
Darren menatap tajam kearah orang yang sudah membuat keinginan nya selama ini jadi gagal total oleh nya. Sedangkan Viola yang melihat kearah orang tersebut hanya menahan malu nya dan segera membenarkan pakaian nya itu.
"UPS ! Sorry Darren. Eh maksudnya tuan muda. Aku tidak tau jika kalian sedang melakukan nya. Maaf kan aku ... Maafkan aku! Ku mohon maafkan lah teman mu ini yang sangat ceroboh. Aku akan keluar sekarang! Kalian bisa melanjutkan nya lagi." Andhika dengan langkah yang takut langsung mengambil ancang-ancang untuk segera keluar dari ruangan sahabat nya itu sebelum ia terkena amukan oleh Darren.
"KASELLA!!" Teriak Darren pada Andhika membuat Andhika semakin mempercepat langkahnya.
Matilah aku!
Matilah aku!
Matilah aku!
Begitulah kata-kata yang keluar dari mulut Andhika dan terus berjalan dengan langkah yang cepat.
"KASELLA! Satu langkah saja kau keluar dari pintu ruangan ku. Akan ku pastikan kau tidak akan menjadi seorang dokter lagi!" ujar Darren dengan suara tinggi nya membuat Andhika langsung berhenti dengan cepat.
"Ini semua karna Bobby! Jika saja dia tidak membuat ku kesal karna sudah menipu ku. dengan harus menaiki tangga sampai ke lantai 25. pasti aku tidak akan sembarangan masuk keruangan pencabut nyawa itu!" Kesal Kasella di dalam hati nya.
......................
Flash back on
Andhika sudah berada di lantai bawah dan melihat perusahaan tersebut sangat berantakan. Saat itu juga mata Andhika tertuju kearah Bobby yang sedang memberikan pengarahan pada bodyguard terlatih Darren. Dengan langkah yang cepat Andhika pun menemui Bobby.
"Bro, dimana sahabat mu yang kejam itu?" Andhika menepuk pundak Bobby dengan kuat membuat Bobby menatap tajam kearah nya.
"Dokter Andhika! Apakah kau tidak di ajarkan tentang sopan santun di sekolah mu?" Sinis Bobby pada Andhika.
"Baiklah maafkan aku! Sekarang dimana dia? Bukan nya kau bilang istri tercinta nya itu terluka lagi! OMG mengapa istri nya itu mudah sekali terluka sih. Merepotkan ku saja!" Kesal Andhika dengan suara besar nya membuat semua orang menatap nya dengan sangat tajam.
"Ada apa? Mengapa kalian menatap ku seperti itu?" Andhika yang merasa di tatap oleh Bobby sekaligus para bodyguard merasa ngeri.
"Dokter Andhika! Jika kau masih ingin hidup. maka, aku harap jagalah omongan mu itu sebelum mereka semua membunuh mu!" Tegas Bobby pada Andhika dengan suara yang tajam.
"Kalian semua mengapa harus seserius itu sih! Come on bro ini hanya bercanda!" ujar Andhika pada Bobby.
"Kau bisa bilang ini bercanda pada ku! Tapi, jika Darren yang mendengar nya maka akan ku pastikan hidup mu akan berakhir secara mengerikan!" Bisik Bobby pada Andhika membuat Andhika menelan saliva nya itu dengan susah.
"Baiklah dokter Andhika! Tuan muda ada diruang nya. Anda bisa menjumpai nya di sana." Bobby kembali bersikap profesional di hadapan Andhika membuat Andhika menghela nafas nya.
"Seharusnya kalian itu mengantarkan aku keruangan atasan kalian! Bukan nya kalian yang memanggil ku kemari." ujar Andhika pada Bobby.
"Baiklah dokter Andhika mari saya antar!" Bobby mempersilahkan Andhika untuk mengikuti nya menuju tangga.
"Kenapa kita kesini?" Tanya Andhika dengan wajah bingung nya.
"Tentu saja kita akan keruangan tuan muda dokter Andhika." Balas Bobby dengan suara tenang nya.
