Menikahi Seorang Miliarder Dunia

Menikahi Seorang Miliarder Dunia
Eps. 43 Kisah cinta Erik part 3


__ADS_3

"Sayang kau ingin membawa ku kemana?" tanya Vivi yang sangat kebingungan.


"Kekamar sayang," jawab Erik dengan mengecup kening Vivian.


"Tapi, buat apa kita kesana?" Vivian sudah merasa takut dengan perkataan Erik pada nya.


"Aku ingin memiliki anak dengan mu!" jawab Erik dengan sangat antusias nya.


"Erik!! Kita belum menikah. Jangan melakukan hal yang akan kita sesali nanti." Vivian berusaha menolak Erik.


"Kau tidak mempercayai ku?" Erik meletakkan Vivi diatas ranjang dan duduk diam disana.


"Bukan nya, aku tidak mempercayai mu! Hanya saja jika kita memiliki anak di luar pernikahan. Aku akan kasian pada anak kita nanti nya yang akan jadi bahan bicara Oran lain." Vivian berusaha menenangkan Erik yang sedang cemberut.


"Baiklah kalau begitu aku akan menikahi mu!" Ujar Erik dengan sangat antusias nya dan membelai rambut Vivi. Mereka pun tidur di satu ranjang yang sama. Tanpa, melakukan apapun.


...🌾🌾...


Keesokan harinya....


"Aku akan menikah kak!" ujar Erik lewat panggilan telfon nya pada Evan.


"Kau gila Rik! Mama tidak akan setuju jika kau menikah secepat ini." Sergah Evan pada Erik.


"Tapi, aku sangat mencintai nya kak! Aku tidak ingin kehilangannya." Erik berusaha menjelaskan nya pada Evan.


"Bersabarlah Erik! Kau harus bersabar. Mama kan pernah bilang pada mu, jika kau sudah bisa membangun perusahaan mu sendiri, maka kau akan bisa menentukan masa depan mu sendiri." jelas Evan pada Erik.


"Baiklah kak dalam waktu 1 tahun ini aku akan membangun perusahaan ku sendiri." Erik hanya bisa menghela nafasnya saja.


"Itu baru adik ku!" Evan pun menutup panggilan nya.


Setelah panggilan terputus Erik menatap kearah Vivian dengan wajah yang sedih dan menghampiri nya.


"Bersabarlah sayang! Aku pasti akan menikahi mu dalam waktu setahun ini." Erik mencium kening Vivian.


"Mau selama apapun itu aku akan tetap menikah dengan mu sayang." Vivian pun kembali mencium pipi Erik.


Hari demi hari terus dilewati. Erik terus saja fokus pada pekerjaan nya. Sampai-sampai dia sendiri saja tidak makan seharian. Vivian tidak percaya sama sekali demi dirinya pria yang sangat ia cintai dan dambakan itu akan seberusaha ini demi dirinya.


"Sayang makan dulu!" ujar Vivi pada Erik.


"Sebentar lagi sayang!" balas Erik yang masih fokus pada komputer nya.


"Sayang!!" Bentak Vivian pada Erik, "jika kau tidak makan, maka aku juga tidak akan makan!" Ancam Vivian menatap tajam kearah Erik.


"Baiklah aku akan makan! Kau jangan sampai tidak makan. Aku tidak ingin melihat mu sakit." Erik pun menghentikan pekerjaannya dan menghampiri Vivi yang sudah menyiapkan makanan untuknya.

__ADS_1


......................


1 tahun 2 bulan sudah, ia lalui. Perusahaan yang sudah sangat besar berdiri di new York. Walaupun perusahaan ini tidak sebesar perusahaan Kakaknya. Namun, bisa dikategorikan perusahaan milik Erik adalah perusahaan dengan ranting yang sangat tinggi.


"Aku akan menikahi mu sayang!" Erik mencium bibir Vivi dengan sangat lembut.


