
Rumah Shelly 🏡
Kini Evan dan juga Roy sudah tiba di depan rumah Shelly. Roy langsung turun dari mobil bos nya dan segera membuka pintu mobil bos nya itu. Evan turun dari mobilnya melihat keseluruhan arah dengan mata yang bingung.
"Roy kau yakin ini rumah gadis itu?" Tanya Evan pada bawahannya.
"Iya bos, ini rumah nona Shelly sahabat nya nona Viola." balas Roy pada bos nya.
"Mengapa rumah nya kecil sekali Roy?" Evan menatap jengah pada rumah Shelly.
"Bos, mungkin bagi bos rumah ini kecil. Tapi, bagi nona Shelly mungkin saja rumah dialah yang paling besar." Roy hanya bisa menggelengkan kepalanya mendengar ucapan bos nya itu.
"Kau benar Roy, mungkin saja dia bukan orang berada seperti ku. Jadi, bagi dia rumah sekecil ini sudah besar." Evan merasa bersalah karna sempat menghina rumah sahabat dari wanita yang ia sukai itu.
"Iya bos, mari bos!" Roy langsung mempersilahkan bos nya untuk berjalan mendekat tepat di depan pintu rumah Shelly.
Evan hanya menghela nafasnya dan berjalan menuju pintu rumah sahabat gadis yang dia sukai. Evan hanya ingin mengucapkan salam perpisahan nya pada Viola melalui sahabat nya itu. Evan juga ingin meminta maaf pada Shelly karna sudah menculik sahabat nya dan juga melukai nya.
TINUNG ... TINUNG
Roy menekan bel pintu Shelly. Sementara Shelly yang baru saja mau tertidur langsung terbangun mendengar ada seseorang yang menekan bel rumah nya.
"Siapa sih! Siang-siang begini ganggu saja. Tidak tau apa aku tidak bisa tidur dari tadi." Kesal Shelly dengan turun dari tempat tidur nya dan berjalan kearah pintu rumah nya.
"Pri-pria itu kan?" Shelly langsung gemetar ketika melihat siapa yang sudah berada di depan rumah nya melalui jendela rumah nya itu.
Evan yang tau ada seseorang melihat dirinya dari jendela hanya menatap sinis saja. Dia tau bahwa gadis tersebut berada di dalam rumah nya.
"Nona Shelly, saya tau anda ada di dalam! Jadi, sebaiknya anda keluar lah. Ada hal penting yang ingin saya katakan." Teriak Evan dari luar yang membuat Roy sangat terkejut.
"Bos, apa yang bos lakukan? Mungkin saja gadis itu tidak ada di dalam." Roy takut ada yang mendengar bos nya itu berteriak. Karna itu akan membuat dirinya terlibat masalah lagi.
"Roy! Gadis itu ada didalam. Aku melihatnya tadi! Dia sedang memperhatikan kita dari jendela nya itu." ujar Evan dengan mengusap wajah nya dengan kasar.
"Baiklah bos, saya mengerti!' Roy memilih untuk diam dan mengikuti kemauan bos nya tersebut.
"Nona Shelly, kedatangan saya kemari dengan maksud baik! Saya ingin minta maaf pada anda. Karna saya telah melakukan kesalahan yang membuat anda terluka dan ketakutan." Dengan sangat tulus Evan meminta maaf pada Shelly.
Shelly yang berada di dalam merasa serba salah, "aku harus apa? Apa aku harus membuka pintunya atau tidak? Tapi, dia bermaksud baik padaku? Aaaa aku bingung!" Shelly mengacak-acak rambutnya itu.
"Nona Shelly saya mengerti anda masih takut pada saya! Saya hanya ingin mengatakan pada anda. Tolong beritahu sahabat anda saya minta maaf padanya dan jika dia ingin menjumpai keponakan nya itu saya sangat senang." Evan yang tidak menerima jawaban sedikit pun dari Shelly hanya bisa mengatakan nya secara berteriak.
"Apa! Vio memiliki keponakan? Bukan kah dia cuma memiliki satu adik?" Shelly yang mendengar ucapan dari pria yang menculik sahabat nya sangat terkejut.
"Roy, seperti nya dia tidak ingin menjumpai ku! Yasudah kita balik saja ke apartemen. Setidaknya aku sudah mengatakan apa yang ingin aku katakan." Evan menatap kerumah Shelly dengan perasaan kecewa.
"Baik bos," balas Roy dengan anggukan kepalanya.
__ADS_1
"Nona Shelly! Kalau begitu saya harus pergi sekarang. Maaf telah mengganggu anda!" Begitulah teriakan Evan yang terakhir kali nya.
"TUNGGU!" Shelly yang mendengar ucapan Evan yang ingin pergi, ia pun membukakan pintu nya dan menghentikan langkah Evan.
Evan tersenyum ketika ada yang menghentikan langkahnya dan Evan membalikkan badannya menghadap kearah Shelly. Jujur saja ketika Evan menatap Shelly mata Evan langsung tertarik.