__ADS_1
"Kita kan bisa menggunakan lift! Mengapa kita harus menaiki tangga?" Andhika benar-benar tidak mengerti dengan situasi perusahaan Darren. yang dimana semua orang yang berada di sana memiliki sikap yang aneh.
"Lift umum nya sedang rusak dokter Andhika." balas Bobby dengan suara datar nya.
"Kita bisa menggunakan lift Presdir kalian." Andhika berusaha untuk membujuk Bobby agar tidak menaiki anak tangga yang sangat tinggi itu.
"Jika anda berani menggunakan lift Presdir silahkan saja dokter Andhika! Saya tidak berani melakukannya." Jawab Bobby dengan senyuman licik nya.
"Argh!! Sial. Mengapa dia begitu di takuti sih! Membuat ku sengsara saja." Andhika hanya bisa menahan emosi nya pada Darren. Lagian dia juga sama dengan Bobby yang tidak memiliki keberanian untuk melawan Darren dan hanya bisa mengikuti apa perkataan nya saja.
"Mari dokter Andhika." Bobby pun kembali mempersilahkan Andhika untuk mengikuti nya.
Di sepanjang perjalanan mereka menaiki anak tangga Bobby hanya menjawab sesekali perkataan Andhika membuat Andhika kesal.
"Masih lama lagi?" Tanya Andhika pada Bobby.
"Tidak lama lagi Dokter Andhika." Balas Bobby pada Andhika.
Butuh waktu 1 jam mereka menaiki anak tangga tersebut. Napas Andhika sudah mulai tersenggal-senggal karna lelah nya. Sementara Bobby hanya biasa saja dan mengeluarkan keringat. Bobby sudah terbiasa olahraga makanya ia tidak terlalu merasakan lelah. Namun jika hukuman yang sahabat nya berikan selama itu ia pasti akan merasa benar-benar lelah juga.
"Woy sekretaris dingin! Bukan kah perusahaan tuan muda kalian itu sangat besar. Kenapa lift nya bisa rusak?" Andhika mulai sadar ada yang tidak beres.
"Saya tidak tau dokter Andhika." Balas Bobby dengan tersenyum sinis.
"Kau itu kan sekretaris nya! Masaan gitu aja gak tau!" Andhika menatap kearah Bobby dengan intens.
"Ahhh baiklah! Kau itu sama saja seperti atasan mu." Ujar Andhika dengan suara kesal nya.
"Mari dokter Andhika saya antar keruangan Presdir." Bobby kembali mempersilahkan Andhika untuk mengikuti nya.
Andhika pun kembali mengikuti langkah Bobby. Mereka akhirnya sudah sampai di lantai 25 yang hanya ada ruangan Darren dan beberapa karyawan yang memiliki jabatan tinggi. Termasuk ruangan Bobby juga ada disana. Mata Andhika langsung membesar ketika melihat salah satu karyawan memasuki lift tersebut dengan santai nya.
"Bro! Bukan nya kau bilang lift nya sedang rusak?" Andhika menyenggol lengan Bobby membuat Bobby tersenyum kecil.
"Iya rusak! Rusak untuk mu dan untuk ku." Bobby pun langsung tertawa melihat wajah teman nya yang masih kebingungan.
"Apa maksudnya?" Tanya Andhika yang belum juga mengerti.
"Kau tidak tau? Aku itu sedang di hukum oleh Darren. Dia tidak mengijinkan aku untuk menggunakan lift selama 3 bulan!" Ujar Bobby pada Andhika.
"What!" Andhika terkejut mendengar ucapan teman nya itu.
"Darren benar-benar gila! Bisa-bisanya dia tega menghukum sahabat nya sendiri karna hal spele!" Andhika hanya menggeleng kan kepalanya.
"Sebenarnya bukan hal spele! Karna, kecerobohan ku dan para bodyguard yang lain nya membuat istri tercinta nya terluka." Bobby juga merasa bersalah karna sudah melakukan hal yang sangat ceroboh.
"Yang sabar! Ini cobaan." Andhika pun menepuk-nepuk pundak Bobby.
__ADS_1
"Eh tunggu-tunggu! Kan yang di hukum oleh Darren itu kau. Kenapa aku juga ikutan naik tangga bersama mu?" Andhika kembali teringat kejadian yang sangat membuatnya lelah.
