
Ruang kerja Darren..
Setelah Viola tertidur pulas, Darren pun meninggalkan Viola di kamar mereka dan kembali ke ruang kerja nya. Banyak tugas sudah menumpuk yang memang harus Darren sendiri yang menangani nya. Sementara Bobby sibuk mengurus masalah pekerjaan yang ada di perusahaan dan tugas penting lain nya yang di perintahkan oleh tuan sekaligus sahabat nya itu.
Tara yang sudah berada di depan pintu ruang kerja kakak ipar nya dengan sangat ragu dia memasuki ruangan tersebut. Dengan perasaan campur aduk membuat Tara sudah panas dingin sebelum menghadapi kakak ipar nya itu.
"Tok tok tok," Tara mengetuk pintu ruang kerja Darren dengan tangan yang sudah gemetar.
"Masuk lah!" Perintah Darren ketika mendengar ada yang mengetuk pintu ruang kerja nya.
"Kakak ipar," panggil Tara dengan senyum kaku nya ketika melihat wajah kakak ipar nya itu yang sangat fokus pada layar yang ada di hadapannya.
"Duduk lah!" Darren pun memerintahkan adik ipar nya itu untuk duduk di hadapan nya.
"Baik kakak ipar," Tara berjalan ke hadapan kakak ipar nya dan duduk tepat di hadapan kakak ipar nya.
"Berapa nilai mu di sekolah?" tanya Darren tanpa menatap kearah adik ipar nya.
"641,253 atau 91, 68 kakak ipar, aku juara umum di sekolah dan peringkat pertama di seluruh provinsi kakak ipar." Jawab Tara dengan suara gemetar nya.
"Ternyata kau pintar juga!" Darren tersenyum tipis dan juga bangga mendengar nilai adik ipar nya itu. Ya walaupun masih jauh di bandingkan dengan dirinya.
"Apa cita-cita mu?" Timpal Darren lagi, yang membuat Tara semakin terkejut.
"A-aku ingin menjadi seorang hakim kakak ipar." Tara semakin gugup menjawab pertanyaan kakak ipar nya.
"Hakim? Mengapa kau ingin menjadi hakim?" Darren yang terus saja bertanya tanpa henti membuat Tara sedikit risih.
"Kakak ipar apa-apaan sih! Ini kan cita-cita ku mengapa kakak ipar bertanya alasan ku." Kesal Tara di dalam hatinya.
"Jangan mengatai ku di dalam hati mu!" Darren yang tau di balik mata adik ipar nya itu dia pun menghentikan kegiatan nya.
"A-apa! kakak ipar bisa mengetahui apa yang aku pikir kan?" Tara yang terkejut dengan polos nya bertanya pada Darren.
"Kau itu sama seperti kakak mu." Darren hanya bisa bersabar saja menghadapi 2 wanita yang ada di kediaman nya tersebut.
"Iya sorry kakak ipar," Tara merasa kakak ipar nya yang sudah sedikit kesal padanya, ia langsung menundukkan kepalanya dan meminta maaf.
"No problem, jadi apa alasan mu?" Darren tidak ingin adik ipar nya merasa takut, ia bertanya dengan sangat lembut pada Tara.
"Karena, aku ingin membuat negara ini memiliki keadilan yang sebenarnya. Aku tidak ingin negara ini jadi buta kakak ipar! Hanya karna uang mereka semua yang sekarang duduk di posisi yang tertinggi selalu menyepelekan segala sesuatu yang rendah dan selalu membayar orang lain untuk menutupi kesalahan yang mereka perbuat dengan uang! Aku ingin menegakkan kebenaran kakak ipar." tegas Tara dengan suara lantang nya, membuat Darren tersenyum tipis.
"Adik ipar, apa kau tau jika kau menjadi seorang hakim kau akan bertentangan dengan ku?" Darren menatap Tara dengan senyum sinis di wajah nya.
"Ma-maksud mu apa kakak ipar?" Tara sama sekali tidak tau apa arti dari kata-kata kakak ipar nya itu.
