
"Kau meninggikan suara mu pada ku?" Lirik tidak percaya Alvi kearah Shelly.
"Ya! Itu karna anda sudah kelewatan pak. Saya kesini dengan attitude baik mengundurkan diri dari cafe bapak. karna rasa tanggung jawab saya! Tapi apa yang bapak lakukan? Bapak seperti mengatur hidup saya!" Bentak Shelly pada atasan nya itu.
Viola menatap intens terhadap sahabat nya. Ada rasa terharu di hati nya karna sahabatnya lagi dan lagi melindungi diri nya.
"Jika kau tidak ingin diatur seperti ini. Kau seharusnya menerima lamaran ku sejak lama." Nafas Alvi sudah tersengal-sengal karna amarah.
"Pak, berapa kali sudah saya katakan. Saya tidak mencintai anda! Kenapa anda memaksa sesuatu yang mustahil?" Lirih Shelly. Ia sudah kehabisan akal untuk menjelaskan semuanya pada atasan yang keras kepala itu.
"Shelly, dengar kan aku!" Alvi berjalan mendekat kearah Shelly lalu memegang tangan Shelly.
"Cinta akan tumbuh jika kita menghabiskan waktu lebih banyak." Timpal Alvi sambil mengusap air mata Shelly.
"Tapi, aku sedang mengandung pak Alvi. Sangat tidak mungkin jika kau menikah dengan wanita yang memiliki bayi dari pria lain." Shelly sengaja berbicara seperti itu agar atasan nya sadar diri.
"Aku akan menerima nya! Aku juga tidak perduli kau memiliki bayi dengan pria manapun. Namun, saat kau sudah bersama ku, kau harus tetap selama nya menjadi milik ku!"
"Anda adalah laki-laki ter-brengsek yang pernah saya temui!" Kecam Shelly membuat Alvi tidak percaya.
"Kau--"
"Bagaimana bisa anda seegois ini? Dengar pak Alvino Mahendra. Saat ini kurasa kau bukan mencintai ku! Namun, kau lebih terobsesi untuk memiliki ku." Timpal Shelly kembali.
"Ushhh ... Ushhh! Jangan berbicara seperti itu." Alvi menutup mulut Shelly dengan lembut.
"Aku mencintaimu bukan terobsesi pada mu Shelly. Jika aku tidak mencinta mu tidak mungkin aku melakukan semua hal bodoh demi untuk mendapatkan mu." Alvi menatap teduh wanita yang masih menatap diri nya.
"Anda sudah kelewatan Alvino Mahendra!" Viola langsung menepis tangan pria yang sejak tadi memegang sahabat nya.
"Diamlah ditempat mu!" Raung Alvi kearah Viola hingga membuat Viola memundurkan langkahnya.
"Sudah cukup pak! Saya lelah. Saya rasa pengunduran diri saya sudah sangat jelas!" Shelly langsung menghampiri Viola.
"Ayo kita pulang Vi!" Shelly memegang tangan sahabat nya. Namun, saat mereka ingin keluar pintu ruangan atasannya itu terkunci. Membuat Shelly menatap tajam atasan nya.
"Pak, biarkan saya pergi!" Tekan Shelly.
"Menikah lah dengan ku Shell! Aku akan menerima bayi mu dengan sepenuh hati." Alvi berjalan kearah Shelly. Ia benar-benar sudah sangat gila dengan wanita yang selama ini memporak-porandakan hati nya.
"Pak bisa kah kau jangan bertingkah konyol seperti ini? Kau berbicara hal yang tidak masuk akal. Kau hanya menginginkan ku bukan bayi ku! Aku tidak akan membiarkan bayi ku memiliki papa seperti mu." Shelly menatap ilfil kearah Alvi.
"Sebegitu nya kau tidak menyukai ku?" Sakit rasa nya mendengar ucapan wanita yang ia cintai itu.
"Kau yang membuat ku semakin tidak menyukai mu pak." Shelly mengusap wajah nya dengan sangat kasar.
"Sebaiknya biarkan saya pergi sebelum saya semakin membenci anda." Timpal Shelly kembali.
"Apa kurang nya aku? Kenapa kau lebih memilih pria itu daripada aku?"Alvi menggoyang-goyangkan tubuh Shelly membuat Shelly merasa pusing.
"Sudah cukup pak! Kau menyakiti sahabat ku." Viola meninggikan suara nya itu hingga membuat Alvi berhenti.