"Bukan nya kau meminta ku untuk mengantar mu? Ya jelas kita harus menggunakan tangga! Karna, aku tidak bisa menggunakan lift. dan Kau sendiri juga menyetujui nya." Bobby hanya tersenyum licik pada Andhika membuat Andhika sangat kesal.
"Bobby Charlton! Kau sedang mengerjai ku ya?" Tatap tajam Andhika pada Bobby membuat Bobby langsung tertawa.
"Sudah lah Andhika! Anggap saja ini balasan mu karna sudah berani berbicara tidak sopan pada ku." Bobby pun meninggalkan Andhika dan kembali keruangan nya dengan hati yang sangat puas sudah bisa mengerjai dokter yang tidak waras itu.
"Bobby Charlton! Liat saja pembalasan ku nanti!" Dengan langkah yang kesal bercampur marah Andhika pun masuk keruangan Darren.
Flash back off.
......................
"Kasella! Kembali lah ke ruangan ku sekarang." perintah Darren pada Andhika dengan suara tinggi nya.
"Tuan muda. Bukan nya aku sekarang sedang berada di ruangan mu?" Andhika kembali menjawab dengan suara keras agar Darren mendengar nya.
"Kau itu bodoh ya! Kembali ketempat kau membuka pintu ruangan istirahat ku ini secara kuat dan juga tiba-tiba. Sehingga membuat istri ku ini terkejut oleh mu!" Tegas Darren pada Andhika membuat Andhika menghela nafas nya.
"Bukan kah dia juga sama terkejut nya dengan istri tercinta nya itu!" Ketus Andhika dan berjalan melangkah kembali ketempat Darren berada.
"Kasella! Kuharap jika kau sedang berbicara dengan ku jangan pernah mengatai ku di dalam hati kotor mu itu." ujar Darren dengan suara datar nya pada Andhika.
"Gila! Ajaib juga manusia dingin ini. Bisa membaca apa yang ada di pikiran seseorang." Andhika menatap salut kearah Darren.
"Jika kau sudah puas menatap ku! Maka segera lah kau serah kan mata mu itu padaku." Darren berbicara dengan intonasi tajam nya membuat Andhika langsung menelan saliva nya itu dengan sangat susah.
Darren yang melihat Andhika sudah ketakutan hanya tersenyum sinis dan beralih menatap kearah Viola.
"Kita akan melanjutkan nya lagi di kediaman ku!" Bisik Darren pada Viola membuat Viola tersipu malu.
"Kau itu apa-apaan sih! Kau tidak lihat ada dokter Andhika sekarang." ujar Viola dengan wajah yang sudah memerah.
"Dia tidak mendengar nya. Sekarang setelah dia mengobati luka mu! Maka, kita akan langsung pulang ke kediaman ku." Darren kembali menatap wajah istri nya yang memerah dengan tersenyum lucu.
"Kasella! Dimana perawat wanita yang ku suruh, untuk kau membawa nya kemari? Kau tau bukan aku tidak suka jika ada laki-laki lain yang menyentuh tubuh istriku ini." Darren kembali meninggi kan suara nya membuat Andhika hanya terdiam saja.
"Tuan muda, maafkan saya! Saya tidak membawa perawat wanita hari ini. Karna, sekertaris Bobby menyuruh saya untuk segera datang di saat saya sendiri masih berada di jalan menuju kerumah sakit saya. Jadi dengan sangat terpaksa saya memutar balikan arah tujuan saya ke perusahaan tuan muda." Jelas Andhika dengan suara yang di buat-buat nya.
"KASELLA! Seperti nya kali ini kau benar-benar sudah bosan menyandang gelar mu sebagai dokter ya!" Darren menatap kearah Andhika dengan sangat tajam nya seperti ingin menerkam nya saat itu juga.
Andhika kali ini kau benar-benar tidak akan selamat! Lirih Andhika di dalam hati nya menatap kearah Darren dengan wajah yang minta untuk di maafkan.
^^^Bersambung...^^^
...****************...
__ADS_1