Menikahi Seorang Miliarder Dunia

Menikahi Seorang Miliarder Dunia
Eps. 38 Mengapa kalian menculik ku?


__ADS_3

Keesokan harinya...


Viola yang sudah pingsan semalam kini mulai tersadar dan membuka kan mata nya dengan perlahan. Menatap keseluruhan ruangan yang ada disekitar nya. Mengingat kembali akan kejadian yang terjadi padanya kemarin.


"Sial!! Beraninya dia memukul ku seperti itu!" Viola sangat kesal ketika ia mengingat dirinya dipukul dari belakang oleh pria yang menculik nya itu.


"Dimana pria aneh itu?" Viola menatap keseluruhan ruangan yang ada disekitarnya.


"Ah sudahlah biarkan saja dia tidak muncul dihadapan ku! Itu lebih baik daripada dia ada dihadapan ku sekarang! Sebaiknya aku harus cari cara untuk keluar dari sini. Lagian, apartemen ini juga dekat dari perusahaan Darren. Dengan begitu akan lebih muda bagiku untuk mencari bantuan." Viola bergegas dengan perlahan berjalan kearah pintu kamar.


"Tubuh ku ini sangat lemah! Apa aku akan sanggup jika harus keluar dari sini?" Viola terduduk lemah di depan pintu. Melihat pergelangan tangan nya yang masih terlihat berdarah pada perban yang dibalutkan oleh Evan padanya.


Viola bangkit kembali dari duduk nya. Berusaha menguatkan dirinya dan membuka pintu kamar itu dengan sangat perlahan. Di lihat sekeliling yang sangat sepi seperti tidak ada orang sama sekali.


"Apa mereka terlalu bodoh ya? Bisa-bisanya menculik seseorang tidak ada pengawasan seperti itu." ejek Viola dengan tertawa kecil. Perlahan Viola berjalan kearah pintu keluar. Sementara Evan yang sudah tau Viola keluar dari kamarnya melihat Viola dari arah kamarnya sendiri. Dan ketika Viola membuka pintu luar ternyata pintu itu terkunci.


"Ternyata mereka tidak terlalu bodoh! Walaupun tidak ada yang menjaga ku. Tapi, di apartemen ini pintunya terkunci." Viola hanya bisa menahan rasa kekecewaan nya saja.


"Kau itu jangan membuang-buang tenaga mu untuk keluar dari apartemen ini!" Evan berjalan dari belakang menghampiri Viola yang bersandar di pintu.


"Kau rupanya! Si pria aneh yang menculik seseorang tanpa alasan dan berani menyuruh ku untuk tidak membuang tenaga ku sendiri. Memang nya kau itu siapa nya aku? Tenaga yang ku buang adalah tenaga ku sendiri jadi itu urusan ku! Bukan urusanmu!" Viola berjalan kearah sofa dan duduk disana dengan santai nya.


Roy sebenarnya udah tau sejak awal bahwa Viola ingin melarikan diri. Dan dia hendak menghampiri Viola yang tengah ingin melarikan diri itu. Namun, karna bos nya melarang jadi dia lebih memilih bersembunyi di dapur.


"Bos kau keterlaluan menyuruh ku bersembunyi seperti sedang bermain petak umpet!" ketus Roy yang berjalan ke ruang tengah.


"Kau diam dan jangan banyak mengeluh!" Evan menatap tajam bawahannya itu.


"Baik bos." Roy yang merasa takut memilih untuk diam.


"Hahahaha baru disuruh diam saja kau sudah ketakutan seperti itu." Viola kini tertawa melihat wajah pria yang menjadi bawahan dari pria yang menculik nya itu sudah pucat sekali.


"Diamlah!" Roy menatap tajam kearah Viola. Namun, Viola semakin mengeras kan suara nya.


"Kau diam lah!" bentak Evan pada Viola.


"Beraninya kau membentak ku?" Viola berdiri dari duduk nya menatap tajam kearah Evan.


"Kau dengar ya tuan Evan Anggara yang terhormat! Aku ini bukan bawahan mu yang berhak untuk kau suruh diam. Jika, kau merasa terganggu karna keributan ku. Maka, biarkanlah aku pergi dari sini. Dan satu hal lagi selama kau belum memberitahukan ku apa alasan mu sebenarnya menculik ku. Aku akan terus memberontak dan membuat keributan disini!" Viola berbicara dengan intonasi tajam nya dan duduk kembali mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Berani sekali dia membentak bos!" Roy menatap takjub kearah gadis yang ada dihadapannya itu.


