
3 bulan kemudian...
Hari demi hari, bulan demi bulan sudah di lalui oleh mereka. Kini terdapat Shelly dan Viola yang sudah berada di rumah sakit bidan Vaya. Mereka hendak melakukan Usg. Mereka ingin mengetahui jenis kelamin janin Shelly saat ini.
"Bagaimana?" Tanya Viola dengan nada cemas.
"Kalian berdua kenapa begitu khawatir? Bukan kah tidak ada masalah dia laki-laki atau perempuan." Tutur Vaya melihat kearah layar USG.
"Adik ipar, kau tidak tau kalau aku dan Bobby memiliki kesepakatan maut dengan suami nya." Shelly melihat Viola yang terlihat masih cemas.
Walaupun ia sendiri tau semua keputusan suaminya itu juga tergantung pada keputusan anak-anak nya nanti. Namun, Viola takut bagaimana jika ia tidak hamil? Dan bagaimana kalau anak Shelly tetap memilih untuk bersama anak nya suatu hari nanti. Hingga membuat dilema yang besar di dalam pikiran Viola.
"Kesepakatan apa?" Tanya Vaya dengan sangat intens.
"Ah ceritanya sangat panjang!" Viola berbicara tanpa melihat kearah Vaya.
"Mana jenis kelamin nya?" Tanya Viola saat ia sangat intens menatap layar tersebut.
"Disini," Vaya pun menunjukkan dimana jenis kelamin bayi Shelly.
"Bentuk apa itu?" Viola mengerenyitkan kening begitu pula dengan Shelly.
"Huft," Vaya menghela nafas nya lalu menunjukkan kebagian yang mereka tidak tau itu.
"Anak mu laki-laki kakak ipar."
Deg
Ucapan Vaya membuat mata Viola dan Shelly bertemu satu sama lain. Apa yang selama ini mereka takutkan tiba juga.
"Ada apa? Kenapa kalian tidak bahagia?" Vaya kebingungan saat wajah kakak ipar nya dan juga istri dari pria yang ia cintai itu tidak senang sama sekali.
"Keponakan mu yang belum lahir ini akan menanggung beban keluarga." Shelly memejamkan mata nya. Mau bagaimana pun ia tetap harus bahagia apapun jenis kelamin nya.
"Apa maksud mu kak?" Vaya tidak mengerti sama sekali.
Ya Vaya mulai terbiasa memanggil Shelly kakak ipar nya. walaupun usia lebih tua diri nya
Tapi, kakak nya itu memaksa diri nya untuk menghormati istri nya.
"Intinya keponakan mu ini akan selalu bersama keluarga Khan." Timpal Shelly kembali.
"Ah yang benar saja! Setelah kakak ku mengabdi kan diri di keluarga kak Darren. Kini keponakan ku juga harus melakukan itu?" Jujur saja Vaya tidak ingin keponakan nya terlibat dalam keluarga yang rumit ini. Ia ingin keponakan nya memiliki kebebasan.
"Maafkan aku," lirih Viola.
"Vi, kenapa Lo meminta maaf. Lo itu tidak salah!" Shelly menepuk punggung tangan Viola.
"Gara-gara keluarga gue. Lo jadi ikut terlibat!" Viola menundukkan kepalanya itu.
"Vi, dengarin gue! Semua ini terjadi karna salah Bobby. Dan gue juga berterimakasih atas semua yang Lo dan suami Lo lakuin sebelum aku menikah hingga aku menikah. Terlebih lagi disaat omay melakukan operasi 3 bulan yang lalu aku merasa sangat bersalah karna tidak menemani mu disaat kau lagi ada masalah." Kini keadaan malah berbalik . Shelly yang menundukkan kepalanya saat ia teringat Viola menangis menelpon diri nya.
"Shell, Lo tidak perlu merasa bersalah. lagian omay juga sudah baik-baik saja kok!" Viola menatap Shelly saat tatapan Shelly mengarah padanya.
"Terimakasih," Shelly tersenyum memeluk sahabatnya.
"He'em!" Vaya pun berdehem hingga membuat Viola dan Shelly menatap diri nya.
"Sudah selesai? Kalau sudah boleh kalian keluar! Masih banyak pasien ku yang menunggu." Vaya tersenyum kecil pada mereka berdua.
