
Hari ini tepat hari minggu, di mana Clara akan bertemu dengan orang tua Juan. Sejak pagi hatinya sudah dag dig dug tidak karuan, ia merasa gelisah bukan main. Clara benar-benar takut jika sampai ayah Juan menghinanya di depan kekasihnya itu, bukan karena dia tersinggung namun ia takut hubungan keduanya menjadi semakin renggang karena dirinya. Saat ia tengah melamun, dering ponsel membuatnya terperanjat.
"Waalaikum salam, ada apa Sayang?" tanyanya lembut.
"Apa kamu sudah siap untuk bertemu orang tua ku, kita akan makan siang bersama di rumah ku?" tanya Juan.
"Insyaallah," jawab Clara berusaha tenang.
"Tenang saja Sayang, aku akan selalu bersama mu apapun yang akan terjadi," hibur Juan.
"Apa mereka mau bertemu dengan ku?" tanya Clara.
"Mama setuju, hanya saja papa tidak menjawab. Tapi aku tahu mereka semua pasti bersedia," jawab Juan.
"Jangan marah kepada mereka ya, walau mereka tidak menyukai bahkan menghina ku," pinta Clara.
"Mana mungkin aku membiarkan mereka menghina mu, Sayang," ucap Juan.
"Tapi aku tidak ingin hubungan kalian semakin jauh hanya karena diri ku," balas Clara.
"Sudahlah Sayang, jangan pikirkan itu lagi ya. Kita harus optimis, cepat atau lambat mereka pasti luluh juga," ucap Juan.
"Semoga saja, Sayang. Oh iya kamu akan menjemput ku jam berapa?" tanya Clara.
"Sekitar jam 11 nanti aku jemput," jawab Juan.
"Ya sudah kalau begitu aku siap-siap dulu ya," ucap Clara.
"Iya, Sayang. Jadilah diri sendiri, aku suka kamu apa adanya," balas Juan.
"'Iya, assalamualaikum,"
"Waalaikum salam,"
Clara segera membuka lemari pakaiannya dan mulai memilih apa yang akan ia kenakan nanti. Ia bingung harus mengenakan yang mana, namun setelah mengingat kata-kata kekasihnya untuk menjadi diri sendiri ia langsung mengambil pakaian kesukaannya.
__ADS_1
Sebuah dress selutut berwarna hitam putih, ia balut dengan syal berwarna peach untuk menutupi lehernya yang putih mulus. Tak lupa ia sematkan sebuah bros cantik di syal itu. Rambutnya ia tata rapi seperti pramugari dengan membiarkan poni sedikit menutupi dahinya. Untuk menambah keindahan rambutnya ia letakkan jepit yang warnanya masih senada dengan syal yang ia kenakan. Ia terlihat cantik dan imut sesuai usianya, dengan riasan minimalis khas Clara.
Jam 11 kurang Juan sudah tiba di apartemen untuk menjemputnya.
"Kamu memang selalu cantik, apapun yang kamu kenakan selalu berhasil membuat ku mabuk kepayang," puji Juan.
"Ah kamu gombal," ucap Clara dengan rona pipi memerah.
"Aku serius Sayang, bahkan saat pertama melihat mu di pabrik kamu sudah berhasil menghipnotis ku," balas Juan.
"Ah sudahlah jangan memuji terus, nanti aku semakin besar kepala," ucap Clara.
"Aku benar-benar tidak sabar untuk menikahi mu," balas Juan.
Tanpa aba-aba ia mencium bibir Clara dengan lembut, membuat mata Clara membulat karena terkejut. Beberapa detik mereka menikmati ciuman pertama mereka, sebelum akhirnya Clara mendorong kekasihnya itu.
"Juan," ucapnya.
"Maafkan aku Sayang, aku tidak bisa mengontrolnya tadi," balas Juan.
"Ayo kita berangkat saja," ajak Clara mengalihkan pembicaraan.
Sepanjang perjalanan mereka lebih banyak diam, mereka masih terbawa suasana saat berciuman tadi. Itu adalah ciuman pertama bagi keduanya, jadi pasti selalu akan terbayang.
'Betapa lembut dan manis bibirnya, ah kenapa aku begitu tidak sabar ingin segera memilikinya' batin Juan.
'Oh Tuhan kenapa aku merasa senang ketika dia mencium bibir ku, rasanya tidak dapat di lukiskan dengan kata-kata' batin Clara.