"Aku akan menjadi istri mu?" Vivian merasa tidak percaya sama sekali. Karna, dia akan segera menikah dengan pria yang selama ini sudah berada dihatinya.


"Kau akan menjadi istri ku dan juga ibu dari anak-anakku sayang." Erik menatap Vivian dan menghapus air mata Vivian.


"Aku mencintaimu.." Vivian memeluk Erik dengan sangat erat nya.


"Aku jugak mencintai mu..! Aku harus pergi sekarang dan menjumpai papa mama untuk membicarakan pernikahan kita." ujar Erik pada Vivian.


"Aku akan menunggu mu!" Vivian tersenyum pada Erik dan dibalas oleh Erik.


Erik yang sudah keluar dari apartemen nya. Dengan segera ia pergi ke mansion milik keluarga Anggara. Sebelum Erik kesana ia juga sudah menghubungi papa, mama, dan jugak Evan untuk berkumpul keluarga. Evan yang sudah mengerti tujuan adik nya hanya tersenyum saja.


"Kakak! Dimana mama sama papa?" Erik yang melihat kakak nya itu berada diruang keluarga langsung menanyainya.


"Sebentar lagi mama juga turun sama papa! Kau bersabarlah adik ku. Ngebet banget sih pengen nikah." Evan tertawa melihat adik nya itu.


"Tentu saja kak! Makanya kakak cepat cari pasangan biar bisa sama kayak aku!" Erik mengejek kakak nya yang masih belum punya pasangan itu.


"Baiklah aku akan mencari nya. Dan menyuruh gadis itu menganggu mu!" Evan tersenyum melihat wajah adik nya itu.


"Kau jangan macam-macam kak! Karna, aku tidak ingin bertengkar dengan Vivi." ujar Erik pada kakak nya.


Tidak menunggu waktu yang lama papa dan mama mereka pun turun.


"Apa yang sedang kalian bicara kan?" tanya nyonya Anggara dengan tersenyum menatap kearah kedua putra nya itu.


"Tanya saja pada Erik ma!" ujar Evan yang kembali duduk di sofa keluarga nya.


"Erik...?" Tuan Anggara pun menatap kearah anak bungsu nya itu.


"Pa, ma kemarilah! Aku ingin berbicara sesuatu." Erik pun langsung menyuruh papa dan mama nya untuk segera duduk.


"Baiklah putra ku..!" Tuan Anggara dan nyonya Anggara pun duduk di sofa yang berhadapan dengan Erik dan juga Evan.


Erik yang sudah sangat senang langsung menceritakan semuanya pada papa dan mama nya segera. Dan apa maksud nya untuk mengumpulkan mereka sudah Erik ceritakan, sementara Evan hanya tersenyum melihat adik nya itu, sesekali Evan juga tertawa mendengar gaya bicara Erik yang meniru suara Vivian.


"Baiklah jadi siapa gadis itu yang sudah mencuri perhatian anak mama ini?" tanya mama nya dengan sangat senang.


"Dari keluarga mana dia Rik?" Papa nya juga ikut menimpali perkataan istri nya itu.


"Namanya Vivian ma! Dia dulu junior Erik di kampus. Namun, sekarang dia sudah lulus." jelas Erik lagi,

__ADS_1


"Baiklah bawa keluarga nya kemari sayang." ujar tuan Anggara kembali.


"Dia tidak memiliki keluarga ma, pa! Orang tuanya entah kemana. Dia tinggal di panti asuhan dulu nya. Tapi, sekarang dia tinggal bersama ku!" Erik menatap kearah Mama dan papa nya yang sudah marah.


"Apa..! Jadi dia anak yang tidak jelas?" Mama Erik bicara dengan sangat tingginya.


