Menikahi Seorang Miliarder Dunia

Menikahi Seorang Miliarder Dunia
Eps. 113 Selamat untuk mu Viola Talisa!


__ADS_3

"Aku tidak ingin kondisi mu semakin memburuk," Darren melembutkan suara nya dan mengusap punggung Viola.


"Tapi, aku sangat menginginkan naik bus itu Darren," lirih Viola.


"Kita bisa menaiki nya di lain hari sayang," Darren berusaha berbicara dari hati ke hati dengan Viola.


"Darren," Viola semakin menatap wajah suaminya dengan wajah yang sedih.


"Baiklah kita akan pergi dengan syarat kau mau di periksa oleh Kasella sebelum kita pergi!" Darren berusaha bermain kata-kata dengan Viola .


"Darren ini tidak adil!" Viola yang mendengar ucapan dari Darren merasa sangat kesal.


"Tentu saja ini adil." Jawab Darren dengan sangat enteng nya.


"Tapi--"


"Pilihan ada di tangan mu sendiri istriku," Darren hanya tersenyum tipis saja. Ia tau ini adalah pilihan yang sulit bagi Viola.


"Baiklah kita akan pergi di lain hari saja." Viola menundukkan wajah nya dengan raut wajah yang sudah cemberut.


"Pilihan yang bagus!" Darren tersenyum kecil, "sekarang yang harus kau lakukan adalah beristirahat! Aku harus pergi keruang kerja ku sekarang."


"Darren kau ingin meninggalkan ku sendiri disini?" Viola menahan tangan suaminya yang hendak pergi dari hadapan nya.


"Aku tidak pergi sayang, aku hanya mengambil beberapa dokumen di ruang kerja ku dan melanjutkan mengerjakan nya di kamar kita." Ujar Darren pada Viola dan menghela nafasnya.


"Benarkah itu?" Viola menatap wajah Darren dengan sangat dalam.


"Tentu saja benar. Sekarang istirahat lah!" Darren melepas tangan Viola secara perlahan.


"Darren jangan lama ya," teriak Viola saat suaminya sudah membukakan pintu kamar nya itu.


Darren yang mendengar ucapan Viola hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil tersenyum kecil. Ia pun hanya mengangguk kepalanya pada Viola dan segera menutup pintu kamar nya kembali.


Viola yang sudah melihat kepergian suaminya hanya bisa menghela nafasnya.


"Karna kodisi ku saat ini, aku jadi tidak bisa pigi deh!" Kesal Viola pada dirinya sendiri.


Sementara Darren yang sudah berada di ruang kerja nya langsung mengambil beberapa dokumen. Namun, tiba-tiba saja Darren teringat akan sesuatu dan segera mengambil ponsel nya itu lalu menghubungi seseorang.


......................


Apartemen Bobby.


Bobby yang masih tersulut amarah karna tingkah adik nya itu langsung menghempaskan tangan Vaya dengan kasar. Vaya yang melihat bara di mata kakak nya merasa ketakutan.


"Vaya Charlton!!" Raung Bobby pada adik nya.


"Kak--" Vaya menatap wajah kakak nya yang sangat menakutkan.

__ADS_1


"Kau sudah lupa dengan ucapan ku sebelum nya ha!" Nafas Bobby sudah naik turun karna Vaya.


"Aku tidak lupa kak! Namun kau yang sudah lupa dengan ucapan ku pada mu." Vaya berusaha memberanikan diri nya untuk berhadapan dengan kakak nya itu.


"Vaya!" Bobby langsung meninggikan suara nya kembali pada Vaya.


"Kak, sudah ku katakan pada mu. Aku akan tetap terus berjuang mendapatkan kak Darren, sampai kak Darren sendiri yang menyuruh ku untuk tidak mengejar nya lagi." Vaya berbicara dengan air mata yang sudah mengalir di pipi nya.


Bobby berusaha mengontrol emosi nya itu. Ia tidak ingin bertindak gegabah karna amarah yang ada di hati nya. Bobby tidak ingin sampai melukai adik nya itu karna emosi.


