
Viola yang berada di dalam mobil dengan senyum yang terus mekar di wajah nya iya memegang sebuah hasil pemeriksaan kehamilan nya itu dengan sangat erat.
"Aku akan menjadi seorang ibu," dia tidak tau lagi bagaimana cara nya mengungkapkan rasa bahagia nya itu.
"Darren kau akan menjadi seorang ayah," tak terasa air mata yang sudah Viola tahan mengalir begitu saja.
Supir pribadi Viola yaitu pak Sukirman hanya tersenyum saja melihat nyonya muda nya begitu bahagia. Tidak biasa nya nyonya muda nya terlihat bahagia.
"Nyonya muda, anda baik-baik saja?" Tanya pak Sukirman saat melihat air mata mengalir di wajah nyonya muda nya.
"Saya baik-baik saja pak. Bahkan saya terlihat sangat baik-baik saja!" Jawab Viola dengan senyum nya.
"Bapak tau sebentar lagi saya akan menjadi seorang ibu!" Ujar Viola yang penuh semangat.
"Kalau begitu selamat ya nyonya muda! atas kehamilan Nyonya muda." Pak Sukirman tidak bisa memberikan apapun untuk nyonya muda nya itu. tapi pak Sukirman bisa mendoakan yang terbaik untuk nyonya muda nya.
"Terimakasih pak. Ucapan dari bapak sangat berarti bagi saya dan juga anak saya." Viola mengelus perut nya dengan sangat lembut nya.
Tidak menunggu waktu yang lama mobil Viola pun tiba di perusahaan megah milik suaminya itu. Viola turun dengan sangat hati-hati setelah pintu mobil di buka oleh pak Sukirman. Para bodyguard Darren yang melihat nyonya muda nya datang ke perusahaan membuat mereka sangat terkejut.
"Nyonya muda," kepala bodyguard menatap kearah Viola dengan wajah yang panik.
"Suami saya ada di dalam kan?" Tanya Viola pada kepala bodyguard.
"Nyo-nyonya muda ada apa kemari? Bukan kah tuan katakan nyonya harus berada di kediaman?" Kepala bodyguard terlihat seperti orang yang sedang gelisah di mata Viola.
"Saya ada urusan dengan suami saya pak. Oh iya jangan telpon Darren kalau saya berada di sini! Jika bapak melakukan nya, maka jangan harap bapak bisa melihat saya lagi." Ancam Viola pada kepala bodyguard tersebut.
Kepala bodyguard tersebut hanya menundukkan kepalanya itu dan di ikuti oleh bodyguard lain nya. Setelah melihat nyonya muda mereka ke bagian resepsionis dengan sangat cepat kepala bodyguard mengubungi nomor tuan muda mereka.
"Gawat! Tuan muda tidak mengangkat panggilan ku." Kepala bodyguard tersebut benar-benar sangat panik. Ia tidak tau harus bagaimana lagi. Salah satu cara nya adalah menghubungi sekretaris tuan muda mereka yang dimana ruangan mereka berada di lantai yang sama.
Setelah melakukan begitu banyak panggilan akhirnya panggilan dari kepala bodyguard tersebut diangkat oleh Bobby.
"Ada apa?" Tanya Bobby dengan suara datar nya.
"Gawat sekretaris Bobby! Nyonya muda ada di sini." Tanpa basa-basi kepala bodyguard langsung mengatakan nya pada Bobby.
"APA! Bagaimana bisa nyonya muda ada disini? Bukan kah dia berada di kediaman nya." Bobby langsung bangkit dari kursi kerja nya dengan wajah yang terlihat sangat terkejut.
"Saya juga tidak tau sekretaris Bobby! Tapi yang pasti nyonya muda ada di sini. tolong beritahukan pada tuan muda." Ujar kepala bodyguard pada Bobby.
"Baiklah! Sekarang kalian tahan dulu nyonya muda. Selagi saya membereskan masalah tuan muda." Perintah Bobby pada kepala bodyguard tersebut.
"Tapi nyonya muda sudah memasuki lift dari tadi sekretaris Bobby!" Lagi-lagi ucapan kepala bodyguard membuat Bobby semakin terkejut.
