
Keesokan harinya...
Hari ini Darren bangun lebih awal. Ia sengaja tidak membangun kan Viola. Karna malam ini akan menjadi malam yang paling bahagia bagi Darren.
"Istriku, saat aku pulang nanti kau bersiap lah secantik mungkin. Karna mungkin kau adalah wanita pertama yang akan mendapatkan pengakuan cinta dari ku." Bisik Darren dan langsung mencium kening Viola.
Sebelum Darren pergi, Darren sudah meletakkan sandwich dan juga susu di tas meja dengan selembar note di atas piring nya.
... ✨✨...
"Hoamm!!" Viola terbangun dari tidurnya dalam kondisi menggeliatkan tubuhnya itu.
"Darren!" Viola melihat keseluruhan kamar nya yang terlihat sangat gelap karna tirai yang belum di buka oleh suami nya itu.
Viola turun dari ranjang nya berjalan kearah tirai kamar nya dan di buka tirai tersebut secara perlahan sinar matahari menyinari kamar Viola.
"Darren kemana ya?" Pikir Viola dengan mencari-cari keberadaan Darren di dalam ruangan yang ada di kamar nya itu.
Viola masih belum menyadari ada sesuatu di atas meja lampu nya itu. Saat Viola berjalan mendekat kearah jam alarm suaminya Viola langsung melihat ada sandwich dan juga susu di atas meja tersebut.
Viola yang melihat makanan tersebut langsung tersenyum dan mengambil note yang ada di atas piring tersebut.
To: My wife.
Aku tidak tau kau memakan atau meminum minuman ini masih dalam kondisi panas atau dingin.yang pasti nya aku ingin melihat mu berdandan cantik malam ini istriku.(•‿•)
Saat ini makan lah yang banyak! Karna aku tau jika malam ini kita bertemu kau pasti akan sulit untuk bernafas apalagi untuk makan.
Istriku, aku akan pulang telat karna satu hal yang penting! Ku peringatkan sekali lagi padamu! Perkataan ku yang menyuruh mu untuk berdandan malam ini adalah serius. Jadi jika aku lihat kau tidak berdandan cantik maka kau akan tau akibat nya!
From: your husband
"Maksud Darren apa sih? Dia menyuruh ku berdandan malam ini untuk apa?' Viola yang tidak mengerti dari isi surat suaminya yang tidak jelas itu hanya menanggapi nya dengan cuek.
"Jika dia suruh aku berdandan malam ini, maka aku akan berdandan! Tapi untuk saat ini biarkan lah aku menikmati makanan ku ini." Viola tidak memperdulikan orang lain dan langsung memakan makanan nya itu.
Setelah selesai menyantap makanan nya Viola pun segera bangkit lalu ia segera ke kamar mandi dan segera membersihkan dirinya tersebut.
......................
Perusahaan drn. Khan.
Saat ini Darren tengah fokus pada dokumen yang sedang ia pegang itu. Namun, tanpa memberikan aba-aba sama sekali Bobby tepat ada di depan Darren membuat Darren sangat terkejut.
__ADS_1
"Bob!" Kejut Bobby saat melihat wajah sahabat nya yang terlihat sangat datar.
"Darren aku ingin berbicara penting pada mu!" Tanpa basa-basi Bobby langsung berbicara tanpa memperdulikan wajah sahabat nya yang terlihat kesal.
"Aku ini atasan mu! Dimana sopan santun mu saat berbicara dengan ku?" Tatap tajam Darren mengarah ke Bobby.
"Maaf tuan muda. Tuan muda bisa saya berbicara penting dengan tuan?" Bobby menghela nafasnya saat melihat tingkah sok profesional dari sahabat nya.
"Apa yang ingin kau katakan?" Tanya Darren dengan nada yang terdengar sangat dingin.
"Vaya hari ini ingin menemui mu di perusahaan! Bisa kah kau tidak mengusir nya dan memberikan penjelasan padanya agar dia tidak lagi bersikeras mengejar mu?" Bobby menatap sahabatnya itu.