"Vaya, dengarkan aku! Darren sudah memiliki keluarga nya sendiri. Tidak kah kau pikir kan bagaimana perasaan istri nya saat tau ada wanita lain yang ingin merebut suaminya itu! Kau juga seorang wanita Vaya. Pasti kau mengerti seperti apa rasa sakit nya melihat orang yang kita cintai di ambil oleh orang lain." Bobby memegang bahu adik nya. Ia berusaha untuk membuat Vaya sadar.


"Kak! Mengapa kau lebih memikirkan perasaan wanita itu daripada perasaan ku. Aku juga merasa sangat sakit sekali melihat kak Darren bersama nya kak. Seharusnya aku yang di sana bukan dia kak! Ta- tapi mengapa kau berkata seolah-olah aku yang--" Vaya tidak sanggup melanjutkan perkataannya lagi. Ia sudah menahan tangis nya yang terasa sangat sesak di dada nya. Saat tangis yang sudah ia tahan hendak pecah Bobby langsung memeluk adik nya itu. Namun air mata Vaya terus saja mengalir.


"Aku sangat menyayangimu Vaya! Tapi apa kau lupa semua ini tidak akan terjadi jika kau tidak meninggalkan nya saat itu." Bobby mengelus punggung Vaya.


"Aku menyesal kak! Aku ingin kembali bersama dengan kak Darren." Vaya melerai pelukan kakak nya.


"Tidak ada guna nya kau menyesal Vaya! Lepaskan lah Darren Vaya. Dia sudah memiliki keluarga nya sendiri yang tidak bisa untuk kita sentuh." Bobby berbicara dengan suara yang lembut agar adik nya mengerti.


"Kak aku tidak akan melepaskan kak Darren! Aku akan ke perusahaan kak Darren besok dan ingin mencari kejelasan di hubungan kami yang belum ada kepastian itu kak." Tekad Vaya pada Bobby.


"Pergilah Vaya! Aku sudah lelah menghadapi sikap mu yang sudah sangat berubah ini! Dulu kau sangat lembut dan sabar. Tapi, sekarang aku bahkan tidak bisa mengenali adik ku yang dulu lagi."


Deg!


Kata-kata Bobby terasa sangat perih saat di dengar oleh Vaya. Kakak nya yang jarang sekali protes, marah-marah dan bahkan tidak pernah melarang nya melakukan apapun kini sudah berkata seperti itu pada Vaya. Vaya benar-benar sangat terkejut melihat sikap kakak nya yang sangat dingin pada nya.


"Pulang lah! Aku tidak ingin melihat mu." Perintah Bobby dengan aura dingin di sekitar dirinya membuat suasana semakin mencekam.


"Kak kau mengusir ku?" Vaya menatap nanar kakak nya itu.


Bobby yang mendengar ucapan vaya tidak mempedulikan nya dan terus berjalan ke kamar nya. Ia benar-benar sangat lelah menghadapi semua masalah yang terjadi di keluarga sahabat nya.


"Aku benar-benar butuh istirahat!" Bobby langsung menjatuhkan tubuh nya di atas ranjang nya.


"Aku minta maaf kak!" Vaya yang sudah melihat kakak nya masuk ke dalam kamar hanya bisa menghapus air mata nya itu.


Sementara Bobby yang ada di dalam kamar nya berusaha mencari cara agar adik nya itu menyerah sendiri.


...🌹🌹...


Kediaman two drn.khan


Saat ini Darren tengah menatap kearah layar yang ada di hadapannya dan juga sesekali melihat wanita nya yang sudah tertidur pulas di ranjang mereka. Darren tersenyum saat melihat gadis yang sangat cerewet itu menjadi sangat tenang.


"Aku akan memberitahukan semua nya pada mu besok istri ku! Aku sadar aku sudah mencintai dirimu." Ujar Darren dengan suara pelan nya.


Darren pun langsung mengambil handphone nya dan kembali menghubungi seseorang. Karna ia teringat akan tugas yang ia berikan saat ia berada di ruang kerja nya tadi.

