
"Tu-tuan kau baik-baik saja?" Tanya Shelly sambil memegang tangan Bobby.
"Shell," Viola merasa tidak enak pada sahabat nya karna ulah Darren.
"Vi, tolong panggil dokter! Tubuh nya sangat dingin. Wajah nya juga pucat sekali!" Shelly terlihat ketakutan saat Bobby hanya diam saja ketika ia berbicara.
"Tenang lah! Kasella akan segera kesini. Tidak ada yang perlu di khawatir kan!" Darren menghela nafas nya secara kasar.
"Kau keterlaluan Darren!" Ketus Viola pada suaminya yang masih terlihat sangat santai pada laptop dan juga dokumen-dokumen yang saat ini sedang Bobby tanganin.
Tidak menunggu waktu yang lama dokter Andhika pun tiba di apartemen Bobby dengan raut wajah yang sangat kesal.
"Siapa lagi yang sakit?' geram Andhika menatap pada kepala bodyguard sahabat nya.
"Tuan Bobby dok," jawab nya singkat.
"Kau gila ya! Baru seminggu yang lalu dia membawa calon istri nya itu kerumah sakit ku! Kenapa sekarang malah dia yang sakit?" Andhika mengusap wajah nya dengan sangat kasar.
Mereka pun tiba di depan pintu ruang kerja Bobby dan langsung masuk. Berapa terkejutnya ia saat melihat Darren juga berada disana. Ia pikir kepala bodyguard tersebut datang atas perintah Bobby. Karna setau dirinya Bobby juga memiliki otoritas untuk memerintah bawahan yang ada di bawah nya. Kecuali agen rahasia Darren!
"Ka-kau disini?" Tanya Andhika dengan suara yang sudah terbata-bata.
"Jangan banyak tanya! Cepat periksa dia." Darren kembali fokus pada laptop nya saat ia melihat sekilas wajah Viola yang masih marah.
Andhika berjalan dengan langkah gemetar nya menuju kearah tempat tidur yang dimana sudah ada Shelly dan juga Viola di sana.
"Apa yang terjadi?" Bisik Andhika pada Shelly dan juga Viola.
"Aku tidak tau! Setelah 2 jam lebih dia berada di ruang kerja nya. saat tuan muda keluar dari ruangan ini dia sudah seperti itu." Jawab Shelly dengan wajah yang khawatir.
"Dasar pria gila!" Umpat Viola membuat Andhika menelan Salivanya dengan sangat susah.
"Nyonya muda, jangan mengumpat nya saat emosi tuan muda belum stabil." Andhika berusaha memperingati Viola agar tidak menyesal.
Darren yang melihat Andhika tidak juga melakukan pemeriksaan nya pada Bobby. Dengan wajah yang tegas langsung mengebrak meja kerja membuat Andhika, Viola dan Shelly terkejut.
"Kasella! Kenapa kau belum juga memeriksa nya? Kau ingin dia segera mati ha?" Raung Darren pada Andhika, membuat Andhika secara spontan dan terburu-buru mengeluarkan alat-alat medis nya dari dalam tas nya.
"Jika ada yang ingin kau tanya kan, maka tanya kan saja pada ku! Jangan bergosip seperti orang-orang kompleks." Sinis Darren pada Andhika.
"Dasar singa!!!" Teriak Viola pada Darren membuat suasana semakin tegang.
"Setelah kau selesai melakukan pemeriksaan pada Bobby. Kau juga harus memeriksa istriku." Perintah Darren kembali pada Andhika.
"Nyonya muda, kau sakit?" Andhika menatap kearah Viola.
"Tidak!" Viola menggeleng kan kepalanya itu menatap kebingungan.
"Ah sudah lah," Andhika pun langsung memeriksa tubuh Bobby.
"Apa yang terjadi padanya?" Andhika menatap kearah kepala bodyguard.
"Saya tidak tau apa-apa." Jawab kepala bodyguard tersebut.
"Kalian tidak mungkin tidak tau bukan?" Sorot mata Andhika menuju kearah agen rahasia Darren.
"Sekertaris Bobby sedang menjalani hukumannya dokter Andhika. Jadi sangat wajar hal ini terjadi! Anda sendiri tau bukan hukuman apa yang paling ringan bagi silsilah hukuman Darren Abraham Khan." Kini malah sorot mata mereka yang menatap tajam kearah dokter Andhika.
"Jangan bilang kalian --"
"Ya, kami hanya melakukan nya 3 kali dokter Andhika! Selebihnya tuan muda yang melakukan nya hingga selesai." Sambung nya kembali.
