Menikahi Seorang Miliarder Dunia

Menikahi Seorang Miliarder Dunia
Eps. 129 mari bercerai!


__ADS_3

"Pernikahan kontrak!"


Deg!


Ucapan Viola membuat semua orang yang berada di sana sangat terkejut.


"Apa maksudnya ini?" Terdengar suara dari arah pintu membuat semua orang menatap kearah suara tersebut.


"Mama!"


"Tante!"


Mereka semua melebarkan mata mereka kearah mama Darren. Viola juga tidak kalah terkejutnya saat tau siapa yang masuk.


"Tante, kenapa Tante kembali lagi?" Bobby menelan Saliva nya dengan sangat susah saat mendapati tatapan tajam dari Darren.


"Karna ini!" Aurora mengambil ponsel nya yang tertinggal di meja yang ada di samping Viola.


"Kenapa? Kalian terkejut?" Wajah Aurora sudah terlihat sangat murka.


"Apa maksudnya semua ini? Pernikahan kontrak apa yang sedang kalian bicara kan?" Aurora kembali bertanya pada mereka semua.


"Ma, dimana omay?" Viola berusaha mengalihkan pembicaraan dari mama suaminya itu.


"Omay pulang Luan! Karna, mama pikir mama akan pulang sebentar lagi setelah mengambil ponsel mama. Dan yang mama tanyakan saat ini apa maksud dari perkataan mu nak?" Mama Darren berjalan kearah Viola.


"Bukan apa-apa ma," jawab Viola dengan tersenyum kearah mama Darren.


"Mama tau kau sedang berbohong sayang." Mama Darren menatap dalam wajah menantu kesayangan nya itu.


"Ma, sebaiknya semua itu tanyakan saja pada Darren! Viola tidak sanggup untuk menceritakan nya." Viola tidak ingin hubungan ibu dan anak jadi rusak hanya karna sebuah kebohongan dari Darren.


"Ada apa ini Darren?" Mama Darren beralih menatap kearah Darren.


"Bukan apa-apa ma," bukan nya Darren tidak ingin memberitahukan semua nya pada mama nya itu. Namun Darren mengaggap pernikahan ini bukan lah pernikahan kontrak.


"Jika bukan apa-apa kenapa Viola sampai berkata seperti itu?" Mama Darren menekan kan ucapan nya.


"Huh," Darren menghela nafas nya dengan sangat kasar.


"Bob bawa mama ku keluar dari sini!" Perintah Darren pada Bobby.


"Tapi--" Bobby merasa tidak enak hati jika harus membawa mama dari sahabat nya itu secara paksa.


"Ma, pulang lah dulu! Akan ku jelas kan semua nya nanti pada mama dan juga omay." Ujar Darren menatap kearah Aurora dengan sorot mata yang sangat serius.


Aurora sangat paham jika putra nya sudah berkata seperti itu maka ia sangat butuh waktu untuk semuanya. Dengan perasaan yang masih penasaran dan juga kesal Aurora memilih untuk keluar bersama Bobby.


"Nona Shelly, anda ingin menjadi nyamuk disini?" Andhika yang melihat Shelly masih berdiam di tempat nya langsung mendekat kearah Shelly.


"Eh," Shelly sangat terkejut ketika bahu nya di sentuh oleh Andhika.


"Nona Shelly sebaiknya kita keluar dulu dari sini! Mereka butuh ruang untuk masalah yang seharusnya kita tidak wajib untuk tahu." Ujar Andhika dengan menatap wajah Shelly yang masih terlihat khawatir.

__ADS_1


"Ta-tapi Vio--"


"Dia baik-baik saja nona!" Andhika menggenggam tangan Shelly dan langsung membawa Shelly keluar dari ruangan Viola.


Saat ini hanya ada Darren dan juga Viola saja yang berada disana. Mereka masih hening satu sama lain. Darren tidak mengatakan satu kata pun pada Viola sejak Viola mengucapkan pernikahan kontrak yang terjadi pada hubungan mereka.


"Mari bercerai!" Ucap Viola dengan nada yang masih serak akibat menangis.


