Menikahi Seorang Miliarder Dunia

Menikahi Seorang Miliarder Dunia
Eps. 116 Kedatangan Viola di rumah sakit Andhika!


__ADS_3

Pak Dadang yang melihat nyonya muda nya seperti itu merasa serba salah. Ia bingung harus berbuat apa saat ini. Dengan sangat terpaksa pak Dadang menghela nafas nya itu.


"Baiklah nyonya muda! Kali ini saya membantu nyonya untuk merahasiakan nya. Tapi saya mohon nyonya segera lah kembali sebelum tuan muda pulang." Pak Dadang menatap intens wajah nyonya muda nya dengan perasaan yang cemas.


"Baik pak! Saya janji jika suami saya memarahi bapak. Saya adalah orang pertama yang akan menolong bapak dari kemurkaan si pria dingin itu." Viola menepuk pak Dadang dengan tersenyum lebar membuat pak Dadang merasa ngeri.


"Terimakasih nyonya muda." Pak Dadang hanya menundukkan kepalanya saja.


"Tidak perlu berterimakasih pak! Kalau begitu saya pergi dulu ya pak." Viola hendak meninggalkan pak Dadang disana. Namun, pak Dadang kembali menghentikan langkah kaki Viola.


"Nyonya muda," panggil pak Dadang.


"Iya ada apa pak?" Viola membalikan tubuh nya menatap kearah pak Dadang.


"Nyonya pergi dengan supir pribadi kan?" Pak Dadang tidak ingin nyonya muda nya mengalami kejadian yang sempat terjadi sebelum nya.


"Bapak tenang saja! Saya pergi sama supir pribadi kok. Lagian kali ini saya juga pergi ke rumah sakit dokter Andhika. Jadi saya yakin tidak akan terjadi masalah sama sekali." Viola tau pak Dadang khawatir dengan keselamatan nya itu.


"Baguslah nyonya jika seperti itu." Dengan menghela nafas lega nya pak Dadang hanya bisa tersenyum ramah saja.


"Jika tidak ada yang ingin bapak tanyakan lagi. Sekarang boleh saya pergi?" Viola menatap kearah pak Dadang.


"Tidak ada nyonya muda." Jawab pak Dadang.


Viola yang sudah mendengar jawaban dari pak Dadang langsung melangkah kan kaki nya dan meninggalkan pak Dadang sendirian disana.


...✨✨...


Apartemen Vaya.


Vaya sudah bersiap-siap ingin menemui Darren secepat nya. Ia sangat berharap Darren menerima nya kembali dan meninggalkan Viola.


"Semoga aja kak Darren memaafkan ku dan bisa menerima ku kembali." Ujar Vaya dengan raut wajah yang sangat berharap.


"Tapi, jika kak Darren tidak menerima diri ku lagi, Maka aku akan pergi. Setidaknya aku sudah berjuang" timpal Vaya kembali


Setelah sudah selesai bersiap-siap Vaya pun langsung keluar dari kamar nya dan menuju ke pintu utama apartemen nya itu. Dengan langkah cepatnya Vaya masuk ke dalam mobil nya.


...🌾🌾...


R.s, Andhika Kasella hospital.


Viola sudah tiba di rumah sakit milik dokter pribadi suaminya. Ia langsung berjalan menuju ke dalam yang di mana sudah di sambut oleh Andhika dengan wajah yang tersenyum.


"Selamat datang nyonya muda," Andhika langsung menghampiri Viola pada saat ia sudah melihat istri dari sahabat nya sudah datang.


"Terimakasih dokter Andhika," Viola membalas Andhika dengan senyuman nya.


"Nyonya muda, kalau nyonya tidak keberatan. Boleh kita berbicara di ruangan saya saja? Karna jika menyangkut tentang nyonya muda saya tidak ingin mengambil resiko." Andhika tidak ingin masalah kedatangan istri dari sahabat nya kerumah sakit milik nya itu jadi tersebar keluar.


Andhika khawatir jika berita tersebut sampai keluar dan sampai ke telinga sahabat nya. Bisa-bisa dia langsung mati di tempat oleh sahabat nya yang sangat tidak memiliki hati itu. Terlebih lagi istri dari sahabat nya ini tidak meminta ijin terlebih dahulu saat ingin konsultasi pada dirinya.


