Menikahi Seorang Miliarder Dunia

Menikahi Seorang Miliarder Dunia
Eps. 144 Aku harus apa Darren!


__ADS_3

"Tuan ada apa memanggil saya?" Tanya Bobby saat ia sudah berada diruangan Darren.


Bughh!


Tiba-tiba saja Darren langsung memberi kan bogem mentah nya pada wajah Bobby. Bobby yang menerima pukulan tersebut sangat terkejut.


"Lo gila ya!" Bobby langsung mengusap sudut bibir nya yang sedikit mengeluarkan darah.


"Bobby Charlton! Sudah berapa kali kukatakan pada mu. Kalau aku benci pada lelaki yang berani menyakiti seorang wanita." Amarah di wajah Darren terlihat sangat jelas.


"Menyakiti wanita? Siapa?" Bobby masih tidak mengerti apa yang Darren bicara kan pada nya.


Melihat reaksi Bobby yang masih belum mengerti semakin membuat emosi Darren tersulut dan langsung melempar ponsel nya pada Bobby.


"Apa maksudnya ini Darren?" Tanya Bobby saat ponsel sahabatnya berhasil ia tangkap.


"Lo liat sendiri rekaman cctv itu! Setelah itu berikan gue penjelasan." Darren kembali berjalan kearah kursi kerja nya dan duduk dengan tubuh yang bersandar.


"Aku ingatkan pada mu Bobby Charlton! Awas saja jika perbuatan mu itu mempengaruhi kondisi istri ku." Darren tampak memasang wajah yang benar-benar menakutkan.


Bobby saat itu tidak kalah terkejutnya mendengar apa yang dikatakan Shelly pada istri sahabatnya itu saat ia melihat rekaman tersebut. Setelah selesai melihat rekaman tersebut Bobby hanya diam saja di tempat nya.


"Kenapa kau diam? Jelas kan pada ku apa yang sebenarnya terjadi! Kenapa kau bisa melakukan hal menjijikkan seperti itu." Raung Darren pada Bobby.


"Bagaimana bisa aku menjelaskan nya. Jika aku sendiri tidak terlalu mengingat nya Darren. Tapi, aku akui karna rasa amarah ku membuat sahabat istrimu itu mengalami hal yang tidak terduga seperti ini." Bobby tampak menyesali perbuatannya. Kalau saja ia tidak menahan Shelly mungkin ini tidak akan terjadi


Bobby berusaha menghela nafas nya dan mulai menceritakan secara terperinci pada Darren. Mengapa ia menahan Shelly dan mengapa ia juga ingin menikahi Shelly


"Bob kau benar-benar sudah sangat terobsesi pada sahabat istriku." Darren memijit pelipisnya itu. Baru saja satu masalah tentang Bobby dan adik nya sudah selesai, kini Darren juga harus membantu menyelesaikan masalah Bobby dan juga Shelly. Darren tidak ingin karna masalah ini istri nya bisa terpengaruh.


"Aku harus apa Darren? Dia menolak menikah dengan ku." Bobby menatap wajah Darren dengan penuh harapan. Agar sahabat nya bisa memberikan solusi pada nya.


"Jika dia tidak ingin menikah dengan mu, maka jangan di paksakan!" Hanya ucapan itu saja yang keluar dari mulut Darren.


"Tidak bisa! Mau bagaimana pun dia harus jadi milikku Darren. Aku tidak rela apa yang sudah menjadi milik ku menjadi milik orang lain." Bobby tampak emosi mendengar ucapan Darren.


"Bob! Sesuatu yang di paksakan pasti akan mengalami masalah yang besar. Lihat lah apa yang terjadi antara aku dan juga istri ku. Jadikan lah itu sebagai pelajaran!" Darren tidak ingin sahabat nya merasakan hal yang sama pada nya saat masalah pernikahan kontrak nya terbongkar.


"Tapi Darren--"


"Aku tau kau sangat mencintai nya. Tapi jika kau mengatakan hal itu tiba-tiba pada nya. Aku yakin dia tidak akan percaya sama sekali! Dan yang aku khawatir kan dia akan berpikiran hal yang sama seperti yang istriku pikir kan yaitu kita hanya melakukan itu pada mereka karna rasa kasian." Darren menghela nafasnya itu.


