
Perusahaan drn. Khan..
Darren saat ini sudah berada di ruang kerja nya. Ia menatap layar yang ada di depannya dengan sangat serius. Lalu Darren beralih kearah telepon genggamnya.
"Bob, keruangan ku sekarang!" Perintah Darren lewat telpon kantor nya.
"Baik tuan," balas Bobby.
Tidak menunggu waktu yang lama Bobby pun sudah ada di ruangan Presdir nya.
"Ada apa tuan memanggil saya?" Tanya Bobby pada atasan nya.
"Bob, hari ini tugas mu mengantar istri ku kerumah sahabat nya!" Ujar Darren pada sahabat nya.
"Mengapa harus saya? Kenapa tidak tuan saja." Bobby menatap penuh penyelidikan nya ke arah sahabat nya yang selalu saja membuat nya terkejut.
"Itu karna, aku tau Viola pasti akan merasa tidak nyaman jika aku mengikuti nya kerumah sahabat nya itu. Sudah jangan banyak bertanya! Lakukan saja apa yang aku perintahkan."Darren kembali serius menatap kearah komputer nya itu.
"Tapi--"
"Ada apa Bob?" Tanya Darren pada sahabat nya. Untuk pertama kalinya Darren melihat sahabatnya penuh dengan keraguan.
"Darren dia akan pulang Minggu depan." Bobby menundukkan kepalanya. Merasa tidak enak jika harus mengatakan nya pada sahabat nya itu.
"Aku tau." Balas Darren dengan singkat.
"Kau tau dari mana?" Tanya Bobby dengan ekspresi terkejut nya.
"Dari Kasella." Darren hanya menjawab seperlunya saja dihadapan Bobby.
"Maafkan aku," jujur saja perasaan Bobby tidak tenang ketika ia mengetahui seseorang yang sudah membuat nya kecewa itu akan kembali ke Indonesia.
"Maaf? Bob sejak kapan kau meminta maaf padaku. Lagian itu semua sudah berlalu! kau tidak perlu merasa bersalah sampai sekarang." Darren hanya menggeleng kan kepalanya saja. Lagian bagi Darren masalah yang semua orang khawatir kan tidak terlalu penting baginya.
"Tapi mau bagaimana pun dia itu--"
"Bob, sudahlah! Aku tidak ingin membahas masalah ini dulu. Yang perlu kau lakukan adalah mengantar Viola ke rumah sahabat nya!" Tegas Darren kembali pada Bobby.
"Baik tuan muda," Bobby tau jika sahabat nya sudah berkata seperti itu maka yang harus dia lakukan adalah menuruti nya.
Dengan langkah perlahan nya Bobby berjalan kearah pintu kerja sahabat nya itu dan keluar untuk menjemput nyonya muda nya. Sementara Darren yang sudah melihat kepergian sahabat nya Langsung menghentikan kegiatan nya dan menghela nafas.
"Mengapa kalian semua terlalu mengkhawatirkan sesuatu yang tidak penting!'' Ujar Darren dengan suara pelan nya dan menyandarkan kepalanya di kursi kerja nya.
......................
Kediaman two Drn. Khan.
Sejak di dalam mobil hingga sudah tiba di kediaman Darren, Bobby terus saja melamun. Ia sudah berusaha agar orang tersebut tidak kembali. Namun, mau sampai kapan Bobby menahan nya.
__ADS_1
"Tuan Bobby kita sudah sampai," Supir mobil sejak tadi melihat Bobby tidak turun merasa aneh dan memanggil Bobby dengan suara yang sopan.
"Emh aku tau!" Balas Bobby dengan dingin saat lamunan nya sudah pecah.
Ia pun turun dari mobil nya dan segera memasuki kediaman kedua sahabat nya. Saat ia sudah berada di ruang tamu Bobby sudah melihat ada seorang wanita yang sangat cantik dan polos dengan make up yang tipis tetap tidak akan mengurangi kecantikan wanita tersebut.
"Nyonya muda, anda sudah siap?" Tanya Bobby dan menghampiri nyonya muda nya yang tengah duduk di sofa.
