
"Bagaimana keadaan nya?" Tanya Darren saat Andhika sudah selesai membalut luka pada leher Viola dan memberikan salep pada memar di tangan Viola.
"Syukur lah semua nya baik-baik saja dan tidak ada yang serius!" Andhika menghela nafas nya dengan sangat lega
"Terus kenapa dia tidak sadarkan diri?" Tanya Darren sambil membelai rambut viola.
"Mungkin karna dia terlalu terkejut saat kau menembak pria itu di hadapan nya." Andhika masih menatap tidak percaya melihat kekejaman Darren. Baru kali ini dia melihat Darren mengotori tangannya sendiri demi Viola dan juga Shelly
"Aku akan membawa nya pulang!" Darren langsung bangkit dari duduk nya sambil menggendong tubuh Viola.
"Siap kan mobil!" Perintah Darren pada kepala bodyguard dan juga supir pribadi nya.
"Baik tuan muda," jawab mereka dengan sangat hormat.
"Darren," panggil Bobby dengan nada yang masih merasa bersalah.
Darren langsung mengabaikan panggilan Bobby dan berjalan keluar meninggalkan mereka bertiga di sana. Namun, tiba-tiba saja Darren menghentikan langkah nya lalu menatap kearah Andhika.
"Tembakan ku tidak pernah meleset kasella! Namun, jika saat kau lihat peluru yang masuk ke tubuh nya hanya berjarak sedikit dengan jantung nya! itu berarti aku masih membiarkan nya untuk tetap hidup!" Senyuman kematian terukir di wajah Darren membuat Andhika bergidik ngeri.
"Aku tidak membunuhnya karna dia masih tau takut dengan melukai istriku tidak terlalu dalam. Namun, aku akan membalas setiap tetes darah yang keluar dari tubuh istri ku itu. Terlebih lagi aku tidak ingin istri ku berpikir aku seorang pembunuh." Darren tersenyum lalu mengecup kening Viola dan kembali melanjutkan langkah nya.
Saat mobil Darren sudah menjauh Andhika menatap kearah Bobby yang terlihat termenung.
"Bukan kah sudah ku katakan pada mu Bob," Andhika menghela nafas nya itu.
"Aku terlalu marah Andhika." Mata Bobby terpejam sesaat.
"Berdoa lah agar Darren memaafkan mu. Terlebih lagi kau memutuskan hubungan persahabatan dengan nya." Andhika menepuk-nepuk bahu Bobby.
"Aku harus apa?" Bobby menatap kearah sahabat nya.
"Berpikir lah dengan tenang. Kau pasti menemukan jalan keluar nya! Aku harus pergi sekarang. untuk melihat kondisi pria itu." Ujar Andhika dan langsung meninggalkan Bobby.
Jujur saja dari tadi Andhika hanya berpura-pura bersikap tenang saja walaupun sebenarnya jantung nya hampir mau copot mendengar suara tembakan tadi. terlebih lagi kaki nya saat ini masih gemetaran hingga membuat nya sedikit kesusahan saat berjalan.
...🎋🎋...
Kediaman two drn.khan
Saat ini Viola sudah terbaring di tempat tidur mereka. Darren mengusap wajah nya dengan sangat kasar dan langsung meninjau tembok kamar nya itu.
"Bagaimana bisa aku menembak seseorang di depan istri ku sendiri!" Raung Darren pada diri nya sendiri.
Darren benar-benar menyesal membiarkan Viola menyaksikan apa yang sudah ia lakukan. Sudah sejak lama ia tidak menembak seseorang ketika balas dendam dia sudah selesai atas kematian papa nya.
"Darren," panggil Viola dengan suara yang masih ketakutan ketika melihat tangan suami nya kembali berdarah.
"Kau sudah sadar sayang?" Darren langsung menghampiri Viola.
"Kenapa tangan mu berdarah lagi?" Viola memegang tangan suami nya dengan sangat hati-hati. Sakit rasa nya melihat suaminya terluka seperti itu.
"Tidak apa-apa istri ku! Ini hanya luka kecil." Darren tersenyum sambil mengusap rambut Viola.
"Bagaimana keadaan mu? Apa ada yang sakit?" Darren menatap Viola dengan intens.
__ADS_1
"Aku tidak apa-apa. Hanya saja aku terlalu terkejut tadi mendengar suara tembakan." Viola menunduk kan wajah nya itu. Jujur saja ia masih sangat ketakutan. Viola belum pernah sekalipun melihat Darren memegang pistol. Jangan kan untuk melihat suami nya memegang pistol, dia sendiri tidak menyangka Darren memiliki senjata api.
