Menikahi Seorang Miliarder Dunia

Menikahi Seorang Miliarder Dunia
Eps. 99 Ancaman!


__ADS_3

Ruangan Bobby.


Vaya yang kesal karna, di tarik paksa oleh kakak nya itu ia sangat ingin memukul kakak nya itu. Sementara Andhika yang sejak tadi tertidur di kursi kerja sahabat nya langsung terbangun dan mengusap wajah nya.


"Kalian itu ribut sekali sih!" Protes Andhika pada mereka berdua.


"Diamlah!!" Tatap tajam Bobby dan juga Vaya pada Andhika. Membuat Andhika langsung terdiam dan menatap jengah kearah mereka.


"Perasaan aku tidak salah apa-apa deh." Gumam Andhika di dalam hati nya.


"Kak kau keterlaluan! Aku belum selesai berbicara dengan kak Darren mengapa kakak menarik ku?" Vaya menatap kakak nya dengan tatapan yang sangat kesal.


"Vaya! Kau lupa sebelum kau keruangan Darren kau sudah berjanji pada ku untuk tidak membuat masalah!" Bobby menatap adik nya dengan sangat tajam.


"Aku tidak membuat masalah kak!" Bela Vaya pada dirinya sendiri.


"Jika kau tidak membuat masalah lalu kenapa kau memeluk suami orang begitu saja.?" Suara Bobby sudah terdengar cukup keras.


Syukurlah ruangan yang ada di lantai Presdir memiliki sistem kedap suara. Jika tidak, maka habis lah Bobby karna membuat keributan di perusahaan sahabat nya itu.


"Kau memeluk Darren?" Andhika sangat terkejut mendengar ucapan dari Bobby. Ia menatap Vaya dengan intens.


"Aku tidak bisa menahan nya kak! Aku sangat merindukan nya." Lirih Vaya di hadapan Andhika dan juga Bobby.


"Vaya kau sudah membuat kesalahan besar!" Andhika hanya menggelengkan kepalanya saja melihat mereka.


"Kesalahan? Aku hanya memeluk calon suamiku sendiri kak! Apa kah itu kakak sebut kesalahan?" Vaya menatap kearah Andhika dengan intens karna sudah menuduh nya melakukan kesalahan.


"VAYA CHARLTON!!" Bobby membentak Vaya dengan suara yang sangat keras. Membuat Andhika yang menatap kearah Bobby langsung menelan Saliva nya itu dengan susah.


"Kak, kau membentak ku?" Air mata Vaya sudah berlinang di kedua pipi nya begitu mendengar bentakan dari Bobby.


Andhika sendiri tidak percaya bahwa Bobby akan membentak adik satu-satunya itu. Dulu Vaya sangat terkenal sebagai adik kesayangan Bobby. Tapi sekarang Bobby malah membentak Vaya.


"Sudah cukup Vaya! Selama ini aku terlalu memanjakan mu. Kau sudah lupa apa? kalau kau itu sudah bukan calon istri nya lagi! Melainkan hanya masa lalu nya. Ingat lah itu Vaya! Darren sekarang sudah memiliki kebahagiaan nya sendiri. Dan perlu ku ingat kan satu hal pada mu! Jika kau mengganggu rumah tangga mereka. maka, yang harus kau hadapi lebih dulu itu aku Vaya. Kakak mu sendiri!" Bobby sangat emosi melihat adik nya masih bersikap anak-anak di usia nya yang sudah dewasa.


Bobby berusaha mengatur nafas nya dan berjalan kearah kursi kerja nya itu. Ia ingin mengatur emosi nya sendiri.


"Minggir lah!" Bobby menyuruh Andhika untuk bangkit dari kursi kerja nya.


Andhika tau saat ini bukan lah saat nya untuk melawan ucapan Bobby. Sehingga Andhika memilih untuk bangkit dan berdiri di samping Vaya.


"Vaya ayo! Akan ku antar kau ke apartemen kakak mu." Bisik Andhika pada Vaya yang terlihat masih menatap kakak nya itu.


Vaya menepis tangan Andhika dan mengusap air mata nya, "kak! Perlu ku ingat kan sekali lagi padamu. Aku akan terus mengejar kak Darren sampai kak Darren sendiri yang menyuruh ku untuk pergi!" Tekad Vaya sangat kuat. Ia tidak akan mengubah keputusan nya yang sudah bulat.


Vaya langsung berjalan menuju pintu keluar dari ruangan kakak nya sendiri.


"Vaya Charlton! Jika kau sudah mengambil keputusan itu. Maka akan ku ingat kan sekali lagi! Yang akan kau hadapi adalah aku. Aku akan melupakan hubungan yang terjalin diantara kita. Dan jika kau memang melakukan nya dengan cara licik. maka kau ingin aku cepat mati di hadapan mu! Karna aku tidak bisa manggung rasa malu yang di sebabkan oleh adik kandung ku sendiri." Bobby kembali mengingat kan Vaya.


