Menikahi Seorang Miliarder Dunia

Menikahi Seorang Miliarder Dunia
Eps. 42 Kisah cinta Erik Part 2


__ADS_3

"Aku ini asli! Kau tidak perlu mencubit dirimu seperti itu." Erik merasa lucu melihat wajah Vivian menahan sakit seperti itu.


"Hehehe abis nya melihat kakak itu bagaikan bintang yang tidak dapat aku gapai." Seloroh Vivian.


"Benarkah itu?" Erik mendekatkan wajah nya pada Vivian, membuat Vivian salah tingkah.


"Kak Erik jangan mendekat kan wajah mu seperti itu padaku." Vivian pun mengalihkan pandangannya.


"Kenapa? Bukan kah kau ingin menggapai bintang yang tidak bisa kau gapai itu?" Erik pun menatap serius wajah Vivian.


"Kau benar kak! Cuman rasanya jantung ku ini mau copot karna, detak nya terlalu cepat." Ujar Vivian dengan wajah polos nya.


"Gadis yang lucu!" Erik pun membelai rambut Vivian. "Kau sudah tidak apa-apa sekarang dan sudah boleh pulang. Dimana rumah mu? Biar aku antar kau pulang." tanya Erik pada Vivian.


"Aku..." Seketika wajah yang sangat ceria itu langsung murung. Mengingat apa yang terjadi baru saja membuat Vivian kembali sedih.


"Ada apa ?" Erik yang melihat Vivian sedih langsung menatap nya.


"Tadi, disaat kak Erik wisuda ingin sekali aku melihat nya. Namun, tiba-tiba ponsel ku berbunyi dan siapa sangka panggilan telfon itu membuat ku sangat sedih." Vivian langsung menangis histeris di depan Erik.


"Ada apa sebenarnya?" Erik menghapus air mata Vivian.


"Rumah yang susah payah aku bangun terbakar, karna tetangga ku yang teledor kak. Aku tidak tau harus tinggal dimana sekarang. Ingin rasanya aku balik ke panti asuhan dimana aku tinggal dari kecil. Tapi, aku tidak enak sama ibu panti." Vivian kembali menangis sekuat nya di depan Erik.


"Gadis yang lemah!" Erik menghela nafas nya. Ia sangat kasihan pada gadis itu. "Baiklah kau boleh tinggal di apartemen ku!"


"Apa..?" Vivian tidak percaya dengan apa yang ia dengar.


"Kau tidak mendengar nya Vivian?" tanya Erik dengan nada yang agak tinggi.


"Panggil saja Vivi kak! Aku mendengar nya dengan jelas. Namun, aku hanya terkejut saja. Jika aku tinggal di apartemen mu, kau akan tinggal dimana kak?" tanya Vivi pada Erik.


"Tentu saja di apartemen yang sama dengan mu!" Erik kesal mendengar pertanyaan yang cukup banyak dari gadis yang ia tabrak itu.


"Tapi kak, ..." Vivi takut jika harus tinggal di satu atap yang sama dengan lelaki yang bukan suami nya.


"Kau tidak usah takut! Aku tidak akan menyentuh mu. Lagian jika kau tinggal disana kau tidur dikamar yang berbeda dengan ku. Selain itu kau juga harus beres-beres disana!" Jelas Erik pada Vivi.


"Baiklah kak aku setuju!" Vivi pun langsung memeluk Erik dengan sangat kuat nya. "Terimakasih kak!"


Erik hanya tersenyum ketika di peluk oleh Vivian. Dia sendiri tau apa yang ia rasakan saat ini. Hanya saja Erik berusaha menutupi nya.


Mereka pun pergi dari rumah sakit menuju ke apartemen milik Erik.


"Kau tetap lah disini aku mau pergi dulu!" perintah Erik pada Vivian.


"Baiklah kak..!" jawab Vivian.


...🌾🌾...


Evn.Aggra groups..


Erik pergi meninggalkan Vivian dan pergi menuju keperusahan Evn.Aggra groups. Tidak menunggu waktu yang lama Erik tiba disana.

__ADS_1


"Kakak...!" Panggil Erik yang sudah berdiri di depan pintu ruangan kakak nya.


"Erik..!" Evan yang melihat Erik memanggil nya langsung tersenyum.


"Kau itu serius sekali sih kak dengan komputer mu itu!" ketus Erik pada Evan.


