
Andhika berusaha berpikir bagaimana caranya agar ia bisa terselamatkan oleh amukan Darren dari nya. Ia tidak akan pernah mau di hukum oleh Darren seperti Bobby dan juga yang lain nya.
"Tuan muda, maafkan saya. Saya tidak pernah bosan dengan pekerja saya ini. Lihat lah bukti nya saja saya selalu membawa perlengkapan kedokteran saya kemanapun saya pergi." ujar Andhika pada Darren.
"Kau pikir aku peduli! Sekarang pikirkanlah bagaimana cara nya kau mengobati istri ku tanpa menyentuh nya!" Tegas Darren pada Andhika membuat Andhika menghela nafas nya.
"Memang nya aku ini dukun apa! Yang bisa mengobati orang tanpa menyentuh nya." gumam Andhika dengan suara kecil nya.
"Apa kau bilang?" Darren yang mendengar sekilas gumaman Andhika langsung menatap nya tajam.
"Tidak ada tuan muda! Saya hanya menelan air liur saja." Andhika tidak ingin berdebat dengan sahabat nya yang sangat dingin itu.
"Kasella! Kuharap kau jangan pernah bermain kata-kata dengan ku!" Tatap tajam Darren pada Andhika.
"Saya tidak akan pernah berani tuan muda." Jawab Andhika pada Darren.
"Tidak usah banyak ngomong. Cepat obati istriku!" Perintah Darren pada Andhika dengan suara keras nya.
"Baik tuan muda." Dengan segera Andhika mengeluarkan semua perlengkapan nya.
"Tuan muda, bisakah tuan muda membantu saya untuk mengobati istri tuan?" Tanya Andhika dengan suara malas nya.
"Dokter Kasella! Berani sekali kau memerintahkan ku." Darren menatap Andhika dengan sangat tajam nya.
"Saya tidak berani tuan muda. Saya hanya meminta tolong saja! Jika tuan muda tidak mau menolong saya, maka dengan sangat terpaksa saya harus menyentuh nyonya muda untuk mengobati luka nya." Jawab Andhika dengan sangat malas nya.
"Jika kau berani melakukan nya, maka mulai detik ini juga profesi mu sebagai dokter akan aku cabut!" Darren yang mendengar ucapan Andhika padanya merasa sangat kesal.
"Saya tidak berani melakukannya tuan muda! Oleh karna itu saya meminta bantuan anda tuan." Andhika benar-benar sangat muak jika mendengar berbagai macam ancaman teman nya itu.
"Baguslah jika kau tidak berani! Sekarang apa yang harus aku lakukan?" Tanya Darren pada Andhika dengan menatap kearah luka istri nya.
"Tuan muda hanya perlu membuka perban yang ada di kepala istri tuan." Jawab Andhika dan mengeluarkan antiseptik untuk membersihkan luka Viola.
"Lalu apa lagi?" Darren yang sudah selesai membuka perban Viola langsung menatap Andhika kembali.
"Bersihkan luka nya dengan ini!" Andhika pun menyerahkan larutan disinfektan pada Darren untuk membersihkan luka Viola. "Oh iya tuan muda, saya harap anda membersihkan nya secara perlahan. Soalnya ini akan sedikit perih!" Andhika tersenyum kecil pada Darren.
"Kasella! Tidak ada kah obat yang tidak menyakiti istri ku?" Tanya Darren pada Andhika.
"Sayang sekali tuan muda obat yang seperti itu belum saya ciptakan. Jika tuan muda ingin istri tuan cepat sembuh, maka tahan lah sedikit saja." Andhika benar-benar malas melihat kelakuan Darren yang selalu saja posesif.
Mata Darren menatap kearah Viola. Viola yang tau Darren sedang menatap nya hanya tersenyum saja dan menganggukan kepalanya agar Darren segera mengobati nya.
"Tahan lah sedikit! Ini akan sedikit perih." Begitulah perkataan yang keluar dari mulut Darren.
Viola hanya tersenyum saja. Sementara Darren dengan sangat perlahan nya membersihkan luka Viola membuat Andhika menjadi nyamuk diantara mereka berdua. dan membuat perkejaan nya, yang seharusnya cepat selesai jadi sangat lama karna drama suami istri yang ada di hadapannya itu.
Huft!
Huft!
__ADS_1
Huft!
Darren meniup luka Viola agar tidak terasa perih saat dia membersihkan nya. Viola merasa sangat tersentuh melihat kehangatan yang Darren berikan pada dirinya itu.
"Ya Tuhan! Mengapa aku menjadi makhluk yang sangat menderita jika berada di sekitar manusia dingin dan tidak punya hati ini!" Lirih Andhika di dalam hatinya.
"Sudah selesai! Selanjutnya apa lagi?" Darren yang sudah selesai melakukan nya mulai bertanya pada Andhika membuat Andhika buyar dari lamunannya.
