Menikahi Seorang Miliarder Dunia

Menikahi Seorang Miliarder Dunia
Eps. 34 Hari yang penuh Kekesalan


__ADS_3

SMA MAHATMA GANDHI SCHOOL, Jakarta Pusat.


Viola dan Shelly pun segera bangkit dari duduk nya dan berjalan agak jauh. Tara yang melihat kedua kakak nya berdiri dan berjalan jauh dari nya. Dia langsung mengikuti langkah kaki kakak nya itu.


"Kak ... Ada apa?" Tara menatap kedua kakak yang ada dihadapannya.


"Dek, acara perpisahan mu kan sudah mau selesai. dan hari juga sudah agak sore. Jadi, kakak tidak bisa berlama-lama disini dek. Kakak harus pulang." Viola yang merasa sudah terlalu lama berada di sekolah adik nya. Dia pun memutuskan untuk pulang.


"Iya adik kecil ku. Kak Shelly pun ada kerjaan. Jadi, kak Shelly tidak bisa terlalu lama berada disini." timpal Shelly dan mengelus kepala Tara.


"Tapi kan kak, aku masih ingin bersama dengan kalian." Tara menatap kedua mata Shelly dan Viola.


"Sayang. Nanti kan kita jumpa dirumah! Jadi, kau jangan bersedih dek." Viola memeluk adik nya itu.


"Kak Shelly," Tara melepaskan pelukan kakak nya dengan perlahan dan menatap kearah kakak angkat nya itu.


"Iya sayang," Jawab Shelly dengan tersenyum.


"Aku merasa sangat tidak tenang kak! Seperti akan terjadi sesuatu yang buruk pada kalian. Jadi, bisakah kakak tidak pergi?" Tara benar-benar merasa ada yang tidak enak dihatinya.


"Sayang itu hanya perasaan mu saja! Lagian jika ada sesuatu, kakak akan melindungi kakak mu ini." Shelly memukul lengan Viola dengan sangat keras.


"Aww..! Shell, Lo itu apa-apaan sih!" Viola sangat kesal pada sahabat nya itu.


"Pukul sikit aja salah Vi?" Shelly yang melihat wajah sahabat nya yang sudah sangat marah. Langsung tertawa begitu saja.


"Kak Shelly! Jangan ganggu kakak ku lagi." Tara sebenarnya ingin tertawa juga. Namun, karna ia takut kakak nya akan marah. Jadi dia lebih memilih untuk menahan tawanya saja.


"Tara ... Sebenarnya kau jugak ingin menertawakan kakak mu ini kan?" Viola tau betul seperti apa adik nya itu. Walaupun Tara mencoba menutupi nya. Itu tidak akan berlaku sama sekali bagi Viola.


"Hahahaha ... Kakak benar-benar yang terbaik!" Tara pun mengancung kan jempol nya itu pada kakak nya.


"Kalian berdua sama saja!" ketus Viola.


"Uhh cup cup cup ... Jangan marah lagi ya ubul!" Shelly yang sudah merasa kelewatan, dengan segera ia membujuk sahabat nya itu.

__ADS_1


"Ahh sudah lah! Yuk kita pulang. Aku tidak ingin si singa itu tau jika aku pulang terlalu lama." Viola mengajak sahabat nya itu.


"Kakak beneran mau pulang?" kini ekspresi wajah Tara berubah kembali.


"Sayang, kau jangan khawatir. Walaupun kakak kemari sendirian! Tapi, kakak yakin pasti para bodyguard kakak ipar mu itu sedang mengawasi Kakak." Viola mencoba menenangkan adik nya itu.


"Nah ..! Kau dengar bukan adik kecil? Kakak mu ini sekarang sudah menjadi orang istimewa! Makanya, kemana pun dia pergi pasti akan selalu di awasi!" Shelly pun kembali tertawa, karna dia sangat senang jika melihat sahabatnya itu kesal.


"Shel!! Bisa tidak satu hari saja Lo tidak membuat gue kesal?" Viola menatap sahabatnya nya itu dengan sangat emosi.


"Tidakk!" Shelly terus saja tertawa.


"Terserah Lo saja!" Viola pun berjalan kearah luar untuk segera pulang.


"Vi..! Tunggu gue! Lo tega banget sih tinggali gue." Shelly terus saja berteriak. Namun, Viola tidak memperdulikan nya.


"Kalau Lo mau pulang bareng gue, maka cepat lah kelelawar!" Viola terus berjalan dan tersenyum tipis dibibir nya.


"Yasudah kakak pulang ya adik kecil. Jangan lama-lama nanti pulang nya. Ingat!!" Shelly mecium kening Tara dan berjalan cepat menyusul sahabat nya itu.


