Menikahi Seorang Miliarder Dunia

Menikahi Seorang Miliarder Dunia
Eps. 49 Lagi-lagi Darren berpikir yang tidak masuk akal!


__ADS_3

Kini sudah terdapat dua insan yang sedang duduk di dalam mobil yang berlaju dengan kecepatan sedang. Darren yang sedang membawa mobil hanya diam saja tanpa sepatah kata pun. Berbeda sekali saat Darren berada di apartemen milik Evan. Disana Darren sangat cerewet namun, ketika sudah berdua dengan Viola dia hanya diam saja.


"E-ehem," Viola mencoba untuk menghidupkan kembali suasana diantara mereka.


"Darren?" Panggil Viola perlahan. Tapi Darren hanya diam saja.


"Suami ku?" Panggil Viola lagi, dan Darren juga hanya diam saja tanpa menjawab sepatah katapun.


"Sayang?" panggil Viola dengan sangat lembut. Sebenarnya Viola juga merasa ragu untuk mengucapkan kalimat ini. Namun, dia harus mencoba nya bukan.


"Hem," sebuah kata sayang dari Viola hanya dibalas kalimat singkat saja oleh Darren, sehingga membuat Viola sedikit memanas.


"Kau itu kenapa sih?" Kesal Viola pada Darren.


"Aku?" tanya balik Darren tanpa menoleh kearah Viola.


"Bukan kau, tapi manusia singa yang sedang aku tanyai!" Viola pun memiringkan tubuhnya melihat kearah jendela mobil.


Darren yang melihat tingkah Viola merasa gemas. Sebenarnya dia juga sangat merindukan Viola dan ingin sekali memeluknya terus menerus. Namun, Darren juga ingin sedikit memberi Viola pelajaran. Karna sudah berani pergi ke tempat sekolah Tara sendirian tanpa supir pribadi yang sudah Darren sediakan.


"Baiklah jika bukan aku." ujar Darren lagi tanpa memperdulikan Viola.


"Darren!" bentak Viola, dan menatap Darren dengan sangat tajam.


"Istri ku, kau sekarang sudah berani membentak ku ya?" Darren yang masih fokus pada kemudi nya berusaha untuk tidak melihat kearah Viola.


"Maaf," Viola menundukkan kepalanya itu. "Darren kau marah ya padaku?"


"Huffht," Darren menarik nafas nya dan menghela kan nya secara perlahan.


"Aku tidak marah," Darren mengusap wajah Viola. "Sekarang duduk lah dengan tenang disini. Setelah luka ditangan mu sudah di obati, baru kita akan bicara." ujar Darren dan kembali fokus pada kemudi nya.


"Baiklah," Viola yang sudah mengerti dari tatapan Darren memilih untuk tidak terlalu banyak bertanya.


...🌾🌾...


R.s, Andhika Kasella hospital.


Sudah 20 menit lebih Darren dan Viola hanya diam saja. Akhirnya mereka pun tiba di rumah sakit sahabat nya itu. Darren sengaja memilih kerumah sakit Andhika dikarenakan Darren tidak ingin ada yang mengetahui bahwa istrinya itu sedang terluka.


"Darren mengapa kita kesini?" tanya Viola yang masih bingung melihat kearah rumah sakit yang ada dihadapannya.


"Kau tidak tau ini apa?" Darren menatap heran kearah Viola.


"Tentu saja aku tau. Tapi, bukan nya rumah sakit ini sangat bagus dan mahal. Hanya orang penting saja yang bisa kerumah sakit ini Darren." ujar Viola lagi yang masih menatap ke depan.


"Siapa bilang rumah sakit ini hanya untuk orang penting saja istri ku?" Darren tersenyum menatap kearah Viola.


"Tapi, menurut gosip yang aku dengar. Rumah sakit ini hanya untuk orang kaya saja. Makanya aku tidak pernah kemari." Viola tetap bersikeras pada Darren.

__ADS_1


"Kau salah istri ku. Rumah sakit ini sengaja dibuat rumor yang tidak benar oleh pemilik nya." tukas Darren dengan nada datar nya.


"Maksudnya?" Viola masih tidak mengerti arti dari ucapan suaminya itu.