"Baiklah tuan muda! Selanjutnya anda hanya perlu memberikan obat ini dan memperban kan lukanya kembali. Setelah itu semuanya sudah selesai!" Andhika kembali memberikan obat pada Darren.
Darren yang mengerti langsung melakukan semua nya dengan sangat hati-hati dan juga sempurna. Semua yang ia lakukan pasti hasil nya akan sangat baik dalam pekerjaan apapun itu. Ia akan mempelajari nya terlebih dahulu baru melakukan nya itulah sifat yang Darren miliki.
"Istri ku! Sekarang luka mu sudah ku obati. Jadi, jangan membuat diri mu terluka lagi mulai sekarang! Karna, aku sangat malas harus memanggil dokter gila ini." Sinis Darren pada Andhika membuat Andhika sangat kesal.
"Terimakasih tuan muda. Karna, tuan muda sudah mengerti betapa lelah nya saya yang selalu di panggil secara tiba-tiba seperti ini! Oleh karna itu saya harap mulai sekarang nyonya muda harus lebih berhati-hati lagi ya. Agar tidak terjadi hal yang kita semua tidak inginkan." Andhika senyum selebar-lebarnya pada mereka.
"Kasella! Apa maksudmu berkata seperti itu?" Tatap tajam Darren mengarah pada Andhika.
"Tidak ada maksud apa-apa tuan muda. Saya hanya mendoakan yang terbaik saja." Elak Andhika pada Darren.
"Sudah Darren! Kau itu suka sekali marah pada Dokter Andhika. Bukan nya dia juga sudah sangat membantu mu dan juga mengobati ku." Viola berusaha melerai mereka agar keadaan tidak semakin panas.
"Istri ku! Kau perlu menggaris bawahi satu hal. Bahwa yang mengobati mu itu aku! Hanya aku." Tegas Darren pada Viola membuat Viola menghela nafas nya.
"Iya Darren, hanya kau saja!" ujar Viola dengan malas nya.
"Cih! Jika bukan aku yang memberitahu apa saja yang harus di lakukan nya. mana mungkin dia bisa mengobati istri nya itu sendirian! Kalau dia pun bisa melakukan nya sendiri dia tidak perlu memanggil ku kemari." Sinis Andhika di dalam hati nya menatap kearah Darren.
"Dokter Kasella! Perlu ku ingat kan pada mu. Jangan pernah--"
"Come on bro! Semua ucapan mu aku sudah mengetahui nya." ujar Andhika pada Darren membuat Darren tersenyum sinis.
"Mereka berdua benar-benar sangat cocok! Sama-sama memiliki sifat yang tidak waras." gumam Viola di dalam hati nya dan menepuk pelan kening nya itu.
Viola sangat pusing melihat mereka yang selalu saja bertengkar. Andhika yang selalu memiliki sifat membuat orang lain marah. Sedangkan Darren memiliki sifat yang suka marah. Jika mereka berdua di pertemukan maka yang akan kena akibat nya adalah orang di sekitar mereka.
"Kasella! Seperti nya kau sudah tau seperti apa aku." Darren menaikkan kedua alisnya itu di hadapan Andhika.
"Tentu saja aku mengetahui! Dan satu hal lagi. Aku sangat mohon pada miliarder dunia ini agar tidak menyebut nama marga ku lagi! Tuan muda bisakah anda memanggil ku Andhika saja? Nama itu lebih bagus dari pada Kasella." Andhika menyatukan kedua tangannya seperti memohon.
"Dokter Kasella! Seperti nya kau itu sudah sangat di manjakan oleh ku. Kau lupa ketika kau masuk kemari kesalahan apa yang kau lakukan itu? Dan sekarang kau berani meminta ku untuk melakukan hal yang tidak ingin ku lakukan?" Tatap Darren dengan sangat licik nya membuat dokter Andhika kembali mengingat nya dan menelan saliva nya itu.
"Ayolah Darren! Kau itu kan teman ku. Masaan karna hal spele seperti itu kau harus marah." Andhika berusaha menenangkan Darren agar tidak emosi lagi dan menghukum nya.
"Sayang sekali dokter Kasella! Kau belum memahami ku sepenuhnya. Bobby yang sudah bersama ku sejak kecil saja sudah ku hukum dengan sangat berat. Apalagi kau yang hanya kenal beberapa tahun dengan ku. Pasti akan lebih berat lagi hukuman nya!" ujar Darren dengan suara datar nya dan menatap sinis Andhika.
"Gila! Manusia gak punya hati memang dia. Pantas saja semua orang bilang dia itu kejam!" Andhika menatap kearah Darren dengan muka yang sudah di buat nya sesedih mungkin.
"Maafkan saya tuan muda! Saya terlalu ceroboh sehingga menggangu momen terindah anda. Ini semua karna saya terlalu khawatir dengan pasien saya tuan muda." ujar Andhika dengan berbagai alasan nya.