"Apa yang kau ucapkan Viola Talisa!" Darren menatap tajam kearah Viola begitu ia mendengar ucapan dari Viola.


"Darren mari bercerai! Lagian kau juga sudah mendapatkan kembali cinta mu yang hilang itu dan aku mungkin bisa kembali pada kehidupan awal ku." Viola berbicara dengan wajah yang sangat datar.


"Tarik kembali kata-kata mu istriku!" Nafas Darren sudah naik turun menghadapi sikap Viola yang begitu kekanak-kanakan menurut nya.


"Mengapa aku harus menarik kembali ucapan ku?" Viola malah melemparkan ucapan Darren kembali.


"Darren hubungan kita sejak awal memang sudah salah! Aku pikir dengan ada nya anak kita, maka hubungan kita tidak akan pernah berakhir seumur hidup. Namun, siapa sangka anak yang sudah kita nantikan pergi begitu saja." Viola menghela nafas nya dengan perlahan.


"Aku tidak menyalahkan dirimu sepenuhnya atas kehilangan nya anak kita! Karna aku sendiri juga sadar ini akibat rasa amarah ku dan kecerobohan ku yang mengakibatkan diri ku kehilangan bayi kita." Air mata Viola kembali mengalir.


"Hust, hust!" Darren mengusap air mata Viola dengan perlahan.


"Aku tidak akan menceraikan dirimu Viola Talisa!" Tegas Darren pada Viola.


"Kenapa?" Viola menatap wajah Darren dengan sangat intens.


"Karna aku sangat mencintaimu! Aku tidak sanggup jika harus berpisah dari mu."jawab Darren pada Viola.


"Cinta? Konyol sekali!" Viola tersenyum kecil mendengar ucapan Darren.


"Baru kemarin kau berkata seperti itu pada wanita lain. Dan sekarang kau mengucapkan kata itu pada ku! Itu lucu sekali Darren." Viola tertawa dengan sangat keras nya.


"Viola kau sudah salah paham pada ku! Vaya hanya masa lalu ku." Darren berusaha berbicara dengan suara yang sangat lembut pada Viola.


"Masa lalu mu?" Tanya Viola.


"Ya! Dia hanya masalalu ku. Dan kau lah masa depan ku." Darren mendekatkan wajahnya pada Viola membuat hidung mereka saling bersentuhan.


"Jika dia masalalu mu, terus kenapa kau tidak pernah menceritakan nya pada ku?" Viola mendorong tubuh Darren dari dirinya.


"Waktu nya belum tepat untuk memberitahukan semuanya pada mu istriku." Darren sudah kehabisan kata-kata berhadapan dengan Viola.


"Belum tepat? Maksud mu belum saat nya untuk aku mengetahui siapa cinta pertama mu yang sebenarnya." Viola memalingkan wajah nya itu.


"Kenapa kau jadi seperti ini?" Darren tidak percaya dengan sikap Viola pada nya.


"Aku sakit Darren! Sakit sekali rasanya mendengar suami ku mengucapkan kata cinta pada wanita lain pada saat suami ku sendiri tidak pernah mengucapkan perkataan itu pada istri nya ini." Tekan Viola pada Darren dengan air mata yang terus mengalir.


"Aku kecewa dengan mu Darren! Kau berkata ingin memiliki anak dengan ku. namun kau sendiri tidak pernah berkata kalau kau mencintai ku. Aku mengaggap kau tidak akan pernah menginginkan anak kita! Karna anak itu adalah buah cinta dari sepasang suami istri yang saling mencintai. Sedangkan hubungan kita tidak termasuk dalam katagori itu Darren!" Isak tangis Viola semakin kencang.


"Sayang itu tidak benar! Aku sangat mencintaimu. Tidak ada wanita lain di hati ku selain dirimu." Darren berusaha menenangkan hati Viola


"Sudah lah Darren! Lagian semuanya sudah terjadi. Tidak ada lagi yang perlu untuk di pertahankan. Karna bayi kita juga sudah tiada! Aku ikhlas kehilangan bayi ku, mungkin maha kuasa lebih mencintai nya." Viola mengusap air mata nya.