"Tentu saja boleh dokter Andhika." Jawab Viola dengan suara yang sangat ramah.

__ADS_1


"Kalau begitu, mari Nyonya muda--" Andhika langsung mempersilahkan Viola untuk berjalan menuju kearah ruangan nya.


Saat mereka sudah masuk kedalam ruangan Andhika. Dengan sangat hati-hati Andhika mempersilahkan Viola untuk duduk di tempat yang sudah ia sedia untuk orang-orang yang ingin berkonsultasi pada nya.


"Dokter Andhika, saya ingin bertanya jika seorang wanita telat datang bulan. Apakah wanita itu hamil?" Viola langsung bertanya to the points pada Andhika. Membuat Andhika sedikit terkejut.


"Tergantung nyonya muda! Jika saya tidak memeriksa nya dengan pasti. Saya tidak bisa memvonis nya begitu saja." Ujar Andhika dengan pemikiran seorang dokter.


"Kalau begitu bisa anda periksa saya?" Lagi-lagi ucapan Viola membuat Andhika sangat terkejut.


"Nyo-nyonya muda hamil?" Andhika membelalakkan matanya itu.


"Saya tidak tau dok. Tapi, saya sudah telat 1 bulan dan akhir-akhir ini mood saya juga suka berubah-ubah." Jawab Viola dengan sedikit cemas.


"Tuan muda tau tentang ini?" Andhika kembali bertanya. Karna memang istri dari sahabat nya itu tidak memberitahu kan apapun padanya. Dia hanya bilang ingin konsultasi saja.


"Dia tidak tau." Viola menundukkan kepalanya.


"Cih! Dasar bocah itu. Dia bilang tidak mencintai istrinya! Tapi, bagaimana bisa dia menghamili istri nya begitu saja." Andhika hanya menggelengkan kepalanya.


"Ma-maksud dokter apa?" Viola yang mendengar ucapan dari Andhika sangat terkejut.


Sementara Andhika yang menyadari akan ucapan nya langsung menepuk keningnya dengan sangat kuat.


"Maaf nyonya muda saya hanya bercanda. Oh iya nyonya sudah mengecek nya menggunakan test pack?" Andhika berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Belum dokter Andhika. Begitu saya tau saya sudah telat, saya langsung menghubungi dokter Andhika." Ujar Viola pada Andhika.


"Baiklah kalau begitu saya akan menyuruh dokter wanita yang memeriksa nyonya." Andhika langsung menghubungi seseorang lewat telpon genggam milik nya.


"Itu karna saya masih ingin hidup nyonya muda," Andhika menghela nafas nya dengan kasar.


"Saya tidak mengerti apa maksud dokter berkata seperti itu." Ini lah alasan nya mengapa Viola tidak ingin ke dokter. Itu karna dokter yang dia temui sangat aneh.


"Nyonya muda--"


"Boleh saya masuk dokter Andhika?" Andhika yang hendak menjelaskan kembali pada Viola. Namun, tiba-tiba saja suara nya terpotong oleh kedatangan seseorang.


"Tentu saja boleh! Silahkan masuk dokter Miya." Andhika pun menyuruh dokter Miya untuk masuk keruangan nya.


"Maaf dokter Andhika. Kalau boleh tau ada apa ya memanggil saya keruangan anda?" Miya yang bekerja di rumah sakit Andhika merasa sangat bersyukur. Selain Andhika baik padanya Andhika juga sangat tampan di mata miya.


"Dokter Miya, anda kenal dengan nyonya muda bukan?" Andhika menyuruh miya untuk menatap Viola.


"Wanita ini--" Miya kembali mengingat-ingat wajah Viola.


"Perkenalkan saya Viola Talisa." Viola tersenyum dan langsung mengulurkan tangannya itu.


Miya terdiam sejenak dan membalas uluran tangan dari wanita yang ada di hadapannya. Sementara Andhika hanya menggelengkan kepalanya saja saat melihat dokter Miya tidak mengenali siapa istri dari Darren Abraham Khan.