"Adik ipar aku ini seseorang yang sulit di sentuh oleh orang lain! Negara dan hukum? Aku sudah terbiasa bermain api dengan mereka. Jika kau menjadi seorang hakim dan menerima laporan yang menyangkut tentang ku. Apa yang akan kau lakukan?' kali ini suara Darren semakin terdengar serius oleh Tara.
"Kakak ipar, kau serius akan bermain-main dengan hukum?" Tara tidak menyangka sama sekali mendengar ucapan kakak iparnya.
"Tentu saja! Sudah berapa banyak aku bermain api dengan hukum dan negara ini?" Darren bangkit dari kursi kerja nya dan hanya berjalan ke depan sambil tersenyum.
"Mana ku tahu!" ketus Tara.
"Cih ... Kau itu memang persis seperti kakak mu! Kau tau adik ipar segala sesuatu orang yang paling tinggi lah yang selalu di hormati." Darren menarik nafasnya dan menghembuskan nya dengan pelan.
"Kakak ipar, boleh aku bertanya?" Tara menatap punggung kakak ipar nya. Karna, saat ini posisi kakak ipar nya itu sedang membelakangi dirinya.
"Silahkan," balas Darren dengan nada dingin nya.
"Kakak ipar, mengapa uang segala nya di mata manusia? Aku juga bingung kenapa orang yang tidak memiliki kedudukan yang tinggi selalu di pandang rendah? Dan satu hal lagi mengapa kakak ipar senang bermain dengan api? Aku tidak bisa jika harus melawan mu kakak ipar." Tara pun menundukkan kepalanya itu dengan nada lirih nya.
"Heh!" Hanya senyuman terukir di wajah Darren.
__ADS_1
"Kakak ipar mengapa kakak hanya tersenyum saja? Aku kan butuh jawaban." Tara yang mendengar hembusan nafas kakak ipar nya, ia mendongak kan kepalanya menatap kearah Darren yang terlihat tersenyum walaupun dari arah belakang. Darren memang membelakangi Tara, namun posisi samping Darren masih terlihat jelas oleh Tara
"Kau itu sama seperti kakak mu yang selalu saja bertanya." Darren pun berjalan kearah jendela di ruang kerja nya menatap kearah luar.
"Namanya juga adik kakak!" Ujar Tara dengan suara pelan nya.
"Verlin Tara!" Darren menatap tajam kearah Tara secara tiba-tiba membuat Tara terkejut dan ketakutan.
"Ma-maaf kan aku kakak ipar." Tara pikir kakak ipar nya itu mendengar nya sehingga Tara sangat ketakutan.
"Kau melakukan apa? Sehingga kau meminta maaf pada ku?" Darren hanya menghela nafas nya saja.
"Adik ipar kau dengar ini baik-baik!"
"Syukurlah kakak ipar tidak mendengar nya," Tara menghembuskan nafas nya dengan sangat lega.
"Baik kakak ipar, aku akan mendengar nya dengan baik." Jawab Tara pada Darren.
"Adik ipar, pemikiran mu itu minimalis sekali! Bukan nya kau itu juara umum di sekolah mu? Membuat ku malu saja sebagai kakak ipar mu." Darren tersenyum sinis pada Tara.
"What minimalis dia bilang? Kakak ipar tidak tau apa aku itu sudah sangat lelah memiliki kepintaran seperti ini." Gumam Tara di benak nya menatap kearah kakak ipar nya itu.
"Maaf kan aku kakak ipar," hanya itu saja yang bisa di ucapkan Tara pada Darren.
"Adik ipar, sebenarnya uang itu bukan lah segalanya bagi manusia. Tapi, segala sesuatu itu membutuhkan uang!" Darren mulai menjawab pertanyaan Darren.
"Sama saja dong kakak ipar!" Ujar Tara pada kakak ipar nya.