Setelah beberapa menit akhirnya mereka sampai di rumah Juan. Rumahnya sangat besar seperti rumah-rumah konglomerat yang biasa Clara lihat di tv. Clara sangat takjub, ia merasa semakin tidak percaya diri bersanding dengan kekasihnya itu.
Pantas saja jika orang tuanya tidak menyetujui hubungan mereka selama ini, karena perbedaan mereka bagaikan langit dan bumi. Ia heran dengan Juan walaupun dia kaya raya seperti ini, dia tidak pernah meremehkan orang lain. Bahkan saat menginap di rumahnya yang mungkin tidak lebih luas dari kamar tidurnya tidak pernah sedikitpun dia mengeluh.
"Sayang, selamat datang di rumah ku," ucap Juan.
"Rumah kamu begitu luas dan indah," puji Clara.
"Maukah kamu tinggal di sini jika kita sudah menikah?" tanya Juan.
__ADS_1
"Aku akan ikut kemanapun kamu pergi," jawab Clara.
"Terima kasih, Sayang," ucap Juan.
Mereka segera ke ruang makan, meja makannya begitu mewah terbuat dari batu marmer yang cantik. Sejak menginjakkan kaki di rumah Juan, belum sekalipun ia melihat barang yang murah. Walaupun dia tidak punya barang mewah di rumahnya, namun ia cukup tahu membedakan barang mewah dan bukan.
"Wah Clara sudah datang ya," sapa ibu Juan.
"Iya, Tante," jawab Clara segera mencium tangan calon mertuanya.
"Kamu cantik sekali, sudah lama kita tidak bertemu ya. Tante minta maaf atas semua kesalahan tante selama ini ya, Clara," ucap ibu Juan.
"Terima kasih. Tante tidak salah, semua orang tua pasti ingin yang terbaik untuk anaknya," jawab Clara.
"Ya sudah ayo kita duduk, makanan sudah siap. Sebentar lagi suami ku pasti turun," ajak ibu Juan.
"Terima kasih ya, Ma," bisik Juan kepada ibunya.
Mereka pun segera duduk di meja makan, Clara duduk di sebelah Juan. Hidangan di meja banyak sekali, mungkin cukup untuk di makan 30 orang. Entah akan mereka apakan nanti masakan ini setelah mereka makan.
"Orang yang bekerja di rumah ini banyak Sayang, jadi tiap hari bibi pasti memasak sebanyak ini, mereka juga memakan masakan yang sama dengan kita," jelas Juan seolah mengerti apa yang Clara pikirkan.
Saat tengah mengobrol Ayah Juan turun, ia melirik sekilas ke arah Clara lalu duduk di samping istrinya, tepat di depan Juan.
"Apa kabar Om?" tanya Clara.
Juan yang menyuruh Clara memanggil mereka begitu agar lebih akrab, walau merasa canggung tetap Clara lakukan.
"Baik," jawab ayah Juan datar.
"Ya sudah ayo kita makan dulu, setelah itu baru mengobrol," ajak ibu Juan.
Mereka makan tanpa sepatah katapun, entah apa yang ada di dalam pikiran mereka, atau memang kebiasaan keluarga ini seperti itu. Clara tidak terlalu gelisah lagi, karena perlakuan orang tua Juan lebih baik dari sebelumnya apalagi ibunya.
Selesai makan siang mereka mengobrol santai di ruang keluarga, ayah Juan lebih banyak diam dan menyimak. Lain halnya dengan Juan dan ibunya yang tidak hentinya membuat Clara terhibur dengan lelucon mereka. Ternyata ibu Juan sebenarnya sangat baik, bahkan ia sering merangkul Clara.
Juan mengajak Clara menjelajahi rumahnya, melihat taman belakang, dapur, ruang olahraga, kolam renang, dan ruangan-ruangan lainnya termasuk kamarnya. Setelah sore menjelang Clara meminta untuk di antar pulang. Ia berpamitan kepada kedua orang tuanya.
__ADS_1
Juan mengambil mobilnya di garasi, sedang ibunya mengambilkan kue dan makanan untuk Clara bawa pulang. Tiba-tiba ayahnya mendekati Clara.
"Aku menerima mu di sini, bukan berarti sudah merestui hubungan kalian," ucap Ayah Juan.