
Saat ini Darren sudah selesai mengerjakan pekerjaannya. Sudah 4 jam lebih Darren melihat ke arah laptop nya itu sehingga membuat mata nya sedikit perih.
"Darren kau belum tidur?" Tiba-tiba saja Viola terbangun dari tidur nya dan melihat kearah jam nya yang sudah menunjukkan pukul 23.00 wib.
"Istriku kenapa kau bangun?" Darren langsung menutup laptop nya dan segera menghampiri Viola.
"Darren kenapa kau mencium kening ku?" Viola yang melihat Darren mencium kening nya merasa bingung.
"Aku hanya memastikan apa kau demam atau tidak." Jawab Darren dengan suara dingin nya.
Viola menatap lekat wajah suaminya itu. Darren terlihat dingin pada nya saat ini. Membuat Viola sedikit bingung.
"Darren ada apa?" Tanya Viola dengan penuh penyelidikan nya.
"Tidak apa-apa." Jawab Darren.
"Kau terlihat aneh saat ini." Viola menautkan kedua alis nya menatap ke arah Darren.
"Aku tidak apa-apa istri ku," Darren tersenyum pada Viola.
"Darren kau sudah makan belum?" Viola berusaha mencari topik pembicaraan diantara dirinya dan juga Darren.
"Belum," jawab Darren singkat.
"Yaampun! Ternyata suamiku ini belum makan sejak tadi." Viola langsung bersemangat bangkit dari tidurnya itu.
"Karna seharian ini suamiku mengurus diriku dengan sangat baik. Maka, ijinkanlah istri cantik mu ini melayani dirimu suamiku. Aku akan membuat makanan yang spesial untuk mu sekarang juga." Viola tersenyum dan berdiri tegak dihadapan Darren membuat Darren langsung tersenyum melihat tingkah Viola.
"Istriku jika kau ingin melayani diriku. maka kau tidak perlu repot-repot untuk membuatkan makanan untuk ku. Cukup siap kan tubuh mu itu dan kita bertempur di atas ranjang ini." Darren tersenyum kecil menatap wajah Viola yang seketika menciut.
"Darren aku serius! Kenapa kau selalu berpikiran mesum sih." Ketus Viola saat melihat wajah suaminya yang terlihat mengerikan.
"Aku itu normal istriku! Tentu saja aku akan terus berpikiran seperti itu jika berhadapan dengan orang yang sudah berhak untuk ku sentuh." Darren semakin menyunggingkan senyumnya itu.
"Aku tidak mau," Viola membuang wajah nya ke sembarangan arah.
"Tapi, aku menginginkan nya!" Bisik Darren di telinga Viola membuat Viola sedikit bergidik.
"Darren, sudah cukup bercanda nya! Aku akan membuat kan mu makanan dulu." Viola hendak meninggalkan Darren sendirian dikamar. Namun dengan sangat sigap nya Darren menarik tangan Viola sehingga mereka sangat dekat tanpa jarak sedikit pun.
"Urusan makanan sudah ada yang mengaturnya! Namun, jika masalah urusan ranjang hanya bisa kau dan juga aku yang mengaturnya." Darren langsung mendorong tubuh Viola kembali kearah rajang. Sehingga posisi saat ini Viola berada di bawah Kungkungan Darren.
"Darren, kau kan sudah lelah karna bekerja seharian. Jadi bisa tidak urusan saat ini di undur dulu?" Viola berusaha bernegosiasi pada Darren.
"Mana bisa urusan yang mendesak di tunda dulu." Darren yang mendengar ucapan Viola sedikit merasa kesal.
__ADS_1
Dengan sangat cepat nya Darren ******* bibir Viola secara lembut. Viola berusaha melepaskan ciuman mereka namun, Darren terus memperdalam ciuman nya itu. Tangan Darren sudah beralih kebagian lain nya agar Viola tidak terlalu berusaha melepaskan ciuman mereka.
Emphh!!
Viola benar-benar sudah kehabisan nafas ia langsung menolak Darren dengan sangat kuat sehingga membuat Darren sangat terkejut.
