
Saat ini Viola tengah menelpon seseorang dengan nada yang sangat serius nya.
"Vi Lo gila!" Dengan intonasi tinggi Shelly membalas ucapan sahabat nya itu.
"Shell! Kalau gue tidak buat hal itu Darren tidak akan mengeluarkan nya di dalam. Satu-satunya cara agar ia melakukan hal tersebut, gue minta tolong sama Lo. Tolong suruh suami Lo buat Darren semabuk-mabuk nya!" Viola benar-benar memohon pada Shelly.
Shelly merasa serba salah, ia tidak ingin karna keinginan sahabat nya itu bisa membuat nya terkena masalah sangat besar. Namun, disisi lain ia tidak tega melihat Viola yang terus termenung dan sedih selama 5 bulan ini.
"Vi, Lo tau bukan? Rencana Lo itu bisa buat semua orang terkenak imbas nya." Shelly berusaha membujuk sahabat nya. Agar untuk melupakan apa yang sudah ia rencanakan.
"Shell, gue merasa menjadi wanita yang cacat! Karna tidak bisa memberikan hal yang seharusnya gue kasih untuk Darren." Lirih Viola dengan air mata yang sudah mulai mengalir di kedua pipi nya.
"Tapi vi--"
"Gue mohon Shell. Kali ini saja bantu gue! Gue gak tau harus minta tolong pada siapa selain Lo." Viola terus memohon pada Shelly.
"Vi! Lo benar-benar membuat gue berada di situasi yang sulit." Shelly memejamkan kedua matanya itu.
"Baiklah gue akan membujuk Bobby! Tapi, kalau seandainya Bobby menolak. Gue mohon jangan memaksa dan memohon seperti ini lagi Vi!" Tekan Shelly dengan suara yang sangat serius.
"Iya Shell! Gue janji. Kalau rencana ini gagal, gue tidak akan memperumit kalian lagi!" Viola mengusap air mata nya lalu tersenyum.
"Vi, Lo juga harus memikirkan kesehatan Lo! Lo benar-benar keras kepala Vi. Apa Lo tau itu sangat membahayakan diri Lo sendiri?" Shelly masih tidak habis pikir dengan pendirian sahabat nya itu. Karna jujur saja mendengar apa yang dikatakan dokter Andhika membuat Shelly khawatir.
"Semoga aja keajaiban itu ada." Tutur nya sembari tersenyum kecil.
"Oh iya Shell, udah dulu ya! Sebentar lagi suami gue pulang. Bisa habis gue kalau dia tau rencana gue."
"Iya Vi! Kalau suami Lo mau pulang itu berarti suami gue juga pulang! Gue mau siapin beberapa makanan dulu ya." Sahut nya.
"Okelah Shell! Kalau begitu gue tutup ya. Jangan lupa apa yang sudah gue katakan tadi!" Tekan Viola lalu mematikan sambungan telepon nya itu.
Viola tersenyum lebar, menatap Gabriel yang tengah menemani nya di taman belakang. Saat ia menyeduh teh nya Gabriel menatap nya membuat Viola merasa tidak kesepian. Walaupun ia sendiri masih terasa belum lengkap tanpa adanya seorang anak. Setidaknya Gabriel bisa menemani kekosongan nya itu.
"Kau tau Gabriel? Sebentar lagi aku akan memberikan mu majikan yang akan lebih menyayangi mu dari pada aku! Jadi bersabarlah dan berdoa agar semua nya berjalan lancar." Viola mengelus-elus kepala hingga tubuh Gabriel yang sangat manja pada nya.
Disisi lain kini telah terlihat Shelly yang sibuk menyiapkan beberapa menu makanan untuk suami nya makan.
"Kau sedang apa?" Bobby tampak khawatir melihat istrinya tengah sibuk dengan alat-alat dapur dan beberapa bahan dalam keadaan perut yang sudah sedikit membesar.