"Jika, aku tidak seserius ini bagaimana bisa aku membiayai kuliah mu itu!" Evan tersenyum menatap adik nya itu.


"Baiklah kak! Lihat lah kak aku sudah lulus sekarang! Nilai ku juga sangat bagus dan aku akan membangun perusahaan ku sendiri nanti nya!" Erik merangkul bahu kakak nya itu.


"Baiklah adik ku! Kau akan menjadi lawan bisnis ku nanti nya." Evan tertawa melihat adik nya itu.


"Siapa takut kak!" ujar Erik dengan sangat semangat nya. "Oh iya kak! Tadi aku menabrak seseorang."


"Apa?? Bagaimana bisa kau menabrak orang Rik!!" Evan menatap tajam adik nya itu.


"Aku tidak sengaja kak!" Erik pun mulai menceritakan semua nya pada Evan. Dan juga menceritakan apa yang terjadi jika jantung nya terus saja berdetak.


"Hahahaha kau itu baru melihat nya sudah jatuh cinta!" Evan pun tertawa melihat adik nya itu.


"Jatuh cinta kak?? Bagaimana bisa?" Erik sama sekali tidak percaya.


"Erik jika kau mengalami hal seperti itu pada seorang gadis, itu namanya kau mencintai gadis tersebut." Evan menghela nafasnya berusaha menjelaskan dengan sangat perlahan pada adik nya itu.


"Tapi, mengapa aku cuman merasakan padanya saja kak? Padahal aku juga sering bertemu dengan seorang gadis untuk pertama kali nya. Tapi, tidak seberdebar itu kak." Erik kembali menatap kakak nya itu.


"Itu namanya cinta Erik!" Evan kesal melihat adik nya itu yang tidak paham jugak.


"Tidak pernah dan tidak akan pernah mau untuk merasakannya! Sudah sana pulang ke apartemen mu. Kakak mau kerja!" Evan pun mengusir adik nya itu.


"Kakak kau mengusir ku?" Erik merasa kesal dengan perlakuan kakak nya itu.


"Maaf..!" Evan pun mengejek adik nya yang sudah sangat kesal.


"Lihat saja jika aku sudah punya perusahaan sendiri aku akan mengusir mu kembali kak!" Teriak Erik pada kakak nya. Sementara Evan hanya tertawa saja.


2 bulan sudah berlalu...


Erik masih bersikap seperti biasanya. Hanya saja Vivian merasa tidak enak. Karna, sejak Erik pulang 2 bulan yang lalu di lebih menjadi sangat diam. Vivian jugak sudah pernah mencoba untuk akrab pada Erik. Namun, Erik hanya bersikap seperti biasanya. dan hanya ngomong seperlunya saja. Membuat Vivian merasa canggung tinggal di apartemen Erik.


"Mengapa kak Erik mendiami ku seperti itu ya?" Pikir Vivi dengan sangat keras.


"Sebaiknya aku tinggal di panti saja lah! Kurasa kak Erik mengijinkan ku tinggal disini karna, ia merasa bersalah telah menabrak ku 2 bulan yang lalu." Vivian pun bergegas membersihkan apartemen milik Erik dan setelah selesai membersihkan nya Vivian menghampiri Erik yang duduk di ruang tengah.


"Kak..!" Panggil Vivi dengan sangat hati-hati nya


"Emm.." Erik hanya mengehem kan nya saja. Sebenarnya Erik sudah tidak tahan dengan perasaan nya. Namun, Erik juga takut di tolak oleh Vivian jadi dia memilih untuk menyembunyikan perasaan nya saja.


"Kak aku mau pindah saja! Kau tidak usah khawatir kak. Aku akan tinggal di panti, dan kak Erik jugak tidak usah merasa bersalah lag.i karna, udah menabrak ku 2 bulan yang lalu." Vivian pun langsung berbicara dengan sangat cepat nya agar Erik tidak marah padanya.


"Kau tidak betah tinggal bersama ku?" Erik menatap Vivian dengan sangat tajam.


"Bukan seperti itu kak!" Vivi pun menundukkan kepalanya itu.

__ADS_1


"Lalu, kenapa kau ingin pindah?" Erik tidak ingin Vivi meninggalkan nya begitu saja. Karna, untuk pertama kali nya ada seorang wanita yang bisa membuat nya jatuh cinta dalam pandangan pertama.