"Kau mau buat keluarga ini malu Erik!! Karna, memilih gadis yang asal usul nya yang tidak jelas ditambah lagi dengan status nya yang rendah itu ha?" Tuan Anggara langsung berdiri dari duduknya. Erik sangat terkejut mendengar perkataan dari kedua orang tua nya. Sementara Evan yang melihat kedua orangtuanya seperti itu sangat kesal.


"Ma..! Pa..! Kalian itu kenapa?" Tatap tajam Evan pada kedua orang tuanya.


"Kau diam lah!" Bentak tuan Anggara pada Evan.


"Ma, pa..! Dia itu anak yang baik. Mama tega bilang dia anak yang tidak jelas? Mengapa mama seperti ini?" tanya Erik dengan sakit yang mendalam dihatinya melihat kelakuan kedua orangtuanya itu.


"Erik...! Kita itu dari keluarga yang terpandang! Mau ditaruh mana muka mama jika memiliki menantu seperti itu." sergah mama pada Erik.


"Ma...!" teriak Evan pada mamanya, "kalian sangat keterlaluan..!" Evan tidak percaya mendengar ucapan mama nya itu.


"Evan ..! Berani sekali kau meneriaki orang yang sudah melahirkan mu!" Tuan Anggara menatap tajam kearah putra sulung nya.


"Pa, ma...! Mau bagaimana pun kalian melarang ku. Aku akan tetap menikahi Vivian! Karna, mama juga sudah berjanji pada ku dan kakak. Jika kami sudah sukses nanti kami berhak mengatur masa depan kami sendiri!" Erik sudah tidak sanggup menahan air matanya itu. Dan berusaha untuk tetap tegar.


"Rik! Kau tenang saja. Aku akan membantumu." Evan berusaha menenangkan perasaan adik nya yang sudah teramat sakit itu.


Tentu saja Erik merasa sakit yang mendalam. Dia sudah menunggu satu tahun lebih untuk momen yang benar-benar ia nantikan. Tapi, seketika harapan dia pupus begitu saja karna orang tua nya.


"Mama memang pernah bilang seperti itu! Tapi, jika untuk masalah wanita yang akan kau nikahin mama berhak untuk mencari yang terbaik buat mu Rik!" Mama nya berusaha mendekati putra nya yang sudah sedih itu.


"Jangan mendekati ku ma!" Erik memundurkan langkahnya menjauh dari mama nya.


"Erik dia itu mama mu! Kau jangan seperti itu." Tuan Anggara yang melihat putranya seperti itu ingin sekali memukul nya.


"Papa juga jangan mendekati ku!" ujar Erik dengan suara yang sudah ia tahan.


"Rik! Tenang lah. Kakak akan membantu mu." Evan yang berada di samping Erik menepuk bahunya dengan perlahan.


"Kau tidak usah membantu ku kak! Aku akan tetap dengan pilihan ku ini!" Erik menatap kearah kakak nya dengan mata yang sudah berlinang.


"Erik Anggara! Jika kau berani menikah dengan gadis itu! Maka, aku akan menghabisi gadis yang akan kau nikahin itu." Papa Erik sudah berbicara dengan sangat keras nya pada Erik. Evan sontak melihat papa nya yang bisa sekejam itu pada Erik.


"Pa..!" Evan menatap kearah papa nya yang sudah sangat marah. Tuan Anggara tidak menggubris sama sekali panggilan dari putra nya.


"Sayang...!" Nyonya Anggara berusaha menenangkan suaminya itu dan memegang tangan suaminya.


"Hah..!" Erik tersenyum getir menahan rasa sakit yang tiada habisnya. "Kalian tau pa, ma? Untuk sesaat aku merasa ragu pada kalian berdua! benarkah kalian sungguh orang tua ku?" Erik menatap kearah mata kedua orangtuanya yang sudah sangat terkejut.


"Erik..! Kau kenapa?" Tidak hanya orang tuanya, Evan juga sangat terkejut melihat adik nya yang berbicara seperti itu.

__ADS_1


^^^Bersambung...^^^


...****************...


__ADS_2