"Sudah dari tadi sekretaris Boby," balas Viola dengan intonasi yang sedikit marah karna ia lelah menunggu Bobby yang tidak datang-datang.
"Baiklah nyonya muda, mari saya antar." ujar Bobby dengan suara sopan nya.
Viola yang melihat kelakuan sekretaris dari suaminya hanya bisa menghela nafas. Ia pun mengikuti langkah sekretaris Bobby yang berjalan keluar dari kediaman kedua dan memasuki mobil.
"Sekretaris Bobby, kau baik-baik saja?" Viola merasa bingung ketika melihat pria yang ada di depan nya itu seperti sedang melamun.
"Saya baik nyonya muda," balas Bobby dengan senyum kecil lalu kembali memasang kan wajah dingin nya.
"Aneh! Seperti nya sekretaris Darren sedang ada masalah. Dia terlihat tidak seperti biasa nya." gumam Viola di dalam hati nya.
Viola lebih memilih untuk diam saja, agar tidak memperkeruh suasana. Sementara Bobby kembali memikirkan hal yang selalu membuat nya khawatir.
"Oh iya, sekertaris Bobby habis ini kita belok kiri ya!" Perintah Viola pada Bobby.
"Nyonya muda tidak perlu menunjukkan jalan pada saya. Saya tau di mana rumah sahabat nyonya." ujar Bobby dengan suara datar nya.
"Semua tentang anda saya mengetahui nya dengan sangat jelas." Balas Bobby tanpa ekspresi apapun.
"Hah! Baiklah sekertaris Bobby. Anda benar-benar hebat!" Kesal Viola di dalam benak nya. Bagaimana bisa ia lupa seperti apa sekretaris dari suaminya itu yang selalu mengetahui segala hal yang menyangkut tentang suaminya.
Bobby tidak menjawab perkataan dari nyonya muda nya. Ia kembali diam dan fokus pada jalan yang ada dihadapannya itu agar tidak terjadi masalah.
"Nyonya muda, kita sudah sampai." Bobby langsung turun dari mobil nya dan segera membuka pintu mobil untuk Viola.
"Terimakasih!" Viola menghela nafas nya dan tersenyum pada Bobby.
"Silahkan nyonya muda,'' Bobby pun mempersilahkan Viola untuk jalan terlebih dahulu dan ia mengikuti nya dari belakang.
"Kau ingin ikut?' tanya Viola dengan wajah penyelidikan nya.
"Tentu saja nyonya muda," balas Bobby dengan menundukkan kepalanya.
"Tapi, kenapa? Tugas mu kan hanya mengantar ku saja!" Viola menatap Bobby dengan sangat intens.
"Seperti nya anda melupakan sesuatu nyonya muda! Tuan muda sendiri yang menyuruh saya untuk melindungi nyonya muda dari bahaya. Dan satu-satunya cara agar anda tetap aman yaitu dengan saya mengawasi nyonya muda dari jarak yang masih bisa saya jangkau." Terang Bobby dengan senyum hormat nya pada Viola.
"Apa! Yang benar saja." Kejut Viola sekaligus dengan wajah yang sudah kesal.
"Tentu saja nyonya muda, jadi saya harap nyonya muda tolong mengerti akan situasi. Agar tidak ada yang di rugikan dari pihak anda dan juga pihak saya. Jika anda tidak dalam bahaya seperti sebelumnya itu baik untuk anda dan baik juga untuk saya karna tuan muda tidak akan memberikan saya hukuman lagi." Bobby kembali menjelaskan pada Viola. Sehingga membuat Viola langsung membelalakkan matanya menatap kearah Bobby dengan tidak percaya.
__ADS_1
"Kau itu sama dengan tuan muda mu sekretaris Bobby!" Kesal Viola pada Bobby.
"Terimakasih atas pujian nya nyonya muda." Balas Bobby yang masih dengan senyum nya.
"Hah! Dia itu gila ya? Siapa juga yang sedang memuji nya! Lama-lama aku bisa ikut gila nya dengan kedua orang aneh ini." Viola terus saja bergumam dan menghela nafas nya itu dengan panjang.
"Nyonya muda anda baik-baik saja?" Tanya Bobby ketika mendengar helaan nafas dari nyonya muda nya.