"Viola! Kau mendorong ku?" Tanya Darren dengan intonasi tinggi nya.
"Tentu saja aku mendorong mu! Jika kau saja tidak membiarkan ku untuk bernafas." Kesal Viola pada Darren.
"What's!! Untuk bernafas dalam ciuman saja kau tidak tau? Apa perlu aku mengajari mu bagaimana cara nya mengambil nafas dalam ciuman!" Darren tidak habis pikir dengan istri nya itu. Tidak hanya sekali atau 2 kali saja mereka berciuman. namun, sampai sekarang istri nya itu tidak juga paham bagaimana cara nya bernafas dalam ciuman.
"Darren kau lupa ya? Aku hanya melakukan ciuman ini dengan mu saja. Jadi mana mungkin aku paham tentang semua itu." Viola merasa sedih mendengar ucapan Darren padanya.
"Istriku kau tersinggung dengan ucapan ku tadi?" Darren yang melihat raut wajah Viola berubah merasa tidak enak hati.
"Tidak! Untuk apa aku tersinggung dengan mu. Kau berhak mengatakan sesuka hati mu pada ku." Viola langsung menggeser kan tubuh nya menjauh dari Darren.
"Maaf kan aku sayang. Aku tidak bermaksud menyinggung mu." Darren berusaha membujuk Viola yang sedang ngambek itu.
"Aku ingin istirahat! Aku lelah." Viola menyingkirkan tangan Darren yang hendak memeluk tubuh nya.
"Sayang," bisik Darren pada Viola.
"Darren aku benar-benar le-"
Deg!
Jantung Viola terasa berdebar dengan sangat cepat saat mendengar ucapan dari Darren. Bagaimana kata-kata seperti itu terlontar dengan sangat mudah nya keluar dari bibir seorang Darren Abraham Khan.
"Istriku kenapa kau diam?" Darren yang tidak mendapatkan jawaban dari Viola langsung menatap wajah gadis itu dengan sangat lekat.
"Darren menyingkir lah dari hadapan ku! Setelah kau membuat ku kesal dan sekarang kau malah membuat ku terkejut dengan ucapan mu itu." Ketus Viola. Viola berusaha mendorong tubuh pria yang ada di hadapannya itu. Namun, usaha nya hanya lah sia-sia saja.
"Istriku jika kau merasa sudah ada seseorang di dalam sini. Maka cepat lah beritahukan pada ku! Kau tau istriku? Sejujurnya aku lebih menginginkan nya dari pada dirimu." Bisik Darren kembali saat Viola membelakangi dirinya. Darren memeluk Viola dari arah belakang dengan sangat erat nya.
"Jika aku memang benar-benar sedang mengandung anak mu. Apakah kau akan menyatakan perasaan mu pada ku?" Tanya Viola dengan suara pelannya.
"Darren??" Panggil Viola saat ia tidak mendengar lagi suara pria yang sejak tadi selalu membuat dirinya kesal.
"Darren!" Kesal Viola pada Darren tanpa membalikkan tubuh nya itu karna posisi nya Darren masih memeluk tubuh Viola sehingga membuat Viola sedikit susah bergerak.
"Darren aku sedang berbicara pada mu! Bisa tidak kau menjawab perkataan ku walaupun hanya sebuah satu kata saja." Viola terus saja mengajak Darren berbicara. Namun, Darren tetap saja tidak menjawab nya sehingga membuat Viola benar-benar sudah kehabisan kesabaran nya.
"Darren kau--" Viola membalikkan tubuh nya dengan kasar.
__ADS_1
"Kau sudah tertidur?" Tanya Viola dengan menatap wajah tampan suaminya yang sedang tertidur itu
"Kau benar-benar terlihat sangat hangat saat tertidur." Viola tersenyum menatap wajah pria yang berstatus sebagai suami nya itu.
Viola yang tersadar akan sesuatu langsung mengambil ponsel nya yang ada di meja samping nya itu.
"Apa!!" Mata Viola langsung membulat saat ia melihat kalender yang ada di handphone nya.
