
Apartemen Evan.
Evan yang duduk fokus dengan laptop nya dan beberapa berkas di mejanya itu. Karna ada beberapa dokumen yang sangat penting sehingga membuat Evan harus turun tangan sendiri mengerjakan nya. Ketika Evan mendengar suara pintu apartemen nya terbuka Evan pun menatap kearah orang yang masuk ke apartemen nya tersebut.
"Bagaimana?" tanya Evan pada orang tersebut.
"Bos, keberangkatan anda di tunda selama 2 hari!" Roy yang dengan nada takutnya berusaha untuk mengatakan hal yang sebenarnya pada Evan.
"Apa!!" Evan menghentikan kegiatan nya itu dan menatap kearah bawahannya dengan sangat tajam.
"Bos, cuaca hari ini dan dua hari kedepan sangat tidak stabil. Jadi kita tidak bisa melakukan penerbangan." Jelas Roy pada atasan nya itu agar tidak terjadi masalah.
"Apa tidak ada cara lain? Aku ingin segera kembali ke new York untuk menjemput keponakan ku itu." ujar Evan dengan suara tinggi nya.
"Maaf bos, saya tidak berani mengambil resiko yang besar. Jadi saya harap bos mengerti!" Roy berbicara sehalus mungkin pada Evan agar Evan bisa mengerti dengan kondisi nya itu.
"Roy, aku tidak mau tau! Kita harus berangkat saat ini juga!" Tegas Evan pada Roy yang membuat Roy menghela nafas nya dengan sangat panjang.
"Baiklah jika itu keinginan mu bos. Tapi, saya ingat kan sekali lagi pada bos! Jika kita mengalami hal yang tidak di inginkan. Maka, bos akan lebih lama bertemu dengan keponakan bos. Bos pilih saja tunggu selama 2 hari dan bos akan baik-baik saja! Atau ..." Roy yang tidak ingin melanjutkan perkataannya langsung diam saja.
"Roy?? Kau sedang menakut-nakuti ku ya?" Evan yang mendengar ucapan bawahannya hanya bisa menelan saliva nya dengan sangat susah.
"Saya tidak menakut-nakuti mu bos. Saya hanya mengingatkan mu saja!" ujar Roy pada Evan dengan suara nya yang masih terdengar hormat.
"Hahaha ... Takut mati juga si bos itu!" Roy hanya tersenyum menahan tawa nya menatap kearah bos nya.
"Roy, kau itu sekarang sudah pandai berbicara banyak ya dengan ku?" Evan yang tau akan senyum di balik wajah bawahannya merasa kesal.
"Maafkan saya bos. Oh iya, bos tenang saja keponakan bos sekarang sudah aman dan baik-baik saja. Karena, orang kepercayaan bos sudah membawa keponakan bos dan menjaga nya dengan baik." Jelas Roy pada Evan. Agar atasan nya itu lebih tenang.
"Soal itu aku sudah tau Roy! Aku hanya ingin melihat seperti apa wajah keponakan ku itu. Kau tidak mengerti ya?" Evan menghela nafas nya dengan berat.
"Bos, saya mengerti apa yang bos inginkan. Tapi, bos juga harus mengerti kita tidak bisa berangkat karna itu memiliki resiko yang tinggi." Roy hanya bisa meyakinkan bos nya itu saja sebisa mungkin.
"Baiklah Roy!" Evan menghela nafas nya lagi. Entah untuk yang ke berapa kalinya Evan menghela nafasnya itu.
__ADS_1
"Iya bos," balas Roy yang masih berdiri di depan bosnya.
"Roy, bagaimana kau sudah menemukan tempat tinggal gadis itu belum?" Evan yang teringat akan sesuatu kembali menanyainya pada Roy.
"Bos, sebaiknya anda melupakan nona Viola! Karna itu sama saja kita mencari mati." Roy yang kembali teringat dirinya dan juga bos nya itu di pukul habis-habisan oleh bodyguard Darren membuat nya bergidik ngeri.
"Roy kau tidak perlu menasehati ku! Kau hanya perlu menjawab pertanyaan ku." Tegas Evan pada bawahannya.