Vaya yang mendengar ucapan Bobby semakin mengeluarkan air mata nya. Ia merasa sangat sakit jika kakak nya berkata seperti itu padanya.

__ADS_1


"Kak! Kau tenang lah. Aku bukan tipe perempuan murahan di luaran sana yang akan menggunakan cara kotor untuk menaklukkan hati kak Darren pada ku." Balas Vaya tanpa menoleh kearah kakak nya.


"Bro kau itu tidak boleh berkata seperti itu pada adik mu sendiri!" Andhika tidak tega melihat wanita yang ada di samping nya masih menangis dalam diam.


"Kau boleh keluar sekarang!" Bobby tidak memperdulikan ucapan Andhika pada diri nya. Ia malah menyuruh mereka untuk pergi dari ruangan nya.


"Kau--"


"Kak kita pergi sekarang! Aku sangat lelah." Vaya menahan tangan Andhika dan mengajak Andhika untuk pergi.


Andhika menghela nafas nya dengan sangat panjang. Ia tidak habis pikir mengapa keluarga mereka memiliki masalah yang cukup rumit untuk di selesai kan. Akhirnya nya Andhika pun memutuskan untuk tidak berdebat dengan Bobby dan memilih mengantarkan Vaya pulang ke apartemen Bobby. Jujur saja Andhika sendiri juga sangat lelah. Terlebih lagi besok ia juga harus melakukan operasi besar. Sehingga Andhika harus beristirahat untuk besok.


"Maafkan aku," lirih Bobby saat iya sudah memastikan Vaya keluar dari apartemen nya.


Berbeda sekali dengan Darren. Darren mengerjakan pekerjaan nya dengan wajah yang terlihat tersenyum. Ia menyelesaikan urusan perusahaan nya dengan cepat namun terlihat sangat tenang.


"Akhirnya selesai juga!" Darren langsung merenggangkan otot nya itu.


"Aku harus pulang sekarang! Karna tugas ku sekarang adalah membuat tuan muda kecil untuk semua orang!" Darren tersenyum kecil dan langsung mematikan layar yang ada di depannya. Iya juga merapikan beberapa dokumen yang ada di meja kerja nya itu.


Darren keluar dari ruang kerja nya dan beralih keruang kerja Bobby. Ia berharap sahabat nya itu baik-baik saja.


"Bob," panggil Darren saat melihat Bobby masih termenung duduk di kursi kerja nya.


"Tuan muda, ada apa anda kemari?" Bobby yang melihat kehadiran Darren merasa sangat terkejut.


"Kau kenapa?" Darren menutup pintu kerja Bobby dan langsung duduk di kursi yang ada di hadapan Bobby.


"Bob, bicara lah biasa saja pada ku! Di sini tidak ada siapapun. Ada apa dengan mu?" Darren menatap sahabatnya dengan sangat intens.


"Vaya Darren--" Bobby terdiam sejenak. Ia ragu membahas tentang adik nya pada sahabat nya itu.


"Ada apa dengan Vaya?" Tanya Darren dengan suara datar nya.


"Dia ingin merebut mu kembali dari sisi istri mu sendiri." Bobby menghela nafas nya.


"Bob, sudah ku katakan pada mu 2 tahun lalu! Aku hanya menganggap Vaya sebagai adik ku. Tidak lebih dari itu! Namun, adik mu terus memaksa untuk menikah dengan ku. Dan aku pun menyetujui nya karna ku pikir tidak akan ada salah nya menikahi adik dari sahabat ku sendiri. Namun, Vaya sendiri lah yang sudah membatalkan pernikahan tersebut. Lalu kenapa dia sekarang ingin kembali ke sisi ku?" Darren menatap Bobby dengan sangat intens.


"Itu karna dia belum bisa melupakan mu Darren!" Bobby tidak tau harus berkata apa lagi pada Darren.


"Bob! Aku sangat menghargai persahabatan kita. Tapi, jika adik mu melakukan hal yang akan membuat aku marah besar. Maka jangan salah kan aku jika berbuat kasar pada adik mu." Darren memperingatkan sahabat nya yang masih tertunduk itu.


"Aku tau itu," jawab Bobby dengan wajah yang bimbang.


"Sudah tidak perlu kau pikirkan masalah ini! Aku akan menolak adik mu itu agar dia tidak membuat masalah untuk mu." Darren menepuk pundak sahabat nya.


"Makasih Darren!" Bobby tersenyum menatap kearah Darren.


"Kalau begitu aku pulang dulu!" Darren bangkit dari duduk nya.


"Loh ini masih jam berapa Darren. Kenapa kau pulang secepat itu?" Bobby tidak percaya mendengar ucapan dari Darren. Semenjak Darren sudah malam pertama dengan istri nya. Darren sering sekali pulang kerja sebelum jam kerja habis.

