
Perusahaan drn.khan
Darren langsung bangkit dari kursi kerja nya dan merapikan jas kerja nya yang sedikit kusut. Bobby yang melihat tuan nya itu hanya bisa menghela nafas nya.
"Bob, hari ini kau handle semua masalah perusahaan! Aku tidak ingin di ganggu." Perintah Darren pada Bobby.
"Baik tuan muda." Jawab Bobby. Ia tau sahabat nya itu akan pergi kemana.
"Bagus!" Darren yang sudah menerima jawaban langsung meninggalkan Bobby di ruangan itu sendirian.
"Begini lah jadi nya jika seorang miliarder dunia sudah sibuk dengan urusan percintaan nya! Maka urusan yang lain pasti di timpah kan pada ku semua." Desis Bobby menatap kearah punggung sahabat nya.
Setelah memastikan sahabat nya benar-benar pergi. Bobby langsung keluar dari ruangan tersebut dan berjalan kearah ruangan nya sendiri. Bobby menarik nafas nya panjang-panjang dan mulai menatap kearah layar yang ada di ruangan nya. Ia menatap layar tersebut dengan sangat serius. Bobby harus benar-benar teliti dalam menghadapi adik nya agar tidak membuat masalah. Dia tidak ingin adik nya itu melakukan hal yang akan di sesali nya nanti.
"Maafkan aku Vaya! Kau yang sudah memutuskan untuk meninggalkan nya. Maka, untuk kembali padanya itu tidak akan pernah terjadi. Karna, satu-satunya orang yang harus kau hadapi lebih dulu adalah aku!" Lirih Bobby di dalam benak nya.
... 🐣🐣...
Kediaman two drn.khan
Darren sudah tiba di kediaman milik nya. Semua para pelayan yang ada disana langsung menyambut kedatangan tuan muda nya itu. Tanpa basa-basi Darren langsung berjalan kearah lift pribadi nya dan langsung menekan lantai 2.
"Sayang." Panggil Darren saat ia sudah melihat istri nya yang tengah menonton di tv nya.
"Emh," Viola menatap kearah orang yang sudah memanggil nya itu.
"Kau membuang wajah dari hadapan ku?" Darren sangat terkejut melihat reaksi Viola yang sudah menatap kearah nya lalu beralih kembali menatap kearah drama yang sedang Viola tonton.
"Aku sedang menonton." Tutur Viola dengan suara datar nya.
"Tapi setidaknya kau menyambut ku !" Darren berdengus dengan wajah yang sudah kesal.
"Baiklah," Viola menghela nafas nya.
Ia langsung turun dari tempat tidur nya itu dan berjalan mendekat kearah Darren. walaupun Viola sangat kesal pada Darren tapi ia juga tidak bisa mengabaikan suaminya itu.
"Selamat datang suamiku," Viola langsung mencium tangan Darren dan juga pipi Darren.
"Kau ingin kemana?" Setelah mendapatkan ciuman dari Viola. Darren menatap kearah Viola yang sudah berjalan menjauh dari nya.
"Tentu saja aku ingin kembali menonton." Jawab Viola dengan nada yang sangat santai.
"Viola Talisa!" Darren menatap tajam kearah Viola.
"Iya ada apa tuan muda?" Viola mematikan layar yang ada dihadapannya. Ia menatap kearah suami nya yang tengah menatap nya dengan sangat tajam.
"Kau itu kenapa?" Darren terus saja menatap Viola tanpa mengedipkan matanya.
"Aku tidak apa-apa," jawab Viola dengan nada yang santai.
"Istriku, jangan menguji kesabaran ku!" Darren menekankan setiap kalimat nya itu pada Viola.
"Aku menguji kesabaran suami ku sendiri? Wah bukan nya hal itu seharusnya aku yang ucap kan." Ketus Viola pada Darren.
"Apa maksudmu?" Darren menautkan kedua alisnya menatap kearah Viola.
"Sudah lah lupakan saja." Viola memilih untuk melupakan hal yang sudah membuat nya kesal.
"Katakan!" Darren menghampiri Viola yang duduk di atas ranjang.
"Lupakan saja." Viola memilih menjauhkan duduk nya dari Darren.
"Kenapa kau menjauh dari ku?" Darren menatap intens kearah Viola.
"Aku tidak menjauh! Aku hanya ingin bersandar saja." Elak Viola. Ia sangat kesal jika menatap wajah pria yang sudah melarang nya melakukan ini dan itu.
"Istriku, kau tau aku pulang cepat hanya ingin melihat mu. Tapi apa yang kau lakukan sekarang pada ku? kau sangat menyakiti perasaan ku sayang." Ujar Darren menatap wajah istri nya yang sejak tadi terlihat cuek padanya.
__ADS_1
"Aku tidak menyuruh mu untuk pulang." Gerutu Viola.