"Bos, saya belum menemukan dimana kediaman tuan Darren. Dan sampai kapan pun saya tidak akan bisa menemukan nya. Bos tuan Darren bukan lah orang sembarangan! Jadi sangat sulit untuk menemukan informasi tentang nya."jelas Roy pada Evan. Dia tidak ingin bos nya itu membuat masalah yang bisa membuat nya di pukuli lagi atau mungkin lebih parah dari itu.
"Kau benar Roy! Sial nya aku bisa kalah dengan pria sepertinya. Seorang pria yang berhati dingin dan tidak mempunyai perikemanusiaan sedikit pun!" Evan yang mendengar ucapan Roy langsung tersadar saat dirinya di pukuli itu. Bahkan sekarang pun wajah Evan dan Roy masih di penuhi memar.
Jika saja saat itu sekertaris Darren tidak menelpon kepala bodyguard untuk berhenti memukuli mereka lagi! Mungkin mereka sudah koma di rumah sakit atau bahkan lebih parah lagi. Bukan Evan tidak sanggup melawan mereka semua. Namun, karna mereka terlalu banyak membuat Evan kuwalahan di tambah para bodyguard itu sudah sangat terlatih.
"Bos, kau juga berhati dingin sama seperti tuan Darren." Roy yang mendengar ucapan atasan nya langsung tertawa kecil.
"Aku sama dia berbeda Roy! Setidaknya aku masih lembut pada istri nya. Namun, dia menyuruh orang-orang nya untuk memukuli ku tanpa ada rasa ampun sedikit pun!" Evan menatap bawahannya itu dengan sudut mata kesal nya.
"Bos, bukan nya saya ingin ikut campur urusan bos! Tapi, setelah saya pikir-pikir bos memang melakukan kesalahan besar! Saya sudah berulang kali mengingat kan nya pada bos. Bahwa, jangan pernah mencari masalah dengan seorang miliarder dunia itu bos! Saya juga sudah pernah bilang pada bos nona Viola memiliki nama yang berbeda dengan nona Vivian. Hanya wajah mereka saja yang sama! Namun, bos tidak mempercayai saya sama sekali." Roy menghela nafas nya jika mengingat kembali ucapan nya ketika ia sudah memperingati bos nya itu.
"Tidak bos! Bos tidak salah saya lah yang salah." ujar Roy pada bos nya. Dia lebih baik mengalah dari pada harus mendapatkan masalah yang lebih rumit lagi. Sementara Evan mengusap wajah nya dengan sangat kasar.
"Roy, siapa orang yang terdekat dengan gadis itu?" tanya Evan pada bawahannya.
"Hanya ada 2 orang yang paling dekat dengan nona Viola bos. Yang satu adalah sahabat nya bernama Shelly Rula dan yang satunya lagi merupakan adik nona Viola yang bernama Verlin Tara bos." Jawab Roy dengan sangat tenang. Dia tau jika dia tidak bisa menemukan dimana keberadaan kediaman gadis yang ingin bos nya itu ketahui. Maka, dia harus mencari informasi lainnya yang bisa membuat nya selamat.
"Dimana keberadaan adik nya itu?" tanya Evan lagi pada bawahannya.
"Adik nona Viola tinggal bersama nona Viola dan tuan Darren bos." Balas Roy dengan keadaan menatap bos nya yang hanya menatap pada layar laptop nya.
"Sahabat gadis itu apa wanita yang 2 hari lalu bersama Viola sebelum aku menculik nya?" kini Evan menatap kearah Roy dengan penuh pertanyaan.
"Iya bos! Gadis itulah sahabat nya nona Viola." jawab Roy lagi pada Evan.
"Apa kau mengetahui dimana dia sekarang?" Evan berharap ia bisa menjumpai Viola dan berbicara sesuatu yang menurut Evan sangat penting.
__ADS_1
"Maksud bos sahabat nya nona Viola atau nona Viola nya sendiri?" Roy menatap dengan bingung kearah bos nya.
