
"koma? Jadi maksud mu kondisi Viola saat ini tidak baik-baik saja?" Mama Darren menatap kearah Andhika.
"Iya Tante, karna Viola mengalami pendarahan yang cukup hebat yang mengakibatkan dirinya keguguran. Sehingga kami harus mengeluarkan janin nya tersebut dan membuat kondisi Viola dalam kondisi kritis Tante." Jelas Andhika pada Aurora.
"Viola hamil???" Omay dan juga mama dengan sangat serentak nya membelalakkan mata nya itu.
"Darren kenapa kau tidak memberitahu kan nya pada kami?" Mama Darren menatap kearah putra nya yang masih terdiam.
"Aku suami yang buruk ma! Aku juga seorang Daddy yang buruk." Darren memukul tembok rumah sakit dengan sangat kuat. Semua yang berada di sana sangat terkejut melihat kearah Darren.
Andhika yang melihat kondisi Darren sangat memburuk hanya bisa memberikan isyarat pada mereka semua untuk jangan bertanya dulu pada nya saat ini. Karna itu bisa semakin membuat diri Darren tertekan .
"Tante keruang Andhika saja sekarang! Andhika akan menjelaskan semua nya pada Tante." Ujar Andhika.
"Baiklah," Aurora dan juga omay langsung mengikuti langkah Andhika.
Sementara Bobby yang masih berdiri di sana. Benar-benar tidak tega melihat kondisi sahabat nya yang bisa di katakan seperti orang gila yang Linglung harus berbuat seperti apa dan juga rasa bersalah yang sangat besar.
"Darren maafkan aku," Bobby berusaha meminta maaf kembali pada Darren.
Darren tidak menjawab sama sekali perkataan Bobby. Ia hanya melihat Viola dari luar ruangan nya. Karna memang Viola saat ini masih belum boleh di kunjungi.
"Kak," terdengar suara seorang wanita dari jauh yang membuat Bobby melihat kearah suara tersebut.
"Vaya!" Bobby yang melihat adik nya langsung berjalan kearah Vaya sebelum Vaya membuat masalah kembali dan langsung menarik Vaya menjauh dari sana.
"Kak apa yang terjadi?" Tanya Vaya dengan wajah yang terlihat masih sedih.
Jujur saja saat kejadian kabur nya istri dari pria yang ia cintai itu. Darren tidak memperdulikan nya sama sekali dan langsung meninggalkan nya di sana tanpa mempedulikan bagaimana perasaan nya itu yang membuat Vaya semakin sedih.
"Semua ini gara-gara mu! Jika saja kau tidak berisikeras mengejar Darren. Maka ini tidak akan terjadi!" Tekan Bobby dengan suara yang di tahan nya.
"Kak, kenapa kau berkata seperti itu?" Vaya semakin merasa kecewa yang sangat dalam mendengar ucapan kakak nya.
"Vaya Charlton! Bisa tidak kau membuat ku tenang dan jangan buat masalah dalam sehari saja? Jika saja kau tidak bertemu dengan Darren hari ini, jika saja aku tidak memohon pada Darren untuk menerima kedatangan mu dan jika saja aku lebih tegas dalam menghentikan obsesi konyol mu itu. Maka, Viola tidak akan kehilangan anak nya dan Darren tidak akan merasa kan rasa sakit yang begitu dalam. karna melihat istri nya koma dan juga anak nya yang sudah tiada itu akan membuat seorang pria jatuh, sejatuh-jatuh nya Vaya!" Bobby mengusap wajah nya dengan sangat kasar. Ia benar-benar sahabat yang buruk dan sangat egois.
"Kak, apa maksud kakak?" Vaya langsung bergetar mendengar ucapan dari kakak nya.
"Kau tau Vaya? Saat kau berada di ruangan bersama Darren. Saat itulah istri Darren datang dan yang lebih parah nya lagi dia mengalami kecelakaan di saat ia merasakan sakit hati dengan kesalahpahaman yang ia lihat. Aku khawatir Viola tidak ingin berjuang di masa koma nya." Air mata Bobby sudah keluar begitu saja. Sejak tadi ia menahan air mata nya itu. Agar sahabat nya tidak semakin khawatir.