"Jika kau memang tetap bersikeras ingin mendapatkan nya. Satu-satunya cara yang harus kau lakukan adalah membuat nya percaya kalau kau sangat mencintai nya dan seluruh keluarga mu juga menerima nya dengan senang hati." Saran Darren pada Bobby.


"Kau benar Darren! Aku harus memperjuangkan nya." Bobby yang paham maksud dari sahabat nya tampak kembali bersemangat untuk mendapatkan Shelly kepelukan nya.


"Yasudah kau boleh keluar dari ruangan ku. Aku ingin pulang sekarang! Karna, istriku sudah menunggu ku dikediaman kami." Tanpa segan Darren langsung mengusir Bobby dari ruangan nya.


"Terimakasih tuan muda atas saran yang baru saja tuan berikan pada saya." Bobby benar-benar merasa beruntung memiliki sahabat seperti Darren. Walaupun luar nya sekeras cangkang kepiting tapi dalam nya selembut daging kepiting.


Darren hanya menggeleng kepala nya saja ketika ia melihat bobby yang keluar dari ruangan nya dengan wajah yang tampak sangat bahagia.


...🌑🌑...


.


Kediaman two drn. Khan...

__ADS_1


Darren saat ini sudah sampai di kediaman nya. Seluruh penghuni di kediaman tersebut langsung menyambut kepulangan tuan muda mereka kecuali Viola.


"Tuan muda, nyonya sedang beristirahat dikamar nya." Pak Dadang langsung memberitahukan apa saja yang dilakukan oleh nyonya muda nya.


Sementara Darren yang mendengar nya hanya tersenyum saja. Karna, tanpa kepala pelayan nya kata kan dia sudah tau apa yang di lakukan istri nya itu.


"Baiklah kau boleh pergi!" Perintah Darren saat ia sudah berada di dalam lift pribadinya.


"Baik tuan muda," pak Dadang membungkuk setengah badan nya. Begitu juga dengan pelayan lainnya.


Setiba Darren di kamar milik nya. Ia sudah melihat Viola masih tertidur dengan sangat lelap nya.


"Kau sangat cantik sayang," di elus nya kepala Viola dan langsung mengecup kening Viola.


"Aku memang cantik," Viola membuka mata nya sambil memegang tangan Darren.


"Kau sudah bangun istriku?" Darren tampak terkejut sesaat karna istri nya sudah bangun.


"Itu karna kau mencium kening ku." Viola tersenyum lalu bangkit dari tidur nya.


"Kau tau aku sangat merindukan mu." Viola pun langsung duduk di atas pangkuan Darren sambil mengalungkan kedua tangan nya pada leher Darren.


"Benarkah itu?" Darren tersenyum saat Viola menatap nya dengan sangat intens.


"Tentu saja!" Tangan Viola perlahan memegang hidung Darren dan beralih ke bibir Darren.


"Mengapa aku bisa memiliki suami setampan ini." Tanpa sadar Viola tersenyum sangat lebar saat mengatakan hal tersebut.


"Itu karna aku memiliki pasangan secantik diri mu." Ucapan Darren langsung membuat Viola tersipu malu.


"Ya seperti biasa mengurus semua masalah perusahaan termasuk Bobby." Darren menghela nafas nya dengan berat.


"Bobby?" Viola yang mendengar ucapan darren langsung menautkan alis nya.


"Iya hanya masalah kinerja Bobby yang sudah sedikit menurun." Bohong Darren pada Viola. Darren tidak ingin mengatakan nya karna ia tau jika mengatakan hal tersebut. Maka, istri nya itu pasti kepikiran.


"Hem baiklah Darren. Oh iya suami ku ini sudah makan belum?" Viola kembali bertanya pada Darren


"Aku hanya ingin makan bersama mu." Ucapan Darren lagi-lagi membuat Viola malu.


"Jadi suamiku ini belum makan rupa nya." Ujar Viola dengan wajah yang tersenyum.


"Tentu saja belum." Darren mencubit pipi istri nya dengan sangat gemas.


"Yasudah kita makan sekarang." Saat Viola hendak bangkit dari pangkuan Darren. Tiba-tiba saja Darren menahan Viola.


"Kita makan disini saja." Darren memeluk Viola dengan sangat erat.


"Tidak bisa Darren! Aku sudah bosan makan di kamar terus." Ketus Viola.


"Tapi kau belum sepenuhnya sehat istriku." Darren membelai rambut Viola dan menatap kedua manik mata Viola.