Viola langsung turun dari tempat tidur nya dan dengan sangat perlahan meletakkan tangan Darren di atas bantal guling. Setelah lepas dari pelukan suaminya yang sudah tertidur itu Viola pun segera berlari kearah kamar mandi nya.
"Viola! Kau sudah telat datang bulan. Mengapa kau tidak menyadari nya sih!" Viola menutup mulut nya saat ia menyadari sudah 1 bulan ia tidak dapat haid.
"Apa jangan-jangan--" Viola semakin tidak berani membayangkan nya.
"Viola .. Viola! Tenangkan dirimu." Viola menggelap keringat nya yang sejak tadi sudah keluar.
"Aku harus memastikan nya terlebih dahulu sebelum aku berharap lebih." Viola langsung menghubungi seseorang dari ponsel nya itu.
Butuh waktu yang cukup lama sampai panggilan Viola tersambung oleh orang yang hendak ia hubungi itu. Dengan menarik nafas dan menghela nafas nya Viola berusaha berbicara dengan hati yang tenang.
"Selamat malam dokter Andhika! Maaf sudah menganggu mu di jam seperti ini." Viola berbicara dengan intonasi yang sangat lembut.
"Iya tidak apa-apa nyonya muda," jawab Andhika dengan suara profesional nya. Ia memanggil Viola dengan nyonya muda bukan karna takut oleh Darren. Namun, Andhika memanggil seperti itu karna ia sadar ia adalah dokter pribadi di keluarga Khan yang dimana ia harus menghormati seluruh keluarga Khan.
"Dokter Andhika saya ingin konsultasi besok dengan anda! Apakah besok jadwal anda kosong?" Tanya Viola dengan suara yang sangat tenang.
"Nyonya muda baik-baik saja bukan? Dimana tuan muda nyonya?" Andhika yang mendengar ucapan dari Viola sedikit terkejut. Karna tidak biasa nya seorang istri dari pria yang dingin itu mau menghubungi dirinya. Apalagi soal tentang kesehatan yang dimana paling tidak disukai oleh Viola. Karna tingkah suaminya yang terlalu posesif itu dan sering bertengkar dengan dokter Andhika.
"Saya baik-baik saja! Saya cuma ingin memastikan satu hal saja. Saya mohon dokter Andhika jangan memberitahu kan hal ini dulu pada suami saya ya." Viola tidak mau Darren mengetahui sesuatu yang ia sendiri masih meragukan nya.
"Baiklah jika seperti itu nyonya muda. Besok seperti nya jadwal saya kosong. Jika nyonya ingin ke rumah sakit saya maka dengan pintu yang terbuka lebar saya mempersilahkan nyonya muda untuk datang." Ujar Andhika dengan tersenyum.
"Baiklah besok saya akan kerumah sakit anda saat suami saya sudah berangkat kerja!" Jawab Viola dengan suara yang sangat ramah.
"Kalau begitu terimakasih atas waktu nya dokter Andhika. Maaf sudah menganggu jam istirahat Anda. Selamat malam!" Karna tidak ada lagi yang ingin Viola tanyakan. Viola memilih untuk mengakhiri panggilan nya itu.
"Selamat malam juga nyonya muda," setelah mendapatkan jawaban dari Andhika Viola pun memutuskan panggilan nya itu.
Viola menghela nafas nya dengan lega dan keluar dari kamar mandi nya. Viola berjalan mendekat kearah suaminya itu yang sudah tertidur dengan sangat lelap. Viola kembali merebahkan tubuh nya di samping Darren dan menatap wajah lekat suaminya.
"Jika aku sedang mengandung anak mu! Mungkin kau lah orang yang paling bahagia seperti yang kau katakan pada ku sebelum nya." Viola tersenyum yang tanpa sadar air mata nya menetes.
Dengan sangat lembut Viola memeluk erat tubuh Darren dan memejamkan mata nya itu. Ia pun tertidur bersama Darren.
^^^Bersambung...^^^
__ADS_1
...****************...