
3 hari kemudian...
Andhika menghela nafas nya dengan sangat kasar. Ia merasa hubungan percintaan sahabat nya itu benar-benar akan hancur.
"Dokter Andhika?" Viola merasa sedikit aneh melihat sikap Andhika yang seperti itu.
"Ada apa nyonya muda?" Andhika menatap kearah Viola.
"Emh," Viola ingin sekali mengatakan sesuatu. Namun, ia merasa ragu untuk mengatakan nya.
"Katakan saja nyonya muda." Andhika tau bahwa istri dari sahabat nya itu ingin mengatakan sesuatu.
"Saya mau tanya selain omay, mama dan juga Shelly yang datang menemui ku. Apa ada orang lain selain mereka yang datang kemari dokter?" Tanya Viola pada Andhika.
"Orang lain? Yang saya tau hanya keluarga suami anda dan juga sahabat anda saja yang mengunjungi anda selama 3 hari ini." Jawab Andhika dengan wajah yang terlihat tidak berbohong sama sekali.
"Tapi kenapa aku merasa setiap malam ada yang mencium kening ku ya." Viola bergumam kecil pada dirinya sendiri.
"Ada hal lain yang ingin nyonya katakan?" Andhika menatap wajah istri sahabatnya yang mulai terlihat baik-baik saja.
"Oh tidak ada dok." Ucap Viola dengan wajah yang tersenyum tipis.
"Kalau begitu saya permisi dulu." Andhika langsung mengundurkan diri nya dari hadapan Viola.
Viola kembali melamun saat Andhika sudah keluar dari ruangan nya itu. Merasa sangat sedih karna Darren tidak pernah menemui nya lagi sejak ia meminta untuk bercerai.
"Darren, kau baik-baik saja bukan?" Viola menutup kedua matanya itu dengan tangan nya. Ia tidak ingin air matanya keluar lagi.
"Sayang ada apa?" Terdengar suara dari arah pintu membuat Viola mengangkat kepalanya itu.
"Mama, omay!" Wajah Viola seketika merasa sedikit lega.
"Vi, ni makanan buat Lo." Shelly yang ada di belakang omay dan juga mama Darren langsung berjalan kearah Viola dan meletakkan makanan yang ia bawa di atas meja.
"Nak, bagaimana kondisi mu saat ini? Sudah merasa lebih baik?" Tanya omay dengan suara yang sangat khawatir.
"Omay Vio sudah baik-baik saja kok. Sebentar lagi juga Vio sudah boleh pulang." Jawab Viola dengan wajah yang tersenyum pada omay.
"Bagus lah jika seperti itu." Omay merasa sedikit lebih tenang.
"Oh iya sayang! jika Vio sudah boleh pulang kamu mau pulang ke kediaman omay dan mama atau Darren?" Tanya mama Darren yang membuat Viola langsung terkejut.
"Emh," Viola yang bingung harus menjawab apa hanya bisa menggaruk-garukan kepalanya itu.
"Tidak apa-apa sayang. Kami semua selalu mendukung apapun keputusan mu. Jika memang kalian akan bercerai omay dan juga mama akan selalu menganggap dirimu orang yang paling terpenting di keluarga kami." Mama Darren paham bagaimana perasaan menantu nya saat ini.
"Makasih ma, omay." Viola hanya bisa tertunduk saja menahan rasa tidak enak hati nya itu.
"Vi ngomong-ngomong suami Lo tidak pernah kemari sama sekali." Tutur Shelly secara tiba-tiba membuat seluruh ruangan melihat kearah Shelly.
"Ada apa?" Shelly yang merasa di tatap oleh mereka hanya merasa bingung saja.
"Nak, Darren tidak pernah datang?" Omay menatap intens wajah Viola. Karna yang tau hanya mama, Shelly dan juga sahabat Darren. Kecuali omay yang sama sekali tidak di beritahu oleh mereka.
"Ada apa ini Ra?" Wajah omay terlihat sedikit marah menatap kearah Aurora.
"Ma, tenang lah! Darren banyak pekerjaan di perusahaan nya. Jadi ia sangat jarang datang kesini." Jelas Aurora pada omay.
__ADS_1
"Mau sesibuk apapun dia. Istri adalah hal yang paling penting." Tegas omay.