__ADS_1


"Bob, kau akan mengetahui nya setelah kau menikah nanti." Ujar Darren dengan nada yang mengejek.


"Cih! Kau itu sangat memalukan jika sudah jatuh cinta." Bobby menatap jengah Darren. Ia sangat malas berurusan dengan pria yang sedang di mabuk cinta itu.


"Bob kau jangan mengatakan hal itu padaku! Karna suatu saat nanti aku pasti yakin kau juga akan merasakan hal yang sama." Sinis Darren pada Bobby.


"Baiklah, baiklah aku akan merasakan nya! Sebaiknya segera lah kau pulang Darren. Mungkin saja istri mu itu sedang menunggu mu pulang." Bobby berusaha menyuruh sahabat nya untuk keluar dari ruangan nya.


"Kau mengusir ku Bob?" Darren menatap kearah Bobby dengan sudut matanya.


"Aku tidak mengusir mu tuan muda. Aku hanya ingin bilang jika kau menunda kepulangan mu bisa-bisa rencana kau ingin menciptakan tuan muda kecil bisa gagal!" Bobby hanya berbicara dengan suara datar nya.


"Kau benar juga Bob!" Darren menganggukkan kepalanya. "Baiklah kalau begitu aku pulang sekarang!"


Darren pun langsung keluar meninggalkan Bobby begitu saja tanpa permisi pada sahabat nya. Sehingga membuat Bobby merasa sangat kesal.


"Kau itu kebiasaan sobat! Datang secara tiba-tiba dan pergi begitu saja." Bobby menghela nafas nya melihat kepergian sahabat nya.


Sementara Darren yang sudah berada di lantai bawah. Dengan langkah cepat nya ia keluar dari pintu utama perusahaan nya itu.


Namun, langkah Darren terhenti saat melihat siapa yang sudah ada di hadapannya Darren langsung memasang wajah membunuh nya pada orang yang ada di samping Vaya.


"Kasella!" Tatap tajam mengarah ke Andhika membuat Andhika menelan saliva nya dengan sangat susah.


"Vaya sudah berapa kali ku katakan. Sebaiknya kita pulang saja! Jika kau ingin menyelesaikan masalahmu dengan pria kejam itu, maka kau selesai saja sendiri! Jangan membawa ku." Andhika berdiri di belakang Vaya membuat Vaya sedikit kesal pada Andhika.


"Kak! Kau itu bagaimana sih. Bukan nya sebelum kita datang kemari kau bilang aku tidak perlu takut karna ada kau disini! Lantas kenapa sekarang kau malah bersembunyi di belakang ku?" Protes Vaya pada Andhika membuat Andhika kembali berdiri di samping Vaya.


"Sekarang sudah beda cerita Vaya Charlton." ujar Andhika pada Vaya.


Vaya tidak memperdulikan perkataan Andhika padanya. Ia malah memilih untuk berjalan menuju kearah Darren. Andhika pun mengikuti langkah kaki Vaya. Andhika tidak mau Vaya membuat masalah lagi yang bisa mengancam hidup nya itu.


"Kak Darren," panggil Vaya dengan suara lembut nya.


Darren tidak menjawab perkataan Vaya padanya. Ia hanya menatap kearah Andhika dengan tajam dan mengisyaratkan ancaman maut nya itu, "Aku akan membunuhmu Kasella!" Begitulah ancaman yang keluar dari mulut Darren walaupun hanya sebuah komat-kamit dari mulut nya.


"Kak aku ingin bicara pada mu!" Ujar Vaya pada Darren.


"Hari ini aku tidak ada waktu untuk berbicara dengan mu! Istri ku sedang menunggu ku di kediaman ku." Jawab Darren dengan suara dingin nya.


"Sepenting itu kah dia bagi mu kak?" Vaya menatap kearah Darren dengan sangat penuh penyelidikan nya.


"Tentu saja! Dia sangat penting bagi ku. Bahkan jika ada orang terdekat ku sendiri yang menyakiti nya ataupun membuat nya meninggalkan ku. Maka, aku tidak akan segan-segan pada orang tersebut." Tatap tajam mengarah kearah Andhika dan juga Vaya.


Vaya yang mendengar ucapan Darren berusaha menahan rasa sakit nya yang teramat sakit ia rasakan. Sementara Andhika masih berusaha mengatur tubuh nya yang masih gemetar. Apalagi saat mendengar ancaman dari sahabat nya.


"Kasella! Ku harap kau tidak akan melakukan hal yang bisa membuat ku murka." Begitulah ucapan terakhir Darren.


Karna Darren memutuskan untuk meninggalkan mereka berdua dan langsung masuk ke mobil nya. Darren tidak ingin Viola menunggu dirinya terlalu lama. Karna bagi Darren Viola lah yang paling penting dari pada kedua orang itu.


^^^Bersambung....^^^

__ADS_1


...****************...


__ADS_2