"Aku tidak ingin menerimanya disini." Jawab Darren dengan sangat mudah nya.
"Darren aku mohon! Kau tidak tega melihat adik ku yang seperti orang gila karna terus mengejar hal yang tidak pasti itu!" Bobby merasa kasian saat melihat adik nya bertingkah seperti perempuan yang gak jelas.
"Aku tidak bisa Bob! Bagaimana nanti jika Viola datang? Kau kan tau aku belum menceritakan semua tentang diriku pada nya. Jika dia mendengar dari orang lain, maka entah apa yang akan terjadi pada ku." Jelas Darren. Ia takut sekali Viola meninggalkan dirinya.
"Darren kau kan bisa menyuruh istri mu itu tidak datang dulu ke perusahaan. Kau hanya perlu menyuruh Vaya untuk berhenti mengejar dirimu karna kau sudah mencintai istri mu." Bobby berusaha membujuk sahabat nya. Ia hanya tidak ingin Vaya semakin terobsesi oleh keinginan nya tersebut.
Darren terlihat terdiam untuk sejenak. Ia berusaha memikirkan perkataan Bobby saat ini. Sebenarnya Darren ingin menyelesaikan semua nya hanya pada saat ia sudah memberitahu kan pada Viola dan mengajak Viola untuk menyelesaikan nya bersama. Namun karna sahabat nya terus saja memaksa membuat Darren tidak tega. Bobby adalah sahabat Darren sejak kecil tidak mungkin Darren menolak Bobby hanya karna sebuah permintaan kecil nya saja.
"Baiklah Bob! Aku akan berbicara dengan nya. Jika dia tetap bersikeras untuk mendapatkan aku. Maka jangan salah kan aku jika bertindak kasar pada nya." Ujar Darren dengan penuh penekanan nya membuat Bobby menelan Saliva dengan sangat susah.
"No problem friends! Aku melakukan ini bukan karna adik mu tapi karna aku menghargai hubungan persahabatan kita." Darren tersenyum kecil dan menatap sekilas kearah Bobby.
"Baiklah kalau begitu saya permisi tuan muda." Setelah mengeluarkan semua isi hati nya Bobby pun mengundurkan diri.
Darren hanya mengangguk kepalanya dan kembali fokus pada dokumen yang ada ditangannya tersebut. Bobby saat ini sudah keluar dari ruangan sahabat nya yang sangat dingin itu dan langsung menghela nafas lega nya. Tadi nya Bobby sempat berpikir ingin masuk atau tidak. Namun, karna ia sangat menyayangi adik nya dengan langkah yang gugup Bobby masuk keruangan sahabat nya dan mendapatkan jawaban yang memuaskan bagi dirinya.
...✨✨...
Sudah setengah jam lebih Viola berendam di dalam bathtub lalu Viola pun segera keluar dari bathub nya dan langsung membersihkan diri nya dari busa sabun yang lengket di tubuh nya. Setelah selesai membersihkan tubuh nya Viola pun keluar dari dalam kamar mandi nya menuju keruang ganti. Namun pada saat ia ingin pergi keruang ganti tiba-tiba saja ponsel nya itu berbunyi membuat langkah Viola berganti arah menuju kearah meja yang ada di samping ranjang nya.
"Hallo," sapa Viola pada orang menghubungi dirinya.
"Istriku, kau sedang apa?" Tanya Darren yang langsung membuat Viola melihat kembali ke ponsel nya.
"Astaga aku lupa menyimpan nomor suamiku sendiri!" Viola menepuk kening nya itu.
"Istriku, kenapa kau diam?" Darren yang tidak mendapatkan jawaban melihat ke ponsel nya apakah panggilan dari nya terputus atau tidak.
"Aku baru siap mandi suamiku." Viola membuat suara nya selembut mungkin.
