Menikahi Seorang Miliarder Dunia

Menikahi Seorang Miliarder Dunia
Eps. 142 Minta pertanggungjawaban!


__ADS_3

Keesokan harinya...


Darren yang sudah terlihat sangat rapi mengenakan pakaian kerja nya langsung menghampiri Viola yang masih tertidur.


"Istriku," panggil Darren dengan suara yang sangat lembut sambil mengelus rambut Viola.


"Emh," Viola yang merasa ada seseorang memegang rambut nya langsung membalikan badannya dan melanjutkan tidur nya lagi


"Istriku bangun lah! Suami mu ini mau berangkat kerja." Ujar Darren dengan menepuk pelan pundak Viola.


"Emh, aku tau. Pergilah Darren! Nanti kau terlambat." Jawab Viola dengan suara yang masih mengantuk


"VIOLA TALISA!" Darren yang kesal mendengar ucapan Viola langsung meninggikan suaranya membuat Viola sangat terkejut.


"Darren! Kenapa kau membentak ku?" Viola mengucek mata nya dan langsung mengelus dada nya yang masih berdebar karna suara Darren yang membuat dia sangat kaget.


"Istriku! Aku mau berangkat kerja." Darren memasang wajah cemberut nya di hadapan Viola.


"Ada apa dengan mu Darren?" Gumam Viola menatap Darren dengan wajah yang kebingungan.


"Iya aku tau suami ku. Maka, pergi lah sekarang, jika kau tidak ingin terlambat!" Viola tersenyum lebar pada suaminya itu.


"Kau itu tidak mengerti sama sekali ya? Apa perlu aku menghukum mu?" Darren menatap Viola dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Darren ayolah! Aku tidak ingin bermain teka-teki di pagi hari. Ada apa dengan mu? Bukan kah kau ingin berangkat kerja? Maka, berangkatlah sebelum terlambat." Viola menatap jengah kearah pria yang selalu saja mengatakan hukuman jika ia melakukan hal yang tidak ia ketahui.


"Setidaknya berikan lah ciuman untuk ku, sebelum aku berangkat kerja!" Kesal Darren pada Viola.


"What's?" Viola menatap Darren dengan tatapan bingung.


"Ada apa? Kenapa kau terkejut? Bukan kah itu hal yang wajar jika suami mendapatkan ciuman dari istri nya." Darren menautkan kedua alis nya itu.


"Bu-bukan begitu maksud ku! Jika itu untuk para suami di luaran sana mungkin hal yang wajar. Tapi ini adalah kata-kata yang terucap dari seorang miliarder dunia yang terkenal berhati dingin dan juga kejam." Ujar Viola dengan wajah polos nya.


Darren yang mendengar ucapan Viola langsung tersenyum lalu mencubit pipi Viola dengan gemas.


"Sayang, sikap dingin dan kejam ku itu hanya berlaku untuk orang lain. Kau itu pengecualian bagi ku." Darren menggelengkan kepalanya itu.


"Wah wah ternyata sekarang suami ku sudah bucin." Viola tertawa kecil saat mendengar ucapan Darren.


"Bucin?"


"Iya bucin itu artinya budak cinta suamiku." Viola langsung terkekeh begitu menjelaskan arti kata yang ia ucapkan.


"Emh tidak apa-apa jika kau menyebut aku seperti itu." Darren mencium kening Viola yang lagi-lagi membuat Viola terkejut.


"Tidak biasanya Darren menerima ejekan dari ku." Viola menatap Darren dengan tatapan yang penuh tanda tanya.


"Ada apa?" Tanya Darren saat ia tau kini istri nya menatap diri nya dengan tatapan yang berbeda.


"Darren kenapa kau tidak marah saat aku berkata seperti itu?" Viola mengerutkan kening nya menatap Darren.


"Sayang aku tidak akan marah untuk orang yang sangat aku cintai. Tidak apa-apa kau ingin memanggil atau menyebut ku seperti apa! Asalkan kau tidak lagi berkata ingin bercerai dengan ku. Itu adalah hal yang paling menyakitkan untuk ku. Kau tau bukan aku sangat sulit untuk mencintai seseorang? Dan cinta pertama ku itu adalah dirimu." Darren menghela nafas nya lalu melanjutkan perkataannya itu.

