
Shelly langsung mengabaikan panggilan tersebut sampai benar-benar tida berdering lagi. Namun tiba-tiba saja sebuah notif pesan teks dari hp Shelly berbunyi.
~jika kau tidak menjawab panggilan saya. Maka, bersiap lah besok kau akan mendapatkan hukuman dan gaji mu akan saya potong!
Membaca pesan tersebut sontak membuat emosi Shelly kembali meningkat. Dengan sangat terpaksa Shelly menghubungi atasan nya kembali.
"Kenapa kau tidak menjawab panggilan saya?" Belum lagi Shelly berbicara atasan nya itu sudah marah-marah seperti biasanya
"Saya tadi sedang berada di kamar mandi pak," jawab Shelly dengan nada malas nya.
"Ada apa bapak menelpon saya?" Timpal Shelly. Jujur saja ia sangat malas untuk berhubungan dengan bos mesum nya itu.
"Saya hanya ingin mendengar suara mu saja," jawab Alvino dengan nada berat nya.
"Pak, saya butuh istirahat! Besok saya akan bekerja. Bisa tidak bapak menelpon saya disaat yang penting saja." Shelly menghela nafa nya dengan sangat kasar, saat ini kepala nya benar-benar sangat pusing.
"Tentu saja ini penting! Aku merindukan mu. Sudah ku katakan menikah lah dengan ku! Maka, kau akan ku buat bahagia yang tak terbayangkan." Bujuk Alvino kembali. Entah udh ke berapa kali nya ia melamar gadis itu selama sebulan ini. Alhasil ia malah di tolak terus-menerus oleh Shelly.
"Bapak Alvino yang terhormat, saya sangat lelah! Bisa tidak jangan membahas hal yang tidak masuk akal. Dan satu hal lagi, bapak sudah mendengar suara saya bukan? Kalau begitu saya sudahi dulu panggilan ini." Ucap Shelly dengan nada yang selembut mungkin walaupun dalam hati nya ingin sekali memaki-maki atasan nya itu.
"Tapi ini baru sebentar aku mendengar suara mu," Alvi langsung menahan Shelly untuk tidak memutuskan panggilan nya itu.
"Jika bapak ingin mendengar nya lebih lama. Besok saya kerja, bapak bisa dengar suara saya sepuas bapak!"
"Tapi --" Shelly langsung memutuskan panggilan tersebut.
"Benar-benar menjengkelkan!" Kesal Shelly saat panggilan tersebut sudah putus.
"Shelly fokus! Jangan kau terlalu mikirin si sekretaris dingin itu dan bos gila mu itu." Ucap Shelly pada diri nya sendiri.
Shelly pun bergegas ke tempat tidur nya. Ia sangat lelah hari ini, istirahat adalah solusi terbaiknya untuk menghilang kan rasa lelah nya itu.
"Aku akan mendapatkan mu bagaimana pun caranya!" Ujar laki-laki tersebut di sisi lain.
Alvino sendiri merasa sangat heran, mengapa ia bisa sangat tertarik pada Shelly hanya karena Shelly menolak nya saat ia mengajak Shelly untuk kencan.
Sampai-sampai Alvi sendiri tidak sadar telah melakukan hal bodoh dengan membeli cafe tempat Shelly bekerja. Padahal jika ia ingin bisa saja ia membuat cafe miliknya sendiri dan menyerahkan nya pada Shelly. Namun, ia sadar Shelly pasti akan menolak nya
...🎋🎋...
Viola, Tara, dan juga Darren kini tengah menikmati sarapan mereka masing-masing.
"Darren bukan kah kau bilang Tara tidak tinggal di mansion ini?" Tanya Viola sambil mengunyah makanan nya.
"Emh," jawab Darren.
"Lantas kenapa sekarang Tara berada di sini?" Tanya Viola kembali
"Kakak kau tidak senang aku berada disini?" Mendengar ucapan kakak nya tentu saja menyulutkan amarah Tara.
"Sayang, bukan itu maksud kakak." Viola menghela nafas nya dengan sangat panjang.