"Sayang sekali wajah nya itu sangat tampan! tapi, suka marah-marah gak jelas!" gumam Viola.


Evan yang mendengar perkataan dari Viola semakin tersulut emosi nya. Menarik tangan Viola dengan sangat kasar.


"Aww sakit!" Viola meringis kesakitan ketika tangan nya yang terluka itu ditarik sekasar ini.


"Kau baik-baik saja?" Evan melepas tangan Viola dan melihat pergelangan tangan Viola yang masih berdarah.


"Bukan urusanmu!" Viola menarik kembali tangannya dan mengelus secara perlahan.

__ADS_1


"Diamlah! Kau lihat luka ini mulai berdarah lagi!" Evan mengambil kembali tangan Viola dan menyuruh nya untuk duduk kembali.


"Roy ambil kan kotak P3K!" perintah Evan. Roy yang mendengar nya langsung mengambil kotak P3K tersebut yang ada di laci.


"Ini bos," Roy menyerahkan kotak P3K itu pada bos nya. Dengan segera Evan membuka kotak itu dan membuka perban Viola dengan perlahan.


"Kau tau nona! Aku sebenarnya tidak ingin menyakiti seorang gadis sampai seperti ini!" Evan mulai membersihkan luka Viola kembali


"Terus mengapa kau menyakiti ku?" Viola menatap kearah Evan berusaha mencari apa alasan sebenarnya.


"Aku tidak ingin menyakiti mu! Kau saja yang terus memberontak dan membuat diri mu terluka sendiri." Evan menghela nafasnya.


"Baiklah aku salah! Tapi, apa alasan mu menculik ku?" Viola berusaha menelusuri mata Evan.


"Sudah selesai." Evan yang sudah selesai mengobati luka Viola meletakkan tangan Viola dengan sangat lembut.


"Jelas kan padaku! Apa alasan mu menculik ku?" Viola masih menatap kearah Evan.


"Kau yakin ingin mengetahui nya?" Evan membalas tatapan Viola kembali.


"Tentu saja!" jawab Viola dengan sangat antusias nya.


"Baiklah! Roy tolong ambil kan semua berkas tentang adik ku dan bawa kemari!"


"Baiklah bos!" Roy pun pergi kebawah mengambil semua berkas milik bos nya yang ada di mobil.


"Kenapa kau menyuruh nya pergi?" Viola yang menatap Roy keluar dari apartemen menatap nya dengan penuh tanda tanya.


"Nanti kau akan mengetahui nya!" Evan pun bersandar di sofa dengan memejamkan matanya sebentar. Sementara Viola masih terus berpikir.


Rumah sakit internasional...


Shelly yang sudah mulai pulih kini sudah diperbolehkan pulang oleh dokter. Shelly merasa senang namun, dia tetap saja memikirkan sahabat nya yang masih di culik.


"Nona Shelly kau sudah boleh pulang!" Ujar dokter Andhika pada Shelly.


"Terimakasih dok!" Shelly hanya tersenyum getir saja.


"Nona boleh kah saya bertanya?" Andhika bicara dengan sangat pelan nya. Melihat kearah Bobby yang masih fokus dengan ponselnya.


Sejak bangun dari tidur nya Bobby terus saja menelfon seseorang dan di telfon oleh seseorang. Kadang dia juga mengetik pesan dalam waktu yang singkat. Mencari tau keberadaan nyonya muda nya itu melalui agen rahasia mereka.


"Tentu saja dok. Anda ingin bertanya tentang apa?" Shelly pun menyenderkan tubuhnya yang dibantu oleh dokter Andhika. Karna, Shelly merasa haus dia pun mengambil segelas air putih yang ada di meja sebelah nya.


"Pria yang disana pacar nona ya?"


"Byurr..." Air yang Shelly minum pun dengan seketika keluar dari mulut nya dan menyembur kearah Andhika.


"Uhuk ... Uhuk! Maaf dokter." Shelly terus saja terbatuk-batuk.


Bobby yang melihat Shelly terbatuk-batuk langsung menghampiri nya.