"Ah baiklah! Terimakasih adik ipar." Shelly bangkit dari tempat tidur rumah sakit tersebut dan menepuk bahu Vaya
__ADS_1
"Terimakasih," Viola tersenyum kecil pada Vaya.
"Your welcome." Sahut Vaya yang di balas dengan senyuman juga.
Mereka berdua keluar dari ruangan itu dan masih berpegang tangan. Saat mereka sudah keluar dan berjalan kearah supir pribadi tiba-tiba saja sudah ada sosok dua pria yang berdiri dengan tangan berada di saku celana.
"Sudah selesai?" Darren menghampiri istri nya dan merangkul pinggang Viola.
"Sudah," balas Viola.
"Apa hasilnya?" Bobby menatap lekat wajah istri nya yang terlihat teduh.
"Bayi kita laki-laki." Tutur Shelly.
"Bagus lah!" Ucapan Bobby membuat Shelly sekaligus Viola terkejut.
"What's?" Viola menatap Bobby dengan penuh mengintimidasi.
"Tidak masalah jika putra ku mengabdikan diri di keluarga Khan. Karna keluarga Khan juga sudah banyak membantu keluarga Charlton. Lagian aku yakin tuan muda tidak akan memperumit anak-anak nya suatu saat nanti mengenai kesepakatan diantara kita." Bobby tersenyum menepuk bahu Darren.
"Cih! Jangan kau pikir aku tidak akan melakukan apa yg sudah di sepakati." Sinis Darren dan langsung menyuruh Viola masuk kedalam mobil.
"Bob, lihat lah bagaimana mengerikan nya suami Vio!" Shelly menelan Saliva nya menatap nanar kepergian mobil sahabat nya itu.
"Tenanglah! Semua nya akan baik-baik saja. Oh iya bagaimana kesehatan anak kita?" Bobby mengelus perut Shelly yang terlihat sudah sedikit membesar.
"Anak kita sangat sehat." Sahut Shelly.
"Baguslah jika seperti itu. Yasudah kita pulang sekarang! Kau juga harus banyak istirahat dan jaga kesehatan."
Bobby mengandeng tangan Shelly sampai Shelly masuk kedalam mobil. Terkadang Shelly sedikit takut karna ia tidak mengalami apa yang di alami oleh wanita hamil lain nya yaitu ngidam. Entah lah menurut Shelly selama kehamilan nya ini ia biasa saja. Hanya ketika pada saat ia belum tau kehamilan nya saja ia merasa mual dan segala macam nya. Namun, setelah ia menikah kini keadaan nya biasa saja.
"Ada apa?" Tanya Bobby ketika Shelly diam saja.
"Jadi sejak tadi kau melamun hanya memikirkan hal ini?" Tatap Bobby dengan sangat intens nya.
"Anggap lah seperti itu." Singkat Shelly. Shelly tidak ingin berdebat mengenai apapun itu pada suaminya.
"Sayang, kalau aku tidak mencintaimu. Mana mungkin aku langsung ingin bertanggung jawab setelah melakukan hubungan intim bersama mu." Bobby mengelus pucuk rambut Shelly.
"Tapi--"
"Sudah! Jangan berpikiran yang tidak-tidak. Kau harus fokus pada kehamilan mu. Setelah putra kita lahir. maka, kita akan segera membuat seorang putri nanti nya!" senyum Bobby mulai terukir diwajah nya.
Shelly langsung mencubit pinggang suami nya itu. Bisa-bisa nya ia berpikiran seperti itu disaat ia sendiri sudah mulai ketakutan bagaimana sakit nya saat melahirkan.
"Sayang!" Bobby mengelus pinggang nya menatap Shelly.
"Dasar mesum!" Ketus Shelly dengan memalingkan wajah nya kearah lain.
Bobby tersenyum puas, ia pun kembali mengemudi kan mobil nya yang sempat terhenti karna pemikiran istri nya itu.
Sementara disisi lain Viola masih saja termenung. Memikirkan bagaimana cara nya ia agar segera bisa hamil kembali.
"Darren," panggil Viola dengan nada ragu.
"Emh, ada apa istriku?" Darren menutup ponselnya lalu menatap wajah Viola.
"Bagaimana kalau kita mengikuti program hamil?" Viola membalas tatapan Darren. Sementara Darren mengalihkan pandangannya.
"Kau lupa apa yang dikatakan kasella 2 bulan yang lalu?"
__ADS_1
"Aku ingat!" Sahut Viola.