"Gadis ini benar-benar cantik?" Begitulah kata-kata yang terlintas secara cepat di otak nya.
"Anda bilang sahabat saya memiliki keponakan? Mungkin anda salah tuan tampan, sahabat saya itu hanya memiliki satu orang adik saja dan adik nya juga belum menikah!" tegas Shelly pada Evan tanpa rasa takut sedikitpun.
"Menarik!" Gumam Evan di dalam hati nya.
"Nona Shelly apakah anda tau kalau sahabat anda itu memiliki saudara kembar!' ujar Evan dengan tersenyum. Sementara Roy hanya berdiri tegak saja di samping bos nya.
"Apa!! Saudara kembar?" Shelly sangat terkejut. Ia menatap kearah Evan dengan tatapan tidak percaya nya.
"Iya nona Shelly!" Balas Evan yang masih tersenyum.
"Maaf tuan saya masih tidak mengerti." Shelly yang tidak mengerti hanya bisa menggelengkan kepalanya itu.
"Baiklah nona Shelly! saya akan menceritakan alasan saya menculik Viola dan melukai anda. Sebelum saya cerita saya minta maaf pada anda." Evan mengulurkan tangan nya sebagai tanda permintaan maaf.
"Baiklah saya memaafkan mu!" Shelly menerima uluran tangan pria yang sempat melukai nya juga.
"Jadi, sebenarnya itu bermula dari meninggal nya adik saya! Hari itu ..." Evan menarik nafas nya dan menjelaskan nya secara panjang dan juga detail pada Shelly. Shelly yang mendengar cerita pria yang menculik sahabat nya merasa sangat terkejut dan sangat sedih mendengar kisah saudara kembar sahabat nya. Seketika air mata Shelly sudah mengalir begitu saja. Evan juga merasakan hal yang sama dengan Shelly.
"Saya memang bodoh nona! Karna saya udah menculik sahabat anda." Evan hanya bisa meminta maaf dengan setulus hati nya.
"Bukan itu maksud ku!" Shelly mengusap air matanya tersebut.
"Jadi, maksud anda apa nona Shelly?" Evan yang tidak mengerti ucapan dari gadis yang ada di hadapannya menatap dengan sangat heran.
"Maksud ku mengapa anda terlalu bodoh membiarkan adik anda melakukan hal yang sangat besar." Teriak Shelly pada Evan. Roy yang mendengar Shelly berteriak langsung terkejut. Sementara Evan tidak menyangka sama sekali ada seorang gadis yang berani meneriaki nya.
"Gadis ini sama seperti Viola." Gumam Evan.
"Nona saat itu saya sedang berada di luar negri! Jika saya tau adik saya akan melakukan hal seperti itu tentu saja saya akan melarang nya!" Tegas Evan pada Shelly.
"Tapi, tetap saja adik mu sudah tiada! Begitu juga dengan saudara kembar dari Viola. Yang aku tidak habis pikir bagaimana nasib dari anak mereka? orang tua mu kejam sekali tuan!" Shelly yang mengingat kembali kisah itu langsung menangis sekuat mungkin.
Evan bingung menatap kearah Shelly, bagaimana bisa Shelly sampai menangis seperti itu di hadapan nya. Roy pun sama seperti Evan yang tidak menyangka sama sekali melihat hal yang ada di depannya.
"Mengapa sahabat nya nona Viola nangis histeris seperti itu?" Roy menautkan kedua alisnya menatap kearah Shelly.
"Nona, anda tidak perlu nangis seperti itu! Keponakan saya saat ini akan bahagia bersama saya! Saya akan menceritakan bagaimana perjuangan cinta orang tuanya ketika ia sudah dewasa nanti." Evan menepuk pundak Shelly dengan lembut.
"Kau tidak akan pernah mengerti tuan! Walaupun kau memberikan kasih sayang seperti seorang ayah sekaligus! Tapi, tetap saja dia membutuhkan kasih sayang seorang ibu." Shelly menangis tersedu-sedu di hadapan Evan. Evan tidak tau harus berbuat apa agar gadis yang ada di hadapannya itu dapat tenang.
__ADS_1
"Nona Shelly anda tidak perlu menangis! Bagaimana jika orang lain melihat anda menangis seperti ini di hadapan saya? Bisa habis saya jadi bahan omongan mereka." Evan melirik ke arah sekitar nya. Dia berusaha agar Shelly tetap tenang dan diam.
"Tuan kau tidak tau bagaimana perasaan saya saat ini! Saya tidak tega pada anak saudara kembar sahabat saya itu. Mau bagaimana pun dia juga sudah menjadi keponakan kecil saya." ujar Shelly dengan menyeka air mata nya.
"Nona Shelly anda tidak perlu khawatir saya akan menjaga anak adik saya dengan sangat baik. Mau bagaimana pun dia juga keponakan saya nona." Evan hanya bisa menghela nafas nya saja.