"Sekretaris Bobby, sebaiknya anda tunggu saya di mobil saja! Lagian sahabat saya juga tidak akan mungkin menyakiti saya. Jadi saya mohon anda mengerti lah sedikit!" Viola berusaha membujuk sekretaris suami nya itu.
"Nyonya muda, jika anda ingin saya mengerti tentang situasi nyonya saat ini. Saya rasa lebih pantas nyonya meminta pengertian itu dari tuan muda sendiri! Karna, saya dan juga yang lainnya tidak berani membantah perintah dari tuan muda." ujar Bobby pada Viola semakin membuat Viola kesal.
"Sekretaris Bobby yang terhormat! Jika saja aku bisa meminta pengertian dari Mr. Ice itu. Maka aku tidak akan pernah meminta pengertian dari mu!" Viola menatap Bobby dengan wajah yang sudah menahan emosi.
"Anda saja sebagai istri nya tidak bisa meminta pengertian darinya. Apalagi saya Nyonya muda yang hanya seorang bawahan saja!" Bobby menggelengkan kepalanya itu.
"Oh ayolah sekretaris Bobby! Saya ingin membicarakan hal yang menyangkut tentang masalah privasi wanita dengan Shelly. Apakah anda ingin mendengarkan hal yang tidak seharusnya anda dengarkan?" Viola kembali mencari cara agar sekretaris suaminya itu tidak ikut masuk kerumah Shelly. Karna, jujur saja ia ingin menceritakan semua hal yang terjadi pada nya ke sahabat nya itu.
"Nyonya muda, anda tenang saja! Saya akan menutup telinga saya rapat-rapat dan tidak akan mendengar apapun perbincangan anda dengan nona Shelly. Anggap saja saya tidak berada di sekitar anda nyonya." Saran Bobby pada Viola.
"Argh! Bagaimana bisa aku mengganggap sesuatu yang ada menjadi tidak ada? Seperti nya anda sama aneh nya dengan atasan anda." Viola sudah kehabisan kata-kata menghadapi seorang Bobby yang mempunyai seribu jawaban yang langsung membuat nya kalah telak.
"Terimakasih pujian nya nyonya muda," balas Bobby dengan tersenyum.
"Hiks hiks, ma ... Pa mengapa aku berada di sekitar orang aneh seperti mereka!" Ringis Viola menatap kearah langit
"Nyonya muda anda baik-baik saja?" Tanya Bobby ketika melihat hal aneh yang dilakukan Viola.
"Aku baik-baik saja!" Balas Viola dengan suara kesal nya.
"Baguslah jika anda baik-baik saja!" Bobby masih setia menunggu nyonya muda nya itu untuk melangkah.
"Sudahlah! Susah berdebat dengan mu." Dengan langkah cepat nya Viola pun berjalan menuju ke arah depan pintu rumah Shelly.
Bobby terus mengikuti setiap langkah Viola. Saat Viola mengetuk pintu rumah Shelly Bobby hanya diam saja tanpa bergeming sedikitpun. Namun, saat pintu di buka nampak seorang gadis yang terlihat sangat feminim tanpa make up sedikit pun di wajah nya membuat Bobby sedikit tersenyum menatap kearah wanita tersebut yang tidak lain adalah sahabat nya Viola.
Viola menatap kearah Shelly langsung histeris karna bahagia dan juga sedih karna sudah lama ia tidak berjumpa dengan sahabat nya.
"Vio!" Teriak Shelly dengan wajah yang terkejut dan langsung memeluk Viola dengan sangat erat.
"Shelly aku merindukan mu," lirih Viola pada Shelly.
"Aku juga merindukan mu sahabat ku!" Shelly membalas pelukan Viola dengan sangat kuat.
Tanpa sadar air mata dari kedua wanita tersebut sudah menetes. Bagaimana tidak menetes, jika sahabat yang sudah bersama nya dari kecil dan selalu bertemu setiap hari dengan secara tiba-tiba membuat mereka tidak bertemu dalam waktu yang cukup lama membuat mereka berdua sangat sedih.
^^^Bersambung...^^^
...****************...
__ADS_1