
Ruang tamu...
Shelly dan Viola tengah duduk di sofa ruang tamu milik Shelly. Mereka tampak diam dan juga saling menatap satu sama lain dengan wajah yang sulit untuk di tebak.
"Tuan Bobby, sebaiknya anda duduk lah!" Shelly menatap kearah Bobby yang masih saja berdiri di samping nyonya muda nya itu tanpa bergeming sedikitpun.
"Terimakasih nona Shelly. Saya lebih nyaman di posisi saya saat ini." Bobby menolak halus perintah sahabat dari nyonya muda nya itu.
"Anda yakin?" Shelly menautkan kedua alis nya menatap kearah Bobby.
Bobby tidak menjawab pertanyaan Shelly dan hanya mengangguk kepalanya membuat Viola ingin tertawa melihat ekspresi diantara kedua orang yang ada di ruangan tersebut.
"Shell! Sudahlah. Percuma juga Lo nyuruh dia duduk. Sampai kapanpun dia tidak akan duduk kalau bukan tuan muda nya sendiri yang menyuruh nya untuk duduk." Viola berusaha menahan tawa nya itu.
"Vi, Lo gak kasian apa liat dia berdiri sejak di luar tadi hingga sampai saat ini?" Shelly menatap wajah sahabat nya itu dengan sangat intens membuat Viola menelan saliva nya.
"Shell sejak kapan Lo sangat memperdulikan sekretaris Bobby?"
Dum
Kata-kata yang keluar dari mulut Viola membuat wajah Shelly langsung memerah dan berkeringat. Ia sendiri tidak tau mengapa akhir-akhir ini dia selalu memikirkan tentang pria yang ada dirumah nya saat ini.
"A-aku memperdulikan nya? Ah yang benar saja Vi!" Shelly menatap kearah lain dengan ekspresi wajah yang panik.
"Ah sekarang nyonya Shelly Rula seperti nya sedang gugup." Viola memajukan duduk nya kehadapan Shelly membuat gadis itu semakin berkeringat.
Bobby yang ada disana berusaha untuk diam saja dan tidak memperdulikan ucapan dari nyonya muda nya sama sekali. Namun, apalah daya jika itu sudah menyangkut tentang nama nya membuat Bobby ingin sesekali mendengar perbincangan mereka dengan tajam.
"Argh! Vi, Lo itu apaan sih. Gue itu hanya bersikap sebagai sesama manusia saja sama sekertaris suami Lo ini! Gak kaya Lo yang tidak punya rasa kemanusiaan sama sekali."Shelly menatap sahabatnya dengan sangat dalam.
Viola yang di tatap oleh sahabat nya itu ikut membalas tatapan tersebut dengan sangat tajam. Mereka berdua saling bertatapan membuat pria yang sejak tadi diam saja mulai menghela nafasnya itu.
"Seperti nya hari ini hari kesialan di dalam hidupku! Bagaimana bisa aku terjebak di dalam sangkar kedua wanita yang tidak waras ini. Huft ..." Helaan nafas Bobby sangat panjang membuat Shelly dan Viola mengalihkan pandangan mereka kearah Boby.
"Sekretaris Bobby anda baik-baik saja?" Tanya Viola menatap kearah Bobby.
"Aku--"
"Itu semua gara-gara Lo Vi!" Shelly langsung menatap kembali kearah Viola.
"Gara-gara gue? Maksud Lo apa Shell?" Viola tidak terima dengan ucapan sahabat nya itu.
"Ya coba saja kalau Lo pengertian Lo pasti nyuruh sekertaris suami Lo ini untuk duduk! Dia itu sudah sangat lelah berdiri seharian hanya untuk mengawasi Lo." Shelly kembali menyalahkan sahabat nya.
"Gue gak pernah nyuruh dia untuk ngawasin gue! Bahkan gue udah nyuruh sekertaris Bobby untuk nunggu gue di mobil saja. Tapi dia menolak dan terus mengatakan dia tidak bisa membantah perintah tuan muda nya itu." Kesal Viola pada sahabat nya.
"Ya Lo benar! Seharusnya ini semua bukan salah Lo." Shelly menganggukkan kepalanya.
"Ini semua salah nya--"
"Tuan muda yang sangat kejam itu!!!" Jawab mereka secara serentak dan langsung tertawa.
"Cih benar-benar gila! Tadi mereka saling menyalahkan satu sama lain, lalu mereka berdua menyalahkan Darren dan sekarang mereka tertawa terbahak-bahak seperti bukan seorang wanita." Bobby hanya bisa menggelengkan kepalanya itu.
"Vi! Sebaiknya Lo suruh aja suami Lo untuk suruh sekretaris tanpa ekspresi ini untuk duduk." Shelly kembali mengeluarkan ide-ide cemerlang nya.
__ADS_1
"Bagaimana caranya?" Tanya Viola dengan nada penasaran nya.
