Menikahi Seorang Miliarder Dunia

Menikahi Seorang Miliarder Dunia
Eps. 91 Viola menunggu Darren pulang


__ADS_3

Kediaman two drn.khan


Hari ini sangat melelahkan bagi Viola. Sudah seharian ia berada di rumah sahabat nya itu sehingga ia memutuskan untuk pulang ke kediaman nya. Viola pun langsung masuk ke kamar mandi nya untuk membersihkan dirinya yang sudah sangat lengket ia rasakan.


"Darren sudah pulang belum ya?" Pikir Viola. Sejak ia masuk ke kediaman nya tampak semua orang yang berada di sana sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Sehingga membuat Viola enggan untuk bertanya.


Tidak menunggu beberapa lama Viola sudah selesai membersihkan dirinya dan segera turun kebawah untuk melihat keadaan lantai bawah.


"Pak," panggil Viola ketika ia melihat pak Dadang sedang berjalan kearah taman belakang.


"Iya nyonya muda," pak Dadang langsung menghentikan langkahnya.


"Nyonya muda membutuhkan sesuatu?" Timpal pak Dadang kembali.


"Darren sudah kembali belum pak?" Tanya Viola pada pak Dadang.


"Seperti nya belum nyonya muda," jawab pak Dadang pada Viola dengan sopan.


"Mengapa lama sekali ya? Bukan kah jam segini orang kantor sudah pada pulang?" Viola terus saja asik dengan pikiran nya sendiri.


"Nyonya muda, anda baik-baik saja?" Tanya pak Dadang khawatir.


"Saya baik-baik saja pak! Kalau begitu terimakasih ya pak. Bapak sudah boleh melanjutkan pekerjaan bapak kok. Maaf sudah menganggu waktu bapak." Viola langsung tersenyum pada pak Dadang.


"Nyonya tidak pernah menganggu waktu saya kok. Ini sudah menjadi tugas saya untuk melayani nyonya muda." Pak Dadang pun menundukkan kepalanya dan tersenyum.


"Baiklah pak, bapak boleh melanjutkan pekerjaan bapak sekarang." Ujar Viola.


"Kalau begitu saya permisi nyonya muda," pak Dadang memundurkan langkahnya dan menundukkan kepalanya itu.


Setelah melihat pak Dadang pergi. Viola memutuskan untuk menunggu Darren di ruang tamu. Viola pun duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut dan sesekali melihat kearah pintu utama.


"Darren ini sudah hampir malam, kenapa kau belum pulang juga!" Cemas Viola melihat kesana kemari.


"Sebaiknya aku menelfon Darren saja," Viola pun memutuskan untuk menghubungi suaminya itu. Namun panggilan Viola tidak di jawab oleh Darren


"Kemana sih dia! Membuat ku khawatir saja." Kesal Viola ketika panggilan nya tidak di angkat untuk ke sekian kali nya.


Karna terlalu lama menunggu Darren, Viola pun tertidur di atas sofa dengan handphone di telinganya.


Tap


Tap


Tap


Terdengar suara langkah kaki masuk ke kediaman kedua Darren. Langkah itu langsung terhenti saat tepat di depan Viola yang tengah tertidur.


"Gadis bodoh! Bagaimana bisa dia tertidur di sofa dalam keadaan seperti itu." Darren hanya menghela nafasnya saja dan langsung menghampiri Viola.


"Apa kau sedang menunggu ku?" Darren membelai rambut Viola


"Gadis yang imut dan cantik," Darren pun mencium kening Viola.


"Emh!" Viola yang terasa ada yang menyentuh wajah nya hanya menggeliatkan tubuh nya itu.

__ADS_1


Darren pun menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Viola. Dengan sangat hati-hati Darren mengangkat tubuh Viola dan hendak berjalan ke arah lift.


"Maaf tuan muda, anda terlihat lelah. sebaiknya bangunkan saja nyonya muda agar tuan tidak tambah lelah dengan menggendong nyonya muda." Salah satu pelayan wanita yang melihat tuan muda nya mengangkat Viola langsung menghentikan langkah Darren.