"Darren bisa tidak jangan selalu mengatakan kondisi ku saat ini. Aku merasa seperti orang berpenyakit Darren." Lirih Viola dan menundukkan wajah nya.


"Ussht! Jangan berbicara seperti itu." Darren mengusap wajah Viola dengan sangat lembut nya.


"Habis nya kau berkata seperti itu setiap kali bersama ku." Viola menatap wajah Darren dengan tatapan yang sedih.

__ADS_1


"Maafkan aku istriku." Darren langsung memeluk Viola. "Jika kau ingin makan di ruang makan. Maka akan ku turuti!" Timpal Darren.


"Darren apa yang kau lakukan?" Viola sangat terkejut saat Darren menggendong tubuh nya itu.


"Tentu saja membawa mu ke meja makan." Jawab Darren dengan sangat enteng nya.


"Aku bisa sendiri Darren." Viola menghela nafas nya itu.


"Tapi aku tidak ingin kau melakukan nya sendiri." Ujar Darren dan tidak memperdulikan omelan Viola sepanjang jalan sampai memasuki lift.


"Kau itu keras kepala sekali." Viola menghela nafas nya dan juga menahan rasa malu ketika seluruh pelayan menatap mereka dengan tersenyum.


"Aku hanya seperti ini pada mu saja." Tutur Darren dengan wajah yang terlihat sangat dingin ketika seluruh pelayan di kediaman melihat nya.


"Terserah mu saja." Hanya gelengan kepala saja yang bisa Viola lakukan saat ini.


Pak Dadang yang terkejut melihat tuan muda nya akan memasuki ruangan makan. Langsung menyuruh para koki melakukan pekerjaan mereka secepat mungkin.


"Tu-tuan muda makanan nya belum siap semua." Pak Dadang tampak ketakutan ketika tuan muda nya sudah duduk di meja makan.


"Bagaimana bisa!" Darren menggebrak meja makan dengan sangat kuat membuat viola terkejut.


"Darren!!" Kini malah Viola yang kembali membentak Darren dan langsung membuat para pelayan sangat terkejut.


"Ada apa istri ku?" Darren menurunkan nada bicara nya saat sedang berhadapan dengan Viola.


"Bisa tidak jangan berteriak seperti itu. Untuk hari ini entah sudah berapa kali aku terkejut!" Kesal Viola pada Darren. Ia mengelus dada nya berulang kali.


"Baiklah, maaf kan aku sayang." Ucapan darren lagi-lagi membuat para pelayan terutama pak Dadang kaget.


"Bagaimana bisa makanan belum siap? Kalian tidak tau istri ku sudah kelaparan sejak tadi!" Darren menekankan setiap kalimat yang ia katakan.


"Kami tidak tau kalau tuan akan turun di luar jadwal makan hari ini." Karna jujur saja biasa nya tuan mereka makan tidak pernah meleset dengan jadwal yang sudah di tentukan.


"Hanya karna aku lebih cepat setengah jam. Kalian membuat hal itu sebagai alasan!" Sergah Darren pada mereka.


"Maafkan kami tuan muda." Mereka langsung berusaha meminta maaf pada tuan muda nya


"Darren sudah lah! Hanya karna masalah sepele seperti ini. Kau tidak perlu semarah itu." Ujar Viola pada suaminya.


"Tapi istriku--"


"Pak tidak apa-apa. Kami bisa menunggu! Lanjutkan saja pekerjaan bapak." Viola malah memotong ucapan Darren dan tersenyum pada pak Dadang.


"Baik nyonya muda," pak Dadang merasa sangat lega dan kembali melanjutkan pekerjaan nya.


"Hanya nyonya muda yang bisa menenangkan seekor singa yang mengamuk." gumam pak Dadang di dalam hati nya.


"Istri ku kenapa kau begitu baik." Darren menghela nafas nya itu.


"Bukan aku yang terlalu baik suamiku. tapi, kau saja yang terlalu kejam!" Viola mencubit tangan suaminya itu dengan sangat kesal.


Darren yang di cubit Viola hanya bisa meringis saja sambil mengelus tangan nya. jujur saja cubitan Viola saat ini benar-benar terasa sedikit perih. Viola hanya tersenyum saja melihat wajah suami nya yang meringis sesaat.


^^^Bersambung....^^^


...****************...

__ADS_1


__ADS_2