
Keesokan hari nya..
Pagi yang sangat cerah diawali dengan senyuman seorang wanita yang tampak sejak tadi masih memandangi wajah pria yang ada di samping nya.
Di tatap wajah pria itu dengan sangat intens. Setelah malam panas yang mereka lakukan wanita tersebut langsung tertawa kecil mengingat kembali adegan ranjang mereka.
"Apakah aku terlihat lucu dimata mu istri ku?" Darren langsung membuka matanya menatap kearah Viola.
"Da-darren kau sudah bangun?" Viola yang terkejut menjadi salah tingkah.
"Aku sudah bangun sebelum kau bangun sayang," Darren hanya tersenyum tipis saja menatap kearah Viola.
"Lalu kenapa kau tidak bilang kalau kau sudah bangun?" Viola menatap kearah Darren dengan tatapan tajam nya.
"Itu karna aku tau! kau pasti akan selalu menatap kearah ku terlebih dahulu sebelum pergi ke kamar mandi." Darren menyentuh hidung Viola dengan geram.
"Darren kau menyebalkan." Ketua Viola pada Darren.
"Istriku bukan kah kau ingin jalan-jalan bersama ku? Jika kau ingin waktu jalan-jalan kita tidak terbuang karna kau merajuk pada ku. Lebih baik bersihkan dulu dirimu yang sudah lengket ini." Darren menahan tawa nya saja melihat wajah Viola yang memerah.
"Tubuh ku lengket juga karna ulah mu!" Gerutu Viola pada Darren.
"Baiklah karna kau bilang ini salah ku! Maka, biarkan aku saja yang membersihkan tubuh mu ini." Darren hendak merangkul Viola. Namun, Viola dengan sangat cepat nya turun dari ranjang mereka.
"Tidak perlu aku bisa sendiri!" Viola langsung berlari menuju kearah kamar mandi mereka dan mengunci pintu kamar mandi tersebut. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana mereka akan mengulangi adegan panas yang terjadi semalam di dalam bathtub.
"Aku menunggu mu sayang!" Teriak Darren dari arah luar kamar mandi Viola.
Viola yang mendengar ucapan Darren semakin merasa panas pada wajah nya itu. Ia sendiri tidak tau sejak kapan wajah nya mudah sekali terasa panas.
...✨✨...
Caza domain luxury apartment.
Kini sudah ada wanita yang sibuk memilih pakaian yang akan ia kenakan hari ini. Ia sangat serius saat memilih pakaian tersebut. Sudah banyak pakaian yang ia coba namun masih belum ada yang cocok juga.
"Hari ini kak Darren libur. Aku harus terlihat cantik walaupun dengan pakaian yang sederhana." Ujar Vaya pada dirinya sendiri.
"Kak Darren, aku akan tetap berjuang untuk mendapatkan mu kembali. Sampai kau sendiri yang menolak ku atau menerima ku kembali." Vaya terdiam untuk sesaat menatap kearah dirinya.
"Apakah aku terlihat tua? Usia ku dengan nya tidak berbeda jauh. Tapi mengapa kak Darren tidak menatap kearah ku sama sekali." Vaya langsung duduk kembali di sofa milik nya.
"Seandainya aku tidak melakukan hal bodoh 2 tahun lalu, mungkin kak Darren saat ini sudah menjadi suamiku!" Tanpa terasa air mata Vaya mengalir di pipi indah nya.
Vaya menghapus air matanya dan berusaha untuk tetap tegar. Ia bukan tipe wanita yang mudah untuk menyerah. Vaya akan menyerah jika orang yang ia usahakan tidak mau di perjuangkan.
...🐣🐣...
Sementara Bobby memilih untuk lari santai di hari weekend nya. Ia ingin tenang dan merilekskan tubuh dan juga pikiran nya itu dari urusan kerjaan maupun pribadi.
"Aku ingin tenang untuk sesaat!" Bobby menghela nafas nya dengan sangat panjang. Ia duduk di kursi panjang yang ada di taman kota.
"Tuan Bobby," panggil seseorang dari arah belakang. Bobby yang mendengar panggilan tersebut langsung menatap kearah suara yang memanggil nya.
"Nona Shelly? Sedang apa anda disini?" Bobby cukup terkejut melihat siapa yang memanggil namanya itu.
"Aku ingin lari santai untuk sesaat. Karna, biasa nya aku hanya bekerja dan juga tidur. Jadi tubuh ku ini membutuhkan olahraga untuk menyegarkan nya kembali." Terang Shelly pada Bobby. Ia langsung duduk di samping Bobby.
"Emh, begitu ya." Bobby hanya menatap sekilas lalu ia beralih menatap kearah pemandangan yang ada di depannya.
"Tuan Bobby sendiri sedang apa disini?" Tanya Shelly pada Bobby.