__ADS_1
"Darren kau belum menjawab ku!" Viola beralih menatap kearah suaminya.
"Aku yang menyuruh nya kesini. Karna, aku tau pasti kau merindukan nya." Jawab Darren sambil memakan makanan nya tersebut.
"Tapi, aku tidak bisa lama kakak ipar! Aku besok ada kelas." Ujar Tara pada kakak ipar nya.
"Kau tidak perlu datang! Karna aku sudah mengambil cuti untuk mu selama seminggu."
"Kakak ipar, kenapa kakak ipar berbuat sesuka hati kakak." Kesal Tara begitu ia mendengar ucapan kakak ipar nya.
Viola yang mendengar ucapan adik nya langsung mencubit pinggang adik nya itu.
"Sakit kak!" Ringis Tara mengusap-usap pinggang nya.
Darren melirik kearah istri nya lalu berganti kearah adik ipar nya.
"Verlin Tara! Kau jangan lupa masalah apa yang sudah kau buat di sini."Darren menatap tajam adik ipar nya itu.
"Tara apa yang kau buat di negara orang?" Viola langsung melirik adik nya dengan sangat tajam membuat Tara menelan Saliva nya itu.
"Kakak ipar!" Tara berusaha memberi kode pada kakak ipar nya untuk tidak mengatakan sesuatu yang merugikan diri nya
"Darren beritahu ku apa yang sudah dilakukan gadis kecil ini?" Tanya Viola dengan sangat intens menatap suaminya.
"Bukan hal yang penting!" Darren bangkit dari duduk nya itu membuat Viola dan juga Tara sontak ikut bangkit.
"Sayang, aku harus mengurus beberapa masalah di perusahaan ku." Darren menatap wajah istri nya dan tersenyum saat melihat tanda merah yang ia berikan semalam di leher istri nya.
"Ada apa Darren? Apa masalah nya sangat besar? Sampai-sampai kau harus turun tangan sendiri." Viola sedikit khawatir, karna sejak Darren tiba ia tidak henti-hentinya menatap pada laptop dan juga beberapa dokumen nya.
Sejak kejadian Viola keguguran Darren tidak ingin lagi menutup apapun dari istri nya. Iya tidak ingin kesalahan paham terjadi untuk kedua kali nya.
"Darren, ada apa dengan Bobby?" Viola berusaha menyelidiki sesuatu. Karna Viola juga sangat penasaran kenapa Bobby tidak menggangu sahabat nya lagi sejak kejadian bulan lalu.
"Kurasa kau lebih tau tentang itu istriku!" Ucapan Darren membuat Viola terkejut.
"Apa Darren sudah tau sebenarnya?" Viola mulai menduga-duga di dalam benak.
"Kakak ipar kau tidak jadi pergi?" Tara mulai memberanikan diri untuk memotong pembicaraan antara kakak nya dan juga kakak ipar nya. Karna saat ini Tara sangat lelah terus berdiri saja. Jika ia duduk bisa mati dia kenak tatapan oleh kakak ipar nya itu
Darren dan Viola menatap kearah Tara dan hanya bisa menggelengkan kepala saat melihat muka Tara sudah manyun.
"Baiklah sayang, aku pergi dulu! Kau harus jaga kesehatan dan jangan terlalu lelah. Ingat tubuh mu belum sembuh sepenuhnya!!" Tekan Darren yang membuat Tara sedikit bertanya-tanya.
"Kakak sakit ya?" Bisik Tara dari belakang tubuh Viola.
Viola tidak menjawab. Ia malah sibuk tersenyum pada Darren. Darren membalas senyuman Viola sambil mencium kening dan mengecup bibir Viola. Tara saat ini benar-benar kesal, karna ia harus menyaksikan adegan pamit-pamitan sebelum pergi.
Darren melangkahkan kaki nya keluar dan langsung masuk kedalam mobil saat supir pribadi Darren sudah membuka pintu mobil nya.
"Kak," panggil Tara saat kakak nya masih menatap nanar kepergian kakak ipar nya.
__ADS_1
"Baru saja dia pergi, aku sudah merindukan nya!", Keluh Viola dengan nafas berat nya.
