Menikahi Seorang Miliarder Dunia

Menikahi Seorang Miliarder Dunia
Eps. 172 plakkk!!!


__ADS_3

Dua hari kemudian...


Viola saat ini tengah memasang dasi pada Darren. Darren terus memandangi wajah istrinya nya dengan sangat lekat. Entah mengapa bagi diri nya Viola tidak bosan-bosannya untuk di lihat.


"Jam berapa kau akan pulang?" Tanya Viola pada suaminya.


"Kemungkinan aku akan pulang tengah malam!" Jawab Darren tanpa mengalihkan pandangannya itu.


"Kenapa malam sekali?" Viola membalas tatapan suami nya yang sejak tadi terus memperhatikan diri nya.


"Sayang hari ini pekerjaan ku sangat banyak. Terlebih lagi kata Bobby aku ada pertemuan penting dengan beberapa klien besar di bar milik ku." Terang nya pada viola agar tidak berpikiran yang tidak-tidak.


Mendengar ucapan Darren tentu saja membuat sebuah senyuman tersimpul di bibir Viola


"Ada apa?"


"Tidak ada." Viola langsung kembali bersikap seperti biasanya begitu suaminya mulai curiga pada diri nya.


"Kalau begitu aku akan menunggu mu pulang." Timpal Viola lagi.


"Tidak perlu istriku! Kau istirahat saja. Karna, aku akan pulang sangat larut malam ini." Ucap nya dengan membelai rambut Viola.


"Baiklah kalau itu keinginan mu suami ku."


Darren menatap seperti menyelediki sesuatu kedalam mata istri nya. Karna sejak tadi pagi Viola bersikap tidak seperti biasanya.


"Ada apa sayang? Kenapa kau menatap ku seperti itu?" Tanya Viola saat tau Darren sedang memperhatikan dirinya.


"Kau tidak seperti biasanya." Ujar nya pada Viola.


"Sayang kau itu ada-ada saja! Aku ya aku. Tidak mungkin aku berubah pada mu." Viola tertawa kecil dengan memukul tubuh suami nya.


"Baguslah jika kau tidak berubah sedikit pun. Tapi, ku ingatkan sekali lagi!jika kau merencanakan sesuatu yang tidak dapat ku terima. Maka, kau tau jelas apa akibatnya!" Tekan Darren sedikit serius menatap mata Viola.


Viola berusaha mengendalikan diri nya yang langsung gemetar begitu Darren berkata seperti tadi. Ia menelan Saliva nya dengan sangat susah.


"Kau tenang saja suami ku! Aku tidak akan melakukan hal yang membuat mu marah." Balas Viola dan membalas tatapan menyelidik suaminya dengan sebuah senyuman.


"Baiklah! Kalau begitu aku pergi dulu sayang." Darren menghela nafas nya di cium nya kening Viola dengan sangat lama. Karna jujur saja Darren pasti akan selalu merindukan istri nya jika tidak bertemu sebentar saja.


"I love you," ucap Viola dengan senyum di wajah nya.


"I love You to!" Balas Darren melalui mimik mulut nya itu.


Ucapan Darren tentu saja menghangatkan hati Viola sekaligus pikiran nya. Walaupun ia tau rencana ini bisa membuat nya dalam masalah besar. Tapi, ia yakin ia bisa menghadapi amarah suami nya itu. Begitu melihat kepergian Darren, dengan sangat cepat Viola menghubungi sahabat nya.


"Shell bagaimana??" Tanya Viola begitu panggilan nya sudah terhubung.


"Suami gue udh pergi. Seperti nya apa yang Lo rencanakan akan terjadi malam ini." Tuturnya pada Viola.


"Baguslah Shell! Gue harap semua nya akan berjalan dengan lancar." Jujur saja Viola merasa gugup. Ia takut apa yang sudah ia rencanakan gagal.


"Vi gue takut semua nya gagal." Shelly sangat ragu dengan rencana sahabat nya.


Entah mengapa Shelly merasa suami sahabat nya itu tidak akan bisa di akali dengan mudah nya. Terlebih lagi suami nya bilang kalau atasan nya itu jarang sekali menerima perjamuan apalagi di bar milik Darren sendiri.


"Shell jangan hancurkan mental gue lah." Kesal Viola.


"Hehehe maaf ubul!" Shelly langsung berpura-pura tertawa walaupun pikiran ia saat ini berada di tempat lain.


Shelly tidak ingin sahabat nya kecewa saat ia mengatakan kalau suaminya tidak sebodoh yang Viola pikirkan. Tapi Shelly juga tidak mau harapan sahabat nya sirna.


"Shell temani gue belanja yuk! Gue mau beli beberapa lingerie untuk tempur malam ini."


"Hemm Lo gila Vi! Bukan kah Lo sudah memiliki semua model lingerie di kediaman Lo itu." Shelly menghela nafas nya dengan kasar.