"Kau sudah pulang." Shelly menghampiri suaminya lalu mencium tangan suaminya.
"Sayang sudah kukatakan bukan? Kau bisa menyuruh bibi untuk melakukan pekerjaan rumah." Bobby pun langsung menyuruh Shelly untuk duduk di sofa dan mengambil kan segelas air putih untuk nya.
"Aku ingin kau memakan masakan ku hari ini Bob!"
"Tapii--"
"Ini semua kemauan putra mu! Bukan aku." Elak Shelly agar suami nya tidak marah lagi.
__ADS_1
"Sayang maafkan mama! Mama janji tidak akan mengkambinghitamkan kamu lagi nak." Gumam nya sambil mengelus perut nya itu.
"Baiklah kalau itu keinginan putra kita! Tapi setidaknya harus ada seseorang yang membantu dan mengawasi mu selagi aku tidak disini."
"Iya aku janji tidak akan mengulangi nya lagi!" Dengan nada malas nya Shelly mengalihkan pandangannya itu.
"Bi, ambil alih apa yang sudah di kerjakan istri saya!" Perintah Bobby pada pembantu rumah tangga nya.
"Baik tuan," jawab buk Ratih dan langsung mengambil alih apa yang sudah di kerjakan oleh majikan nya.
"Tapi--"
"Tidak ada tapi-tapi! Bukan kah kau sudah memasak beberapa. Setidaknya keinginan putra kita sudah terpenuhi!"
"Dan kau sayang, jangan selalu menyusahkan mommy mu ya! Kau itu seorang pria sejati. Tugas mu melindungi wanita-wanita yang kau cintai! Bukan menyusahkan nya." Tegas Bobby sembari mengelus lembut perut Shelly.
Shelly yang teringat akan sesuatu dengan perasaan yang bingung harus mulai dari mana mengatakan hal tersebut pada suaminya. Ia hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya itu.
"Ada apa?" Melihat gelagat aneh dari istri nya tentu saja Bobby tau ada sesuatu yang tidak beres.
"Bob, Vio menyuruh mu untuk melakukan misi yang sangat penting." Katanya dengan nada yang ragu.
"Misi? Nyonya muda? Apa tuan muda tau?" Bukannya membalas inti percakapan. Bobby justru melempar nya dengan beberapa pertanyaan.
"Atasan mu tidak tau misi ini. Karna, misi ini menyangkut tentang tuan muda mu itu!" Pungkas Shelly pada Bobby.
"Apa misi nya? Apakah sahabat mu ingin memberikan kejutan untuk Darren? Hingga Darren sendiri tidak boleh tau." Bobby masih tidak mengerti. Ada misi apa yang tidak boleh diketahui oleh tuan muda nya.
"Katakan dulu apa misi nya?" Bobby sedikit memiliki perasaan tidak enak saat istri nya berkata seperti itu.
"Kalau kau tidak mau lupakan saja!" Jujur saja Shelly sangat yakin Bobby akan menolak kalau ia mengatakan nya lebih dulu. Oleh karna itu ia harus mengikat Bobby dengan sebuah janji.
"Baiklah aku berjanji." Ia tau jika Shelly sudah berkata demikian. Berarti hal tersebut sangat lah penting.
"Kau yakin? Misi ini ibarat nya mengantarkan nyawa mu sendiri pada malaikat maut." Shelly kembali meyakinkan suami nya. Agar tidak menyesali keputusan nya itu setelah ia mengatakannya.
"Bukan kah kau ingin aku melakukan nya? Maka, katakan saja." Dengan intonasi sedikit kesal Bobby menatap mata Shelly.
"Baiklah ku harap kau tidak mengingkari janji mu."
"Dan maaf kalau aku membuat mu dalam masalah lagi! Jujur saja aku lebih tidak tega jika itu menyangkut sahabat ku." Lanjut Shelly di dalam hati nya.