"Aku merasa canggung tinggal bersama mu kak! Kau hanya diam saja padaku. Sementara aku seperti burung beo yang terus saja berbicara. Jadi, ku pikir karna, kakak merasa bersalah pada ku, makanya kakak mengijinkan aku tinggal disini!" jelas Vivi pada Erik dengan panjang lebar nya.


"Gadis bodoh!" Erik pun langsung menarik tangan Vivi, sehingga membuat tubuh Vivi sangat dekat padanya.


"Kakak kau ingin melakukan apa?" tanya Vivi yang tidak mengerti sama sekali.


"AKU MENCINTAIMU!!" bisik Erik ditelinga Vivian yang langsung membuat Vivi terkejut dan hanya terdiam saja.


"Mengapa kau diam Vi?" Erik yang melihat Vivi terdiam seperti itu merasa sangat terkejut.


"Kak? Kau baik-baik saja bukan? Mengapa kau berbicara seperti itu padaku?" Vivian sama sekali tidak bisa mengatur jantung nya yang terus saja berdetak kencang.


"Hahahaha kau menolak ku?" Erik merasa kecewa mendengar perkataan Vivi pada nya dan tertawa kecil.


"Tidak kak! Aku tidak menolak mu. Tapi..."


"Cup.." Erik langsung mencium bibir Vivi dengan sangat cepat membuat Vivian kebingungan.


"Kak! Itu ciuman pertama ku. Mengapa kau mengambil nya begitu saja!" Sungut Vivi pada Erik. Membuat Erik semakin gemas.


"Jadi, kau menerima ku?" Erik merasa sangat bahagia. Karna, gadis yang ia suka masih menyimpan ciuman pertama nya sama seperti nya yang menyerahkan ciuman pertama nya itu pada Vivian.


"Aku takut!" Jawab Vivi dengan ragu.


"Kau takut kenapa?" Tanya Erik dengan heran.


"Aku takut kakak berbohong padaku." Vivi hanya menundukkan wajahnya saja.


"Hahahaha kau itu Vi! Aku tidak akan berbohong pada mu." Erik langsung tertawa mendengar ucapan Vivian padanya.


"Bagaimana jika nanti kakak menemukan gadis yang sangat cantik dan langsung meninggalkan ku?" Vivian merasa takut. Entah kenapa dia merasa hubungan ini akan berakhir dengan buruk.


"Aku berjanji tidak akan meninggalkan mu sampai kapanpun. Dan jika kau yang meninggal kan ku maka, aku akan mengakhiri hidup ku ini!" Erik mengusap wajah Vivian dengan sangat lembut nya.


"Kau itu bicara apa sih kak! Aku jugak janji tidak akan meninggalkan mu. Jika, kau mengakhiri hidup mu itu maka, aku akan melakukan hal yang sama kak!" Vivian pun langsung memeluk Erik. Vivian memang dari awal sudah mencintai Erik. Sejak ia masuk kuliah lelaki yang ia pandang pertama kali nya adalah Erik. Dan Erik lah cinta pertama Vivian.


"Vivi!! Kau percaya padaku bukan?" Erik menatap wajah Vivian dengan sangat lekat. Dan Vivian pun mendekati wajah nya pada Erik.


Erik menyentuh bibir kecil Vivian dengan sangat lembut. Mencoba menyentuh bibir kecil itu dengan bibir milik nya. Untuk pertama kali nya Vivian memejamkan matanya. Hanya senyuman kecil yang tersungging di bibir Erik. Kini, Erik melanjutkan ciuman nya itu yang terus menuntun lebih dalam lagi. ******* nya secara perlahan. Memainkan lidah nya kedalam mulut Vivian sehingga membuat Vivian sulit untuk bernafas. Karna, melihat Vivian seperti itu dengan segera Erik melepaskan ciuman nya itu. Bagaimana bisa ciuman pertama akan sepanas ini, pikir Erik.


"Kakak mengapa aku sulit bernafas." tanya Vivi dengan sangat polos nya.


"Jangan panggil aku kakak Vi! Panggil saja aku Erik atau sayang." Erik tersenyum pada Vivian.


"Baiklah sayang," entah kenapa Vivian sangat nurut pada Erik.


"Gadis pintar!" Erik pun mengendong tubuh Vivi kekamar nya.


^^^ Bersambung...^^^


...****************...

__ADS_1


__ADS_2