Mereka yang melihat reaksi omay hanya bisa terdiam saja. Shelly langsung menggerutuki dirinya itu karna sudah berkata sembarangan.
"Telpon Darren sekarang! Suruh dia untuk menjaga istri nya." Perintah omay pada Aurora.
"Ma, semenjak kejadian Viola ingin bercerai dari dirinya. Darren langsung memutuskan komunikasi apapun." Lirih Aurora pada mama mertua nya.
"Ma," Viola merasa tidak enak hati melihat mama mertua nya itu yang terlihat sedih sekali.
"Darren! Kenapa kau bersikap seperti ini lagi." Omay memegang dada nya itu. Dengan sangat cepat Aurora langsung membawa mama mertua nya keluar dari ruangan Viola.
"Omay," Viola ingin membantu omay yang terlihat sangat lelah. Namun, Aurora langsung melarang Viola untuk bangun karna Viola belum sembuh sepenuhnya.
"Shell tolong jaga omay dan juga mama mertua gue." Viola menatap kearah sahabat nya itu.
"Tenang lah Vi! Gue pasti akan jaga keluarga dari suami Lo itu baik-baik saja." Shelly tersenyum dengan menepuk-nepuk punggung tangan Viola.
Viola merasa sangat frustasi melihat keadaan yang sudah kacau karna dirinya itu. Ia terus berpikir keputusan nya untuk bercerai sudah benar atau belum. Jujur saja Viola sedikit merasa agak lega. Sebab sampai saat ini Viola belum menerima surat cerai apapun yang membutuhkan tangan tangan nya itu.
......................
Kediaman two drn.khan
Darren yang berada di ruang kerja nya saat ini sedang meminum secangkir kopi yang ada di tangan nya itu dengan pemandangan yang sangat indah dari balik jendela kaca milik nya itu.
Tok
Tok
Tok
"Tuan muda, ada apa tuan memanggil saya kemari?" Tanya Bobby langsung pada Darren.
"Serahkan dokumen ini pada Viola. Katakan pada nya dengan satu tanda tangan dari nya hubungan kami memang benar-benar sudah berakhir." ucap Darren dengan wajah datar nya pada Bobby.
"Ta-tapi inikan surat--"
"Lakukan saja apa yang aku perintah kan pada mu!" Darren langsung memotong ucapan Bobby.
"Baiklah tuan muda," dengan sangat terpaksa Bobby membawa dokumen tersebut dan meninggalkan ruangan kerja Darren.
"Aku mencintai mu Viola Talisa!" Darren tersenyum tipis lalu kembali berjalan kearah kursi kerjanya dan melanjutkan pekerjaan nya itu.
Darren saat ini sangat sibuk pada layar yang ada di hadapannya. Ia harus menyelesaikan semua permasalahan perusahaan nya itu hingga keadaan perusahaan akan baik-baik saja jika ia pergi nanti.
Bobby yang sudah tiba di rumah sakit milik Andhika dengan langkah yang sangat ragu memasuki rumah sakit tersebut.
"Bob," panggil seseorang dari arah belakang membuat Bobby menghentikan langkah nya.
"Darren mana?" Tanya Andhika saat melihat hanya Bobby saja yang datang ke rumah sakit nya itu.
"Tuan muda banyak pekerjaan yang harus di selesaikan." Jawab Bobby dengan suara datar nya.
"Ah tidak mungkin!" Andhika yang mendengar ucapan dari Bobby hanya bisa tertawa kecil saja.
"Kenapa tidak mungkin?" Bobby menautkan kedua alis nya itu.
__ADS_1
"Karna setiap malam tuan muda mu itu selalu datang kerumah sakit ku ini." Andhika hanya menghela nafas nya saja saat mengingat kembali, bagaimana Darren mengancam dirinya agar tidak memberitahu kan pada siapapun tentang kedatangan nya itu.
"Darren datang kemari setiap malam?" Bobby menatap intens wajah Andhika.
"Yes of course! Come on bro. Dia seorang Darren Abraham Khan. Tidak mungkin dia mengabaikan orang yang sangat dia cintai begitu saja." Andhika menggelengkan kepalanya melihat Bobby yang tidak tau apa-apa.