"Kau orang baru di sini?" Tanya Darren dengan suara datar nya.


"I-iya tuan muda," balas pelayan wanita itu dengan menatap kearah Darren.


"Perhatikan mata mu dan sikap mu!" Tegas Darren dengan suara dingin nya.


"Maksudnya tuan muda?" Pelayan wanita terus menatap ketampanan tuan muda yang ada di hadapannya itu.


"Hanya istri ku saja yang boleh menatap ku seperti itu! Dan kau harus menundukkan wajah mu saat berhadapan dengan ku." Darren menatap pelayan wanita itu dengan tajam.


"Tu-tuan muda maafkan saya," lirih pelayan tersebut pada Darren.


Darren tidak menggubris perkataan gadis tersebut dan langsung menekan tombol darurat yang dimana semua orang harus berkumpul membuat pelayan wanita itu terkejut.


"Tuan muda," mereka semua langsung menyapa Darren dengan suara lumayan keras sehingga membuat Viola sedikit bergerak di gendongan Darren.


"Kecilkan suara kalian! Istriku sedang tertidur." Darren menatap mereka dengan tajam membuat mereka menundukkan kepalanya itu.


"Maafkan kami tuan muda," ujar mereka semua.


"Kemari lah!" Darren pun langsung menunjukkan kepala pelayan yang sudah memimpin para bawahannya itu.


"Masalah apa lagi sekarang!" Pak Dadang merasa tidak enak hati. Dan berjalan perlahan menuju ke arah tuan muda nya.


"Ada apa tuan muda?" Tanya pak Dadang


"Ta-tapi tuan muda--"


"Aku tidak ingin mendengar penjelasan apapun! Selagi aku membawa istri ku ke kamar ku kalian semua harus bisa mengingat nya kembali dan mengatakan peraturan itu di hadapan ku ketika aku kembali ke sini." Darren pun berjalan kearah lift pribadinya dengan mengendong istri nya.


"Istirahat lah istri ku," ketika Viola kembali bergerak Darren pun menidurkan Viola kembali.


Pintu lift langsung tertutup membuat mereka semua nya menghela nafas sejenak. Pak Dadang beralih menatap kearah pelayan wanita itu dengan sangat tajam.


"Lisa! Apa yang sudah kau lakukan?" Tanya pak Dadang dengan suara tinggi nya.


"Pak, saya tidak melakukan kesalahan apapun." Lisa berusaha membela dirinya. Ia adalah keponakan pak Dadang sehingga pak Dadang tidak bisa terlalu memarahinya.


"Jika kau tidak melakukan kesalahan apapun, mengapa tuan muda menyuruh kita berkumpul dengan tombol darurat? Tidak tau kah kau betapa mengerikannya tombol itu ketika sudah di tekan oleh tuan muda!" Pak Dadang berusaha mengontrol emosi nya itu.


"Ta-tapi aku benar-benar tidak melakukan kesalahan apapun pak. Aku hanya menyarankan tuan muda untuk membangun kan nyonya muda! Agar tuan muda tidak perlu repot-repot menggendong nyonya muda. Karna ku lihat tuan muda sendiri sudah sangat lelah dengan pekerjaan nya." Jelas Lisa pada pak Dadang membuat pak Dadang langsung mengusap wajah nya dengan kasar.


"Dasar gila!" Mereka semua pun menatap Lisa dengan sangat tajam.


"Mengapa kalian menatap ku seperti itu? Aku kan tidak membuat kesalahan." Lisa merasa mereka ingin membunuh nya hidup-hidup disana.


"Tidak membuat kesalahan apa-apa? Kau gila ya? Jelas-jelas kesalahan kau itu sangat besar bagi tuan muda!" Wati pelayan yang di percaya Darren untuk menemani Viola merasa sangat kesal pada Lisa.


Lisa sangat sombong saat ia baru pertama kali bekerja disana. Ia berusaha ingin mendekati tuan muda mereka dengan memasak masakan kesukaan Darren. Namun, sayang sekali Darren pulang terlambat. Dan sekarang Lisa malah membuat masalah sehingga membuat mereka semua kesal. Tapi, mereka juga tidak bisa membalas kekesalan mereka pada gadis itu karna dia keponakan dari kepala pelayan mereka.