Shelly mulai menceritakan semua nya pada Bobby. Apa yang harus ia lakukan dan bagaimana cara melakukan nya. Semua itu permintaan dari Viola.
"What's!!" Mendengar keseluruhan cerita dari Shelly membuat Bobby sangat terkejut.
"Bob tenang lah!" Shelly menyuruh Bobby untuk duduk kembali.
"Kalian gila! Rencana kalian ini aku tidak setuju sama sekali." Dengan sangat tegas Bobby menolak nya.
__ADS_1
"Kau sudah berjanji! Maka, kau harus melakukan nya." Shelly menghela nafas nya itu, "Bob ku mohon lakukan lah permintaan sahabat ku. Anggap saja itu perintah dari nyonya muda mu."
"Sayang, rencana kalian kali ini benar-benar sangat berbahaya! Bukan kah kau lihat sendiri bagaimana mengerikan nya seorang Darren Abraham Khan marah? Apalagi jika itu menyangkut tentang istri nya." Bobby mengusap wajah nya dengan sangat kasar.
"Aku tidak ingin terlibat masalah apapun! Terlebih lagi saat ini kandungan mu sudah membesar." Ucap nya kembali.
"Tapi Bob, Viola sangat ingin memiliki anak bersama nya." Lirih Shelly.
"Sayang itu hal yang tidak selalu bisa kita dapatkan. Terlebih lagi kondisi kesehatan sahabat mu tidak memungkinkan untuk memiliki seorang anak." Bobby benar-benar tidak bisa melakukan nya. Ia tidak sanggup jika menerima kemarahan dari sahabat nya lagi. Terlebih lagi akhir-akhir ini sahabat nya jarang sekali marah.
Jika suatu saat sahabat nya marah bisa habis ia karna terkena amukan singa yang sudah sangat lama tertidur.
"Bob aku mohon lakukan lah demi aku! Kau lupa Viola sudah menyelamatkan aku dari pria yang bernama Alvi itu?" Shelly mulai kembali mengungkit kejadian terburuk dalam hidup nya.
"Sayang??" Bobby menatap tidak percaya kearah Shelly.
"Bob, kumohon lakukan lah! Anggap saja ini juga demi putra kita. Kau mau putra kita sendirian seumur hidup nya?" Shelly sudah kehabisan cara untuk membujuk suami nya itu. Ia berharap cara terakhir kali ini bisa membuat suaminya mau melakukan permintaan Viola.
Bobby berusaha menenangkan diri nya agar tidak terlalu terbawa suasana. Ia tidak ingin bertengkar dengan Shelly terlebih lagi Shelly tengah mengandung anak nya.
"Baiklah kalau itu mau kalian! Tapi berhasil tidak nya itu sudah bukan urusan ku lagi." Dengan berat hati Bobby menyetujui permintaan dari sahabat istrinya.
"Terimakasih sayang!" Shelly langsung tersenyum lebar.
Ia sangat bahagia suami nya lagi-lagi menuruti keinginan nya. Kalau bukan karna alasan putra nya itu pasti sampai sekarang ia tidak akan mendapatkan semua keinginan nya.
"Kau selalu tau dimana letak kelemahan ku!" Bobby menghela nafas nya dengan berat.
"Hehehehe," Shelly hanya cekikikan saja.
"Yasudah kita makan dulu. Kau juga belum makan bukan?" Bobby berjalan kearah meja makan sembari memegang tangan Shelly.
"Emh," Shelly hanya mengangguk kan kepalanya itu.
Mereka berdua pun makan bersama dalam diam. Sesekali Bobby bertanya tentang kondisi Shelly dan apa yg diinginkan istri nya itu. Namun, beberapa saat kemudian mereka diam sambil memakan makanan mereka. Entah apa yang ada di dalam pikiran mereka masing-masing.
๐นViola bersama Gabriel di taman belakang .
.
.
.
.
^^^Bersambung....^^^
__ADS_1
...****************...