__ADS_1


"Jadi aku peringatkan pada mu, jangan pernah mengucapkan hal itu lagi! Karna saat kau mengucapkan itu seketika aku sangat sulit untuk bernafas istri ku." Timpal Darren.


"Darren aku janji tidak akan pernah mengucapkan hal itu lagi." Viola membalas tatapan suami nya dengan wajah yang tersenyum


"Aku mencintaimu," Darren langsung mencium bibir Viola dengan ******* yang sangat lembut.


Ciuman mereka perlahan menjadi memanas saat Darren mulai rakus mencicipi setiap sudut bibir istri nya itu. Darren beralih mencium leher jenjang Viola membuat suara desah nikmat keluar dari bibir mungil Viola. Darren yang tadi nya memejamkan kedua mata nya sontak langsung membuka mata nya itu dan menghentikan kegiatan nya.


"Ada apa?" Tanya Viola yang terkejut melihat perubahan sikap suaminya


"Aku lupa tidak boleh menyentuh mu selama sebulan." Jawab Darren dengan suara yang terengah-engah.


"Tidak apa-apa Darren. Aku sudah baik-baik saja!" Viola hendak mencium Darren kembali namun, Darren langsung bangkit dari ranjang nya.


"Tidak bisa istri ku! Kesehatan mu jauh lebih penting dari pada nafsu ku." Tegas Darren pada Viola.


"Darren! Jika kau tidak ingin melakukan nya maka, jangan pancing aku." Viola sangat kesal saat Darren tidak ingin melanjutkan nya kembali.


"Sorry sayang. Aku benar-benar tidak tahan jika berada di dekat mu. Tapi ku mohon bersabar lah! Aku benar-benar tidak ingin kesehatan mu memburuk hanya karna nafsu ku." Darren kembali duduk sambil memegang pipi istri nya.


"Aku mengerti." Jawab Viola dengan singkat membuat Darren merasa bersalah karna sudah membuat istri nya kecewa.


Darren mulai berpikir bagaimana cara nya mengembalikan mood istri nya itu.


"Istriku, ajaklah sahabat mu kemari! Bukan kah kau bilang ingin mengajak nya kemari?" Darren langsung menunjukkan senyuman nya saat Viola menatap wajah nya.


"Darren kau serius mengizinkan Shelly kemari?" Seketika wajah Viola langsung berubah menjadi lebih bersemangat.


"Kenapa aku harus berbohong pada mu. Bukan kah aku sudah bilang kau boleh membawa nya kemari." Darren membelai rambut Viola.


"Aku tidak berpura-pura istriku. Aku sudah mengizinkan nya. Maka, ajak lah sahabat mu kemari agar kau tidak kesepian lagi!" Darren memeluk tubuh kecil istri nya itu


"Ahh terimakasih suamiku." Dengan senyuman yang terukir lebar di wajah Viola membuat Darren semakin bahagia.


"Baiklah kalau begitu aku berangkat dulu ya." Darren melerai pelukan nya secara perlahan.


"Emh," senyum Viola sembari menganggukkan kepalanya itu.


Melihat istrinya seperti itu membuat Darren tidak ingin meninggalkan Viola. Namun, karna ada urusan penting yang harus segera ia selesai kan membuat diri nya terpaksa meninggalkan Viola yang masih belum sehat.


...💜💜...


3 jam kemudian...


Viola saat ini sedang asyik menonton drakor favorit nya sambil mengemil sedikit cemilan yang sudah di sediakan oleh para pelayan. Saat Viola tengah fokus dengan drakor yang ia tonton tiba-tiba saja bel pintu kediaman berbunyi membuat Viola bangkit dari duduk nya.


"Tidak apa-apa nyonya muda, biar saya saja yang membuka nya." Dengan sangat cepat pak Dadang menghentikan langkah nyonya muda nya yang sudah berada di luar ruangan tv.