"Lebih tepatnya nyonya Viola Talisa drn. Khan dokter Miya!" Timpal Andhika dengan sedikit menekan ucapan nya.


Miya yang mendengar ucapan dari dokter Andhika langsung menutup mulutnya dan membelalakkan matanya itu. Ia sangat terkejut saat tau siapa wanita yang ada di hadapannya. Kini miya baru teringat bahwa wanita yang ada di hadapannya pernah membantu dirinya dari amukan seorang Darren.

__ADS_1


"Ada apa?" Viola menatap mereka dengan tatap penuh pertanyaan.


"Suami ku itu hanya manusia biasa bukan seorang monster! Apa perlu kalian seterkejut itu?" Viola melirik mereka secara bergantian. Ia sangat kesal melihat raut wajah mereka yang sudah berubah ketika mendengar nama suaminya.


"Jika ia monster maka itu lebih baik! Tapi, sayang nya suami anda lebih mengerikan dari pada monster." Gumam Andhika membuat viola menatap kearah nya.


"Anda mengatakan sesuatu dokter Andhika?" Viola menatap intens kearah Andhika membuat Andhika langsung panik.


"Tidak ada nyonya muda. Saya tidak mengatakan apapun." Jawab Andhika dengan suara yang panik.


"Tapi, saya liat anda sedang mengatakan sesuatu." Viola kembali menyelidiki Andhika.


"Oh itu nyonya. Saya hanya bilang jika kita terus membahas tuan muda. Maka waktu untuk pemeriksaan nyonya akan terus terundur." Ujar Andhika pada Viola.


"Ah iya saya lupa!" Viola tersenyum dan menggaruk-garuk kepalanya itu.


"Tidak apa-apa nyonya muda." Andhika tersenyum dan mata nya beralih kearah miya.


"Dokter Miya tolong periksa nyonya muda ya. Seperti nya nyonya muda hamil." Ujar Andhika pada miya.


"Baik dokter Kasella." Miya menganggukkan kepalanya.


"Mari nyonya muda," timpal miya kembali.


Viola yang hendak mengikuti langkah miya langsung berhenti dan kembali menatap kearah Andhika kembali.


"Ada apa nyonya muda?" Saat Andhika melihat Viola menatap nya dengan tatapan yang menyipit perasaan Andhika mulai tidak enak.


"Dokter Andhika, saya harap anda jangan memberitahu kan dulu pada Darren! Karna saya ingin memberitahu nya sendiri. Jika anda menghubungi nya jangan harap anda bisa melihat saya kembali!" Ancam Viola pada Andhika. Membuat Andhika menelan saliva nya dengan sangat susah.


Tidak hanya Andhika saja yang merasa Viola berbicara sangat tajam. Miya juga merasakan hal yang sama.


"Sejak kapan perkataan istri dari si muka pucat itu menjadi setajam ini." Gumam Andhika di dalam benak nya.


"Mari dokter Miya. Saya tidak ingin berlama-lama di sini." Viola yang melihat wajah mereka seperti ketakutan hanya bisa menahan rasa tawa nya saja.


"Entah kenapa aku ingin melihat wajah takut mereka." Viola tersenyum tipis dan berjalan mendahului miya.


Miya yang masih terdiam di sana langsung di senggol oleh Andhika membuat miya sedikit terkejut.


"Ada apa dokter Andhika?" Tanya Miya dan mengelus lengan nya itu.


"Dokter Miya. Anda ingin membuat istri dari pria yang sangat kejam itu tersesat karna berjalan sendiri?" Tanya Andhika dengan tatapan tajam nya.


"Oh iya maafkan saya dokter. Saya melupakan nya!" Dengan sangat cepat miya menyusul Viola.


Andhika yang melihat kepergian dua wanita tadi langsung menghela nafas nya.


"Lama-lama aku bisa gila!" Keluh Andhika dan kembali duduk di kursi nya.


Andhika bersandar di kursi kerja nya itu dengan sesekali menghela nafas. Bagi Andhika dengan kedatangan Viola di rumah sakit nya adalah hari yang melelahkan.


^^^Bersambung...^^^

__ADS_1


...****************...


__ADS_2