"Benar-benar persahabatan yang gila!" Tara menggeleng kan kepalanya dan berjalan masuk untuk melanjutkan kegiatan perpisahan sekolah nya itu.


"Vi ... Lo kelewatan banget sih! Bisa-bisanya Lo ninggalin gue gitu aja." gerutu Shelly pada Viola.


"Salah Lo sendiri! Siapa suruh Lo ganggu gue dari tadi." Viola yang masih kesal terus saja berjalan.


"Hahahahaha Lo itu sangat lucu ubul." Shelly pun mengikuti sahabat nya itu.


Mereka terus berjalan kearah mobil.


Di arah lain sudah ada yang mengawasi mereka dari jarak jauh.


"Bos, gadis yang bernama Viola memakai gaun berwarna putih. Sedangkan yang memakai gaun berwarna hitam itu sahabat nya gadis itu." Roy menjelaskan pada atasan Sahabat nya.


"Dia sangat cantik dan anggun! Tidak salah adik ku bisa mencintai nya seperti itu." gumam Evan di benak nya.

__ADS_1


"Mengapa dia hanya berdua saja? Tidak mungkin seorang miliarder dunia itu tidak memberikan pengawasan ketat pada istri nya itu bukan?" Evan yang mulai merasa janggal dan segera memperhatikan di sekitar nya.


"Bos, sepertinya nyonya Viola di awasi dari jarak yang agak jauh dari nya. Mungkin gadis itu tidak ingin menjadi sorotan publik." Roy memperhatikan beberapa pria berbadan besar sedang menjaga Viola dari jarak jauh.


"Bagus! Dengan begitu akan lebih muda bagi kita untuk menculik nya." Evan tersenyum dengan sangat penuh arti.


"Tapi, bos .." Roy tidak melanjutkan kata-kata nya lagi dan hanya terdiam.


"Tapi apa Roy?" Evan yang mendengar bawahannya itu langsung menatap nya dengan sangat tajam.


"Sepertinya kita tidak bisa bermain-main dengan mereka bos! Dia adalah istri seseorang yang paling di takuti di seluruh negara. Bagaimana bisa kita menyentuh nya? Bos tidak lihat apa? Ada 10 bodyguard yang sangat kuat dan terlatih yang menjaga nya. Jika, kita yang melawan nya itu sama saja cari mati bos!" Roy sama sekali tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika mereka melawan 10 bodyguard itu begitu saja.


"Hahaha ... Roy aku tidak sebodoh dirimu itu! Sebelum nya aku juga tau pasti seorang Darren Abraham Khan akan menjaga istri nya itu dengan sangat baik. Jadi, ketika kita melakukan penculikan ini aku akan mengirim 20 bodyguard yang sudah terlatih melawan mereka. Kurasa itu sudah sangat cukup untuk melawan bodyguard dari miliader dunia itu." Evan pun tersenyum menatap kearah Viola dari jauh.


"Bos kau benar-benar sangat nekat!" Roy tidak tau harus berkata apa lagi pada bos nya itu.


"Jika, bukan untuk membalas kan dendam ku ini padanya. Tentu saja aku tidak akan membuang waktu ku begitu saja." Evan mengepalkan tangannya dengan sangat keras.


"Baiklah bos kita akan menculik nya dimana?" Tanya Roy.


"Ikuti saja mobil nya! Ketika jalan yang di lewati nya lumayan sepi kita akan menghadangnya dan menculik nya." Evan menatap kearah mobil Viola yang sudah mulai melaju.


"Baik bos!" Dengan segera Roy mengikuti mobil Viola. mobil mereka melaju perlahan mengikuti mobil Viola dari arah yang berbeda.


"jangan sampai mereka menyadari bahwa kita sedang mengikuti nya!" ujar Evan pada Roy.


"baik bos, saya mengerti!" balas Roy. Roy terus saja fokus dengan pada mobil Viola agar tidak ada yang mencurigai mereka.


"Roy, disana ada persimpangan yang berlawanan dengan mereka! kita akan menghadang mobil mereka dari arah depan! karna, mobil yang menjaga mereka lumayan banyak. jadi segera perintah orang yang sudah ku bayar itu mengikuti kita untuk menghadang mereka." Evan terus saja fokus kearah jalan yang di jalani mobil Viola.


"baik bos!" dengan segera Roy menekan tombol yang ada di mobil nya. Roy menelfon mereka melalui telfon di mobil nya.


"mereka sudah mengerti bos! mereka juga sudah berada di sekitar kita dari tadi." jelas Roy pada bos nya.


"bagus Roy! tidak sia-sia aku mempekerjakan mu bersama ku!" Evan tersenyum tipis. sementara Roy hanya diam saja mendengar ucapan bos nya itu.

__ADS_1


^^^Bersambung....^^^


...****************...


__ADS_2