"Darren sudah lah! Lagian ini juga bukan masalah besar. Aku tidak ingin melihat kalian bertengkar terus-menerus." Bisik Viola pada Darren dengan nada yang di tekan nya.
__ADS_1
"Istri ku! Apakah kau tau? Menyentuh mu itu lebih susah dari pada aku harus memenangkan sebuah proyek besar dengan perusahaan lain. Tentu saja aku akan sangat marah pada dokter ceroboh ini yang sudah menggagalkan semua keinginan yang sudah lama aku nantikan." balas Darren dengan suara yang besar membuat wajah Viola langsung memerah.
"Darren! Tidak bisakah kau berbicara pelan saja saat mengatakan hal itu dihadapan ku? Aku malu jika dia mendengar nya dan mengejekku." Ketus Viola pada Darren.
"Kasella! Kau mendengar nya?" Tanya Darren tanpa menatap kearah Andhika.
"Tidak tuan muda," jawab Andhika yang pada kenyataannya itu adalah bohong.
"Kau dengar kan istriku! Dia saja tidak mendengar nya untuk apa kau harus malu." Darren langsung tersenyum menatap wajah Viola yang sudah sangat kesal.
"Kau itu selalu saja memiliki semua orang untuk melakukan apa saja yang kau perintah kan!" Kesal Viola pada Darren.
"Itulah keuntungan nya menjadi seorang pemimpin." Darren membelai rambut istri nya dan kembali menatap kearah Andhika
"Kasella! Karna kau sudah membantu ku mengobati istri tercinta ku ini. Maka, kau bebas dari hukuman yang akan ku berikan!" ujar Darren tanpa tersenyum pada Andhika membuat Andhika langsung bahagia.
"Terimakasih tuan muda! Anda memang sangat baik. Ternyata apa yang di rumor kan di luar sana benar adanya. Anda terkenal sangat baik dengan semua orang tuan muda." Andhika pun langsung mengeluarkan semua pujian nya pada Darren.
"Tentu saja!" Jawab Darren dengan aura sombong nya.
"Ternyata menjilat ludah sendiri lebih mengerikan ya! Jelas-jelas semua orang tau seperti apa singa itu di rumor kan. Tapi, bisa-bisanya dokter Andhika berkata seperti itu tanpa merasa dosa sedikit pun." Viola hanya menggeleng kan kepalanya menatap kearah dokter Andhika dan juga suaminya.
Darren yang melihat Viola menggelengkan kepalanya langsung merasa bingung dengan istri nya itu.
"Istri ku! Ada apa?" Tanya Darren pada Viola.
"Darren, ternyata menjilat ludah sendiri itu lebih mengerikan ya." ujar Viola yang masih menatap kearah Andhika.
"Untuk apa kau menjilat ludah mu sendiri ha? Tidak ada kerjaan saja!" Darren yang tidak mengerti ucapan Viola langsung menatap nya tajam.
"Yang jilat ludah sendiri itu siapa sih Darren?" Viola kembali menatap kearah Darren.
"Bukan nya tadi kau berbicara seperti itu?" Tanya Darren balik pada Viola.
"Bukan itu maksudku! Maksud ku itu-- Arghh sudah lah! Kau juga tetap tidak akan mengerti jika aku menjelaskan nya pajang lebar." Viola langsung mengacak-acak rambut nya itu.
"Istri ku, kau itu apa-apaan sih!" Dengan segera Darren membenarkan rambut istri nya yang sudah berantakan.
"Kau sih membuat ku kesal!" Ketus Viola.
Darren hanya menerima saja ocehan Viola padanya. Ia tidak ingin bertengkar dengan istri nya itu jika ia masih ingin melanjutkan hal yang sempat tertunda tadi. oleh karena itu Darren harus bisa sangat sabar menghadapi Viola. Darren tidak mau gara-gara mereka bertengkar hal yang tertunda tadi akan tertunda lagi.
"Kasella! Kau keluar lah dari ruangan ku. Bukan kah kau bilang pasien mu itu sangat banyak! Jadi aku sudah tidak membutuhkan mu lagi." Ujar Darren dengan suara datar nya.
"Manusia macam apa dia yang tidak ada terimakasih nya?" Andhika yang mendengar ucapan Darren merasa kesal.
"Kasella--" Darren yang mengerti dari mimik wajah sahabat nya itu langsung menatap nya.
"Maaf kan saya tuan muda. Saya permisi kembali sekarang tuan muda." Andhika menundukkan kepalanya dan pergi meninggalkan sahabat nya itu ketika Darren sudah menganggukkan kepalanya yang artinya ia sudah boleh pergi.
Kini hanya ada Darren dan Viola disana mereka saling tatapan satu sama lain nya. Viola hanya bisa membalas tatapan Darren yang sangat dalam nya menatap dirinya itu membuat Viola jadi salah tingkah.
__ADS_1
^^^Bersambung...^^^
...****************...