pertolongan kepada siapa saja yang membutuhkan, selama bapak mampu," pak Iman kembali teringat masa lalunya yang pernah di tolong orang baik.
"Bapak benar, jika kita berbuat baik pasti akan di balas dengan kebaikan juga," ucap Clara.
Mereka kembali ke rumah pak Iman, setelah shalat dzuhur mereka makan siang bersama. Clara merasa mempunyai keluarga kedua, keluarga pak Iman begitu baik dan tulus kepadanya. Kesedihan akibat harus jauh dengan suami dan keluarga sedikit terobati dengan kehangatan keluarga pak Iman.
"Pak, Bu, Saya pamit dulu ya. Alhamdulillah tempat kerjanya dekat jadi saya tidak perlu naik angkot, ini untuk Bapak dan Ibu tolong di terima ya. Saya sangat berterima kasih atas segala bantuannya, saya akan sering bersilaturahmi kesini," ucap Clara sembari memberikan sedikit uang untuk mereka.
"Tidak perlu Nak, kita ikhlas," tolak pak Iman halus.
__ADS_1
"Rejeki jangan di tolak, tidak baik. Jangan kuatir saya masih ada pegangan, saya jalan saja Pak karena ada kebutuhan yang harus di beli. Assalamualaikum," Clara berpamitan dan memaksa memberikan uang itu, sehingga pak Iman tidak dapat menolak lagi.