Vaya yang mendengar nya langsung terpaku di tempatnya. Ia tidak sangka semua ini di sebabkan oleh nya membuat Vaya hanya diam saja. Bobby yang melihat Vaya sedikit khawatir, karna Bobby tau adik nya memiliki rasa bersalah yang cukup tinggi.
"Vaya!" Bobby menggoyang kan tubuh Vaya. Tapi Vaya hanya diam saja tanpa menjawab.
Namun tiba-tiba saja dari arah yang berlawanan ada seorang wanita yang tanpa sengaja menabrak Bobby.
"Aww!!" Gadis itu mengusap kening nya dan langsung bangkit.
"Kau mau kemana?" Bobby yang melihat gadis dengan rambut panjang berantakan nya sehingga membuat Bobby tidak bisa melihat wajah gadis tersebut.
__ADS_1
"Lepaskan! Jika kau ingin marah pada ku. Maka, undur saja dulu! Saat ini aku sedang khawatir." Gadis itu langsung menghempaskan tangan Bobby.
"Nona Shelly?" Bobby yang tanda suara wanita tadi. Berusaha memanggil nya agar gadis itu benar-benar gadis yang ia kenal atau tidak.
"Tuan Bobby?" Gadis tersebut membalikkan tubuh nya dan langsung menghampiri Bobby kembali.
"Tu-tuan Bobby bagaimana kondisi Viola saat ini? Dia baik-baik saja bukan? Viola bilang dia sedang hamil! Bagaimana kondisi bayi nya?" Shelly sangat panik dengan kondisi sahabat nya itu.
"Nona Shelly bagaimana anda bisa mengetahui kalau nyonya muda hamil? Bahkan suaminya sendiri saja tidak tau." Bobby terkejut dengan ucapan Shelly.
"Tentu saja aku tau!" Shelly pun mulai menceritakan nya pada Bobby.
......................
Flash back on..
Saat Viola berada di dalam mobil nya. Setelah lepas dari cengkeraman para bodyguard walaupun harus dengan ancaman membuat Viola sedikit lega. Viola yang merasa sudah cukup jauh dari kejaran suruhan suaminya itu. Ia pun langsung menghubungi Shelly setelah mengganti nomor nya.
"Hallo siapa ini?" Tanya Shelly dengan suara datar nya.
"Shell ini gue Vio!" Ujar Viola dengan menahan tangis nya.
"Vi! Kok nomor Lo beda?" Shelly menautkan kedua alis nya itu.
"Shell gue hamil!" Viola tidak memperdulikan pertanyaan Shelly dan langsung mengatakan tentang kehamilan nya.
"3 Minggu Shell." Viola berbicara dengan suara yang terdengar serak.
"Wah sahabat gue sudah jadi seorang ibu dong." Shelly turut bahagia dengan kehamilan sahabat nya.
"Shell, gue lelah! Hisk, hisk, hisk." Viola bingung harus menumpahkan rasa sedih nya itu pada siapa lagi.
"Vi! Ada apa? Kenapa Lo nangis?" Mendengar tangis dari sahabat nya membuat Shelly kebingungan.
"Darren tidak menginginkan ku dan juga bayi ku Shell!" Isak Viola. Dada nya benar-benar terasa sangat sesak.
"Vi, tenang kan dirimu sekarang. Lo bisa bicara secara perlahan pada ku! Sebenarnya apa yang terjadi?" Shelly yang masih tidak mengerti dengan ucapan dari sahabat nya. Berusaha menenangkan diri Viola.
"Shell, gue gak ngertii dengan jalan pikir nya Darren! Semalam dia bilang ingin memiliki anak dari rahim gue. Namun, saat gue hendak memberikan nya kejutan tentang berita kehamilan gue padanya. Tapi pada kenyataannya dia lah yang membuat gue sangat terkejut Shell." Tangis Viola semakin menjadi-jadi.
"Dia berbuat apa pada Lo Vi? Bilang! biar gue kasih dia pelajaran karna sudah membuat sahabat gue yang cantik ini bersedih." Shelly berusaha mencairkan suasana yang begitu terasa mencekam ia rasakan.
"Shell!" Sentak Viola pada Shelly.
"Baiklah maafin gue. Jadi yang membuat lo terkejut itu apa Vi?" Shelly yang tidak berhasil mencairkan suasana kembali ke topik awal pada Viola.
