Menggapai Harapan

Menggapai Harapan
Bab 59 Cinta Segi Tiga


__ADS_3

Seminggu telah berlalu, tepat di hari minggu sesuai rencana mereka akan pergi berlibur. Seusai shalat subuh mereka menuju Kota Malang, mereka memutuskan menyewa villa. Suasana sejuk membuat tubuh mereka segar, pemandangan yang hijau sangat memanjakan mata mereka.


"Wah sumpah di sini segar sekali ya, sudah sangat lama sekali aku tidak menikmati suasana seperti ini," ucap Andre sambil menghirup udara dalam-dalam dan mengeluarkan perlahan.


"Ya jelas saja, sejak kematian mantanmu itu kamu selalu mengurung diri. Kamu baru mau bersosialisali lagi semenjak aku mengenal Clara," sahut Juan.


"Kamu benar, terima kasih sudah selalu memberi dukungan kepadaku. Berkat kamu juga aku bisa membuka hati lagi kepada wanita sebaik Cindy, kamu penyelamat ku Juan," balas Andre seraya merangkul sahabatnya itu.


"Ah biasa saja, kalau aku di posisimu kamu pasti melakukan hal yang sama untuk ku," balas Juan.


Para pria masih asyik mengobrol di teras sambil menikmati udara pagi yang sejuk. Clara dan Cindy sedang di kamar membersihkan diri. Hari ini mereka berencana bakar-bakar di dekat taman villa itu, semua alat dan bahan telah di siapkan penjaga villa sesuai pesanan mereka.


"Sayang ini masih pagi, ayo kita jalan-jalan dulu. Bakarannya kan masih nanti sore," ajak Clara.


"Ok, aku setuju," jawab Juan.


Mereka berempat berkeliling Kota Malang, menikmati pemandangan yang serba hijau. Tidak lupa mereka mencoba berbagai kuliner khas kota Malang. Mereka juga terlihat memborong oleh-oleh untuk keluarga serta sahabat.


Setelah makan siang mereka memutuskan kembali ke villa untuk beristirahat. Mereka istirahat dengan nyenyak sekali, mungkin karena efek lelah setelah jalan-jalan tadi. Sayup-sayup suara adzan ashar berkumandang membangunkan tidur mereka. Mereka memang memilih villa yang dekat dengan pemukiman dan tidak terlalu jauh mengingat waktu liburan mereka juga tidak banyak.


"Hoam... segar sekali rasanya setelah bangun tidur," ucap Cindy sambil menguap.


"Wah udah sore ya kak," sahut Cindy sambil menggeliatkan badannya.


"Kak, itu kok ada bunga sama coklat di atas meja. Apa di kasih Pak Andre?" tanya Clara menunjuk ke arah meja.

__ADS_1


"Hah, mana?" tanya Cindy ikut menoleh ke arah meja.


"Mas Andre tidak bilang apa-apa tadi. Sejak kapan bunga itu di sini, aku tidak memperhatikan dari tadi," ucap Cindy heran.


"Sama, aku juga karena lelah langsung naik ke kasur dan tidur. Coba nanti kita tanya penjaga villa," sahut Clara.


Clara melangkah ke arah meja, ia membuka kartu yang berada di samping bunga. Ia mulai membaca.


Teruntuk Cindy,


Aku selalu berharap kamu tak pernah melupakan aku, namun apa yang aku lihat dengan mata kepala ku sendiri sudah cukup membuat ku mengerti. Ternyata betapa mudahnya cinta itu sirna dari dalam hatimu, begitu mudahnya tempat ku terganti. Begitu sakit hati ini melihatmu berpegangan tangan dengan pria lain. Ini memang salah ku, namun aku tak pernah menyangka semudah itu cintamu berpaling. Semoga kamu selalu bahagia walau tidak bersamaku.


Clara menatap Cindy dengan penuh arti.


"Sepertinya ini memang dari Bima," ucap Clara menyimpulkan.


Cindy begitu bingung dengan keadaan ini. Batinnya dipenuhi banyak tanda tanya. Mengapa di saat ia mulai merasa bahagia bersama Andre masa lalunya kembali menghantui. Kenapa selama ini Bima justru meninggalkannya tanpa kabar?


"Aku juga tidak mengerti, Kak. Tapi pasti ada alasan di balik semua ini. Kakak tunggu di sini, aku akan menemui penjaga villa," kata Clara lalu bergegas pergi.


