Menggapai Harapan

Menggapai Harapan
Bab 135 Menyusun Masa Depan


__ADS_3

"Tidak Pak, lebih baik seperti ini saja. Aku tidak ingin mengambil resiko atas nyawa keluarga ku, biarlah aku simpan rasa cinta ini. Semoga saja dia bisa merelakan kepergian ku dan mendapat gadis yang lebih baik yang sesuai kriteria ayahnya," ucap Clara.


"Memangnya ada apa, Clara? Kenapa kamu meninggalkan Juan, dia begitu merana? Kamu menghilang kemana sekian lama ini?" tanya Jhony beruntun.


Clara dan pak Jarwo beradu pandang, memang tidak ada yang tahu masalah ini selain dia dan keluarganya, bahkan Cindy juga tidak mengetahui hal ini. Kekuatiran tentang diri masing-masing membuat mereka menjaga rahasia ini rapat-rapat.


"Aku tidurkan Axel dulu ya, setelah itu akan aku ceritakan,"


Clara segera membawa Axel ke kamar, setelah yakin putranya nyenyak barulah ia keluar. Tampaknya Jhony sudah tidak sabar menunggu ceritanya, ia tetap di tempat duduknya tidak bergeser sedikitpun.


"Apa yang terjadi sebenarnya, Clara? Kamu sangat mencintai Juan, pasti ada alasan yang sangat kuat hingga kamu sampai meninggalkannya, iya kan?" tanya Jhony penasaran.


"Tapi janji ya, jangan ceritakan hal ini kepada siapapun bahkan ibu mu," pinta Clara.


"Iya, aku pasti merahasiakannya," ucap Jhony mantap.


Clara mengambil tasnya, ia terlihat mengambil sesuatu. Sebuah kamera, bukti yang selama ini ia bawa kemanapun ia pergi. Perlahan ia menyalakan kamera itu. Jhony tampak serius melihatnya, ia menutup mulutnya agar tidak berteriak.


"Aku ingat, waktu itu orang tua mu di jemput mobil. Aku pikir itu suruhan saudara mu atau suami mu, ternyata..."


Jhony sangat terkejut, ternyata masalah mereka sangat serius. Ayah Juan adalah orang yang berkuasa, ia mampu berbuat apapun tanpa tersentuh hukum. Sebesar apapun cinta seseorang, tidak mungkin akan mengorbankan keluarganya. Ia mendukung tindakan Clara, menurutnya ini sepertinya jalan yang terbaik.

__ADS_1


Sangat di sayangkan Juan tidak tahu bahwa Clara hamil dan telah melahirkan putranya, ia pasti sangat bahagia jika mengetahuinya. Diam-diam rasa iba menyelusup ke jantungnya, namun ia tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya mampu berdoa agar mereka sama-sama merasakan bahagia, walau tidak bersama.


"Aku sangat bingung waktu itu, beruntung ada pak Iman yang menolong. Aku sama sekali tidak punya tujuan, beruntung Tuhan memberi jalan lewat beliau," ucap Clara mengenang saat itu.


"Kasihan sekali kamu, beban mu sangat berat. Harus terbiasa hidup sendirian, walau bersuami dan memiliki keluarga. Kamu wanita yang hebat, Clara," puji Jhony tulus.


"Beruntung aku bertemu orang yang sangat baik, mereka di sana semua tulus membantu,"


Clara bercerita panjang lebar tentang kejadian selama dia di perantauan sendirian, harus kos dan bekerja untuk bertahan hidup. Ia selalu mengirim orang tuanya setiap bulan, namun ia tidak pernah memberi kabar.


Pak Jarwo begitu terkejut karena selama ini tidak pernah mengecek rekeningnya, karena Cindy juga sudah tidak bisa mengirim, keadaan ekonomi mereka sedang sulit setengah tahun belakangan. Clara juga baru tahu jika kakaknya sedang hamil anak kedua, padahal anak pertamanya belum ada satu tahun usianya. Mereka asyik mengobrol melepas rindu dan baru bubar kala Axel menangis karena haus.


***


Pagi-pagi sekali pak Iman pamit pulang setelah sarapan. Orang tua Clara mengucapkan banyak terima kasih kepada beliau, Clara memberikan uang kepada beliau namun di tolaknya karena sudah menganggap Clara putrinya sendiri.


