Menikahi Seorang Miliarder Dunia

Menikahi Seorang Miliarder Dunia
Eps. 143 dia tidak mencintai ku Vi!


__ADS_3

Viola langsung bangkit dari duduk nya dan langsung menggenggam tangan Shelly dengan wajah yang tidak dapat diartikan


"Vi, kita mau kemana?" Shelly menahan Viola saat itu juga ketika Viola hendak membuka pintu.


"Tentu saja meminta pertanggungjawaban dari sekretaris suami ku itu!" Viola terlihat sangat marah. Bagaimana bisa Bobby begitu berani menyakiti sahabat nya itu


"Vi sudah cukup!" Shelly yang mendengar ucapan Viola dengan sangat cepat melepaskan tangan Viola dari nya.


"Ada apa Shell?" Melihat reaksi Shelly yang menolak ajakannya membuat Viola menaikan alis mata nya itu.


"Vi, gue gak mau minta pertanggungjawaban apapun dari dia." Ujar Shelly dengan wajah yang tertunduk.


"Lo gila ya!" Nafas Viola sudah naik turun mendengar ucapan Shelly.


"Gue gak gila Vi! Lebih tepatnya gue sadar diri siapa pria yang ingin Lo minta pertanggungjawaban itu." Balas Shelly yang tidak kalah tinggi nya.


"Tenang lah Shell." Melihat Shelly juga ikut emosi membuat Viola menghela nafas nya dan langsung menyuruh Shelly untuk duduk kembali.


"Vi, bukan nya gue gak mau minta pertanggungjawaban. Tapi--" Shelly ragu untuk melanjutkan perkataannya itu.


"Tapi apa Shell?" Tanya Viola dengan raut yang sangat penasaran. Viola benar-benar ingin tau apa alasan sahabat nya itu menolak ajakan nya.


"Tuan Bobby juga tidak kalah hebat nya dibandingkan suami Lo Vi." Ujar Shelly pada Viola.


"Justru itu bagus dong Shell." Viola sangat antusias memberikan semangat pada sahabat nya itu.


"Bagus dari mana Vi? Jelas-jelas itu adalah mimpi buruk untuk ku." Shelly menghela nafas nya sesaat.


"Shell Lo jangan mikir yang enggak-enggak deh." Viola tampak kesal saat sahabat nya berkata demikian.


"Vi, gue itu mengatakan yang sebenarnya. Jangankan untuk berdiri di samping nya, menjadi bayangan nya saja itu sudah tidak mungkin Vi!" Tegas Shelly pada Viola.


"Shell lo--"


"Vi gue tau Lo marah atas apa yang gue katakan. Tapi coba Lo pikir! Jika gue minta pertanggungjawaban dengan nya tidak menutup kemungkinan tuan Bobby bakalan nikahin gue detik itu juga." Potong Shelly saat Viola hendak marah padanya.


"Kenapa Lo yakin Bobby bakal langsung nikahin Lo saat itu juga?" Tanya Viola pada Shelly.


"Itu karna ketika kami sadar satu sama lain akan apa yang telah kami lakukan. Dengan sangat antusias nya tuan Bobby siap untuk bertanggung jawab dan ingin nikahin gue saat itu juga." Ujar Shelly.


"Justru itu lebih bagus Shell," Viola menepuk kening nya itu. Ia benar-benar tidak mengerti jalan pikir sahabat nya.


"Vi Lo itu sudah dewasa! Tapi kenapa pikiran Lo itu masih seperti anak-anak sih." Shelly menatap kesal pada Viola.


"Baiklah gue akui gue masih bersifat anak-anak. Oleh sebab itu untuk kakak Shelly tercinta! Coba jelaskan secara terperinci." Viola langsung menekan ucapannya saat Shelly berkata demikian pada nya.


"Baiklah akan gue jelasin secara terperinci agar Lo mengerti!" Shelly menarik nafas nya secara perlahan.


"Vi, jika gue nikah sama tuan Bobby, itu berarti seluruh keluarga tuan bobby maupun keluarga gue akan sangat terkejut dengan pernikahan kami, yang akan terjadi dengan sangat cepat! Terlebih lagi aku tidak tau seperti apa keluarga tuan Bobby. Jika keluarganya menyukai ku itu mungkin hal yang bagus Vi! Tapi bagaimana jika keluarga tuan Bobby tidak menyukai ku? Apalagi dengan status ku yang hanya dari keluarga biasa saja. Selain itu tuan Bobby juga tidak menyukai ku Vi." Shelly tampak kembali sedih.