"Tentu saja berbeda! Sebenarnya uang itu adalah sesuatu kebutuhan manusia. Sama seperti kita makan. kau tau adik ipar? kita makan itu untuk hidup. bukan hidup untuk makan! Pepatah yang sama bukan adik ipar? Tapi, makna di kalimat itu memiliki perbedaan yang cukup jauh." Darren tersenyum tipis pada adik ipar nya.
"Kakak ipar kau membuat ku bingung! Jangan memberikan teka-teki yang sulit untuk ku jawab." Ketus Tara, dia sama sekali tidak paham dengan ucapan kakak ipar nya.
"Ahh sudahlah untuk apa aku menjelaskan nya pada mu jika kau saja tidak mengerti." Darren menghela nafas nya itu dengan sangat kasar.
"Maaf kan aku kakak ipar," Tara benar-benar tidak mengerti ucapan kakak ipar nya pada dirinya itu. Jadi Tara memilih untuk minta maaf dan mendengar kan ucapan kakak ipar nya baik-baik.
"Benar kakak ipar," jawab Tara dengan kepala yang terduduk.
"Kau lihat di luar sana!" Darren menunjuk kearah luar jendela nya. Karna, kediaman Darren cukup besar sehingga seluruh bangunan tinggi yang ada di Jakarta terlihat jelas oleh Darren.
"Iya kakak ipar aku sudah melihat nya," Tara berjalan mendekat kearah jendela dan melihat yang sudah di tunjuk kakak ipar nya itu.
"Gendung itu sangat tinggi bukan?" Tanya Darren pada Tara yang masih melihat kearah gedung tersebut.
"Tentu saja kakak ipar! Tapi, menurut ku perusahaan dan kediaman kakak ipar lah yang paling mewah dan tinggi. Oh iya satu lagi sama hotel milik kakak ipar! Saat itu di acara pernikahan kakak ku disana, aku sangat terpesona melihat hotel milik mu kakak ipar!" Dengan senyum yang sangat lebar Tara kembali mengingat hotel yang pernah ia datangi untuk pertama kalinya.
"Lihat lah! Sekarang saja kau sudah bisa menilai mana yang lebih berkedudukan bukan?" Darren tersenyum tipis mendengar ucapan Tara.
"Apa Kakak ipar! Aku tidak mengerti." Tara terkejut melihat kakak ipar nya itu menatap dirinya dengan menggelengkan kepalanya.
"Adik ipar! Kau saja sudah bisa membanding-bandingkan nya. Nyata nya semua manusia lebih menyukai sesuatu yang berlebihan! Apa kau tau Tara di bawah gedung yang tinggi itu terdapat sebuah bangunan yang tidak terlalu besar?" Darren tersenyum melihat wajah adik ipar nya yang sudah memerah karna malu.
"Aku tidak tau kakak ipar! Bagaimana bisa kakak ipar mengetahui nya?" Tara menundukkan kepalanya. Bisa-bisanya dia yang mengajukan pertanyaan tapi dia melakukan kesalahan besar.
"Itulah jawaban dari pertanyaan mu! Kau saja tidak melihat ada sesuatu di bawah gedung tinggi itu. Kau hanya melihat betapa terpesona nya bangunan yang sangat tinggi dan mewah seperti bangunan tersebut. Begitulah cara manusia berpikir Verlin Tara! Mereka semua akan selalu berpikiran rendah dengan orang yang tidak berkedudukan tinggi. Tapi, mereka akan sangat menghormati orang yang berkedudukan cukup tinggi! Kau saja sudah membuktikan nya dengan tingkah mu dan satu hal lagi! Aku mengetahui semuanya karna aku selalu mempertimbangkan segala sesuatu dengan sangat teliti! Jika aku ingin berkomentar maka aku akan memikirkannya." Darren kembali berjalan menuju kearah kursi kerja nya itu.
"Maafkan aku kakak ipar. Aku tidak berpikir sampai kesana, aku benar-benar melakukan kesalahan yang besar. Tolong maafkan aku kakak ipar!" Tara mengikuti langkah kakak ipar nya dan terus meminta maaf.