"What's!! Kenapa kau harus menghubungi ku sekarang." Bobby benar-benar sangat kesal melihat kelambatan para bodyguard tuan nya.
__ADS_1
"Saya sudah menghubungi anda berkali-kali! Tapi anda tidak mengangkat nya sama sekali. Dan di saat anda mengangkat panggilan saya nyonya muda sudah memasuki lift sekertaris Bobby." Jelas kepala bodyguard itu. Ia tidak rela jika terus-menerus di salah kan oleh sahabat tuan nya itu.
"Saya banyak kerjaan! Ponsel saya di silent." Bobby merasa menyesal karna sudah mengubah ponsel nya ke silent.
"Baiklah sekertaris Bobby! Saya hanya ingin bilang semoga anda bisa menghentikan nyonya muda." Ujar kepala bodyguard tersebut.
Bobby tidak menjawab nya dan langsung memutuskan panggilan itu. Sementara Viola saat ini sudah tepat berada di depan pintu kerja suaminya. Namun, langkah kaki Viola terhenti saat ia mendengar suara suaminya.
"Vaya Charlton! Aku memang mencintai mu. Bahkan sangat mencintai mu!" Suara Darren bergema di seluruh ruangan tersebut.
Viola yang mendengar ucapan dari Darren hanya terdiam membisu di depan ruangan Darren. Air mata Viola langsung mengalir dengan sangat deras. Seharusnya ia tidak membuka pintu ruangan kerja Darren walaupun hanya sedikit saja. setidaknya dengan begitu maka Viola tidak akan mendengar kan semua ucapan suaminya.
"Darren, kau--" Viola menutup mulut nya rapat-rapat menahan rasa sesak yang ada di dada nya.
"Sekarang aku tahu mengapa adik nya Bobby begitu mengejar mu! Dokter Andhika mengatakan kalau kau tidak mencintai ku! Dan sekarang aku juga tau mengapa kau tidak pernah bisa menceritakan semua tentang dirimu pada ku. bahkan aku sadar kenapa kau tidak pernah mengucapkan rasa cinta mu pada ku. Itu semua karna kau tidak pernah mencintai ku!" Gumam Viola di dalam hati nya dengan langkah kaki yang perlahan menjauh dari depan ruangan Darren.
Viola benar-benar tidak sanggup menahan rasa sakit nya. Ia langsung berlari sekencang mungkin agar bisa menjauh dari dunia yang menurut Viola tidak adil untuk nya. Saat Viola berlari dengan sangat kencang Viola tidak sengaja menabrak Bobby yang juga sedang berlari.
"Nyonya muda, anda baik-baik saja?" Bobby sangat khawatir melihat istri dari sahabat nya yang terlihat dalam kondisi yang tidak baik.
"Jauhkan tangan mu!!" Viola membentak Bobby yang tengah memegang tubuh nya.
"Aku benci dengan sahabat mu! Dia laki-laki brengsek!" Viola langsung menolak tubuh Bobby dengan sangat kuat. Membuat Bobby hampir terjatuh.
Dengan sangat cepat nya Viola berlari kearah lift dan menekan tombol lift itu. Bobby yang melihat Viola hendak pergi mengejar nya. Namun sayang sekali pintu lift sudah tertutup.
"Aku harus keruangan Darren sekarang!" Bobby pun berlari menuju keruangan sahabat nya.
Brakkk!!
Saat pintu ruang kerja Darren di banting oleh Bobby membuat wajah Darren terlihat sangat marah.
"Bobby Charlton! Dimana-mana sopan santun mu saat memasuki ruangan ku!" Tatap tajam Darren mengarah kearah Bobby.
"Kak kau kenapa?" Vaya yang masih menangis menatap kearah kakak nya.
"Darren sekarang bukan saatnya membicarakan dimana sopan santun ku!" Nafas Bobby terus saja memburu.
"Apa maksud mu? Kenapa kau terlihat habis ketemu gost." Darren menatap intens sahabat nya yang terlihat aneh di mata nya.
"Istrimu--" Bobby benar-benar tidak tau harus mulai dari mana.
