
Keesokan harinya...
Viola yang terbangun dari tidurnya, langsung melihat kearah alarm milik suaminya itu.
"Apaa!! Sudah jam 10.00 pagi? Mengapa aku bangun sesiang ini ya?" Kejut Viola ketika melihat kearah jam.
Viola pun bangkit dari tempat tidur nya dengan kondisi yang sangat berantakan.
"Darren sudah sarapan belum ya? Apa dia masih marah pada ku ya? Makanya dia tidak menyetel alarm aneh nya ini! Ahhh ... Sudah lah sebaiknya aku turun sekarang ke bawah!" Dengan segera Viola menuju ke pintu kamar nya dan membukanya.
Viola yang sudah berada di luar kamar nya langsung berlari ke arah lift pribadinya dan langsung menekan tombol lift tersebut.
Kini Viola sudah berada di lantai satu, dengan segera Viola mencari keberadaan pak Dadang untuk menanyakan dimana suaminya itu. Namun, sayang sekali Viola tidak melihat siapa pun di lantai satu.
"Dimana semua orang?" Bingung Viola dan masih melihat keseluruhan ruangan yang ada di lantai satu.
Viola terus saja mencari keseluruhan ruangan yang ada di lantai tersebut. Viola langsung duduk di sofa dan menghembuskan nafas nya dengan kasar karna dia sudah sangat lelah mencari orang yang ada di kediaman Darren.
"Dimana sih mereka semua?! Mengapa kediaman ini seperti tidak berpenghuni gini sih." Kesal Viola yang sudah terduduk.
"Tidak mungkin kan, aku harus mencari mereka di seluruh kediaman ini! Bisa gila aku mencari Darren di kediaman sebesar ini. Ya .. mending kalau aku menjumpai nya, kalau tidak gimana?" Viola bangkit dari duduk nya dan menyatukan kedua tangan nya itu, "ya tuhan! Tolong aku, agar bisa menjumpai suamiku yang dingin itu."
Tidak menunggu waktu yang lama Viola melihat kearah alat komunikasi yang ditunjukkan padanya saat itu. Viola pun berjalan mendekati meja yang terletak alat komunikasi tersebut.
"Inikan? Alat komunikasi itu! Kau sungguh baik tuhan, baru saja aku berdoa dan kau langsung mengabulkan nya." Viola dengan senyum lebar nya langsung menekan tombol yang ada di alat komunikasi tersebut.
"Dengan saya Viola, dimana kalian semua berada?" Viola yang tidak tau harus memulai nya dari mana. Viola pun ngomong dengan yang dia bisa saja.
Pak Dadang yang mendengar suara nyonya muda nya dari alat walkie talkie milik nya dengan sigap menjawab pertanyaan nyonya muda nya itu.
"Iya nyonya muda, saya ada di belakang kediaman nyonya." Jawab pak Dadang pada Viola.
"Pak Dadang? Mengapa semua orang tidak ada di dalam kediaman?" Viola langsung menekan tombol alat komunikasi itu.
"Nyonya muda, semua orang berada di taman belakang." Pak Dadang yang menerima pesan dari nyonya muda nya langsung menjawab nya.
"Baiklah pak, dimana suami saya?" tanya Viola lagi pada pak Dadang.
"Nyonya muda, tadi tuan ada di lantai 6. Mungkin sekarang tuan akan segera ke taman belakang nyonya." Jawab pak Dadang dengan sangat sopan.
"Mengapa suami saya harus ke belakang juga pak?" tanya Viola lagi pada pak Dadang.
"Nyonya muda, soal itu nyonya bisa tanyakan saja pada tuan." Balas pak Dadang pada Viola.
"Baiklah pak, saya juga akan kebelakang sekarang." Kesal Viola ketika ia tidak mendapatkan jawaban yang ia inginkan.
"Sebaiknya anda tetap di lantai bawah nyonya muda, karna tuan akan menjemput nyonya di lantai bawah dan membawa nyonya ke sini." Pak Dadang hanya bisa menghela nafas nya dengan lembut.
"Mengapa saya harus pergi bersamanya pak?" Viola yang bingung dengan jawaban pak Dadang langsung menautkan kedua alisnya.
"Itu perintah tuan nyonya." Balas pak Dadang lagi.