"Oh ayolah Shell! Gue mau yang terbaru lagi. Sekalian gue juga mau traktir Lo belanja apapun yang Lo mau." Viola langsung mengiming-imingi sahabat nya yang gila uang agar mau menemani diri nya berbelanja. sekalian Viola juga ingin menetralisir kan tubuh nya yang terlalu gugup.


"Benarkah itu?" Tentu saja mata Shelly berbinar-binar begitu mendengar ucapan dari sahabat nya.


"Shell Lo ragu sama gue? Lo tau kan uang suami gue gak akan habis kalau gitu borong satu mall terbesar di Indonesia ini."

__ADS_1


"Ah Lo benar Vi! Kalau begitu gue siap-siap dulu." Jiwa semangat Shelly tentu saja membuat Viola menahan tawa nya.


"Baiklah Shell. Setengah jam lagi gue akan jemput Lo." Ucap nya pada Shelly.


"Ah tidak perlu Vi. Gue aja kesana sendiri!" Tolak Shelly dengan lembut.


"Shell, Lo lupa apa? Lo saat ini tengah hamil besar! Biar gue yang jemput sama supir pribadi gue!" Tegas nya pada Shelly.


"Tapi vi--


"Tidak ada tapi-tapi!" Sela Viola dengan intonasi yang sudah meninggi.


"Emh, baiklah." Jawab Shelly pasrah.


Panggilan pun di putus kan oleh Viola. Viola langsung bersiap-siap dan segera turun dari kamar nya setelah ia sudah selesai.


"Nyonya muda, mau kemana?" Tanya pak Dadang.


"Pak, saya ingin pergi kerumah Shelly. Bisa bapak suruh supir untuk mengantarkan saya?" Tanya Viola dengan sangat sopan nya.


"Tentu saja nyonya muda," dengan segera pak Dadang menyuruh supir pribadi nyonya muda nya itu menyiapkan mobil melalui walkie talkie.


"Nyonya, mobil sudah disiapkan." Ujar pak Dadang.


"Baik pak, terimakasih." Viola tersenyum dan berjalan menuju pintu utama.


Setiba nya dia di pintu utama dengan langkah terburu-buru nya Viola memasuki mobil yang sudah di bukakan oleh supir pribadi nya.


"Terimakasih," ucap nya saat sudah masuk kedalam.


Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang. Karna, jujur saja Viola masih sedikit trauma saat mobil melaju cepat. kejadian yang lalu masih terlintas jelas di bayangan nya.


...🖤🖤...


Apartemen Bobby...


Viola melihat Shelly sudah menunggu nya di depan apartemen. Karna sebelum Viola tiba dia sudah menyuruh sahabatnya itu untuk menunggu nya di depan.


"Sudah lama?" Tanya Viola saat Shelly masuk kedalam mobil.


"Mall Central Park drn.khan..." jawab Viola


"Bukan nya itu tempat Lo kerja dulu ya?" Shelly tidak asing mendengar nama mall yang Viola sebut.


"Memang benar Shell. Dan ternyata mall itu milik suami gue juga." Ucap nya.


"What's!" Jujur saja Shelly lumayan terkejut walaupun menurut nya itu adalah hal yang normal untuk seorang miliader dunia.


Di sepanjang perjalanan mereka terus saja berbincang-bincang. Hingga tidak terasa akhirnya mereka sampai di mall tersebut.


"Shell Lo kalau mau sesuatu ambil saja!"


"Lo serius?" Shelly menatap tidak percaya kearah Viola.


"Emh," Viola menganggukan kepalanya itu.


"Nanti suami Lo marah pula kalau kita belanja yang banyak!" Shelly mengikuti langkah kaki sahabat nya yang berjalan masuk.


"Justru dia lah yang nyuruh gue untuk menghabiskan uang nya. Gila bukan?" tatapan kesal Viola menatap kearah Shelly.


Namun tiba-tiba saja, "Selamat datang, ada yang bisa kami bantu?" Tanya seorang karyawan yang berkerja disana.


"Tolong lihat kan pada kami pakaian yang sangat mahal!"


"Vi Lo gila ya!" Shelly langsung menarik-narik ujung baju sahabat nya itu begitu ia mendengar ucapan Viola.


"Maaf mba, dia hanya bercanda!" Dengan senyum kecil dan terpaksa Shelly menarik sahabat nya.


"Ada apa Shell?" Viola sedikit bingung dengan sikap sahabat nya itu


"Vi sangat sayang jika uang lo di habis kan untuk barang-barang yang tidak penting." Shelly melirik kebelakang saat para pelayan wanita melihat mereka dengan tatapan tidak suka

__ADS_1


"Shell, sesekali tidak apa-apa dong! Lagian uang suami Lo juga banyak. Bukan kah tugas istri itu menghabiskan uang suami?" Tatap nya polos kearah Shelly.


