Menikahi Seorang Miliarder Dunia

Menikahi Seorang Miliarder Dunia
Eps. 101 Nasihat Andhika.


__ADS_3

Apartemen Bobby.


Hari sudah menjelang sore namun Vaya tidak melihat kepulangan kakak nya itu. Ia khawatir kakak nya benar-benar marah padanya sehingga memutuskan untuk tidak pulang ke apartemen.


"Apa kak Bobby marah pada ku ya?" Pikir Vaya,"Tapi, aku tidak salah! Dan seharusnya yang marah itu aku bukannya kak Bobby kan?"


Saat Vaya masih terhanyut dalam pikiran nya ia sangat terkejut saat pintu apartemen kakak nya itu terbuka.


"Kakak!" Panggil Vaya setelah ia melihat siapa yang datang.


"Emh," balas Bobby dengan singkat.


"Kak aku mau bicara." Vaya berdiri di depan Bobby sehingga membuat Bobby menghentikan langkahnya itu.


"Vaya aku sangat capek hari ini! Lain kali saja kita bicara." Ujar Bobby dengan suara dingin nya pada Vaya.


"Tapi ini penting kak! Aku harus bicara pada mu sekarang." Vaya mulai meninggi kan suara nya itu pada Bobby.


"Vaya! Apa lagi yang ingin kau bicarakan pada ku? Tentang Darren? Sudah lah aku sangat lelah jika harus terus menerus membahas masalah percintaan mu itu." Bobby menatap tajam Vaya.


"Kak kau jahat pada ku sekarang! Dulu kau tidak seperti ini. Bahkan membentak ku saja kau tidak pernah! Tapi, apa yang kau lakukan pada ku sekarang!" Vaya langsung menangis di hadapan Bobby membuat Bobby menghela nafasnya.


Bobby benar-benar sudah sangat lelah menghadapi sikap Vaya yang selalu saja membuat dia emosi.


"Kau akan pulang besok!" ujar Bobby dengan suara dingin nya dan berjalan menuju ke dalam kamar nya.


"Aku baru sampai dan kau sudah menyuruh ku untuk pulang kak! Kau itu tega sekali pada ku kak. pokok nya aku tidak mau pulang kak! Jika kau memang tidak ingin aku berada di sini maka aku akan membeli apartemen ku sendiri!" Teriak Vaya pada Bobby.


Bobby yang mendengar teriakkan Vaya hanya diam saja tanpa membalas ucapan adik nya itu. Ia langsung mengaktifkan sistem kedap suara agar dirinya bisa tenang.


Sementara Vaya yang melihat kakak nya tidak memperdulikan nya langsung keluar dari apartemen Bobby begitu saja. Vaya mengemudi kan mobil Bobby dengan kecepatan tinggi agar emosi nya bisa reda.


Saat Vaya sedang mengemudi dengan kecepatan tinggi tiba-tiba saja ada seorang wanita yang hendak menyebrang membuat Vaya langsung menginjak rem mobil nya dengan kuat.


Cittt


Suara rem mobil yang Vaya injak terdengar sangat kuat membuat jalan aspal tersebut sudah ada jejak ban mobil Vaya.


"Kau baik-baik saja?" Tanya Vaya ketika ia sudah keluar dari mobil nya dan langsung mendekati wanita itu.


"Aku baik-baik saja!" Jawab gadis tersebut dan merapikan baju nya.


"Maafkan saya, saya benar-benar tidak sengaja!" Vaya berusaha meminta maaf pada gadis yang sudah ia tabrak.


"Lain kali jika ingin mengebut jangan di jalan yang sering orang lewati! Untung saja kau tidak membunuh ku. Jika tidak maka sudah hancur reputasi keluarga mu itu." Sinis gadis tersebut pada Vaya.


"Maafkan saya! Saya benar-benar tidak sengaja. Ini untuk biaya pengobatan mu." Vaya menyerahkan beberapa lembar uang pada gadis tersebut.


"Nona, sepertinya kau memang berada di kalangan orang kaya." Gadis itu tersenyum kecil pada Vaya membuat Vaya takut.


"A-apa maksud mu?" Tanya Vaya dan langsung memundurkan langkahnya itu.


"Kau dengar baik-baik! Aku tidak akan menuntut mu karna kau sudah hampir membunuh ku. Tapi, yang aku tidak suka dari cara orang seperti kalian ini dalam mengahadapi masalah yaitu dengan memberikan uang kalian pada orang yang sudah kalian lukai! Aku tidak butuh uang mu." Gadis tersebut melempar kan uang yang Vaya berikan pada nya ke wajah Vaya.

__ADS_1


"Kau--''" Vaya sangat emosi mendengar perkataan dari gadis itu.