"Sudahlah! Nanti kau juga akan mengerti. Sekarang yang lebih penting adalah mengobati tangan mu itu." Dengan segera Darren menggenggam tangan Viola dengan lembut.


Viola hanya diam saja. Dia sendiri juga sudah sangat lemas dan juga lelah. Sehingga Viola memilih untuk tidak berdebat dengan Darren. Sebenarnya Viola juga masih bingung, karna terakhir kali mereka bertemu Darren dan Viola masih dalam keadaan bertengkar.


"KASELLA..!" teriak Darren dengan sangat kuat.


Dirumah sakit itu memang lumayan sepi. Dikarenakan ini adalah jadwal biasanya keluarga Darren untuk memeriksa kesehatan. Jadi setiap hari Sabtu maka rumah sakit Andhika tidak terima pasien. jadi sekarang hanya ada beberapa pasien saja.


"Darren mengapa kau berteriak seperti itu? Bagaimana nanti jika ada yang mendengar!" Viola melihat keseluruhan ruangan untuk memastikan tidak ada orang yang mendengar nya.


"Istri ku, kau tenang saja. Rumah sakit ini tidak ada orang." ujar Darren dan terus berjalan keruangan Andhika sambil menggenggam Viola.


"Jika tidak ada orang, mengapa kita kesini Darren?" Viola menatap kearah Darren dengan sangat kesal.


"Istri ku! Mengapa kau jadi banyak bicara sekarang." ujar Darren dengan senyum kecil dibibir nya.


"Bukan begitu Darren! Tapi, maksud ku--"


"Kau ternyata!" potong seseorang dari arah belakang membuat Viola menghentikan perkataan nya.


"Apa kabar dokter Kasella?" Darren tersenyum sinis menatap kearah teman nya itu.


"Dokter ini??" Viola menatap lekat wajah dokter yang ada dihadapannya.


"Kasella!" Darren yang melihat teman sekaligus sahabat nya seperti itu pada istri nya merasa geram dan langsung menatap Andhika dengan sangat tajam.


"Hahahaha, tuan muda! Kau itu pencemburu sekali." Andhika pun langsung menepuk-nepuk bahu teman nya itu.


"Darren, aku ingat sekarang! Dokter ini yang pernah memeriksa mu saat kau sedang sakit dalam keadaan mabuk kan?" Viola menatap kearah Darren.


"That's right, girl!" Andhika langsung mengulurkan tangannya pada Viola.


"Darren dia berbicara apa?" Tanya Viola dengan nada bisik nya pada Darren.


"Istri ku! Setelah kita pulang dari sini, aku akan membuat mu mengikuti kursus privat bahasa Inggris." ujar Darren dengan tersenyum kecil membuat Viola langsung kesal.


"Tuan senang bisa bertemu dengan mu kembali!" Ketika Viola hendak menerima uluran tangan Andhika dengan segera Darren menjabat uluran tangan itu.


"Darren kau itu apaan sih!" ketus Viola.


"Bro Lo itu jangan terlalu posesif! Aku hanya ingin berkenalan saja dengan istri mu itu." Andhika yang melihat Darren seperti itu langsung menggeleng kepalanya.


"Kasella, Kau kan sudah kenal dia siapa. Jadi ku rasa kau tidak perlu berkenalan lagi dengan nya! Lagian aku kesini untuk menyuruh mu mengobati luka yang ada di pergelangan tangan istriku ku ini! Bukan untuk berdebat dengan orang seperti mu!" ujar Darren dengan nada datar nya pada Andhika.


"Kenapa kau tidak bilang dari tadi!" Andhika pun langsung menuju keruangan nya dan di ikuti oleh Darren dan Viola.

__ADS_1


"Silakan!" Dengan sopan Andhika mempersilahkan mereka untuk duduk.


"Istri ku, apa luka nya masih sakit?" Darren kembali menatap kearah Viola dan melihat ke pergelangan tangan nya yang masih diperban dengan noda darah di perban tersebut.


Viola menggeleng kan kepalanya, membalas tatapan mata suami nya itu dengan senyum dibibir nya, "tidak terlalu sakit Darren."