"Tuan, bagaimana kalau anak dari Vivian saya saja yang menjaga nya?" Pinta Shelly pada Evan.
"Apa!!" Evan dan juga Roy yang mendengar ucapan Shelly benar-benar merasa terkejut. Sangking terkejut nya mereka berdua, sehingga mereka melontarkan ucapan yang sama dan dengan nada yang sama juga.
"Mengapa kalian seterkejut itu? Saya kan hanya menawarkan nya saja." Shelly merasa heran melihat mereka. Karna, sifat Shelly yang selalu terus terang membuat nya tidak merasa aneh sama sekali ketika melihat wajah mereka yang menatap dirinya dengan sangat terkejut.
"Nona, saya senang anda ingin menjaga keponakan saya! Namun, keponakan saya saat ini berada di new York. Dia masih sangat kecil jadi saya tidak bisa membawanya ke Indonesia." Evan berharap sahabat Viola mengerti dengan ucapan nya itu.
"Kalau begitu baiklah tuan! Saya juga tidak bisa pergi dengan anda ke new York. Karna jujur saja sampai saat ini saya tidak memiliki nyali yang besar untuk menaiki pesawat." Shelly berkata dengan sangat jujur nya pada mereka. Lagi-lagi Shelly membuat mereka terkejut entah untuk ke berapa kalinya.
"Kalau begitu saya harus segera pergi nona! Tolong sampaikan permintaan maaf saya pada sahabat anda. Jika dia ingin menjumpai keponakan nya itu dia bisa menghubungi saya. Dan saya akan segera membawa keponakan nya ke Indonesia jika keponakan nya itu sudah bisa untuk di bawa pergi jauh." Evan tersenyum pada Shelly dan mengambil dompet nya yang ada di saku celana nya itu.
"Nona ini kartu nama saya! Jika anda atau Viola mengalami masalah, anda bisa menghubungi saya. Karna, anak buah saya juga ada di sini untuk selalu siaga melindungi kalian berdua." Ujar Evan lagi pada Shelly.
"Tuan, kau tidak perlu melakukan itu!" Shelly tidak menyangka pria yang ada di hadapannya itu, tidak seburuk dengan apa yang ada di pikiran nya. Terlebih lagi laki-laki yang ada di hadapannya ini sangat tampan.
"No problem nona! Anggap saja ini sebagai permintaan maaf saya." Evan tersenyum pada Shelly. "Kalau begitu saya pamit nona,"timpal Evan.
"baiklah tuan terimakasih!" Shelly hanya membalas senyuman dari Evan pada nya
"Roy, kita kembali ke apartemen sekarang!" perintah Evan pada bawahannya itu.
"baik bos," Roy pun dengan sigap menjawab ucapan bos nya.
Evan dan juga Roy melangkah kan kaki nya meninggalkan Shelly disana. hati Evan saat ini sudah lega bisa menyampaikan apa yang ingin ia katakan pada Viola walaupun hanya pada sahabat nya saja. sementara Shelly yang sudah melihat mereka memasuki mobil nya dan sudah pergi dari halaman rumah nya hanya bisa menghela nafas nya saja. Shelly pun masuk kerumahnya, ia benar-benar lelah saat ini. dengan segera Shelly melanjutkan tidurnya itu dalam keadaan mata yang sembab.
Roy menatap kearah bos nya dengan sangat heran, bos nya itu hanya senyam-senyum sendiri di belakang. Roy tidak mengerti sebenarnya apa yang ada di pikiran bos nya itu.
"bos ada apa?" tanya Roy pada bos nya. ia lebih baik bertanya walaupun akan di marahi oleh atasan nya. dari pada dia harus gelisah karna rasa penasaran nya itu.
"Roy, sahabat Viola ternyata lucu juga! bagaimana bisa dia menangis seperti anak kecil begitu di hadapan ku! terlebih lagi dia tidak pernah melihat kembaran Viola. namun, dia bisa sesedih itu." Evan langsung tertawa kecil ketika membayangkan bagaimana wajah Shelly saat itu.
"Iya, bos kau benar!" balas Roy dengan senyum tipis di bibir nya. Evan pun terdiam dan menatap kearah luar jendela mobil nya dengan menggelengkan kepalanya yang masih membayangkan wajah Shelly. tanpa, menggubris perkataan dari bawahannya tersebut.
"Bos, sebenarnya aku masih bingung! Kau itu menyukai nona Viola atau nona Shelly bos?" Roy hanya bisa bertanya di dalam benak nya. dia tidak ingin mencampuri urusan pribadi bos nya itu.
mobil pun melaju dengan kecepatan sedang, Roy hanya diam saja dan fokus mengemudikan mobil bos nya. sementara Evan hanya bersandar dengan memejamkan matanya di belakang. sesekali Roy melihat kearah mobil nya melalui kaca spion mobil dan menghela nafas beratnya.
^^^Bersambung...^^^
...****************...
__ADS_1