__ADS_1
"Viola Talisa! Sejak tadi kau terus saja ikut campur dalam urusan ku."
"Kau sudah kelewat batas. Cinta mu sudah tidak sehat lagi! Kau memaksa kan semua nya yang sulit di terima orang lain. sadarlah! Di dunia ini tidak semua keinginan kita bisa terpenuhi." Viola mulai meneriaki Alvi.
Sementara Alvi bukan nya Luluh, ia malah semakin emosi. Karna untuk pertama kali nya ada seorang wanita yang berani menyalah kan diri nya karna mencintai seseorang.
"Aww!" Tangan Viola terasa sangat sakit sekali saat di cengkram oleh Alvi sambil menatap nya tajam.
"Lepaskan sahabat saya pak! Anda jangan cari masalah yang bisa membuat anda menyesal selama nya." Tutur Shelly sambil berusaha melepaskan tangan atasannya pada tangan sahabat nya itu.
"Sekalipun suami nya terkenal kejam, aku tidak takut sama sekali!" Sinis Alvino membuat Viola langsung tertawa.
Shelly yang melihat sahabatnya tertawa sangat kuat merasa merinding. ia tidak pernah melihat Viola seperti ini sebelumnya.
"Kenapa kau tertawa?" Alvino semakin kuat mencengkram tangan Viola.
"Pak Alvi lepasin tangan Anda!" Shelly berusaha kembali melepaskan tangan atasannya itu.
"Tuan Alvino Mahendra! Anda berani mengatakan hal seperti itu karna anda belum pernah menghadapi bagaimana suami ku itu." Viola tersenyum kecil.
"Ha! Harus dari mana ku mulai untuk memberitahu mu bagaimana kejam nya suami ku saat tau seseorang mencekram tangan istri nya begitu kuat." Viola menatap penuh arti membuat Alvi sempat menelan Saliva nya.
"Jangan kan untuk mencekram ku seperti ini. menyentuh ku tanpa sengaja saja bisa menghancurkan orang tersebut." Viola mengedipkan mata nya membuat Shelly sedikit ngeri. Sejak kapan sahabat nya bersikap sama seperti suami nya itu.
"Kau--"
"Jika anda masih ingin selamat. Sebaiknya lepaskan tangan anda sebelum terlambat!" Sela Viola saat ia semakin merasa sakit ketika cengkraman Alvi semakin kuat.
"Baiklah jika yang kau katakan itu benar. Aku ingin melihat seperti apa marah nya seorang miliarder dunia yang kejam itu." Senyuman juga ikut tersungging di wajah Alvi.
"Sejal awal aku memang sudah dalam masalah saat mengejar diri mu." Alvi masih kecewa pada wanita yang selama ini ia kejar-kejar terus saja menolak diri nya. Wanita pertama yang berani menolak diri nya dan juga berkata kasar pada nya.
"Lepaskan dia!" Shelly meninggikan suara nya lalu ia terus saja berusaha melepaskan tangan Alvi. Karna tenaga nya kalah oleh tenaga Alvi membuat Shelly sedikit berkeringat dan lelah
"Shell biarkan dia! Ingat kau sedang hamil." Viola berusaha tersenyum walaupun saat ini tangannya sudah sangat pucat.
"Panggil saja kepala bodyguard!" Perintah Shelly pada sahabat nya.
Entah sudah berapa kali Shelly berteriak namun, tidak ada reaksi apa pun dari arah luar. Membuat Alvi tersenyum penuh kemenangan.
"Ruangan ku kedap suara sayang." Alvi tersenyum kearah Shelly.
"Shell, telpon Bobby atau pun suami ku." Ujar Viola kembali yang sudah merasa lemas pada tubuh nya.
"Tidak semudah itu," Alvi langsung merampas handphone yang ada di tangan Shelly.
"Pak! Kembalikan ponsel saya." Kesal Shelly dengan berusaha mengambil ponsel nya pada tangan Alvi yang satu lagi. Membuat mereka berdua semakin dekat. Ditatap nya lekat wanita yang sudah mengambil semua hati nya lalu mencampakkan nya begitu saja.
"Cup!" Tiba-tiba saja Alvi mencium pipi Shelly saat Shelly berusaha mengambil ponsel nya membuat Shelly langsung menampar wajah Alvi.