"Seharusnya itu kau bilang padaku tidak akan mengulangi kejadian seperti ini lagi! Bukan nya hanya meminta maaf dan memberikan uang pada ku!" Tegas gadis tersebut dengan menatap tajam kearah Vaya.


"Jika kau tidak menginginkan nya maka kau juga tidak perlu berkata seperti itu pada ku!" Vaya langsung tersulut emosi nya saat gadis yang usia nya di bawah dirinya terus saja memaki dia.


"Cih! Pergilah kau dari hadapan ku!" Usir gadis itu pada Vaya.


"Apa kau bilang--"


"Jika kau tidak ingin pergi. Maka, aku akan membawa masalah ini ke kantor polisi!" Ancam gadis tersebut membuat Vaya ingin memukul gadis tersebut.


"Satu," gadis tersebut mulai menghitung di hadapan Vaya dengan tangan nya yang menunjukkan 1.


"Dengar--"


"Kau yang harus mendengar kan aku sekarang! Jika dalam hitungan ketiga kau tidak pergi juga dari hadapan ku. Maka, aku tidak akan segan-segan membawa mu ke pihak yang berwajib!" Potong gadis tersebut dengan menaikkan alis nya di hadapan Vaya.


"Hei kau--"


"Dua," gadis itu pun kembali menghitung lagi membuat Vaya bingung harus berbuat apa.


"Dengar aku tidak ingin mencari masalah dari mu! Tapi kau memang sudah keterlaluan dengan bersikap seperti itu pada ku!" Vaya menatap kearah gadis tersebut.


"Ti--"


"Sial!" Vaya yang melihat gadis itu masih tidak memperdulikan ucapan nya langsung masuk kedalam mobil nya dan pergi meninggalkan gadis itu sendiri.


gadis yang tadi di tabrak oleh Vaya menghela nafas nya saat melihat mobil Vaya sudah pergi menjauh dari nya.


Vaya yamg berada di dalam mobil memukul kemudi nya berkali-kali ia sangat kesal mengingat apa yang gadis muda itu kata kan pada nya. Umur nya memang masih terlihat muda sekitar 20 atau 21 tahun tapi kenapa pikiran nya sangat dewasa membuat Vaya tidak bisa melawan ucapan nya itu.


"Benar-benar gadis yang tidak punya sopan santun! Bagaimana bisa coba dia mengancam ku dengan cara seperti itu!" Raung Vaya di dalam mobil nya dan terus saja menghembuskan nafas nya dengan kasar.


"Jika, aku berjumpa lagi dengan nya! Akan ku beri pelajaran dia." Vaya terus saja memaki-maki gadis yang sudah membentak nya.


Ia melajukan mobilnya menunju kerumah Andhika. Karna, memang satu-satunya tempat untuk ia bersembunyi adalah rumah Andhika. Walaupun Andhika selalu saja membuat nya kesal tapi Andhika selalu ada untuk nya di saat ia sedang dalam kondisi terburuk nya.


Tinungg..


Vaya menekan bel pintu rumah Andhika. Sementara Andhika yang sedang fokus membaca resume medis pasien nya langsung memasang wajah kesal saat ia mendengar bel pintu nya berbunyi.


"OMG! Kenapa waktu tidak selalu berpihak pada ku." Kesal Andhika dan berjalan kearah pintu rumah nya.


"Kak," Vaya langsung memeluk Andhika saat pintu sudah di buka oleh Andhika.


"Eh Vaya? Mengapa kau kemari?" Andhika sangat terkejut ketika Vaya memeluk dirinya itu.


"Kak Bobby kak--" Vaya menundukkan kepalanya dan wajah nya sudah berubah sedih kembali. saat ia membayangkan pertengkaran antara dirinya dan juga kakak nya.


"Apalagi yang sudah kakak aneh mu itu perbuat?" Andhika melerai pelukan Vaya padanya dan langsung mengusap air mata Vaya.


"Kakak membentak ku kak. Padahal sebelumnya dia tidak pernah bersikap seperti ini!" Lirih Vaya pada Andhika.

__ADS_1


"Yasudah masuk dulu!" Andhika menyuruh Vaya untuk masuk.


Andhika membawa Vaya keruang tamu nya dan langsung memberikan Vaya segelas air agar Vaya lebih tenang. Saat Andhika melihat wajah Vaya mulai sedikit tenang Andhika hanya menghela nafas nya.


"Vaya dengarkan aku! Kakak mu itu tidak sepenuhnya salah." Ujar Andhika pada Vaya.


"Maksud kakak?" Vaya menatap wajah Andhika dengan intens.


"Maksud ku kakak mu memang salah! Tapi, ia tidak sepenuhnya salah. Vaya kau juga tau kan mengapa kakak mu bersikap seperti itu pada mu? Itu karna, dia tidak ingin kau merusak rumah tangga sahabat nya sendiri! Apalagi sumber masalah ini bermulai dari dirimu sendiri."