"Lantas kenapa kau masih memikirkan hal itu!" Emosi Darren sedikit tersulut saat mendengar ucapan Viola.
"Tentu saja aku memikirkan nya! Aku ingin memiliki seorang anak. Bukan kah kau juga menginginkan nya?" Viola langsung berteriak di depan Darren membuat supir pribadi Darren menelan Saliva nya.
"Aku tidak ingin kau kenapa-kenapa! Jika kau hamil bisa membahayakan nyawa mu sendiri." Balas Darren yang menekan sedikit kalimat nya.
"Lebih baik aku tiada tapi menjadi wanita seutuhnya! Daripada aku hidup tapi merasa seperti wanita yang tidak sempurna."
"VIOLA TALISA!" Kali ini emosi Darren benar-benar sudah tidak tertahan.
"Kau membentak ku?" Mata Viola yang sudah berkaca-kaca itu menatap mata suaminya yang terlihat memerah.
"Kau adalah wanita yang paling egois selama aku temui."
"Berhenti!" Perintah Darren pada supir pribadi nya.
Mobil pun langsung berhenti begitu Darren menyuruh nya. Dengan perasaan yang kalut Darren langsung turun dari mobil. Ia tidak ingin bertindak kasar pada Viola hanya karna emosi nya.
"Kau mau kemana?" Tanya Viola saat Darren sudah keluar.
"Tenang kan lah diri mu di ruangan introspeksi diri. Setelah itu kau boleh menemui ku kembali saat kau sudah tenang." Perintah Darren dan menutup pintu mobilnya.
Sementara Darren sudah masuk ke mobil satu nya lagi yang sejak tadi mengikuti mereka dari belakang yaitu mobil para bodyguard.
"Tuan muda, ada apa?" Tanya kepala bodyguard.
"Kita ke perusahaan sekarang!"
"Baik tuan." Mereka tau jika tuan muda mereka berkata seperti itu. Berarti saat ini keadaan sedang tidak baik-baik saja.
Mereka pun mengambil arah berlawanan dari mobil Viola. Karna saat ini tujuan Viola adalah kediaman two drn.khan sedangkan Darren ke perusahaan drn.khan. Viola menatap mobil Darren dari belakang jujur ia sendiri juga merasa sangat egois. Tapi ia tidak bisa berbohong pada diri nya sendiri yaitu ingin memiliki seorang anak.
"Kenapa kau tidak ingin mencoba nya dulu? Mungkin saja ada suatu keajaiban nanti nya. Dan kau lupa apa! Dokter Andhika juga mengatakan bisa saja aku tidak apa-apa jika hamil nanti. Walaupun saat ini tidak memungkinkan untuk itu." Viola terus saja mengomel sendiri sepanjang perjalanan.
Supir pribadi suami nya itu merasa sedikit kasian melihat Viola. Ia sendiri sedikit kesal, kenapa masalah keluarga tuan dan nyonya muda nya itu tidak ada henti-hentinya.
"Semoga suatu saat nanti anda dan tuan muda selalu bahagia." Gumam supir pribadi Darren menatap sekilas Viola dari kaca spion.
...🎋🎋...
Kini Viola sudah tiba di kediaman nya. Dia langsung melakukan apa yang di perintahkan suami nya itu. Hingga membuat para pelayan bertanya-tanya begitu juga dengan pak Dadang.
"Nyonya muda?" Panggil pak Dadang dengan intonasi sesopan mungkin.
"Iya pak." Jawab Viola.
"Nyonya muda mU kemana?"
"Keruangan itu?" Viola menunjuk ruangan tersebut.
"Nyonya baik-baik saja?" Pak Dadang sedikit khawatir melihat nyonya muda nya yang terlihat murung.
"Tentu saja pak! Saya hanya ingin merelaksasi pikiran saya." Sahut Viola.
"Saya keatas dulu ya pak! Oh iya hari ini saya tidak lapar. Jadi, tidak perlu menyiapkan makanan apapun." Timpal Viola kembali sembari tersenyum paksa.
"Baik nyonya muda."
Pak Dadang tidak ingin terlalu masuk kedalam urusan rumah tangga tuan muda dan juga nyonya muda nya. Saat ini yang harus ia lakukan adalah melakukan semua tugas tanpa ada kesalahan sedikit pun! Ia tidak ingin kejadian sebelumnya terulang kembali.
__ADS_1
^^^Bersambung......^^^
...****************...