"Maafkan aku sayang," lirih Darren.
"Hey, kau tidak salah suamiku!" Viola menakup wajah Darren agar menatap diri nya.
"Jujur aku takut saat melihat mu memiliki senjata api. Tapi, aku juga sangat senang karna suami ku ini membuat keputusan yang tepat." Viola tersenyum lalu mencium sekilas bibir Darren.
"Terimakasih sayang," Darren langsung memeluk tubuh istri nya dengan penuh kasih sayang. Sungguh sangat beruntung diri nya memiliki istri seperti Viola.
"Oh iya Darren, dimana Shelly?" Tanya Viola saat ia tidak melihat sahabatnya.
"Dia pulang bersama calon suami nya." Mendengar ucapan Viola membuat aura dingin Darren kembali.
"Darren," Viola sadar suaminya masih marah dengan Bobby yang tidak mempercayai diri nya itu.
"Em," jawab Darren.
"Aku tau kau kecewa dengan Bobby. Tapi, tau kah kau seberapa khawatir nya dia saat melihat kau ingin menyerahkan wanita yang dia cintai kepada pria itu?" Viola tersenyum saat membalas tatapan suaminya.
"Cih! Konyol sekali." Senyum tipis Darren terukir di wajah nya membuat Viola menelan Saliva nya itu.
"Darren! Kenapa kau seperti itu?" Kesal Viola.
"Istriku, dia sudah sangat ketakutan calon istri nya itu kenapa-kenapa, padahal saat itu calon istrinya sendiri belum terluka sama sekali. Namun, aku--" Darren menghela nafas nya dengan sangat kasar.
"Istirahat lah sayang! Aku mau keruang kerja ku dulu." Timpal Darren kembali dan meninggalkan Viola disana.
"Tapi Darren," Viola berusaha menghentikan suaminya. Namun, Darren tetap meninggalkan diri nya. Viola hanya bisa menghela nafas nya saja dan mencari ponselnya agar ia bisa menanyakan kabar Shelly.
...🎋🎋...
"Dasar konyol!" Kecam Darren saat kembali mengingat ucapan yang keluar dari mulut Bobby.
Darren menghela nafas nya lalu membuka dokumen-dokumen kerja sama nya dengan perusahaan luar negri. Darren mengambil ponsel nya dan menelpon seseorang.
"Bagaimana?" Tanya Darren melalui ponsel nya.
"Semua nya sudah beres tuan muda." Ucap agen rahasia tersebut.
"Hancurkan semua bisnis nya! Dan tinggalkan satu bisnis nya agar dia bisa tetap bertahan hidup dan menderita selama nya!" Perintah Darren pada agen rahasia nya.
Sebelum Darren menyelamatkan Viola. Darren sudah terlebih dahulu untuk menyelidiki siapa pria itu dan hancurkan semua yang bersangkutan tentang Alvino. Karna dia sudah berani menyentuh istri nya
"Baik tuan muda," jawab kapten agen rahasia.
"Dan masalah pernikahan sekretaris bodoh ku itu bagaimana sekarang?" Tanya Darren kembali.
"Semua sudah beres tuan muda. Tinggal kita menunggu resepsi nya Minggu depan." Balas agen rahasia kembali.
"Baiklah kalau semua tugas yang ku berikan sudah selesai!" Darren menghela nafas nya.
"Tugas kalian saat ini adalah mengurus kepulangan Verlin Tara ke Indonesia dengan selamat tanpa ada satu orang pun yang tau! Karna saat ini identitas dia masih di sembunyikan." Perintah Darren dengan aura membunuh nya.
"Baik tuan muda. Akan kami lakukan sebaik mungkin!"
__ADS_1
"Bagus! Aku tidak suka kegagalan dalam hal apapun." Darren pun langsung memutuskan panggilan nya itu.
Sedangkan Viola saat ini sedang sangat serius berbicara melalui ponsel nya itu.
"Shell, kita harus cari cara agar suami gue maafin Bobby." Tukas Viola dengan sangat serius nya.
"Iya Lo benar Vi! Tapi, masalah nya suami Lo itu menakutkan sekali." Shelly masih bergidik ngeri saat membayangkan bagaimana tatapan tajam dan senyuman mematikan nya Darren saat melakukan sesuatu dan saat mengucapkan sesuatu.