__ADS_1
"Baiklah, kau sudah makan bukan?" Darren kembali bertanya pada Viola.
"Tentu saja sudah! Apalagi yang membuat kan nya adalah suami ku sendiri." Viola teringat kembali betapa romantisnya Darren saat ini.
"Jangan ge'er! Makanan itu koki yang membuat nya." Darren hanya berusaha menahan tawa nya sendiri.
"Darren! Tidak bisa kah kau sedikit saja romantis pada ku." Ketus Viola pada Darren.
"Sudah jangan merajuk! Aku hanya bilang hari ini aku ada rapat penting dan pulang agak sore. Jadi kau tunggu aku di kediaman dengan duduk manis ya sayang." Ujar Darren pada Viola.
"Em baiklah." Jawab Viola dengan nada malas nya.
"Yasudah kau pakai dulu baju mu! Jangan sampai aku kehilangan kesabaran karna ulah mu." Darren tersenyum tipis di balik suara nya itu.
"Dasar mesum!" Viola pun langsung menutup panggilan nya begitu saja.
"Istriku?" Darren yang merasa tidak ada jawaban langsung melihat kearah ponsel nya dan menggelengkan kepalanya itu.
"Hanya kau seorang saja yang berani menutup panggilan ku sayang." Darren tersenyum dan meletakkan ponselnya itu.
Viola yang sudah menutup panggilan nya langsung berjalan kearah ruang ganti untuk memakai pakaian nya itu. Dengan perasaan yang sangat kesal.
"Darren benar-benar keterlaluan! Bagaimana bisa dia menyuruhku untuk berdiam diri di kediaman yang isi nya orang-orang yang hanya mendengarkan ucapan nya saja." Kesal Viola dan langsung mengambil pakaian nya.
"Oh yaampun kau melupakan sesuatu! Bukan kah hari in kau ada janji temu dengan dokter Andhika." Viola kembali menepuk kening nya. karna lagi-lagi ia melupakan hal yang begitu penting.
Viola meletakkan kembali pakaian biasa nya dan mengambil pakaian sopan nya untuk menemui dokter Andhika. Setelah selesai memakai baju nya Viola keluar dari ruangan tersebut dan langsung menyisir rambut nya itu . Tidak lupa juga Viola menggunakan make-up yang lembut dan terlihat sangat tipis.
Viola yang sudah terlihat sangat rapi dan elegan langsung keluar dari kamar nya dan menuju kearah lift pribadi milik suaminya. Ditekan nya tombol menuju lantai bawah dengan wajah yang sangat gugup.
"Nyonya muda anda mau kemana?" Saat pintu lift terbuka tepat sekali ada pak Dadang yang melihat nyonya muda mereka terlihat ingin pergi.
"Ah bapak buat saya terkejut saja." Viola mengelus dada nya itu melihat seseorang ada di depan nya pada saat ia sedang melamun.
"Maafkan saya nyonya muda." Pak Dadang menundukkan kepalanya.
"Tidak apa-apa pak! Oh iya pak jika suami saya bertanya saya ada dimana bilang saya sedang berada di dalam kamar ya." Viola berusaha ber-sengkokol dengan kepala pelayan suami nya.
"Maaf nyonya muda! Saya tidak bisa berbohong pada tuan muda." Pak Dadang tidak ingin mengambil resiko dengan sikap nyonya muda nya yang sangat keras kepala itu.
"Ah tidak apa-apa pak! Bapak hanya perlu berbohong sekali saja. Lagian saya ingin ke dokter Andhika ingin konsultasi. Jadi saya mohon bapak merahasiakan ini dulu! Saya tidak ingin suami saya mengkhawatirkan saya. Terlebih lagi di perusahaan banyak sekali pekerjaan yang membuat nya sangat lelah." Viola memasangkan raut wajah yang terlihat sangat sedih. Ia berusaha menarik perhatian pak Dadang agar mau membantunya dirinya.
^^^Bersambung...^^^
__ADS_1
...****************...