"Kak, kau memang benar-benar sudah bucin pada kakak ipar." Tukas Tara sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Tara," Viola menatap adik nya sambil tersenyum.
"Kak, aku mau tanya sesuatu pada mu?" Tara mengikuti langkah kaki kakak nya yang hendak keruang tengah.
"Ingin tanya apa?" Viola menatap adik nya sekilas lalu duduk di sofa.
"Apa yang terjadi pada kakak selama aku tidak ada?" Jujur saja sejak 2 bulan yang lalu Tara merasa sedikit aneh pada kakak ipar nya.
"Tidak ada," jawab Viola singkat.
"Kak, aku mohon jangan berbohong pada ku! Aku tau ada yang tidak beres di sana. Karna biasanya kakak ipar selalu melakukan hal konyol dengan menelpon ku setiap saat hanya untuk menanyakan apa yang kakak sukai dan tidak kakak sukai. Namun, tiba-tiba saja kak Darren menghilang tanpa kabar. Bahkan kakak ipar sampai mengabaikan telpon dari para manajer dan juga rekan bisnis nya kak." Jelas Tara panjang lebar pada Viola.
"Kau tau dari mana dia mengabaikan semua orang?" Tanya Viola pada adik nya.
"Tentu saja aku tau kak! Karna pada saat itu para rekan bisnis dan juga bawahan kakak ipar bolak-balik melewati mansion ini dan menatap kearah mansion hanya untuk memastikan kak Darren ada atau tidak. Tapi, untung lah mereka tidak melihat ku disini." Terang Tara lagi pada Viola
"Kak aku mohon! Beritahu aku apa yang terjadi antara kakak dan kakak ipar 2 bulan yang lalu." Tara menggenggam tangan Viola .
"Cerita nya panjang dek," teringat yang terjadi oleh diri nya membuat Viola langsung sedih.
"Kak are you oke?" Tara memegang bahu kakak nya yang terlihat sedang menunduk.
"Em," Viola menghela nafas nya dan mulai menceritakan semua nya pada Tara dari diri nya dengan saudara kembar nya hingga kehilangan bayi nya.
Ketika mendengar cerita kakak nya air mata Tara mengalir tanpa henti. Ia mulai menahan tangis nya. Karna saat ini kakak nya lah yang tengah menangis.
"Maafkan aku kak," lirih Tara yang membuat Viola menggeleng kan kepala nya.
"Kau tidak salah dek! Kakak lah yang sudah melakukan hal ceroboh." Ucap Viola memegang tangan Tara.
"Salah ku tidak menjaga kakak dengan baik." Tara masih terus menyalakan diri nya.
"Jangan berkata seperti itu sayang," Viola menghapus air mata adik nya dengan wajah yang juga menahan sedih.
"Kau tau Tara? Aku pernah mendengar ucapan dari seseorang dia berkata pada kakak, kalau kita memiliki sesuatu maka, kita juga harus siap kehilangan untuk sesuatu." Ucap Viola pada Tara dan langsung memeluk Tara.
"Kak, bagaimana bisa kakak memiliki saudara kembar? Sedangkan aku sendiri tidak tau." Tanya Tara kembali dengan wajah yang sulit di tunjukan.
"Karna papa dan mama tidak ingin mengungkit nya lagi. Mereka sangat sedih jika mengingat hal tersebut. Terlebih lagi papa dan mama juga harus fokus menjaga kakak dan kamu." Jelas Viola pada Tara.
"Benarkah itu kak?" Mata Tara menatap kedua mata kakak nya.
"Tentu saja benar," Viola kembali memeluk adik nya sambil mengusap rambut Viola.
Viola tersenyum kecil mengingat bagaimana saudara kembar nya berakhir tragis seperti itu. terlebih lagi orang yang dia cintai juga menyusul nya dan meninggalkan anak mereka seorang diri.
"Elvira, maafkan aunty." Lirih Viola dengan pipi yang masih basah karna air mata nya.
__ADS_1
^^^Bersambung....^^^
...****************...