"Untuk apa kau meminta maaf pada ku? Aku hanya menjawab pertanyaan mu saja. Jadi jangan meminta maaf adik ipar." Darren kembali fokus pada layar yang ada di depan nya.
"Kakak ipar, kau belum menjawab semua pertanyaan ku." Dengan sangat ragu Tara kembali bertanya pada kakak ipar nya.
"Pertanyaan yang mana?" Darren kembali bertanya pada Tara.
__ADS_1
"Mengapa kakak ipar senang bermain api dengan negara ini?" Tara mengulangi pertanyaan nya pada kakak iparnya.
"Adik ipar, aku itu hidup di dunia bisnis! Banyak lawan bisnis lainnya ingin menjatuhkan aku menggunakan hukum. Aku tidak akan membuat masalah dengan hukum atau negara ini, jika mereka juga tidak cari masalah dengan ku! Adik ipar jika kau menjadi lawan ku suatu saat nanti. Kau tidak boleh takut dan mundur! Lakukanlah tugas mu dan aku akan mengurus masalah ku. Jangan membela ku jika menurut mu aku salah! Bela lah aku jika aku melakukan hal yang benar. Kau tau adik ipar? Di persidangan nanti nya, kita tidak menyandang hubungan apapun. Kau adalah hakim dan aku adalah orang yang akan mendapatkan hukuman atau keadilan." Jelas Darren dengan sangat panjang lebar pada adik ipar nya.
"Kakak ipar, ada apa dengan mu? Mengapa kau terlihat sangat berbeda. Kau memperlakukan ku seperti seorang kakak yang sedang menasehati adik nya. Padahal aku sendiri tau bagaimana terjalin nya hubungan mu dan kakak ku." Tara menatap kakak ipar nya dengan lirih.
"Adik ipar kau akan ke Paris dalam waktu 2 hari ini." Ujar Darren yang langsung membuat lamunan Tara jadi buyar.
"APA!! 2 hari lagi aku akan pergi kakak ipar?" Tara menautkan kedua alis nya menatap kearah Darren dengan sangat tidak percaya.
"Iya, jadi kau harus menjaga kesehatan. Aku sibuk dari tadi mengurus identitas baru mu." ujar Darren lagi dengan menatap kearah komputer nya.
"Identitas baru? Maksudnya kakak ipar?" Tara tidak mengerti ucapan kakak ipar nya itu.
"Adik ipar! Aku tidak ingin orang lain mengetahui bahwa kau itu adik ipar ku." Ujar Darren dengan nada biasanya.
"Aku tau pasti kakak ipar malu memiliki adik ipar seperti ku." Tara yang kecewa hanya bisa menundukkan kepalanya dan memajukan bibirnya nya itu.
"Diluar sana sangat banyak yang ingin membunuh dan menjatuhkan ku! Jika mereka tau kau itu adik ipar ku mereka akan mengincar mu juga. Aku tidak ingin kakak mu itu jadi gila jika kehilangan mu nanti nya. dan itu akan sangat merepotkan aku!" Ujar Darren pada Tara dengan suara beratnya.
"Kakak ipar ternyata tidak sejahat yang ku pikir kan." Tara hanya tersenyum kecil menatap kakak ipar nya.
"Adik ipar, kau nanti kuliah di universitas yang sangat mahal di Paris! Namun, kau hanya di kenal sebagai wanita yang menerima biaya siswa karna kau memiliki kepintaran. Aku sudah mengurus nya dan membicarakan nya dengan pemilik universitas tersebut. Biaya mu sudah aku yang tanggung semuanya. Identitas mu hanya di kenal sebagai anak dari seorang supir dan ibu mu berkerja sebagai pembantu. Nama mu ku ubah menjadi Stella Qianzy yang artinya seperti bintang keberuntungan." Darren terus saja mengetik dan berbicara pada Tara tanpa melihat nya.
"Tapi, kakak ipar jika nama ku di uba. bagaimana aku bisa menjadi seorang hakim? Itu sama saja aku mendapat kan penghargaan dengan identitas palsu dan bukan yang asli nya." Lirih Tara pada Darren. Dia berharap kakak ipar nya itu tidak mengubah namanya.