"Kalau begitu aku harus memberitahukan pada nyonya muda. Agar mereka tidak jadi bercerai!" Bobby yang terlihat sangat senang langsung berjalan kearah ruangan Viola.
"Eh Bob, tunggu dulu!
Saat Andhika hendak menghentikan langkah Bobby semuanya sudah terlambat. Bobby sudah terlebih dulu masuk kedalam ruangan Viola dan langsung membeku di tempatnya saat tau siapa yang ada di ruangan nyonya muda nya itu.
"Vaya!" Bobby menatap tajam kearah Vaya yang berdiri tepat di samping istri sahabat nya itu.
"Mampus aku! Bisa-bisa di hajar oleh kakak beradik ini." Andhika menepuk kening nya itu saat melihat ekspresi wajah Bobby dan juga Vaya yang beralih menatap kearah dirinya.
"Dokter Andhika! Bagaimana bisa kau mengijinkan dia masuk kedalam ruangan nyonya muda?" Raung Bobby pada Andhika.
"Itu, anu--" Andhika yang pusing harus menjawab apa terus saja mengacak-acak rambut nya itu.
"Kau tau bukan, larangan ruangan istri dari Presdir kami?" Nafas Bobby sudah naik turun menatap Andhika.
"Tentu saja aku tau sekretaris Bobby." Andhika menelan Saliva nya itu.
"Terus mengapa dia berada disini? Bukan kah sudah ku katakan jangan biarkan gadis ini datang keruangan ini!" Bobby benar-benar sangat marah melihat sikap Andhika yang selalu saja mementingkan Vaya.
"Bakalan mati di tempat ni aku!" Andhika tidak menyangka amarah Bobby akan lebih mengerikan dengan apa yang ia bayangkan.
Bobby benar-benar tidak tau lagi bagaimana harus mengatasi adik nya itu. Dengan langkah yang terlihat sangat marah Bobby langsung berjalan kearah Vaya dan menarik tangan Vaya dengan sangat kuat nya.
"Kak sakit!" Vaya meringis kesakitan akibat kakak nya mengeraskan tangan nya itu.
"Bob, lihat lah Vaya sudah kesakitan!" Andhika tidak tinggal diam saat melihat wajah Vaya meringis.
"Tuan Bobby hentikan lah!" Shelly yang sejak tadi hanya diam saja mulai mengeluarkan suara nya itu.
Bobby yang mendengar ucapan Shelly menghentikan langkahnya sejenak lalu menatap gadis yang ada di hadapannya itu.
"Kenapa kau kemari?" Bobby menatap adik nya dengan sangat tajam.
"Jawab lah!" Bobby semakin merasa marah saat melihat Vaya tidak menjawab sedikit pun. Sementara ia sudah merasa khawatir melihat raut wajah istri dari sahabat nya itu.
"Tuan Bobby, adik anda datang saat mama mertua Viola dan juga omay dari suami Viola pergi. Dia datang kemari karna ada hal yang perlu ia bicarakan pada Viola." Terang Shelly.
"Apa yang kau katakan pada Nyonya muda?" Bobby menarik kembali lengan Vaya dengan sangat kasar.
"Bob!" Andhika terlihat marah saat Vaya di perlakukan seperti itu. Dengan sangat kasar Andhika melepaskan tangan Bobby pada Vaya.
"Mau bagaimana pun Vaya adalah adik kandung Lo! Jadi jangan pernah bersikap kelewatan batas, walau saat ini emosi Lo tidak baik-baik saja." Wajah Andhika menatap tajam kearah Bobby.
"Dokter Andhika. Kau bisa mengatakan semua itu karna kau sendiri tidak tau bagaimana rasanya kehilangan bayi dan juga bercerai dengan orang yang sangat kita cintai." Bobby meninggi kan suara nya itu.
"Cukup sekertaris Bobby!" Viola melihat sekilas betapa sedih nya Vaya saat mendengar ucapan dari Bobby. Sehingga membuat Viola yang masih menahan tangis nya mulai angkat bicara.
Seluruh orang yang ada di ruangan tersebut langsung menatap kearah Viola dengan wajah yang terkejut.
^^^Bersambung...^^^
__ADS_1
...****************...