"Gue aja sebagai istri nya juga takut sama dia Shell." Viola menghela nafas nya.
"Selain itu Vi, gue juga gak nyangka kalau suami Lo bakalan melakukan hal semenakutkan itu." Timpal Shelly kembali.
"Shell, gue percaya Darren melakukan hal itu karna sudah tidak ada pilihan lain!" Ucap Viola dengan menundukkan kepalanya.
"Kenapa gitu Vi?" Tanya Shelly.
"Iya, karna dia sangat hati-hati saat sedang berhadapan dengan ku. Dia tidak mau aku melihat bagaimana kekejaman dia yang sebenarnya. Oleh karna itu jika dia melakukan hal itu maka, dia sudah tidak ada pilihan lain." Terang Viola dengan wajah yang masih tidak percaya. Bagaimana Darren memiliki sifat yang bisa berubah-ubah. Kadang dia hangat akan tetapi ia juga dingin
"Kau benar Vi," lirih Shelly. Jujur Shelly ingin sekali berterimakasih pada Darren. Namun, saat ini sangat tidak mungkin untuk menjumpai Darren.
"Ah sudahlah Shell, kita lupain dulu masalah yang itu. Saat ini kita harus memikirkan cara agar Darren mau berbaikan dengan Bobby. Mau bagaimana pun kan mereka sudah bersama sejak kecil." Ucap Viola dengan nada yang kembali serius.
"Gue tau itu Vi! Tapi, suami Lo terlihat sangat marah saat menatap Bobby." Shelly menghela nafas nya.
"Gue juga liat kali ini Darren benar-benar kecewa sama calon suami Lo itu Shell."
Saat ini Viola dan Shelly sangat pusing memikirkan bagaimana cara nya agar Darren mau memaafkan Bobby. Jujur saja Viola dan Shelly juga marah pada Bobby karna tidak mempercayai sahabat nya itu. Namun, situasi nya juga bisa membuat seseorang bertindak bodoh. jadi mereka tidak bisa terlalu menyalahkan Bobby.
"Gini aja Shell! Besok gue akan bawa Darren kesebuah restoran untuk makan siang. Nah saat gue sudah tau dimana tempat nya. Gue akan mengirim lo pesan dan lo datang lah bersama Bobby." Rencana Viola pada Shelly
"Tapi, bagaimana kalau suami Lo langsung pergi saat bertemu kami?" Tanya Shelly yang masih ragu akan rencana sahabat nya itu.
"Lo tenang aja Vi! Kita pura-pura tidak sengaja bertemu di sana. Lo juga jangan beritahu Bobby tentang rencana kita. Karna, Bobby pasti akan menggagalkan semua nya." Timpal Viola kembali.
"Saat kita jumpa nanti gue akan ajak kalian makan bersama gue." Viola tersenyum sangat bangga saat ia merasa menyusun rencana dengan sangat sempurna
"Lo yakin Vi?" Shelly masih ragu. Ia takut terjadi masalah saat menantang seekor singa yang sedang murka.
"Lo tenang aja Vi! Serahkan semua ini pada Viola Talisa. Karna, suami gue itu sangat bucin sama gue! Gue yakin dia tidak akan menolak permintaan gue. Ya walaupun wajah nya akan berubah seperti tau ayam!" Viola langsung tertawa saat ia bisa mengejek suami nya itu.
"Lo gila Vi! Bisa-bisa nya disaat seperti ini Lo malah bercanda." Shelly menghela nafas nya saat sifat sahabat nya yang tidak pernah berubah itu.
"Oh ayo lah Shell, kita jangan terlalu serius. Masalah antara Bobby dan juga Darren pasti akan selesai dengan baik kok." Ujar Viola saat ia sudah puas tertawa.
"Emh oke lah Vi!" Shelly yang mendengar suara kaki seseorang langsung melihat kearah pintu.
"Vi udah dulu ya! Kayak nya Bobby mau kemari deh." Tutur Shelly.
"Oh oke Shell! Karna kurasa sudah waktu nya Darren juga kemari untuk makan malam. Oh iya jangan lupa besok!"
"Oke Vi!" Mereka pun memutuskan panggilan nya itu.
Shelly yang sudah memutuskan panggilan nya langsung meletakkan ponsel nya di atas nakas dan mengambil majalah secara asal agar tidak ketahuan oleh Bobby.
^^^Bersambung..^^^
__ADS_1
...****************...
.