"Jadi kau menyalahkan ku kak?" Vaya semakin sedih mendengar ucapan Andhika pada nya.


"Aku tidak menyalakan siapapun disini! Karna menurut ku itu urusan kalian yang aku tidak berhak untuk mencampuri nya. Tapi, disini aku hanya berusaha memberitahu mu kalau kakak mu tidak sepenuhnya salah. Dia hanya salah dengan membentak mu agar tidak menggangu Darren. Vaya ku harap kau tidak akan melakukan hal yang akan membuat kakak mu sendiri kecewa!" Jelas Andhika pada Vaya.


"Kak apa salah, Aku memperjuangkan orang yang aku cinta?" Vaya menatap Andhika dengan butiran air yang sudah mengalir di pipi nya.


"Vaya kau tidak salah memperjuangkan orang yang kau cintai! Tapi, kesalahan mu adalah memperjuangkan orang yang sudah memiliki cinta nya sendiri. Vaya aku tidak ingin kau menyesali hal yang sudah kau perbuat!" Andhika berusaha menasehati Vaya agar masalah tidak terus berkepanjangan.


"Kak kau tidak mengerti! Kau sama seperti kak Bobby." Vaya kecewa mendengar ucapan Andhika pada nya.


Vaya pun bangkit dari duduk nya hendak meninggalkan rumah Andhika. Andhika yang melihat Vaya ingin pergi malam-malam begini merasa khawatir.


"Vaya kau ingin kemana?" Tanya Andhika pada Vaya.


"Aku tidak tau kak! Aku hanya ingin mencari tempat untuk menenangkan diri." Ujar Vaya pada Andhika.


"Kau tidur lah malam ini di rumah ku! Aku khawatir jika kau pergi sendirian. Terlebih lagi kakak mu adalah orang yang seperti itu." Andhika menyuruh Vaya untuk nginap di rumah nya.


"Aku tidak mau kak!" Vaya masih kesal pada Andhika. karna ucapan yang sudah Andhika katakan melukai hatinya.


"Baiklah jika kau tidak mau! Maka aku sudah tidak berurusan lagi dengan mu. jika terjadi sesuatu di luar sana pada mu. Aku tidak akan bertanggung jawab pada mu. Apa lagi akhir-akhir ini banyak sekali berita tragedi pemerkosaan dan juga pembunuhan! Sekarang aku akan bertanya sekali lagi pada mu! Kau yakin ingin pulang sendirian di jam segini? apalagi kau itu seorang wanita loh!" Andhika menautkan kedua alis nya menatap kearah Vaya.


"Kak jangan berbohong pada ku!" Vaya menatap tajam kearah Andhika.


"Buat apa aku berbohong pada mu! Jika kau tidak percaya kau lihat saja berita di hp mu. Bukan kah kau bilang kau selalu update tentang berita di Indonesia. Lantas masalah seperti ini saja kau tidak mengetahui nya." Sinis Andhika pada Vaya.


"Aku hanya mencari tau tentang kak Darren saja kak! Selain dari itu aku sudah tidak peduli." Balas Vaya pada Andhika dengan enteng nya.


"Yasudah kau mau tidak tidur di sini? Jika tidak maka keluarlah! Aku lelah dan ingin segera istirahat." Andhika mengusap leher nya seperti orang yang sudah kecapean.


"Ba-baik lah kak aku mau!" Lebih baik Vaya mencari tempat aman dulu. Ia takut apa yang dikatakan Andhika pada nya ternyata benar.


"Yasudah kau tidur lah di kamar sebelah ku!" ujar Andhika pada Vaya dan berjalan kearah kamar nya.


"Kita bersebelahan kamar kak?" Vaya terkejut mendengar perkataan Andhika padanya.


"Kau tenang saja! Walaupun kita bersebelahan kamar aku tidak akan selera dengan gadis kurus seperti mu." Sinis Andhika pada Vaya. Membuat Vaya sedikit kesal.


"Kak Kasella! Kau jangan suka mengejek ku. Aku takut nya kau sendiri bisa jatuh cinta pada ku." Sindir Vaya pada Andhika.


"Cih! Yang benar saja." Andhika tidak memperdulikan ucapan Vaya dan kembali melanjutkan pekerjaan nya.


Vaya langsung masuk ke kamar yang sudah berada di sebelah kamar Andhika. Ia sudah sangat lelah dan langsung menjatuhkan tubuhnya itu keatas ranjang. Perlahan-lahan mata Vaya pun sudah terpejam yang menandakan ia sudah tertidur dengan sangat lelap.

__ADS_1


^^^Bersambung...^^^


...****************...


__ADS_2