"Roy! Mengapa kau jadi bodoh sekali saat ini! Apa kau lupa kalau kau itu tidak bisa menemukan keberadaan Viola. Jadi sekarang harapan ku satu-satunya adalah menjumpai sahabat nya. Jadi dimana alamat sahabat nya Viola?" Evan yang muak melihat bawahannya langsung berbicara dengan penuh penekanan di setiap kalimat nya.
"Maaf bos. Akhir-akhir ini saya memang seperti orang bodoh setelah di pukuli oleh bodyguard nya tuan Darren bos." ujar Roy sediki tersenyum. Dia sengaja berbicara seperti itu agar bos nya itu kesal padanya.
"Roy kau sedang mengejekku ya?" Evan yang merasa bawahannya sedang mengatainya ia pun menatap bawahannya itu dengan sinis.
"Maafkan saya bos." Roy menunduk kan kepalanya dihadapan Evan.
"Saya akan mengantarkan bos ke rumah sahabat nona Viola." timpal Roy lagi. Ia tau bos nya itu sudah mulai jatuh cinta pada seorang wanita yang sudah bersuami.
"Bagus! Tunggu apalagi segera kita kesana." Evan yang mendengar ucapan bawahannya ia bangkit dari duduk nya dan berjalan di depan Roy.
"Baik bos." Roy yang sudah melihat bos nya berjalan. Dengan langkah yang lumayan cepat ia mengikuti bos nya dari belakang.
"Roy, kuharap kau tidak melakukan kesalahan!" Tegas Evan pada Roy. Dia tidak ingin rencana nya kali ini akan gagal lagi.
"Baik bos! Saya tidak akan melakukan kesalahan apa pun lagi." Balas Roy yang masih mengikuti langkah bos nya.
Mereka berdua pun sudah berada di luar apartemen. Evan langsung melangkah ke mobil nya dan duduk di kursi belakang. Sementara Roy dengan sigap dia masuk ke kursi depan untuk mengantar kan bos nya itu menemui sahabatnya Viola.
"Bos, aku harap setelah kau menjumpai nona Shelly kau akan mengerti mencintai seseorang itu bukan berati kau harus memiliki nya bos."gumam Roy di dalam benak nya. Dia tidak ingin bos nya mengalami konflik cinta yang akan merugikan bos nya. Roy juga tidak ingin bos nya mengalami hal yang sama seperti adik bos nya tersebut.
"Roy, kau tidak perlu khawatir! Aku sadar aku tidak akan pernah bisa memiliki Viola." Evan menghembuskan nafas nya dengan panjang. Evan sadar Roy sedang memikirkan tentang nya. Dari tatapan mata Roy melalui kaca mobil nya membuat Evan tersadar. Bawahannya itu sekarang sedang mengkhawatirkan dirinya.
"Iya bos, saya mengerti! Bos tidak akan mungkin menjadi lelaki yang lemah hanya karna cinta." Roy berusaha menyemangati bos nya. Namun Evan tidak membalas sedikit pun ucapan bawahannya. Dia diam saja dengan menatap keluar jendela mobil.
"Andai kau tau Roy! Sekarang aku sudah seperti pria yang lemah dan tidak memiliki semangat sedikit pun. Apa kah ini yang di rasakan oleh mu dulu Erik? Erik kakak merindukan mu!" Evan membuka jendela mobil nya dan menghirup udara luar dengan sangat dalam. Memejamkan matanya yang menandakan bahwa dia benar-benar sudah sangat lelah dengan hidup ini.
"Bos saya tau apa yang sedang anda rasakan saat ini." Roy yang melihat bosnya seperti itu merasa sangat prihatin. Walaupun bos nya terlihat sangat kuat. Namun yang sebenarnya terjadi adalah bos nya sudah sangat lelah memikirkan hal yang seharusnya tidak perlu terlalu di pikirkan.
Roy hanya diam saja melihat bos nya dan terus melajukan mobil nya dengan kecepatan sedang. Ia sengaja tidak mengajak bos nya untuk berbicara agar bos nya dapat tenang dan beristirahat sejenak.
^^^Bersambung...^^^
__ADS_1
...****************...