__ADS_1
"Sial! Dia harus di rawat di rumah sakit ku." Ujar Andhika pada semua orang.
"Tidak perlu!" Darren bangkit dari duduk nya berjalan kearah mereka yang sejak tadi di samping Bobby.
"Apa maksudmu tidak perlu! Kondisi nya sangat buruk." Tekan Andhika pada sahabat nya itu.
"Apa yang terjadi?" Shelly menatap kearah Andhika. Karna sejak tadi ia sibuk menggelap sisa keringat Bobby.
"Dia mendapatkan kejutan listrik yang lumayan parah. Jadi dia harus di perhatikan lebih dalam. Oleh karna itu dia harus di rawat dirumah sakit ku." Tegas Andhika pada semua orang.
"Kalau begitu kita harus segera membawa Bobby kesana sekarang!" Dengan sangat antusias Viola menatap kearah Andhika.
"Tapi masalah sekarang ada pada tuan muda!" Andhika menghela nafas nya itu menatap kearah Viola.
"Tidak perlu membawa nya kerumah sakit mu! Dia itu sekretaris ku. Dia tidak boleh terlihat lemah di depan semua orang apalagi dihadapan musuh-musuh ku." Darren mulai memberatkan suara nya menatap tajam kearah Andhika.
"Darren kau tidak boleh seperti ini! Sebelum nya aku juga dirawat disana dan tidak ada rumor apapun yang menyebar." Viola kembali menyakinkan suaminya itu.
"Kau itu istriku, sedang kan Bobby adalah sahabat sekaligus sekretaris ku. Semua tentang nya juga harus bersifat rahasia!" Tekan Darren Kembali pada Viola
"Tapi--"
"Sudah lah! Lakukan saja perintah ku!" Darren menghela nafas nya itu.
"Kasella kau harus menjaga nya sampai ia benar-benar sembuh sepenuhnya! Dan kalian jaga pengawasan selama sebulan ini!" Mata Darren tertuju pada kepala bodyguard nya.
"Baik tuan muda," jawab mereka.
"Darren aku itu seorang dokter! Aku tidak bisa 24 jam berada disini! Bagaimana pasien-pasien ku nanti nya?" Andhika memberanikan diri nya untuk komplain pada Darren.
"Dokter disana tidak hanya kau saja Kasella!" Sorot mata Darren menatap tidak suka akan omongan Andhika.
Deg!!
Jantung Andhika rasa nya ingin copot saat nada ancaman keluar dari mulut Darren.
"Ba-baik saya akan menuruti perintah anda tuan muda." Dengan suara yang sudah gagap Andhika menunduk kan kepalanya.
"Dan untuk kalian, siapkan resepsi pernikahan yang sederhana dalam waktu 2 Minggu!" Perintah Darren pada agen rahasia nya.
"Me-menikah?" Andhika menatap kearah Darren.
"Ya, mereka akan menikah dalam waktu 2 Minggu ini. Kasella, beritahu Vaya untuk segera menyelesaikan urusannya pada tuan Charlton dan juga nyonya Charlton untuk segera datang ke Indonesia!" Perintah Darren kembali pada Andhika.
"Ba-baik tuan muda." Andhika hanya bisa menuruti nya saja jika ia ingin selamat dari amukan Darren pada nya.
Mata Darren beralih kearah Viola yang sejak tadi ia menyemangati Shelly dan mengelus-elus belakang Shelly.
"Istriku, kita pulang sekarang!" Ajak Darren pada Viola.
"Aku tidak mau!"
"Pulang sekarang!" Tegas Darren kembali.
"Pulang lah Vi! Gue baik-baik aja kok." Shelly tidak ingin ada masalah lagi setelah banyak masalah yang sudah ia hadapi.
"Lo yakin baik-baik aja?" Mata Viola terlihat menelisik kedalam mata sahabat nya itu.
"Emh, gue yakin! Lagian gue juga harus tetap sehat dong. Kan ada keponakan Lo disini!" Shelly tersenyum sambil mengelus perut nya. membuat Viola ikut mengelus perut Shelly dengan perasaan yang sedih mengingat kembali ia telah kehilangan bayi nya.
"Gue pulang dulu ya." Senyum kecil terukir pada bibir Viola hingga Shelly merasa sedikit bersalah.
__ADS_1
"Hati-hati ya Vi!" Ujar Shelly pada Viola.