"Kau tenang saja adik ipar! Nama mu akan terganti jika kau sudah wisuda nanti. Dan sertifikat kelulusan mu juga akan menjadi nama mu yang sebenarnya. Aku hanya mengubah nama mu di mata semua orang. Kecuali orang-orang yang sudah aku perintah kan untuk menyembunyikan identitas mu itu." jelas Darren lagi pada Tara.
"Kakak ipar aku takut jika sendirian disana." Tara menundukkan kepalanya itu.
"Adik ipar, jika kau ingin sukses dan di pandang orang. Kau harus menahan rasa takut mu itu. Lagian para agen rahasia ku akan selalu mengawasi setiap gerak-gerik mu! Jadi jangan buat hal yang bisa membuat ku marah." Tegas Darren pada Tara.
"Baiklah kakak ipar. Oh iya apa kakak ku sudah mengetahui keberangkatan ku ini kak?" Tara mengangkat kepalanya menatap kearah kakak ipar nya.
"Kakak mu belum tahu. Tapi aku akan memberitahu nya setelah aku selesai berbicara dengan mu." Darren mendengus kesal mendengar pertanyaan adik ipar nya Yang sangat banyak itu.
"Kakak ipar apa ada lagi yang ingin kakak omongin pada ku?" Tara menatap kakak ipar nya berharap kakak ipar nya itu menyudahi saja obrolan ini.
"Mengapa kau terburu-buru adik ipar?" Darren hanya tersenyum tipis saja.
"Aku tidak terburu-buru kakak ipar." Elak Tara.
"Ini, ambilah!" Darren menyerahkan sesuatu pada Tara yang membuat Tara semakin bingung.
"Apa ini kakak ipar?" Tanya Tara dengan bingung.
"Apa kau sekarang sudah menjadi bodoh? Kau tidak mengetahui apa ini." Darren berbicara dengan penuh penekanan nya pada Tara.
"Aku tau kakak ipar, ini credit card. Tapi mengapa kakak ipar memberikan ini pada ku?" Tara hanya menatap kearah kartu tersebut.
"Kau gunakan lah semau mu jika kau berada di sana! Kartu kredit ini unlimited. Jadi kau boleh menggunakan nya tanpa batas. Aku tidak ingin seorang adik ipar dari Darren Abraham Khan hidup susah disana! Dan satu hal lagi, jika kau ingin menggunakan nya usahakan jangan ada orang yang mengetahui kau memiliki kartu kredit tanpa batas ini!" Tegas Darren pada Tara.
"Baik, kakak ipar! Aku mengerti." Tara tau jika kakak ipar nya sudah memberikan sesuatu dia tidak boleh menolak nya. Karna, itu bisa berakibat fatal pada dirinya dan juga kakak nya.
"Yasudah kau boleh keluar. Ingat berpakaian lah seperti orang yang sederhana nanti nya disana." Darren kembali mengingat kan adik ipar nya itu agar tidak melakukan kesalahan.
"Baik kakak ipar. Kalau begitu aku pergi kekamar sekarang untuk menyiapkan mental dulu." ujar Tara pada Darren dan berjalan keluar.
"Mental?? What! Dia itu keluar negeri saja harus menyiapkan mental? Benar-benar keluarga yang aneh! Kakak dan adik sama saja." Darren menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Tara.
Tara pun sudah keluar dari ruangan yang begitu dingin menurut nya. Selain ruangan itu dingin pemilik ruangan itu juga memiliki sifat yang dingin dan aneh. Tara menghembuskan nafas nya dengan sangat lega dan berjalan ke lift umum agar cepat sampai ke kamar nya yang ada di lantai 3.
Sementara Darren mematikan komputer nya itu dan menutup semua berkas yang ia urus tadi. Dia juga keluar dari ruang kerja nya menuju ke kamar untuk melihat istri nya tersebut.
__ADS_1
^^^Bersambung...^^^
...****************...