"Shell, Darren dulu juga seperti itu! Dia tidak mencintai ku sama sekali. Tapi, kau lihat sekarang dia sangat mencintai ku!." Viola menggenggam tangan sahabat nya itu.


"Vi, itu dua hal yang berbeda! Jika Darren tidak mencintai Lo saat itu. Tapi, setidaknya keluarga nya sangat menyayangi Lo! Tapi hal ini malah berbanding terbalik pada ku Vi. Aku tidak tau keluarga nya menyukai ku atau tidak dan tuan Bobby tidak mencintai ku sama sekali. Aku tidak sanggup jika berada di sekitar orang-orang yang tidak menyukai ku sama sekali Vi." Shelly menetes kan air matanya. Shelly tidak tau bagaimana nasib nya nanti.


"Yasudah gue ngerti kok perasaan lo Shell! Sekarang tenang kan diri Lo ya." Viola mengusap wajah sahabat nya itu.


Shelly yang diam sesaat lalu tiba-tiba saja mengejutkan Viola, hingga membuat Viola menyemburkan air minum nya ke wajah Shelly.

__ADS_1


"Vi!" Shelly yang di sembur oleh Viola tampak kesal.


"Uhuk ... Uhuk, sorry Shell!" Viola yang masih terbatuk-batuk langsung menggelap air pada wajah sahabat nya.


"Is loh itu ya Shell! Bisa tidak jangan suka buat gue kaget. Untuk hari ini entah udah berapa kali Lo buat gue terkejut." Kini saat nya Viola yang memarahi Shelly karna perbuatan Shelly padanya.


"Ya maaf," Shelly tertawa kecil.


"Oh iya Vi Lo tau tidak?" Shelly menatap sahabatnya itu.


"Tidak tau." Ketus Viola.


"Bagaimana bisa sih Vi Lo tidak tau." Shelly menggelengkan kepalanya itu.


"Tampaknya Lo memang sudah tidak waras lagi Shell!" Viola menghela nafas ny dengan kasar.


"Sembarangan aja Lo bilang gue gila," Shelly langsung menepuk bahu Viola.


"Gue gak sembarangan tapi memang nyata! Coba Lo pikir bagaimana bisa gue tau, jika Lo aja tidak kasih tau gue sama sekali." Kesal Viola pada sahabat nya.


"Hehehe sorry Vi. Vi asal Lo tau aja tuan Bobby adalah pria yang pernah gue ceritain sama Lo saat acara pernikahan Lo itu." Ujar Shelly membuat Viola membelalakkan matanya.


"Lo serius Shell?" Viola kembali memastikan ucapan Shelly.


"Gue yakin 100% Vi!" Jawab Shelly tanpa ragu.


"Terus kenapa Lo baru bilang sekarang setelah Lo berjumpa dengan nya beberapa kali?" Viola memang agak ragu dengan apa yang Shelly kata kan.


"Itu karna, gue masih ragu Vi. Gue awalnya juga mikir wajah tuan Bobby terlihat tidak asing. Tapi gue tidak tau kalau dia adalah pria yang sudah buat gue jatuh cinta pada pandangan pertama!" Ujar Shelly pada Viola


"Lantas jika Lo tau pria itu adalah tuan Bobby. Kenapa Lo tidak mau menikah dengan nya?" Timpal Viola kembali pada sahabat nya.


"Itu dua hal yang berbeda Vi! Gue gak mau menikah dengan pria yang tidak mencintai gue sama sekali. Sedangkan gue sendiri belum terlalu yakin dengan perasaan gue." Jawab Shelly.


"Shell gue rasa sekretaris Bobby juga menyukai Lo." Viola menepuk pundak sahabat nya.


"Hah! Lo ada-ada aja Vi. Itu adalah hal yang mustahil." Shelly tersenyum sinis mendengar ucapan sahabat nya.


"Eh Shell. Lo jangan salah! Dulu Darren juga seperti sekertaris Bobby yang terlihat biasa saja seperti orang tidak mencintai ku sama sekali. Tapi siapa sangka saat ini dia sangat bucin sama Viola Talisa ini." Viola langsung tertawa mengingat bagaimana posesif nya Darren pada diri nya.