"Aku gila? Kau--" Lisa ingin memukul Wati saat itu juga. Namun ia terhenti saat mendengar pintu lift langsung terbuka.

__ADS_1


"Tuan muda," panggil Lisa dengan menatap wajah tampan Darren membuat mereka hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Turunkan pandangan mu padaku!" Tatap Darren pada pelayan wanita itu.


Pak Dadang yang mengerti pun langsung menyuruh keponakan nya itu untuk menunduk sehingga membuat Lisa sedikit kesal.


"Kau tau apa kesalahan mu hari ini?" Tanya Darren dengan suara datar nya namun terdengar sangat mengerikan bagi mereka.


"Saya tidak melakukan kesalahan apapun tuan muda," jawab Lisa sangat yakin nya membuat pria yang di panggil tuan itu langsung memerah karna marah.


"Lisa! Kau harus bilang kau itu salah dan minta maaf!" Pak Dadang menyenggol lengan keponakan nya itu.


"Sejak kapan ia masuk kerja disini?" Darren duduk di sofa dan menatap kearah pak Dadang.


"Ha-hari ini tuan muda," jawab pak Dadang dengan suara gemetar.


"Pantas saja sopan santun dalam berbicara nya sangat minim." ujar Darren dengan suara datar nya. Lisa yang mendengar itu ingin sekali marah.


"Tuan muda mengapa kau tega sekali berbicara seperti itu pada ku?" Lisa menatap Darren dengan mata yang sudah senduh.


"Kau pikir aku harus bersikap lembut pada orang yang sudah berani menyuruh ku untuk membangun kan istri ku sendiri!" Darren kembali menatap tajam kearah Lisa.


"Tu-tuan muda maafkan gadis ini! Dia memang seperti itu tuan muda." pak Dadang berusaha membela keponakan nya itu.


"Tuan muda, aku tau kau tidak mencintai istri mu itu kan?" Lisa semakin berani mengatakan hal yang paling di benci oleh Darren.


"Berani sekali kau mengatakan hal itu!" Darren pun langsung memukul meja yang ada di hadapannya membuat semua orang disana sangat terkejut.


"Tu-tuan muda aku melihat nya dengan jelas. Istri anda seharian berbicara sendiri dan tanpa sengaja aku mendengar ucapan istri anda kalau tuan muda tidak mencintai nya." Lisa berusaha memberanikan dirinya untuk terus menjawab perkataan Darren.


"LISA! HENTIKAN." Pak Dadang tidak habis pikir dengan jalan pikir keponakan nya itu.


"Aku tidak salah! Mengapa paman memarahiku." Lisa juga ikut meninggikan suaranya itu tanpa menyadari bahwa masih ada sosok pria yang sudah ia buat marah.


"Paman? Apa maksud nya ini pak?" Darren beralih menatap pak Dadang.


"Tu-tuan muda dia adalah keponakan saya. Ibu nya meminta saya mencarikan pekerjaan untuk nya. Jadi nya saya--"


"Kau tidak perlu menjelaskan nya lagi. Dengan dia berada di sini aku sudah mengerti dengan jelas." Darren langsung bangkit dari duduk nya membuat mereka semua semakin ketakutan.


"Berapa usia mu?" Tanya Darren menatap kearah Lisa.


"21 tahun tuan muda," jawab Lisa dengan semangat.


"Kau lebih tua 1 tahun dari istri ku." Ujar Darren dengan suara yang sulit untuk diartikan.


"Berarti aku lebih dewasa dari nyonya muda bukan tuan?" Lisa memberanikan dirinya menatap kearah Darren.


"Lisa! Cukup. Kau sudah kelewatan hari ini." Pak Dadang berusaha menghentikan keponakan nya itu kembali.


dengan sangat cepat pak Dadang menarik tangan Lisa dan hendak menyeret Lisa keluar dari kediaman tuan muda nya.


^^^Bersambung...^^^


...****************...

__ADS_1


__ADS_2