__ADS_1
"Lagi-lagi perintah si singa itu! Ah yasudah lah pak saya mengerti." Viola pun meletakkan kembali alat tersebut dan duduk dengan wajah yang di tekuk.
"Mengapa aku yang harus menunggu nya? Jelas-jelas dia sekarang sedang marah padaku! Tapi, dia masih bisa menyuruh ku untuk pergi bersama nya." Viola terus saja mengoceh tidak jelas seperti orang gila. Apalagi dalam keadaan rambut yang berantakan dan baju yang kusut karna dia belum sempat membersikan dirinya terlebih dahulu sebelum turun kebawah.
Tidak menunggu waktu yang lama Darren keluar dari lift pribadinya dan melihat kearah istri kecil nya itu. Dengan senyum di bibir Darren ketika melihat keadaan Viola yang berantakan dan mengomel sendiri.
"Istriku! Ada apa dengan mu?" Panggil Darren dari arah belakang Viola.
"Darren!! Mengapa kau ada di belakang ku?" Viola yang terkejut mendengar suara Darren langsung membalikkan tubuhnya kearah Darren.
"Istri ku! Mengapa kau bertanya seperti itu? Tentu saja aku boleh berada dimana pun, karna ini adalah kediaman ku!" ujar Darren dan menyentil hidung istri nya itu.
"Aww ... Sakit tau!" Viola yang di sentil oleh suaminya itu dengan segera Viola mengelus hidung nya.
"Sorry," ujar Darren pada Viola.
"Darren kau sedang meminta maaf pada ku? Apa aku lagi bermimpi ya?" Viola yang heran mendengar ucapan dari Darren, ia pun mencubit dirinya sendiri.
"Aww..!" Ringis Viola pada diri nya.
"Bagaimana? Sakit tidak?" Darren merasa geli melihat kekonyolan istri nya itu.
"Tentu saja sakit!" Sungut Viola pada Darren.
"Yasudah kita kebelakang sekarang! Semua orang sedang menunggu mu disana." Darren pun menggenggam tangan Viola.
"Mengapa mereka menunggu ku?" tanya Viola dengan heran.
"Nanti kau juga akan segera tau." ujar Darren dengan suara datar nya.
Darren hanya diam saja, dan terus menggenggam tangan Viola. Mereka berdua terus berjalan kearah belakang kediaman. Tidak menunggu waktu yang lama kini Darren dan Viola sudah berada di halaman belakang.
"Dimana mereka?" Tanya Viola pada Darren.
"Mereka ada di taman, dan kita harus berjalan sedikit lagi untuk tepat berada di taman nya." ujar Darren pada Viola dengan lembut.
"Darren aku lelah! Dari tadi aku sudah berjalan ke sana kemari untuk mencari mu." Viola yang di ajak berjalan lagi oleh Darren dengan segera Viola menolak ajakan suaminya itu.
"Istri ku! Bagaimana luka mu?" Darren yang melihat wajah istri nya itu pucat lagi langsung melihat ke pergelangan tangan Viola.
"Luka ku masih terasa sakit Darren, kadang aku juga merasa sangat pusing." Entah kenapa Viola merasa senang melihat kekhawatiran suaminya itu.
"Mengapa kau tidak bilang pada ku jika luka mu masih sakit?" Darren menatap tajam kearah istrinya itu.
"Aku tidak ingin kau khawatir." Viola yang melihat tatapan Darren seperti itu merasa takut.
"Viola Talisa! Apapun menyangkut tentang mu, kau harus memberitahu ku! Jika tidak kau akan tau apa akibat nya!!" Tegas Darren pada Viola.
"Maaf," Viola menundukkan kepalanya dengan takut.
"Ya sudah! Kau jangan takut seperti itu. Aku hanya merasa khawatir pada mu." Darren mengelus kepala Viola dan merangkul Viola.
__ADS_1
"Kau tidak marah padaku?" Tanya Viola dengan mata nya yang berbinar.
"Aku tidak pernah marah pada mu!" ujar Darren dengan mengelus pipi istri nya itu.
"Darren! Apa yang kau lakukan? Turunkan aku sekarang!" Viola yang terkejut ketika suaminya mengendong nya itu langsung memukuli bahu Darren dengan pelan.
"Diam lah! Bukan nya tadi kau bilang lelah? Sekarang aku akan mengurangi rasa lelah mu!!" Darren pun melangkahkan kakinya menuju ke arah taman belakang.