__ADS_1
"Aku sama seperti mu hanya lari santai saja." Jawab Bobby dengan datar.
"Kau tau tuan? Udara di sini tidak lah sesejuk dengan udara yang ada di pengunungan." Shelly memejamkan matanya. Merasakan angin yang menyentuh kewajah nya dan sesekali Shelly menghembuskan nafas nya itu dengan pelan.
"Kau terlihat cantik," Bobby menatap kearah Shelly yang masih memejamkan matanya dengan suara yang pelan.
"Anda mengatakan sesuatu?" Shelly membuka matanya lalu menatap kearah Bobby yang masih menatap kearah nya.
"Aku mengatakan kalau yang kau katakan itu benar." Elak Bobby lalu mengalihkan pandangannya kembali.
"Tentu saja benar! Oh iya kenapa kau tidak bekerja hari ini?" Shelly berusaha mencari topik pembicaraan diantara mereka.
Jujur saja Shelly sangat bosan jika harus lari santai sendirian. Kalau tidak memikirkan kesehatan nya. Ia pun enggan untuk lari santai hari ini.
"Ini weekend nona Shelly," jawab Bobby dengan menggelengkan kepalanya.
"Iya aku tau itu. Tapi seingat aku perusahaan dari suami sahabat ku itu terkenal sebagai pekerjaan secara gila-gilaan! Yang tidak pernah kenal lelah dan terus bekerja." Shelly merasa geram jika mengingat kembali bagaimana Darren melarang sahabat nya untuk bertemu dengan nya. Hanya karna alasan demi menjaga keamanan dan agar kejadian yang lalu tidak terulang kembali.
"Perusahaan drn.khan itu, jika sudah saat nya untuk libur, maka kami akan libur! Jika sudah saat nya untuk bekerja, maka kami harus bekerja dengan keras supaya hasil nya tidak mengecewakan." Ujar Bobby pada Shelly.
"Baiklah anggap saja kau benar hari ini." Shelly yang tidak ingin berdebat hanya tersenyum tipis dan menatap kearah pemandangan yang ada di depan.
Bobby yang tidak mendengar Shelly bersuara kembali. ia pun menatap kearah Shelly yang masih menikmati keindahan alam yang ada di hadapannya itu.
"Nona Shelly boleh aku bertanya?" Tanya Bobby pada Shelly.
"Tentu saja boleh," jawab Shelly tanpa menatap kearah Bobby.
"Sudah berapa lama anda berteman dengan nyonya muda?" Bobby menatap Shelly sekilas.
"Sejak kecil! dulu Viola terkenal gadis yang sangat periang dan juga baik. Ia tidak pernah mengeluh atas apa yang terjadi dalam kehidupan nya. Dulu hidup mereka sangat bahagia. Namun, karna kedua orang tua nya sudah meninggal. Membuat senyuman yang dulu sering terukir di wajah Viola menjadi memudar. Untuk sesaat aku merasa sedih! bagaimana bisa sahabat ku mengalami semua ini. Tapi, aku sadar jika sahabat ku sedang bersedih yang harus aku lakukan adalah menyemangati nya dan membuat nya kembali tersenyum. Bukan ikut bersamanya untuk beralut-larut dalam kesedihannya." Shelly kembali mengingat bagaimana hancur nya gadis kecil yang ia lihat waktu itu.
"Kau sudah melakukan yang terbaik kok." Bobby mengusap belakang Shelly saat melihat gadis yang tadi ceria langsung berwajah sedih.
Mereka saling menatap satu sama lain dalam waktu yang cukup lama sampai mereka sendiri memutuskan untuk berpisah karna ada urusan masing-masing.
Sementara di seberang sana sudah ada seorang pria yang menatap intens kearah wanita yang sejak tadi ia ikuti dan ia perhatikan.
"Siapa pria itu?" Tanya lelaki yang sejak tadi hanya diam saja pada asisten nya.
"Dia sekretaris dari seorang miliarder dunia itu Mr." Jawab nya pada atasannya.
"Jauhi dia dari wanita ku! Aku tidak ingin ada orang yang menyentuh wanita yang sudah aku inginkan." Perintah pria tersebut pada bawahannya.
"Baik Mr." Asisten nya pun mengangguk kepalanya pada atasan nya.
... 🐣🐣...
Kediaman two drn.khan
Darren menatap kearah wanita yang sejak tadi sibuk memilih pakaian nya sendiri dan terus saja menatap kearah cermin. Sehingga ia terus saja di cuekin oleh wanita nya sendiri.
"Kau sudah cantik istri ku! Apapun yang kau kenakan akan terlihat bagus di tubuh mu." Darren menghela nafas nya menatap kearah Viola yang tidak selesai juga memilih pakaian nya.
"Aku ingin terlihat berbeda di kencan pertama kita." Ujar Viola pada Darren dan terus memilih pakaian nya.