"Dasar pria mesum!" Cerca Shelly pada Alvi.
__ADS_1
Alvi yang mendengar ucapan Shelly bukan nya marah ia justru semakin gemas melihat tingkah Shelly. Sementara Viola yang melihat mereka berdua terus tatap-tatapan langsung mengambil kesempatan menghubungi suami nya melalui ponsel milik nya dengan tangan satu nya lagi.
...☄️☄️...
Apartemen Bobby.
Saat ini Darren tengah duduk di ruang tamu Bobby sambil meminum kopi nya dan melihat beberapa dokumen yang sedang ia tanganin.
Namun, tiba-tiba saja ponsel Darren berdering hingga membuat Darren mengalihkan pandangannya kearah ponsel nya. Sebuah senyuman tersungging di bibir Darren saat ia tau siapa yang menelpon diri nya.
"Ada apa sayang?" Ucap Darren saat ia sudah mengangkat panggilan nya.
Bukan jawaban yang ia terima justru malah suara lain yang di dengar Darren membuat Darren bangkit dari duduk nya
"Istri ku," panggil Darren dengan suara tinggi nya membuat Andhika dan juga Bobby keluar dari dalam kamar.
"Ada apa Darren?" Tanya Andhika.
"Ya ada apa?" Bobby menatap kearah Darren
"Aku tidak tau! Tapi suara nya sangat riwuh." Darren pun menyalakan speaker pada ponsel nya.
Shelly saat ini masih marah atas kelancangan atasannya itu. Viola yang sudah tau panggilan nya terhubung langsung memasukan ponselnya ke saku celana nya agar Alvino tidak curiga.
"Shelly tenanglah! Kau sedang hamil." Viola berusaha menenangkan sahabat nya itu.
"Bagaimana aku bisa tenang jika dia saja berani mencium ku dan mencekram tangan mu dengan sangat kuat!" Shelly menatap tajam sahabat nya lalu kembali menatap kearah Alvi.
"Berani nya dia menyentuh istri ku!!" Saat mendengar ucapan Shelly membuat emosi Darren meningkat hingga saat ini Andhika menelan Saliva nya itu.
"Sial!Laki-laki itu sekarang semakin berani melakukan hal yang menjijikkan pada calon istri ku." Bobby mengepalkan kedua tangannya lalu melepas paksa infus pada tangan nya.
"Bob, apa yang kau lakukan?" Andhika yang melihat Bobby melepaskan infus nya sangat terkejut.
Namun, saat ia terkejut ia malah mendapat kan tatapan tajam oleh Darren dan juga Bobby. Pria yang terkenal akan sangat kompak jika melakukan hal yang berbahaya membuat diri nya begidik ngeri.
"Telpon semua agen rahasia ku! Dan bilang pada nya untuk mengusir seluruh pembeli yang ada di cafe itu." Perintah Darren pada Bobby.
"Baik tuan muda," Bobby mengangguk kepalanya nya dan mulai menelpon agen rahasia melalui telpon nya.
"Setelah itu telpon kepala bodyguard yang menjaga Viola untuk tetap diam di tempat nya sebelum aku datang." Perintah Darren kembali.
"Tapi--" saat mendengar ucapan Darren membuat Bobby sedikit ragu. Karna saat ini tidak hanya istri sahabatnya saja yang terlibat dengan pria itu namun calon istri nya juga ada disana.
"Biarkan aku yang menghabisi nya sendiri dengan tangan ku!" Sebuah senyuman yang mengerikan tersimpul diwajah Darren.
Andhika yang melihat mereka berdua kembali bertingkah seperti itu merasa panas dingin. Sungguh beratapa sial nya dia menyaksikan adegan yang paling ia benci. Yaitu sifat mengerikan sahabat nya itu.
"Kasella! Kau ikut dengan ku. Karna jika istri ku tidak baik-baik saja aku tidak akan repot-repot untuk menyuruh mu datang." Timpal Darren kembali lalu berjalan menuju ke mobil nya.
Mereka bertiga pun pergi menuju ke cafe dimana Viola dan Shelly berada disana. Dengan wajah yang mematikan membuat Andhika tidak berkutik saat duduk di samping Darren. Sementara Bobby saat ini sedang duduk disamping supir dan sibuk memanggil para bodyguard lain nya untuk mengikuti mobil mereka dari belakang.
__ADS_1
^^^Bersambung.....^^^
...****************...