"Kau ingin buah yang ada di kebun?" Darren mulai menyadari kenapa Viola bersikap seperti itu padanya.
"Aku menginginkan nya atau tidak sama saja tidak ada artinya untuk mu." Cibir Viola dengan mulut yang sudah monyong.
"Tentu saja ada artinya!" Sahut Darren pada Viola.
"Jika ada artinya kenapa kau tidak mengijinkan aku untuk memakannya?" Pekik Viola menatap kesal kearah Viola.
"Itu karna aku belum memastikan kebersihan nya." Sambung Darren dan langsung membelai rambut Viola.
"Cih, sama saja! Pada dasarnya kau memang melarang ku melakukan sesuatu." Sungut Viola. Ia menepis pelan tangan suaminya yang sudah membelai rambut nya.
"Aku bukan tidak mengijinkan nya sayang. Kau ingin buah itu kan? Yasudah kita kebun sekarang." Darren menghela nafas nya melihat wajah Viola yang terus cemberut.
"Benarkah?" Wajah Viola langsung berubah ceria ketika mendengar ucapan Darren padanya.
"Tentu saja benar! Aku pulang hanya ingin membawa mu ke kebun buah kita. Aku tidak senang jika kau jalan bersama pria lain." Ujar Darren pada Viola.
"Pria lain?" Viola merasa bingung mendengar ucapan dari suaminya
"Kau lupa kau ingin pergi dengan siapa ke kebun buah?" Darren menatap Viola dengan kesal.
"Maksud mu dengan pak Dadang?" Tanya Viola.
"Itu kau tau!" Darren langsung mencubit pipi istri nya itu.
"Aw! Sakit tau." Viola mengelus pipi nya yang di cubit oleh Darren.
"Istriku, sekalipun orang itu bekerja dengan ku! tapi dia berjenis kelamin laki-laki kau tetap tidak boleh terlalu dekat dengan orang tersebut! Kau mengerti?" Darren menatap intens Viola.
"Kau cemburu?" Viola tersenyum kecil kearah Darren.
"Terserah kau mau menyimpulkan nya seperti apa. Intinya aku tidak senang melihat mu bersama laki-laki lain." Ujar Darren dengan suara datar nya.
"Yasudah sekarang ikut aku kebun buah." Darren bangkit dari duduk nya itu.
"Darren kau serius kan mengijinkan aku makan buah yang langsung di petik dari kebun mu?" Viola masih tidak percaya dengan ucapan suaminya. Karna pada awalnya Darren dengan sangat tegas melarang nya melakukan hal itu.
"Tentu saja aku serius. Karna istriku ini sangat menginginkan nya maka, aku harus mewujudkan keinginan nya itu." Darren tersenyum pada Viola.
"Terimakasih suamiku," Viola yang merasa senang langsung menghentikan langkahnya dan mencium bibir Darren sekilas.
"Wah Viola Talisa! Kau sedang memancing ku ya?" Darren menatap Viola dengan senyum yang penuh arti.
"Darren! Jangan berpikir yang tidak-tidak. Kau sudah berjanji ingin membawa ku kebun buah milik mu." Viola yang mengerti akan senyuman suaminya langsung menatap Darren dengan tajam.
"Baiklah kita bisa melanjutkan nya nanti," sahut Darren dan tersenyum tipis.
"Dasar mesum!" Celetuk Viola pada suaminya.
"Mesum pada istri sendiri tidak ada salah nya." Darren langsung merangkul pinggang Viola dengan erat dan mencium bibir Viola dengan ******* yang sangat lembut. Membuat Viola ikut terbawa oleh suasana. Perlahan Viola membalas ciuman Darren pada nya. Membuat Darren sedikit tersenyum.
"Untuk saat ini sampai di sini saja." Darren menghentikan ciumannya pada Viola dan mengelap sudut bibir istri nya itu.
"Darren," Viola yang mendengar ucapan Darren merasa sangat malu. Bisa-bisanya Darren menganggap dirinya lah yang paling menginginkan ciuman mereka tadi.
"Kau tidak perlu malu sayang," Darren yang menatap wajah Viola merasa sangat gemas. Ia pun kembali mengandeng tangan Viola dan berjalan kearah lift pribadi mereka.
"Darren kita akan ke kebun buah mu kan?" Viola kembali bertanya pada Darren.
"Istriku sudah berapa kali kau menanyakan hal itu pada ku." Darren langsung menekan tombol lantai 1 di lift milik nya.
"Aku hanya memastikan nya saja." Viola menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu.
"Jangan di acak-acak seperti itu rambut mu." Darren yang melihat perbuatan Viola hanya bisa menghela nafas nya dan mulai merapikan kembali rambut Viola.