"Apa?? Lo tau dari mana kata-kata itu?" Shelly sedikit terkejut dengan ucapan Viola.


"Dari Darren!"


"Pantas saja!" Dengan wajah yang meringis Shelly menepuk kening nya


"Vi dengarin gue!" Shelly memegang kedua bahu sahabat nya. "Hanya orang yang banyak uang dan kaya raya yang bisa mengatakan hal seperti itu! Sementara kita tidak."


"Kau benar juga Shell, kita kan tidak kaya. Kenapa sekarang aku berlagak seperti orang kaya ya?" Viola menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


"Nah loh tau itu! Sekarang kita pergi saja dari sini dan ke pasar pakaian yang lebih murah saja. Toh bahannya juga sama saja." Ucap nya kembali.


"Baiklah Shell," Viola menganggukan kepalanya.


Saat mereka pergi Shelly dan juga Viola mendengar ucapan para pekerja di mall tersebut sudah membicarakan mereka.


"Seperti nya mereka hanya cuma untuk bergaya saja kemari," ucap para pelayang menatap sinis kearah mereka


"Shell siapa yang mereka bilang bergaya?" Tanya Viola dengan sangat bingung.


"Entah Vi! Bukan kah pakaian kita biasa saja." Shelly melihat diri nya dan juga Viola.


"Apa kita nya saja yang terlalu merasa di ceritain oleh mereka?"


"Seperti nya begitu Vi." Mereka pun hendak melanjutkan langkah mereka kembali.


"Nona, kalau ingin kemari lagi tolong siapkan uang yang banyak ya!" Teriak salah satu pelayan membuat pelayan lain nya menepuk-nepuk tubuh teman nya.


"Eh jangan cari masalah!" Tutur teman nya.


"Aku tidak cari masalah kok! Ucapan ku benar kan?" Ia menaikkan bahu nya itu.


"Maaf kalian membicarakan kami?" Shelly berjalan mendekati mereka. Sementara Viola langsung menghampiri sahabat nya agar tidak lepas kendali. Mengingat bahwa sahabat nya itu sangatlah galak.


"Tidak! Maafkan kami nona." Jawab pelayan satu nya lagi.


"Hey! Jelas-jelas memang mereka lah yang kita bicarakan. Pakaian nya saja terlihat mahal! Tapi tidak punya uang! Jangan-jangan kalian memakai brand palsu ya? Upss!!!" Ucap pelayan yang satu nya lagi sambil tertawa.


Shelly lalu tertawa kecil membuat mereka sedikit bingung. Namun, tiba-tiba saja mimik wajah nya kembali tegas.


"Kau tidak tau siap wanita yang ada disamping ku ini? Kalian tidak pernah melihat berita ya!" Tatap nya dengan tajam.


"Shell sudahlah lupakan! Aku tidak mau karna masalah ini Darren kemari dan rencana ku gagal." Bisik Viola pada Shelly.


"Emh, baiklah-baiklah! Kita pergi sekarang."


"Kalau bukan karna sahabat ku memaksa ku untuk pergi, maka sudah ku bungkam mulut-mulut busuk kalian itu!" Geram Shelly pada mereka semua.


Viola dan Shelly melanjutkan langkahnya. Namun, tiba-tiba saja seorang pelayan yang sengaja mamajukan satu kaki nya membuat Shelly tersandung. Syukurlah dengan sangat cepat Viola menahan tubuh sahabat nya. Dengan tatapan yang sulit diartikan mengarah ke arah pelayan yang sudah membuat Shelly hampir terjatuh.


"Vi," panggil Shelly sembari menelan Saliva nya itu.


Plakkkk


Satu tamparan mengarah pada wajah pelayan yang sudah melakukan hal berbahaya seperti tadi.


"Kau--" pelayan itu hendak membalas tamparan Viola dengan sigap Viola menahan tangan pelayan tersebut.


"Jauhkan tangan kotor mu itu dari tubuh ku!!" Kecam Viola pada pelayan itu membuat semua orang menatap dirinya.


"Berani sekali kau menampar ku!" Pelayan itu menatap benar-benar marah pada Viola.


"Panggil manajer kalian kesini!" Viola menatap kearah pelayan yang sejak tadi masih terkejut melihat wanita yang diam saja tiba-tiba begitu mengerikan.


"Manajer kami sedang tidak ada di tempat nya nona." Jawab pelayan itu.


"Kau pikir siapa dirimu yang bisa seenaknya memanggil manajer kami kemari?" Pelayan yang di tampar oleh Viola tadi masih juga berbicara lantang pada nya.


Viola benar-benar marah. Emosi yang sudah ia tahan sejak tadi terus saja membara meminta untuk di keluarkan. Mengingat saat ini sedang banyak orang menatap diri nya membuat dia harus menahan emosi nya itu.

__ADS_1


^^^Bersambung....^^^


...****************...


__ADS_2