"Iya juga ya Vi." Shelly mencoba memikirkan kembali ucapan Viola padanya


"Jadi bagaimana? Lo mau kan minta pertanggungjawaban dari tuan Bobby?" Viola kembali mencoba membujuk sahabat nya itu


"Tidak Vi! Gue gak mau ambil resiko apapun." Tegas Shelly pada Viola.


"Shelly Rula! Jangan bersikap egois. Lo mau orang tua Lo tau kalau Lo sudah tidak perawan lagi?" Viola menatap wajah sahabat nya dengan kesal.


"Gue akan merahasiakan hal ini dari papa dan juga mama Vi." Jawab Shelly dengan sangat enteng nya.


"Bagaimana jika Lo hamil?"


Deg!


Ucapan Viola langsung membuat jantung Shelly berdegup cepat.


"Aku akan memikirkan nya jika hal itu terjadi. Tapi kurasa itu mustahil! Karna kami hanya melakukan nya sekali." Shelly berusaha bersikap untuk tenang.

__ADS_1


"Shell kita gak akan pernah tau apa yang akan terjadi kedepannya. Bisa saja suami Lo nanti nya sekretaris dari suami ku." Viola langsung menggoda sahabat nya itu agar tidak khawatir lagi.


"Viola," mendengar ucapan Viola, Shelly menepuk paha Viola dengan wajah yang memerah.


Mereka berdua pun kembali berbincang-bincang sampai sudah waktu nya Shelly pulang. karna Shelly merasa cukup lama berada di rumah sahabat nya itu. Viola yang tau Darren juga akan segera pulang ia pun membiarkan Shelly pulang.


"Shell kapan-kapan Lo kemari lagi ya." Ujar Viola dengan wajah yang tersenyum.


"Pasti dong! Terlebih lagi rumah Lo ini sangat membuat gue nyaman." Jawab Shelly dengan wajah yang masih kagum.


"Baiklah Lo boleh pulang sekarang! Biar pak Sukirman yang antar Lo." Viola pun menyuruh supir pribadi nya untuk mengantar sahabat nya itu.


"Ah Viola Lo benar-benar sahabat terbaik gue." Shelly memeluk sahabatnya itu.


"Sudah-sudah jangan lebay!" Viola menepuk-nepuk bahu Shelly.


"Hehehe tau aja Lo." Shelly langsung cengengesan saat Viola mengetahui drama nya


"Gue pergi ya." Shelly masuk kedalam mobil sambil da da pada Viola.


"Shell ingat apa yang gue katakan tadi pada Lo! Lo harus pikir-pikir lagi untuk minta pertanggungjawaban pada dia." Viola kembali mengingat kan Shelly kembali untuk minta pertanggungjawaban.


"Akan aku pikirkan Vi! Lo jaga kesehatan ya." Shelly tersenyum pada sahabat nya.


"Baiklah," jawab Viola


Viola yang sudah melihat kepergian sahabat nya hanya menggelengkan kepalanya dan kembali masuk ke kediaman nya.


"Hem hari ini benar-benar membuat ku sangat terkejut! Seharusnya sahabat ku tidak mengalami dilema seperti ini." Viola menghela nafas nya sangat panjang.


"Kuharap masalah Lo cepat selesai Shell." Gumam Viola dan langsung menjatuhkan diri nya di atas tempat tidur. Ia benar-benar sangat lelah hari ini.


Viola yang berniat ingin menyambut kepulangan Darren dari kerja nya. Eh malah diri nya sudah ketiduran lebih dulu.


......................


Sementara ditempat lain yang sudah melihat semua hal itu melalui cctv-nya tampak marah dan langsung menekan telpon perusahaan nya itu


"Segera keruangan ku!" Perintah Darren dan langsung menutup panggilannya.


"Benar-benar keterlaluan!" Darren menghentak meja kerja nya itu.


Selagi nunggu kedatangan Bobby, Darren hanya melihat Viola yang sedang terlelap tidur melalui layar cctv nya.


"Kau penenang ku disaat emosi ku tidak terkendali, istriku!" Darren tersenyum sambil mengelus Viola lewat layar pada handphone nya.


Tok


Tok


Tok


Saat mendengar suara pintu ruang kerja nya di ketuk. Darren langsung mematikan layar ponselnya itu dan langsung menyuruh nya untuk masuk


^^^Bersambung....^^^


...****************...

__ADS_1


__ADS_2