__ADS_1
Viola yang mendapatkan perhatian dari Darren merasa sangat senang. Pria yang terkenal dengan sangat dingin dan kejam bisa-bisanya bersikap sangat lembut padanya. Hal yang paling membuat Viola tidak percaya adalah Darren sudah menyentuh tubuh nya itu. Pernikahan yang awalnya Viola pikir akan berakhir mengganas kan bisa menjadi hubungan yang sangat romantis bagi Viola.
"Darren bagaimana dengan Vaya?" Viola berusaha mencari topik pembicaraan di sepanjang jalan mereka.
"Kau tidak perlu membahas wanita lain pada ku." Jawab Darren dengan suara datar nya.
"Dia bukan wanita lain Darren! Dia itu adik nya Bobby sahabat mu sendiri." Ujar Viola pada Darren.
"Tetap saja dia seorang wanita! Dan aku tidak suka jika membahas wanita yang bukan wanita ku sendiri." Tegas Darren menatap kearah Viola.
"Baiklah maafkan aku," Viola menundukkan kepalanya itu. Ia tau jika suaminya sudah berkata seperti itu maka ia jangan pernah coba-coba untuk mengatakan hal itu lagi.
Mereka sudah berada di taman belakang. Darren terus berjalan menuju ke kebun buah yang lumayan jauh dengan mengandeng tangan Viola.
"Darren apakah masih jauh?" Tanya Viola saat ia merasa mereka tidak kunjung sampai juga di kebun buah suaminya.
"Tentu saja jauh," Darren hanya tersenyum tipis saja pada Viola.
Pak Dadang yang melihat tuan nya hendak berjalan kearah kebun buah langsung berlari menghampiri tuan nya itu.
"Tuan muda," panggil pak Dadang.
"Ada apa?" Darren membalikkan tubuh nya dan menatap kearah kepala pelayan nya itu.
"Kenapa tuan berjalan kaki ke kebun buah?" Pak Dadang sangat terkejut melihat tuan muda nya.
"Emang nya selain jalan kaki kami harus menggunakan apa kesana pak?" Viola bingung mendengar ucapan dari pak Dadang.
"Tentu saja dari--"
"Lanjutkan pekerjaan mu!" Darren langsung menatap tajam kearah pak Dadang membuat pak Dadang langsung terdiam.
"Baik tuan muda," pak Dadang menundukkan kepalanya itu di hadapan Darren.
"Pak, bapak belum menjawab pertanyaan ku tadi." Viola menghentikan pak Dadang yang hendak pergi dari nya.
"Maaf nyonya muda. Saya lupa sedang memasak sesuatu. Nyonya bisa tanyakan saja langsung pada tuan muda." Ujar pak Dadang pada Viola.
"Tapi pak bukan nya kita memiliki chef di kediaman ini? lalu kenapa bapak memasak?" Viola semakin merasa aneh dengan tingkah pak Dadang.
"Itu nyonya--"
"Istriku, walaupun dia kepala pelayan di sini! Tapi, dia tetap harus pandai melakukan semua hal yang menyangkut tentang kediaman ku ini." Potong Darren pada Viola.
"Yang dikatakan tuan muda benar nyonya," pak Dadang merasa sangat lega saat tuan muda nya itu membantu dirinya.
"Oh begitu ya." Viola masih saja terus berpikir.
"Pak langsung ke kebun buah. Dan ingat semua yang sudah aku perintahkan tadi." Tegas Darren pada pak Dadang.
"Baik tuan muda," pak Dadang mengundurkan diri nya dari hadapan tuan muda nya.
Viola yang sudah menatap nanar kepergian dari kepala pelayan. Langsung beralih menatap kearah suaminya itu dengan tatapan bingung.
"Darren kau memerintahkan apa pada pak Dadang?" Selidik Viola menatap kearah suaminya dengan sangat intens.
"Bukan hal yang penting." Jawab Darren singkat dan kembali mengandeng tangan Viola.
Mereka pun terus berjalan, di sepanjang jalan Viola banyak sekali bertanya hal ini dan itu pada Darren. Darren tidak marah sedikitpun dengan pertanyaan istri nya yang terlalu banyak itu. Dengan sabar darren menjawab setiap pertanyaan Viola padanya. Akhirnya mereka pun tiba di kebun buah Darren yang sudah sangat lebat buah nya. Berbagai macam buah orang kaya ada di sana. Membuat Viola terpukau menatap nya.
Namun tatapan Viola langsung berubah ketika melihat ada seorang yang sudah berdiri di hadapan nya itu. Dengan tatapan yang sangat kesal Viola beralih menatap kearah suaminya yang tidak merasa bersalah sedikitpun.
"Darren! Apa maksudnya ini?" Pekik Viola pada suaminya.
^^^Bersambung...^^^
...****************...
__ADS_1