Cindy mengambil kartu itu, membacanya dengan perlahan. Air matanya semakin deras mengalir. Jujur ia mulai menyayangi Andre, namun kehadiran Bima masih belum sepenuhnya hilang dari ingatannya. Ia sangat penasaran dengan alasan pria itu tidak memberi kabar.


Cindy menghapus air matanya, ia tak ingin bersedih lagi untuk pria yang ia anggap sangat pengecut itu. Bunga dan coklat serta kartu ia buang begitu saja ke tempat sampah. Ia memutuskan pergi berjalan-jalan sebentar untuk menenangkan hatinya, ia tidak ingin Andre tahu ia menangis.


Ketika akan melewati warung kopi dekat villa ia melihat motor yang sepertinya tidak asing baginya. Ia berpikir, setelahnya merasa yakin itu motor Bima walaupun tampak sudah di modifikasi namun ia masih ingat plat nomornya sama. Ia mendekati warung itu, jantungnya terasa berdegup kencang. Seorang pria terlihat duduk memunggunginya sambil menyesap secangkir kopi. Pria itu tidak sadar seorang wanita memperhatikannya sejak tadi.

__ADS_1


"Bima," sapa Cindy lirih.


Pria itu diam sejenak, kemudian menoleh ke arah suara yang memanggilnya. Mata mereka beradu, mata Cindy memerah menahan amarah dan rasa sedih. Ia heran melihat wajah Bima ada bekas luka. Pria itu berdiri menghampiri Cindy, ia semakin tertegun melihat Bima berjalan dengan sedikit pincang.


'Apa yang sebenarnya terjadi kepadanya?' batin Cindy bertanya-tanya.


"Maafkan aku, Cindy. Benar-benar minta maaf," ucap Bima tertunduk.


"Aku tidak pernah berniat meninggalkanmu, aku sangat mencintaimu. Ketika aku dalam perjalanan pulang ke Surabaya aku mengalami kecelakaan. Kaki ku pincang, tangan ku patah, wajah ku penuh luka. Aku koma selama dua bulan karena kecelakaan itu, setelah sadar aku tidak bisa menerima kondisi ku. Aku takut menemuimu, aku tidak ingin kamu bersedih, aku juga takut kamu tidak bisa menerima keadaan ku saat itu." jelas Bima membuat air mata gadis itu makin deras.


"Kamu jahat, Bima. Kamu sangat jahat!" ucap Cindy sambil memukul-mukul Bima.


Bima membiarkan Cindy menumpahkan kekesalannya. Ia diam saja ketika dia memukulinya, setelah pukulannya melemah dia nekad memegang tangan Cindy. Cindy tak menolak, Bima yang sangat merindukan gadis itu spontan memeluknya menumpahkan rasa rindunya. Ingin sekali Cindy membalas pelukan pria yang sempat mengisi hari-harinya, namun mengingat Andre yang sangat mencintainya.


Karena Cindy tak merespon Bima pun melepas pelukannya, di tatapnya lekat-lekat gadis yang masih mengisi jiwanya itu.


"Maaf, aku terlalu bahagia bisa bertemu kembali. Sampai tidak sadar kamu telah memiliki pria lain dalam hidup mu," ucap Bima berat.


"Kenapa kamu tidak menghubungiku, kamu bisa menelepon Clara atau Juan? Mengapa kamu menganggapku akan meninggalkanmu? Apa seburuk itu penilaian mu kepadaku, hah?" tanya Cindy berteriak, ia tak dapat menahan emosi.


Beruntung warung dan jalanan sedang sepi sehingga mereka tidak menjadi tontonan warga.


"Ponsel ku rusak sama sekali tidak bisa menyala. Aku minta maaf, aku sangat minder sehingga berpikiran yang tidak-tidak. Aku benar-benar terpuruk saat itu," jelas Bima.


Cindy benar-benar bingung harus bagaimana ia bersikap. Dia tidak ingin menyakiti siapa-siapa, namun dengan keadaan ini bisa di pastikan pasti akan ada yang terluka.

__ADS_1


"Kamu membuat semua menjadi rumit, membuat posisi ku serba sulit," ucap Cindy kemudian berlari menuju villa.


Bima terkesiap melihat Cindy yang semakin menjauh meninggalkannya. Ia bisa mengerti posisi Cindy.


__ADS_2