"Tunggu dulu tuan muda!" Saat mereka hendak keluar. Andhika pun menghentikan mereka berdua.
"Ada apa?" Tanya Darren dengan aura dingin nya.
"Bukan kah tadi anda bilang saya harus memeriksa kondisi nyonya muda?" Andhika yang teringat akan ucapan sahabat nya itu langsung menanyakan kembali pada Darren.
"Tidak perlu! Karna otak nya sudah kembali pada tempat nya." Balas Darren dengan nada biasa saja.
"Darren, apa maksud mu?" Viola menatap tajam suaminya.
"Istriku, sejak tadi kau terus saja marah-marah tidak jelas. Oleh karna itu kupikir otak mu itu bergeser. Makanya, aku menyuruh kasella untuk memeriksamu." Jelas Darren pada Viola membuat Viola kembali emosi.
Viola yang sudah terlalu emosi langsung menggigit tangan suami nya dengan sangat kuat dan meninggalkan suami nya begitu saja disana. Darren hanya bisa mengikuti Viola yang sudah meninggal kan nya bersama para pengawal lain nya. Sementara Andhika sudah menghela nafas nya sejak tadi karna ia sangat lah sial hari ini.
"Istriku, aku tidak suka jika kau berlari seperti ini!" Darren menarik tangan Viola.
"Aku juga tidak suka kau melakukan hal sekejam itu pada calon suami sahabat ku!" Bentak Viola dan berusaha melepaskan tangan Darren pada nya.
"Bobby juga sahabat ku! Tapi, dia berhak di hukum seperti itu atas apa kesalahan yang dia perbuat!" Darren berusaha menahan emosi nya itu dihadapan Viola.
"Hukuman mu sangat kejam Darren! Kau dengar itu." Viola masih tersulut oleh emosi nya.
"Jangan lupa akan kesepakatan kita Viola Talisa! Bukankah kau sendiri bilang tidak akan ikut campur dalam urusan ku."
Deg!
Viola sangat terkejut saat menatap wajah Darren yang terlihat kecewa pada nya dan mulai melepaskan genggaman nya itu pada Viola.
"Kalian antar nyonya muda ke kediaman two drn.khan sekarang! Ada urusan yang harus ku selesai kan!" Perintah Darren pada pengawal nya dan juga agen rahasia nya.
"Baik tuan muda," mereka menundukkan kepalanya tanda bahwa mereka mengerti.
"Kau pulang lah dulu! Dan tenangin diri mu dulu." Darren menyuruh Viola masuk kedalam mobil.
Jujur saja Darren tidak ingin bertengkar dengan istri nya apalagi membuat istri nya sakit hati akan perlakuan dan juga kata-kata nya. Sehingga Darren juga butuh menenangkan diri nya sendiri.
"Darren," Viola menahan tangan Darren saat Darren hendak pergi.
"Ada apa?" Tanya Darren dengan suara yang sangat rendah pada Viola.
"Aku minta maaf," Viola menundukkan wajah nya. Ia tidak ingin Darren marah pada nya. Walaupun sebenarnya ia sangat kesal pada suaminya itu
"Hush, hustttt ... Kau tidak salah sayang! Jangan menangis." Darren menghapus air mata Viola yang sudah menetes.
"Maafkan aku karna sejak tadi sudah memarahi mu dan juga bersikap kasar pada mu." Lirih Viola.
"Tidak apa-apa. Aku bisa menerima semua perlakuan mu pada ku. Karna aku sangat mencintaimu!" Darren memeluk Viola dan menghujani seluruh wajah Viola dengan ciuman nya.
"Aku juga mencintaimu," balas Viola membuat senyuman Darren semakin terukir.
"Kita pulang sekarang!" Darren masuk kedalam mobil sambil memeluk tubuh istri kecil nya itu dengan sangat erat.
Walaupun tadi nya sangat marah pada Darren. Tapi, setelah di pikir-pikir Darren juga bertanggung jawab dengan memberikan pengobatan terbaik pada Bobby dan melakukan penjagaan yang sangat ketat untuk Shelly agar tidak terjadi hal yang tidak menyenangkan.
Mereka berdua pun meninggalkan apartemen Bobby dan kembali kediaman two drn.khan. Viola juga tidak sabar ingin membagi-bagikan oleh-oleh untuk para pekerja yang ada di kediaman. Oleh-oleh untuk Shelly sudah spesial Viola siap kan untuk pernikahan nya nanti.
^^^Bersambung....^^^
...****************...
__ADS_1