__ADS_1


"Ada apa? Kau baik-baik saja?" Bobby berusaha menepuk-nepuk belakang Shelly dengan perlahan.


"Aku baik-baik saja. Tapi.." Shelly hanya menatap kearah dokter yang sedang mengusap wajah nya itu.


"Kau kenapa Andhika?" Bobby yang melihat wajah Andhika yang basah seperti itu ingin rasanya tertawa.


"Kau tanya saja pada kekasih mu itu!" Andhika yang sudah sangat kesal memilih untuk pergi dari ruangan gadis yang telah menyemburkan air padanya.


"Sial! Niat nya ingin mengerjai Bobby. Eh malah aku yang kenak batu nya seperti ini!" Andhika terus saja berjalan dengan sangat kesal.


Bobby hanya tersenyum ketika Andhika keluar dari ruangan Shelly.


"Ada apa dengan dokter Andhika?" Bobby kini mulai bertanya pada Shelly. ketika tau bahwa teman nya itu sedang kesal.


"Aku tidak sengaja menyembur kan air yang ada di mulut ku ini ke wajah nya." Shelly menundukkan kepalanya.


"Mengapa kau bisa menyemburkan air padanya?" tanya Bobby kembali.


"It-itu karna, dia bilang kita--" untuk sesaat Shelly terdiam. Dia benar-benar merasa malu jika harus mengatakan apa yang di bilang oleh dokter itu padanya.


"Dia bilang kita berpacaran?" Bobby yang sudah tau perkataan Shelly hanya tersenyum saja.


"Mengapa kau tersenyum?" Shelly yang melihat Bobby tersenyum merasa aneh.


"Jadi aku harus apa? Harus aku marah padanya?" Bobby kini menatap wajah Shelly yang sangat cantik itu.


"Tentu saja kau harus marah! Karna, dia sudah bilang yang tidak masuk akal tentang kau dan aku!" Shelly berbicara dengan sangat antusias nya.


"Baiklah! Aku akan memarahinya nanti." kini Bobby hanya bisa bersikap dengan sangat santai nya.


"Terserah kau saja!" ketus Shelly.


"Ada apa lagi?" Bobby yang melihat wajah Shelly seperti itu mulai menghela nafas nya.


"Kau tau tidak? Semua perkataan yang ku ucapkan pada mu selalu saja kau turuti!" Shelly mengalihkan pandangannya dengan sangat kesal.


"Tentu saja aku menuruti perkataan mu. Itu semua karna, tuan muda ingin aku memperlakukanmu dan memperhatikan mu dengan sangat baik! Agar nyonya muda tidak akan merasa sedih." jelas Bobby pada Shelly dengan tersenyum.


"Lagi-lagi tuan muda dan nyonya muda. Bisa tidak sih jangan menghubungkan aku dengan status tuan mu itu? Hanya perkara aku bersahabat dengan nyonya muda mu. kau harus seperti ini? Aku ini bersahabat dengan Viola itu tulus. Tidak untuk di perlakukan seperti nyonya besar. Aku Shelly! Ya, tetap akan menjadi Shelly. Dasar gila!" Shelly pun bangkit dari tempat tidurnya. Dia benar-benar sangat lelah dan kesal. Dia hanya ingin beristirahat dirumah nya saja.


"Nona kau mau kemana?" Bobby yang dari tadi hanya diam menerima ocehan Shelly kini mulai bicara ketika melihat Shelly bangkit dari tempat tidur nya.


"Aku mau pulang! Kata dokter tadi aku sudah baik-baik saja dan di bolehkan untuk pulang!" ujar Shelly dengan nada kesal nya.


"Baiklah nona Shelly! Mari saya antar." Bobby pun tersenyum pada Shelly.


"Em.." Shelly menganggukkan kepalanya.


Bobby yang sudah berdiri di samping Shelly mulai memapahnya berjalan perlahan.


Ketika sampai di depan mobil dengan segera Bobby membukakan pintu mobil untuk Shelly. Shelly yang mendapati perlakuan seperti itu hanya menghela nafas nya saja. Setelah Shelly masuk kedalam mobil. Bobby pun masuk ke mobil nya dan pergi mengantar Shelly pulang dengan selamat.

__ADS_1


^^^Bersambung...^^^


...****************...


__ADS_2