"Saat gue ingin ke perusahaan nya, semua orang menatap gue seperti panik. Lo tau Shell? Mereka semua itu panik karna takut kebusukan tuan muda mereka terbongkar oleh gue! Saat gue berada di depan ruang kerja Darren. gue mendengar kalau Darren mencintai Vaya! lo tau siapa Vaya Shell? Dia lah cinta pertama nya Darren." Viola sudah sesenggukan menjelaskan nya pada Shelly.
"Dan yang lebih parah nya gue dengar Darren masih sangat mencintai Vaya dari mulut Darren sendiri. Pantas saja selama ini Darren tidak pernah mengatakan kalau di mencintai gue! Pantas saja dokter Andhika berkata kalau Darren tidak mencintai gue. Dan pantas saja selama ini Darren tidak pernah mau menceritakan tentang kehidupan nya pada gue.. Itu semua karna gue tidak penting untuk nya Shell." Viola memukul kemudi nya itu dengan sangat kesal.
__ADS_1
Shelly yang mendengar ucapan dari sahabat nya tanpa sadar air mata Shelly juga ikut menetes. Ia tidak menyangka kehidupan sahabat nya seperti itu. Kehidupan saudara kembar nya juga seperti itu. Apa ini yang dinamakan takdir? Tapi, kenapa harus sahabat nya?
"Vi, tenang kan diri lo! Lo sedang hamil jangan buat diri lo tertekan. Ingat anak Lo masih sangat membutuhkan diri lo." Shelly berbicara selembut mungkin pada Viola.
"Darren? Itukan mobil Darren?" Viola menatap kearah kaca spion nya.
"Vi? Ada apa?" Tanya Shelly pada Viola.
"Darren mengejar ku Shell?" Jawab Viola yang fokus pada kemudi nya.
"Vi dengar kan gue! Jangan bawa mobil di saat lo sedang marah." Tegas Shelly pada Viola.
"gue tau Shell." Ujar Viola.
"Lo tau, tapi Lo tetap membawa mobil dengan kecepatan tinggi!!" Geram Shelly. Ia mendengar suara klakson yang begitu keras dari mobil sahabat nya itu. Yang menandakan sahabat nya pasti terburu-buru.
"Sial lampu merah!" Kesal Viola.
"Istriku ku! Buka lah pintu mobil nya. Akan ku jelas kan pada mu semuanya." Viola yang melihat Darren mengetuk-ngetuk pintu mobil nya hanya diam saja.
"Vi dengar kan gue! Semua nya bisa di bicarakan baik-baik. Tidak harus seperti ini! Vi ingat sesuatu yang berawal dengan rasa amarah akan berakhir dengan buruk. Sekarang turun lah dan dengar kan penjelasan suami Lo dulu. Jika Lo memang benar-benar tidak tahan lagi dengan nya. Itu semua bisa Lo bicarakan secara kepala dingin." Shelly berusaha membujuk sahabat nya. Ia benar-benar sangat khawatir dengan Viola.
"Tidak ada lagi yang harus kau jelas kan pada ku Darren!" Lirih Viola dengan air mata nya yang terus saja menetes.
"Jika kau tidak membuka pintu mobil ini, maka akan aku pecah kan kaca mobil nya sekarang!" Ancam Darren pada Viola.
Viola yang mendengar ucapan dari Darren. Ia tidak mempedulikannya sama sekali. Sampai saat tiba nya lampu lalu lintas berubah menjadi hijau. Dengan sangat kuat nya Viola menginjak pedal gas mobil nya itu. Membuat Darren sangat terkejut.
Namun tiba-tiba saja ada sebuah mobil sedan dari sisi berlawanan dengan mobil Viola yang langsung menghantam mobil Viola.
Viola yang di hantam mobil nya langsung menginjak rem mobil nya dengan sangat kuat
Ciiitttt..
Aaaaaaaaahhhhhhhh....
"Viola! Apa yang terjadi?" Shelly sangat terkejut mendengar suara sahabatnya itu.
"Shell, tolong!" Lirih Viola dan langsung menabrak kan mobil nya kearah tiang listrik agar tidak membahayakan orang lain.
Bughhh
Hantaman mobil Viola terdengar sangat jelas di telinga Shelly sampai panggilan nya itu terputus. Shelly yang mendengar nya langsung terduduk lemas.
Flash back off
^^^Bersambung...^^^
...****************...
__ADS_1