"Apa maksudmu tidak terlalu sakit! Jika sakit maka sakit. Jika tidak sakit maka tidak sakit istri ku!" ujar Darren dengan suara berat nya. Sementara Viola hanya diam saja. Dia sendiri sebenarnya sadar bahwa luka yang ada di tangan nya itu memang sangat sakit.


"Darren! Kau itu berbicara jangan terlalu tinggi! Kasian tu istri mu ketakutan karna kau." Kasella yang melihat sahabatnya seperti itu hanya bisa menghela nafas nya saja.


"Aku tidak berbicara tinggi!" elak Darren pada Andhika. "Sudah lah! Sebaiknya segera kau obati luka istri ku ini."


"Baiklah tuan muda." Andhika memutar bola matanya dengan malas. "Mari nona!" Dengan segera Andhika menyuruh Viola untuk tidur di bed hospital.


"Stop!" Darren yang melihat Adhika ingin memeriksa detak jantung Viola dengan alat nya. Langsung menghentikan Adhika.


"Darren ada apa?" tanya Viola dengan raut wajah bingung nya.


"Tuan Darren! Kau ingin istri mu lekas sembuh bukan? Jadi sebaiknya jangan menggangu ku!" Andhika sudah sangat kesal dengan tingkah konyol sahabatnya itu.


"Aku tidak berniat untuk menganggu mu Kasella! Aku hanya ingin mencegah tangan mu itu menyentuh bagian atas istri ku." Darren menatap Andhika dengan sangat tajam.


"Hey tuan muda! Aku ini hanya ingin memeriksa istri mu. Bukan mau melecehkannya!" Andhika yang mendengar ucapan sahabat nya itu merasa sangat kesal.


"Jika kau ingin memeriksa nya, apa harus kau menyentuhnya!" Darren meninggikan suara nya membuat Andhika menghela nafasnya.


"Darren, sudah lah! Dokter ini hanya ingin mengobati ku." Viola berusaha meredakan suasana.


"Istri ku! Kau rela disentuh oleh nya?" Kini Darren menatap intens kearah istri nya itu.


"Jika, dia tidak menyentuh ku. Bagaimana caranya dia menyembuhkan ku Darren." Viola membalas tatapan Darren dengan lembut.


"Kau..!" Darren geram mendengar ucapan Viola padanya.


"Kau itu bodoh sekali! Aku saja tidak pernah menyentuh mu. Bagaimana bisa dia yang bukan siapa-siapa berhak menyentuh mu!" geram Darren di benak nya.


"Tuan muda, aku tidak banyak waktu sekarang! Dikarenakan jadwal ku di rumah sakit internasional sangat padat. Jadi ku mohon pengertiannya!" Andhika menatap kearah sahabat nya itu dengan tersenyum sinis.


"Cih! Percuma aku membayar mu mahal. Bukan kah ini seharusnya jadwal keluarga ku untuk check disini?" Darren yang mendengar ucapan Andhika ingin sekali memukul nya.


"Iya kau benar. Sebelum aku membuat jadwal di rumah sakit pusat, aku sudah menghubungi omay dan juga mama mu. Mereka bilang tidak kunjung datang ke rumah sakit ku. Yasudah dari pada jadwal ku kosong, mending aku cari uang untuk modal nikah!" Andhika langsung tertawa kecil melihat wajah Darren.


"Baiklah tuan Kasella! Jika seperti itu maka gaji mu akan ku potong! Lagian kau juga sudah memiliki rumah sakit sendiri. Jadi, kalau gaji mu ku potong sedikit tidak akan masalah bukan?" Darren kembali tersenyum sinis melihat wajah Andhika.


"Sudah lah! Aku tidak ingin berdebat dengan mu tuan muda! Jadi sekarang istri mu ingin ku obati atau tidak?" Andhika pun menghela nafas nya dengan perlahan.


"Tentu saja kau harus mengobati istri ku!" ujar Darren, dan senyuman yang terlihat pada Darren. "Namun, kau harus mengobati nya tanpa menyentuh nya!"


"WHAT..!" pekik Andhika dengan sangat kaget.

__ADS_1


^^^Bersambung....^^^


...****************...


__ADS_2