"Baiklah pak," jawab Viola dengan wajah yang tersenyum. Viola sengaja menuruti perkataan kepala pelayan karna dia merasa sudah cukup banyak menyusahkan semua orang yang ada di kediaman ini.


Selang beberapa saat Viola sudah mendengar suara seseorang yang sangat ia kenal memanggil dirinya.


"Vi!" Panggil Shelly dengan wajah yang tersenyum lebar.

__ADS_1


"Shell," Viola menghampiri sahabat nya itu dan langsung memeluknya.


"Gue kangen tau sama Lo." Ujar Shelly dan langsung memukul pundak sahabat nya itu.


"Gue juga Shell." Balas Viola sambil tersenyum.


"Oh iya bagaimana keadaan Lo? Udah baik-baik aja kan?" Tanya Shelly sambil memeriksa sekujur tubuh sahabat nya itu


"Gue baik-baik aja Shell. Oh iya Shell kita masuk dulu yuk!" Viola yang sadar kalau mereka masih berada di ruang tamu langsung mengajak Shelly masuk keruangan nya.


"Pak tolong bawa air dan juga cemilan tambahan ya." Perintah Viola dan berjalan masuk bersama Shelly saat pak Dadang sudah menganggukkan kepalanya.


Saat mereka tengah duduk dan minuman juga beberapa cemilan sudah tiba diruangan Viola. Pintu tersebut pun kembali di tutup oleh kepala pelayan agar tidak menganggu perbincangan nyonya muda nya.


"Oh iya Shell bagaimana keadaan Lo selama kita tidak jumpa?" Tanya Viola dengan sangat santai nya sambil memakan cemilan nya itu


"Vi," panggil Shelly sambil menundukkan wajahnya. Shelly bingung harus mulai dari mana dulu untuk menceritakan apa yang telah terjadi padanya 2 hari yang lalu


"Ada apa Shell?" Viola melihat sikap sahabat nya sudah berubah langsung menghentikan makan nya dan menatap sahabatnya dengan sangat serius dan juga khawatir.


"Vi, ak-aku..." Shelly benar-benar tidak sanggup untuk mengatakan hal tersebut sehingga tanpa ia sadari air mata nya sudah menetes.


"Shell ada apa? Semua nya baik-baik saja bukan?" Viola semakin khawatir saat Shelly tiba-tiba saja menangis.


"Vi aku-- aku sudah tidak perawan lagi." Shelly menundukkan wajah nya itu dengan penuh penyesalan.


"Shell jangan bercanda," Viola masih tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh sahabat nya.


Namun karna sahabat nya tidak bereaksi sedikit pun membuat Viola menelan Saliva nya lalu mengulangi ucapan nya kembali.


"Shell?" Viola menatap wajah Shelly dengan tatapan bertanya.


"Emh," Shelly paham akan tatapan Sabahat nya lalu mengangguk kan kepalanya itu.


"Shell bagaimana itu bisa terjadi?" Kini Viola tampak benar-benar terkejut


"Semuanya terjadi begitu aja Vi. Bahkan gue gak tau bagaimana rasanya." Jawab Shelly.


"Ha!" Viola yang mendengar ucapan Shelly kembali terkejut.


"Sekarang ceritain ke gue apa yang Lo ingat sebelum hal itu terjadi dan sesudah semua itu terjadi." Viola berusaha menenangkan sahabat nya yang terlihat tidak baik-baik saja.


Shelly pun mulai menceritakan semuanya dan siapa pria yang sudah mengambil mahkota milik nya itu. Mendengar cerita Shelly terlebih lagi siapa pria yang sudah mengambil keperawanan sahabat nya semakin membuat Viola terkejut akan hal itu.


"Ja-jadi pria itu sekretaris suami gue?" Viola berusaha meyakinkan diri nya saat Shelly sudah selesai menceritakan semua nya.


"Iya Vi! Gue harus apa Vi?" Shelly semakin panik. Ia benar-benar tidak tau harus apa.


"Shelly Lo benar-benar sangat ceroboh." Viola tampak kecewa.


"maaf Vi." Shelly yang mendengar ucapan Shelly hanya diam saja.


^^^Bersambung...^^^

__ADS_1


...****************...


__ADS_2