"Jangan Nak, bapak ikhlas kok. Kamu lebih membutuhkannya untuk merawat Axel, bapak insyaallah ada rejeki lain," tolaknya halus.


"Untuk Axel sudah ada sendiri, ini untuk Bapak bisa buat uang kuliah Sandra. Rezeki tidak boleh di tolak," ucap Clara.


Pak Iman tetap tidak mau menerima, namun Clara tahu uang itu sangat berguna untuknya. Diam-diam dia menaruhnya di tempat duduk depan, di taksinya. Beliau baru sadar setelah sampai probolinggo, saat akan membeli bensin ia melihat amplop di tempat duduk bagian depan. Betapa terkejutnya ternyata setelah di buka berisi uang yang cukup banyak. Segera ia menghubungi Clara, setelah tahu jika itu memang untuknya ia hanya bisa berterima kasih dan berdoa untuk gadis itu dan keluarganya.

__ADS_1


***


Hari berlalu dengan begitu cepat, kehadiran Axel membuat Clara sedikit lupa kepada suaminya. Kesibukannya sebagai ibu muda mampu mengalihkan perhatiannya tentang kisah cintanya. Semakin hari Axel semakin menggemaskan, dia tidak pernah kekurangan kasih sayang karena semua orang begitu mencintainya.


Hari ini adalah hari selapanan Axel, Clara mengadakan syukuran kecil-kecilan untuk putranya. Semua saudara dan tetangga juga di undang, banyak yang menanyakan keberadaan ayah Axel. Namun mereka kompak menjawabnya sehingga tidak ada yang curiga dengan tidak hadirnya Juan. Acara berlangsung dengan meriah karena tingkah Axel yang sangat menghibur. Hari ini Cindy juga sedang mengadakan acara empat bulanan kehamilannya, namun hanya secara sederhana karena ekonomi mereka sedang surut.


"Pak, Bu, aku ingin bicara serius," ucap Clara selesai shalat isya'.


Pak Jarwo dan bu Dina segera duduk bersama Clara.


"Ada apa, Nak?" tanya bu Dina.


"Axel semakin lama semakin besar, aku harus merencanakan masa depannya. Aku harus menabung mulai sekarang, Ibu dan Bapak juga membutuhkan uang untuk adik-adik sekolah. Aku akan bekerja kembali, agar bisa membantu," jawab Clara.


"Harusnya ini menjadi tanggung jawab Bapak, Nak. Kamu sudah tidak bisa lanjut sekolah, sekarang justru jadi tulang punggung keluarga ini. Seandainya tidak terjadi kecelakaan itu, kamu pasti tidak bernasib seperti ini,"


Pak Jarwo merasa begitu sedih, kecelakaan waktu itu telah merenggut kesehatannya. Ia tidak bisa bekerja berat, jika tidak ia akan sesak napas berat. Pernah suatu ketika ia nekad bekerja karena tidak tega melihat istrinya bekerja sendiri, hanya setengah hari dia harus segera di lakukan ke rumah sakit. Beruntung saat itu di bantu ayah Jhony sehingga masih bisa selamat.


"Sudahlah, itu bukan kesalahan Bapak. Ini takdir yang harus kita terima dengan besar hati. Boleh kan aku menitipkan Axel di sini selama aku bekerja di kota, Pak, Bu?"


"Dia cucu ku, Nak. Sudah kewajiban kami menjaganya, bekerjalah dengan tenang. Kami akan merawatnya seperti kami merawat mu dulu," jawab bu Dina.

__ADS_1


"Aku percaya, karena itu aku meninggalkannya di sini. Sebenarnya berat rasanya meninggalkan Axel yang masih kecil, namun hanya kalian yang aku percaya. Sebenarnya keluarga pak Iman mau merawatnya dengan tulus, tapi aku tidak ingin merepotkan mereka," ucap Clara.


Tinggal beberapa hari lagi masa nifasnya akan berakhir. Ia harus segera menyusun masa depan untuk keluarga kecilnya. Ia akan memanfaatkan sisa waktu ini untuk selalu dekat dengan Axel, belahan jiwanya yang membuatnya mampu menghadapi masalah apapun. Seandainya Juan melihat betapa lucunya buah cinta mereka, Ah... Clara tidak berani berkhayal terlalu jauh. Ia harus mampu melupakan kenangan indahnya bersama pria itu.


__ADS_2