"Darren aku malu! Bagaimana jika semua orang melihat ku seperti ini?" Viola langsung membenamkan wajah nya di bidang dada Darren.
"Istri ku! Kau itu masih tetap cantik walaupun kau belum mandi." Darren hanya tersenyum tipis dan terus berjalan.
"Bukan itu maksud ku! Darren kau mengendong ku seperti ini, aku akan malu jika orang melihat ku di gendong oleh mu." ketus Viola pada suaminya.
"Istriku, mengapa kau harus malu? Kau itu istri ku! jadi hal seperti ini sangat wajar jika terjadi." Darren tidak memperdulikan ucapan Viola dan terus berjalan.
"Darren turun kan aku!" Viola terus saja memukul bidang dada suaminya. Namun Darren tidak bergeming sedikit pun. Bagi Darren pukulan Viola hanya lah sebuah pijitan untuknya.
Tidak menunggu waktu yang lama mereka berdua tiba di taman belakang. Suasana kembali hening begitu melihat tuan dan nyonya muda nya itu datang.
"Welcome, young master and young madam!" Sapa mereka semua pada tuan dan juga nyonya nya dengan hormat. Pak Dadang yang berada di barisan paling depan hanya tersenyum saja melihat nyonya nya itu masih bersembunyi di bidang dada tuan nya.
"Istriku, kita sudah sampai! Apa kau tidak ingin turun?" Darren yang merasa Viola masih memeluk nya dengan erat merasa senang.
"Darren aku malu!" Bisik Viola pada Darren dengan wajah yang masih menunduk.
"Kau tidak perlu malu! Mereka semua saja tidak berani menatap kearah kita. Jadi untuk apa kau malu." Darren pun menurunkan Viola dengan perlahan.
"Apa aku terlalu jelek? Makanya mereka terus menunduk?" Viola yang masih berhadapan dengan suaminya. Dia masih tidak berani menatap kearah pelayan nya dan yang lainnya.
"Kau tidak jelek, kau itu sangat cantik! Jadi, aku tidak rela jika orang lain melihat kecantikan mu itu. Hanya aku! Hanya aku saja yang boleh melihat kecantikan mu." Darren pun mengusap pipi Viola dengan sangat lembut. "Sekarang berbalik lah!" Darren membalikkan tubuh Viola kearah taman dengan sangat lembut.
Ketika Viola sudah berbalik badan, Viola langsung terbelalak kaget melihat apa yang ada di hadapannya sekarang.
"Darren siapa yang membuat semua ini?" Viola berjalan ke arah depan menatap ke seluruh taman yang sangat indah yang sudah di penuhi dengan segala macam bunga yang sudah di hias oleh pelayan.
"Tentu saja aku yang membuat nya." Darren hanya tersenyum saja melihat tingkah kagum istri nya itu.
"Benarkah?" Viola langsung senang mendengar ucapan Darren padanya. Dia merasa bahwa pria yang dingin itu ternyata bisa romantis juga. Ketika Viola melihat keseluruhan taman, mata Viola langsung terhenti pada tulisan yang sudah ada di karangan bunga. "Selamat datang kembali istri ku,"
Dengan seketika air mata Viola pun menetes melihat tulisan yang ada di papan bunga. Entah mengapa kata-kata itu membuat air mata nya mengalir dengan derasnya.
"Hey! Siapa yang mengusik mu? Mengapa kau menangis istri ku?" Darren yang terkejut melihat Viola menangis, ia pun menghampiri Viola dan menghapus air mata nya.
"Terimakasih Darren, aku tidak sangka kau akan menyambut ku dengan cara yang hangat seperti ini!" Viola langsung memeluk Darren dengan sangat kuat nya.
"Kau tidak perlu berterima kasih istri ku! Semenjak kau pergi tidak ada lagi orang yang akan ku kerjai. Jadi ketika kau kembali maka aku akan mulai mengerjai mu di hari ini juga." Darren pun tersenyum tipis menatap wajah Viola yang sudah berubah seperti itu.
"Darren! Kau itu keterlaluan sekali." Kesal Viola pada Darren.
Sementara yang lain masih tertunduk dan menahan senyum mereka masing-masing melihat kelakuan tuan dan juga nyonya muda mereka.
__ADS_1
^^^Bersambung...^^^
...****************...