"Apapun yang kau kenakan. Kau tetap terlihat cantik di mata ku! Yang aku inginkan hanya bersama mu. Jadi kau tida perlu terlalu memusingkan soal pakaian." Bisik Darren di telinga Viola. Membuat Viola sedikit geli.
"Darren, jangan menggoda ku." Viola menggeliatkan tubuhnya itu.
"Aku tidak menggoda mu." Darren hanya tersenyum kecil lalu mengigit leher Viola.
__ADS_1
"Darren," kesal Viola pada suaminya saat ia merasakan ada sesuatu di leher nya.
"Maaf sayang," Darren tertawa kecil saat melihat gigitan nya berwana merah.
"Kau lihat ini jadi merah!" Gerutu Viola pada Darren.
"Tapi, ini terlihat sangat indah di mata ku." Darren tersenyum pada Viola.
"Iya terlihat indah di mata mu dan terlihat konyol di mata orang lain." Ketus Viola pada suaminya itu.
"Viola Talisa!" Darren menatap kearah istri nya dengan sangat intens.
"Da-darren maafkan aku," Viola langsung menunduk kan kepalanya itu saat mendengar suara suaminya yang sudah meninggi.
"Aku tidak suka kau berkata seperti itu! Dengar baik-baik. Tidak ada satu pun orang yang boleh menganggap istri ku terlihat konyol." Tegas Darren pada Viola.
"Iya aku salah Darren aku minta maaf," Viola tidak berani menatap wajah Darren.
"Kau tau sayang? Hanya aku yang boleh menilai mu. Jika aku bilang kau sangat cantik, maka orang lain harus menganggap mu cantik. Jika aku bilang kau terlihat indah, maka orang lain harus berpikiran yang sama dengan ku. Aku tidak suka jika ada orang yang menjelekkan mu di depan ku! Maka orang itu akan ku pastikan hancur dalam hitungan detik saja." Darren membelai rambut Viola dengan sangat lembut.
"Darren maafkan aku ya," ujar Viola pada Darren.
"Tidak apa-apa! Lain kali kau tidak boleh berkata seperti itu." Darren mencubit hidung Viola dengan gemas.
"Baik tuan muda," Viola membalas ucapan darren dengan senyuman di wajah nya.
"Kau itu!" Darren menggelengkan kepalanya lalu mengambil baju yang menurut nya cocok untuk Viola kenakan. "Pakai yang ini saja!"
"Baiklah aku akan memakai pilihan dari suamiku ini," Viola mengambil pakaian tersebut lalu memakai nya.
Darren yang melihat kearah Viola langsung tersenyum ketika Viola mengenakan dress berwarna putih dan corak yang simpel membuat gadis itu terlihat feminim namun tetap terlihat sangat anggun.
"Kau sangat cantik sayang," Darren terus saja menatap kearah Viola.
"Benarkah?" Viola memutar kan tubuh nya itu menatap kearah cermin.
"Tentu saja benar!" Darren langsung memeluk Viola dari arah belakang.
"Darren ada apa?" Viola terkejut saat pria yang tadi berdiri di belakang nya langsung memeluk tubuh nya itu.
"Aku tidak ingin pergi hari ini, tapi aku ingin menyantap mu karna sudah membuat sesuatu di bawah sana menjadi bangun karna ulah mu." Bisik Darren pada Viola. membuat Viola tertegun sejenak.
"Darren, kau itu!" Viola berusaha melepaskan pelukan suaminya.
"Kencan nya kita tunda saja ya," seringai tipis mulai terukir di wajah Darren.
"Jangan coba-coba ya! Kau sudah janji padaku hari ini." Viola langsung berwajah kesal mendengar ucapan Darren.
"Hahaha baiklah istriku! Kita bisa melanjutkan nya nanti malam." Darren merasa geli saat wajah istrinya itu terlihat sedang kesal.
"Kau sudah siap Darren?" Viola menatap kearah suaminya yang masih menggunakan baju informal nya itu.
"Aku tidak perlu bersiap sayang! Apapun yang aku kenakan. Aku akan tetap terlihat sangat tampan." Ujar Darren pada Viola.
"Ih percaya diri sekali suami ku ini." Viola hanya tertawa kecil saja melihat kelakuan Darren.
"Yasudah kita berangkat sekarang." Darren mengulurkan tangan nya pada Viola. Dan dengan sangat cepat nya Viola pun menerima uluran tangan Darren.
Akhirnya mereka berdua pun keluar dari kamar mereka dengan bergandengan tangan menuju kearah lift pribadi mereka. Saat sudah tiba dibawah mereka menuju kearah mobil mereka yang sejak tadi sudah ada supir pribadi Darren yang menunggu kedatangan tuan dan juga nyonya mereka.
^^^Bersambung...^^^
__ADS_1
...****************...