"Ada apa dengan istriku?" Darren yang mendengar tentang Viola langsung menatap tajam kearah Bobby.
"Dia tadi ada di depan ruang kerja mu! Namun, tiba-tiba saja istrimu lari dengan menangis dan mengatakan kalau kau laki-laki brengsek." Ujar Bobby pada Darren.
Darren yang mendengar nya langsung terkejut. Sementara Vaya juga tidak kalah terkejutnya dengan Darren.
__ADS_1
"Bukan kah dia berada di kediaman ku! Mengapa dia berada di sini?" Darren sudah kelimpungan mendengar ucapan dari Bobby.
"Aku sendiri tidak tau Darren." Bobby merasa serba salah.
"Sekarang dimana Viola?" Tanya Darren dengan nada yang sangat panik.
"Seperti nya Viola turun kelantai 1." Jawab Bobby pada Darren.
Tanpa berpikir panjang Darren langsung keluar dari ruang nya dan berjalan menuju kearah lift.
"Bob! Suruh para bodyguard mencari Viola di lantai bawah. Jangan biarkan Viola meninggalkan perusahaan ini!" Perintah Darren dengan aura dingin nya membuat Bobby sedikit bergidik ngeri.
"Baik tuan muda." Bobby pun langsung mengeluarkan ponsel yang ada di saku celana nya.
"Hentikan langkah nyonya muda saat ingin meninggalkan perusahaan ini!" Tegas Bobby pada kepala bodyguard.
"Tapi--"
"Tapi apa?" Bobby merasa ada yang tidak beres.
Darren yang mendengar suara Bobby meninggi langsung memerintahkan Bobby untuk mengaktifkan speaker panggilan dari bodyguard nya itu. Bobby yang sudah di perintah oleh Darren hanya bisa mengikuti nya saja.
"Nyonya muda sudah pergi dari tadi sekretaris Bobby! Saat Nyonya pergi kami sudah melarang nya namun--" kepala bodyguard tidak bisa lagi melanjutkan perkataannya itu.
"Namun apa?" Tanya Darren dengan suara yang sangat tinggi.
Kepala bodyguard saat mendengar suara Darren langsung terkejut. Ia pikir ia hanya berbicara dengan sekretaris tuan muda nya itu saja.
"Namun, nyonya muda mengancam kami dengan menodongkan senjata yang ada pada saya tuan muda." Ujar kepala bodyguard tersebut dengan suara ketakutan.
"Dasar bodoh! Jika dia mengancam kalian dengan senjata. Kalian tidak perlu takut! Bukan kah aku membayar kalian semua hanya dengan kalian siap mempertaruhkan nyawa kalian!" Raung Darren mereka semua.
"Ji-jika nyonya muda mengancam kami menggunakan senjata. Maka kami akan siap menerima nya tuan muda. Ta-tapi masalah nya nyonya muda mengancam akan menyakiti diri nya sendiri menggunakan senjata tersebut yang membuat kami tidak bisa berbuat apa-apa tuan." Kepala bodyguard tersebut merasa sangat bersalah karna tidak bisa menjaga nyonya muda mereka dengan baik.
"Argghhh!!!" Dengan perasaan yang sangat marah Darren melempar handphone Bobby ke lantai membuat ponsel tersebut terburai.
"Darren tenang kan dirimu." Bobby berusaha menenangkan sahabat nya.
"Diam lah Bob! Bagaimana aku bisa tenang jika aku tau kalau istri ku sendiri sedang salah paham pada ku!" Darren langsung memukul pintu lift tersebut dengan sangat kuat.
"Mengapa lama sekali ke lantai 1!! Untuk pertama kali nya aku menyesali mempunyai perusahaan yang besar seperti ini." Darren merasa kesal karna lift mereka belum juga sampai ke lantai 1.
Darren yang sudah sangat kebingungan. Hanya bisa menghubungi ponsel Viola berulangkali. Namun, Viola terus saja menolak panggilan dari nya. Membuat Darren benar-benar seperti orang gila karna mengkhawatirkan bagaimana kondisi Viola. Darren yang teringat sesuatu langsung menghubungi pak Dadang.
^^^Bersambung...^^^
...****************...
__ADS_1