__ADS_1


"Bagaimana apa semua nya sudah siap?" Tanya Darren dengan suara datar nya.


"Semua nya sudah beres tuan. Kejutan untuk nyonya muda di apartemen pribadi tuan juga sudah siap. Rangkaian bunga yang tuan muda ingin kan saat nyonya muda datang juga sudah siap tuan muda. Dan ucapan i love you yang tuan ingin kan terpajang di kota pusat juga sudah siap tuan muda." Jawab Bobby pada Darren.


"Bagus Bob! Kau memang bisa untuk ku andalkan." Darren merasa puas dengan pekerjaan yang ia berikan pada Bobby.


"Baiklah tuan muda! Sekarang boleh kah saya istirahat? Karna sejak kau memberikan tugas pada ku. Hari libur ku menjadi hari yang paling lelah bagi ku!" Kesal Bobby. Saat tadi Bobby hendak memejamkan matanya namun tiba-tiba saja sahabat nya itu menelpon dirinya dan memberikan tugas yang sangat banyak sehingga membuat istirahat dia terganggu.


"Bob, kau sedang mengeluh pada ku?" Tanya Darren dengan suara penuh penyelidikan nya.


"Oh tentu saja tidak tuan muda! Semua pekerjaan yang tuan berikan padaku adalah sebuah anugrah." Jawab Bobby dengan suara yang sangat kesal.


"Bagus jika tidak!"


"Baik tu--"


Tut


Tut


Tut


"Shutt!!" Bobby yang tau panggilan nya sudah di putuskan begitu saja oleh Darren merasa sangat kesal.


Namun berbeda sekali dengan Darren setelah mengakhiri panggilan nya dengan sekretaris nya itu. Ia terus saja tersenyum akan kejutan yang hendak ia berikan pada Viola.


"Selamat untuk mu Viola Talisa! Kau sudah bisa meleleh kan es yang sejak lama sudah aku bekukan." Darren tersenyum tipis dan kembali menatap kearah laptop nya itu.


...🌾🌾...


Kediaman one drn.khan.


Sudah sejak lama mama dan juga omay tidak pernah mengunjungi menantu kesayangan nya itu.


"Ma, aku sangat merindukan menantu kesayangan ku itu. Bisakah kita mengunjungi mereka hari ini?" Aurora menatap wajah omay dengan sangat dalam nya.


"Ra, mama juga sangat merindukan mereka berdua. Namun, kita tidak bisa pergi sekarang." Ujar omay dengan suara halus nya.


"Maafkan Aurora ma! Aurora lupa kalau hari ini jadwal check up mama ke dokter pribadi kita." Aurora sangat menyesal akan perkataan nya itu yang mungkin bisa menyinggung orang yang sangat ia sayangi.


"Tidak apa-apa Ra! Kita bisa mengunjungi mereka besok." Omay langsung menepuk-nepuk bahu menantu nya agar tidak merasa bersalah lagi.


"Maafkan aku ya ma." Aurora langsung memeluk ibu mertua nya dengan sangat erat.


"Tidak apa-apa Ra! Mama tau betul kamu orang yang seperti apa." Omay membalas pelukan menantu nya.


Karna saat ini hanya ada ibu mertua nya itu saja yang selalu menemani hari-hari nya di saat anak satu-satunya sibuk bekerja. Terlebih lagi saat anak nya sudah menikah Aurora lebih memilih tidak menganggu kehidupan pribadi anak nya itu lebih jauh. Di saat Aurora merasa kesepian ibu mertua nya lah yang langsung membuat nya tersenyum kembali karna hiburan yang ibu mertua nya itu berikan.


Begitu juga sebaliknya, tanpa Aurora maka Padmawati tidak bisa melakukan apapun sendirian. Walaupun ada orang yang bekerja di sana namun rasa tulus yang di berikan sangat berbeda. Oleh sebab itu omay hanya ingin bersama dengan menantu nya saja.

__ADS_1


^^^Bersambung...^^^


...****************...


__ADS_2