"Caranya--" Shelly pun berbisik-bisik pada Viola membuat Viola langsung tertawa.
Bobby yang tidak mendengar perkataan mereka merasa sangat khawatir, "rencana gila apalagi yang sedang mereka rencanakan!"
Drtt ... Drtt.. drt...
"Iya tuan muda, ada apa?" Bobby yang tau ponselnya bergetar langsung menatap kearah ponselnya dan mengangkat panggilan tersebut.
"Baik tuan muda," Bobby pun langsung mengaktifkan speaker pada ponsel nya atas perintah dari tuan muda nya itu.
"Istriku!" Panggil Darren ketika tau perintah yang di suruh oleh nya sudah dilakukan Bobby.
"Iya Darren," balas Viola dengan tersenyum menatap kearah sahabat nya.
"Apa maksud dari pesan mu itu pada ku?" Tanya Darren pada Viola membuat Bobby menautkan kedua alisnya.
"Pesan apa lagi yang di kirim oleh nyonya muda? Sehingga membuat tuan muda langsung menelfon ku." gumam Bobby di dalam hatinya.
"Pesan yang mana ya suamiku?" Viola berpura-pura tidak tau ketika Darren menanyainya.
"Apa maksud dari perkataan mu, bahwa kau seperti nya akan jatuh cinta pada sekretaris ku!" Tanya Darren dengan suara yang sudah sangat tinggi membuat Viola menelan saliva nya dengan susah begitu pula dengan Shelly.
"Uhuk ... Uhuk .. uhuk .." Bobby yang mendengar perkataan dari Darren langsung tersedak dan keringat dingin saat istri dari tuan nya itu sedang menumbalkan dirinya untuk jadi amukan dari tuan muda nya.
"Tu-tuan muda saya rasa seperti nya nyonya muda salah ketik! Mungkin dia ingin bilang nama anda." Bobby berusaha menenangkan emosi dari sahabat nya itu.
"Bob, diamlah! Aku belum menyuruh mu untuk berbicara." Darren menekankan setiap kalimat nya membuat Bobby semakin merasa panas dingin.
"Ba-baik lah tuan muda," jawab Bobby dengan suara gemetar nya.
"Semua ini karna ide gila mu itu Shell!" Viola langsung menyenggol lengan sahabat nya itu.
"Ah sudah lah! Ini bukan saat nya untuk saling menyalahkan. Sebaiknya langsung jalanin saja rencana kita sebelumnya." Bisik Shelly pada sahabat nya itu.
Viola yang mendengar ucapan Shelly merasa sangat kesal. Bagaimana bisa ia mengikuti ide gila dari sahabat nya itu.
"Suami ku tenang lah! Jika kau berteriak seperti itu pada ku maka, aku akan sangat takut dan tidak akan pernah berani mengatakan nya pada mu." Viola langsung melembutkan suara nya membuat Shelly merasa geli.
"Uwekk!" Shelly merasa mual dan ingin sekali muntah ketika mendengar ucapan Viola. Viola yang mendengar sahabat nya ingin muntah itu langsung menatap nya dengan sangat tajam.
"Baiklah Viola Talisa! Sekarang jelaskan pada ku apa maksud dari ucapan mu itu?'' Darren langsung merendahkan intonasi bicara nya itu pada Viola.
"Suamiku, aku mengatakan hal itu karna, sekretaris mu itu tidak ingin jauh dari samping ku! Dia bilang aku harus terus berada di dekatnya agar ia mudah menjangkau ku! Coba lah kau pikir sayang. Apa maksud dari sekretaris Bobby mengatakan hal yang bisa membuat seluruh wanita yang ada di dunia ini ingin terbang setinggi-tingginya." Viola langsung memainkan drama nya membuat Bobby langsung membulatkan matanya itu dengan tidak percaya.
"BOBBY CHARLTON!" Darren kembali meninggi kan kalimat nya pada Bobby.
"Kerja yang bagus sobat!" Shelly mengacungkan jari jempol nya pada Viola dengan sangat bangga. Viola pun membalas nya dengan mengedip sebelah matanya itu.
"I-iya tuan muda." Jawab Bobby dengan suara gugup nya.
"Mengapa kau mengatakan hal seperti itu pada istri ku?" Tanya Darren dengan suara yang sudah emosi.
"Tuan muda, bukankah Anda sendiri yang menyuruh saya untuk menjaga istri anda! Lalu coba anda pikirkan saja sendiri bagaimana bisa saya menjaga istri anda jika istri anda jauh dari jangkauan saya? Tuan muda saya harap anda mengerti lah posisi saya saat ini." Bobby pun berusaha membela dirinya.
__ADS_1
"Istri ku kau dengar bukan? Sekretaris Bobby hanya melaksanakan tugas nya saja. Jadi kau tidak perlu khawatir lagi." Darren kembali berbicara pada Viola membuat Viola merasa kesal.
Tidak hanya Viola yang merasa kesal, Shelly juga merasa kan hal yang sama seperti yang di rasakan sahabat nya itu.
"Tapi, suamiku jika dia terus berdiri di samping ku. Aku khawatir aku bisa jatuh cinta pada nya." Viola kembali memainkan drama nya itu dihadapan Bobby dan juga Shelly.
"Ustt!" Shelly langsung mencubit Viola.
"Apa?" Tanya Viola dengan suara berbisik agar tidak di dengar oleh Bobby.
"Jangan terlalu berlebihan akting nya! Nanti suami Lo curiga." Shelly berusaha mengingatkan Viola kembali.
"Baiklah aku mengerti!" Balas Viola pada Shelly.
"Istriku! Anggap saja Bobby tidak berada di samping mu. Jika seperti itu maka semua nya selesai." Ujar Darren pada Viola.
"Darren kau keterlaluan! Bagaimana bisa aku mengganggap sesuatu yang ada menjadi tidak ada?" Kesal Viola pada Darren.
"Lalu aku harus bagaimana Viola?" Darren sudah kehabisan kata-kata nya pada Viola.
"Sudahlah percuma saja berbicara dengan mu. Jangan salah kan aku jika aku jatuh cinta pada sekertaris sekaligus sahabat mu ini!" Ketus Viola pada Darren.
"Berani kau melakukan hal itu Viola Talisa!" Darren kembali meninggi kan kalimat nya pada Viola membuat semua orang terkejut.
"Kalau iya kenapa?" Viola tidak kalah tinggi nya pada suara Darren.
"Coba saja! Coba saja jika kau berani melakukan hal itu. Maka, akan ku pastikan dalam hitungan detik saja hati mu itu tidak akan berada di tempat sebelum nya! Aku akan menyuruh dokter untuk mengambil hati mu agar kau tidak bisa mencintai siapapun lagi." Perkataan Darren terdengar seperti raungan singa yang sedang ingin memangsa makanan nya itu di telinga mereka bertiga.
"Da-darren maafkan aku! Seperti nya aku tidak akan pernah berani jatuh cinta pada sekertaris mu ini." Viola menelan saliva nya itu dengan sangat susah.
"Bagus jika kau tau takut!" Ujar Darren dengan suara sinis nya.
"Bob," Darren langsung memanggil sahabat nya itu.
"Iya tuan muda," jawab Bobby dengan cepat.
"Kau duduk lah! Kau itu tidak harus terus-menerus berdiri di samping istri ku! Cukup duduk yang jarak nya masih bisa kau jangkau dari istri ku itu! Aku tidak ingin dia terus-menerus mengomel pada ku! Itu sungguh membuat telinga ku terasa sangat sakit." Darren hanya bisa menghela nafasnya saja.
Darren sangat terkejut ketika ia tengah sibuk bekerja dan mengurus beberapa dokumen penting. Dirinya malah mendapat kan pesan dari Viola yang isi nya cukup membuat emosi yang selalu ia pendam itu menjadi meledak-ledak.
"Baik tuan muda," balas Bobby pada atasan nya. Bobby tau perintah dari Darren adalah segalanya bagi dirinya itu.
"Bagus! Jika semua sudah selesai maka, aku bisa tenang sekarang!" Ujar Darren pada Bobby.
"Istri ku, sekarang jadilah wanita yang penurut dan jangan selalu membuat masalah! Karna tanpa kau sadari hal itu bisa merugikan orang-orang yang berada di sekitar mu." Sebelum menutup panggilan nya Darren menyempatkan waktu untuk menasehati istri nya.
"Emh, baiklah aku mengerti." Balas Viola dengan suara rendah nya dan kepala menunduk.
"Baiklah aku tutup panggilan nya. Kau baik-baik saja disana! Dan ingat satu hal jangan pernah berani mencintai pria lain selain diriku! Kau mengerti?" Tegas Darren lada Viola.
"Iya suamiku tercinta aku mengerti!" Viola hanya memutar bola matanya dengan malas.
"Baguslah! Jika kau mengerti!" Darren pun langsung menutup panggilan nya itu.
Setelah panggilan tersebut tertutup. Bobby tanpa basa basi ia langsung duduk di sofa yang ada di samping Viola. Sementara Shelly dan juga Viola yang melihat tingkah Bobby langsung membelalakkan kedua mata mereka dengan ekspresi yang tidak percaya dan juga sangat terkejut. Bagaimana bisa seorang Bobby yang hanya satu kata saja dari Darren langsung menurut. Sementara mereka berdua yang sudah mengeluarkan seribu kata pada sekertaris Bobby, tidak berhasil sama sekali untuk membuat nya duduk.
__ADS_1
^^^Bersambung...^^^
...****************...