__ADS_1


"Ayo bercerai!" Lagi-lagi ucapan Viola membuat kedua bola mata Darren menatap Viola dengan perasaan yang sangat kecewa pada Viola.


"Aku tidak mau!" Tegas Darren.


"Bukan kah kau pernah berjanji akan memberikan apapun yang aku minta sebelumnya Darren?" Viola menatap kearah Darren.


"Ya aku memang pernah berjanji seperti itu pada mu. Tapi, jangan harap kau ingin meminta cerai pada ku!" Darren berbicara dengan nada yang cukup tinggi pada Viola.


"Aku ingin cerai Darren!" Viola tidak kalah tinggi nya mengucapkan perkataan nya itu dihadapan Darren.


"Jangan coba-coba Viola Talisa! Jika kau tetap ingin bercerai dari ku, maka aku akan--"


"Akan apa? Memenjarakan adik ku? Atau menghancurkan seluruh hidupku?" Viola menatap jengah pada Darren.


"Kau tau Darren? Sejak aku menikah dengan mu hidup ku sudah hancur!" Sinis Viola.


Darren memejamkan kedua matanya itu sebentar. saat mendengar perkataan Viola padanya. Sakit sekali ia rasakan wanita yang sangat ia cintai berkata seperti itu.


"Sebegitu nya kah kau membenciku?" Darren menatap kedua manik bola mata Viola.


"Y-ya!" Viola berusaha menahan dirinya itu agar tidak kembali menangis dihadapan pria yang sangat ia cintai.


"Apa kau mencintaiku?" Tanya Darren pada Viola.


"Dulu aku mencintaimu, namun sejak hari ini saat aku mengetahui bayi ku sudah tiada rasa cinta ku pada mu sudah lenyap bersama dengan nya." Viola merasa bersalah mengucap perkataan tersebut. Ia benar-benar sudah kehilangan akal karena terbawa oleh emosi


"Tidak ingin kah kau mempertahankan rumah tangga kita Viola?" Darren menatap intens wajah wanita yang sangat ia cintai.


"Tidak ada lagi yang perlu di pertahankan Darren. Aku sudah lelah bersama mu!" Viola tidak berani bersitatap muka dengan Darren. Ia tidak mau pria yang ada di hadapannya mengetahui kalau semua ucapan nya hanya lah kebohongan.


"Baiklah jika itu mau!" Darren langsung menjauh dari Viola.


Viola yang melihat sikap Darren yang langsung berubah sangat dingin merasa bersalah. Namun, Viola sendiri juga masih sangat marah pada Darren. Di tatap nya tubuh Darren yang sudah menjauh dari diri nya. Darren melangkahkan kaki nya keluar dari ruangan istri nya itu.


Setiba nya Darren di luar ruangan semua orang menatap kearah Darren. Disana Darren masih menatap mama nya yang belum juga pergi.


"Tuan muda saya sudah menyuruh nyonya besar untuk pulang! Namun nyonya muda tidak mau dan memilih untuk menunggu diluar." Bobby tidak ingin sahabat nya itu marah padanya lagi.


"Bob, siapkan surat cerai antara aku dan Viola secepatnya!" Perintah Darren dengan wajah datarnya.


Semua orang yang berada disana sangat terkejut mendengar ucapan Darren.


"Apa maksudmu nak?" Mama Darren menatap putra nya itu.


"Aku lelah!" Darren tidak menjawab sama sekali ucapan dari mama nya.


"Bob, aku tidak ingin menemui siapapun saat ini! Jadi semua nya aku serahkan pada mu." Ujar Darren kembali dan langsung meninggalkan mereka semua yang masih menatap kearah Darren dengan wajah yang masih tidak percaya.


"Ada apa ini?" Aurora menatap kearah mereka.


"Viola!" Shelly yang teringat sahabat nya sendirian di dalam ruangan tersebut langsung masuk kembali. Begitu juga dengan mereka semua.


Saat ini terlihat gadis yang tengah menangis dalam diam dengan wajah yang sudah tertunduk. memegang dada nya itu yang terasa sangat sakit sekali. Shelly yang melihat keadaan sahabat nya seperti itu merasa sangat kasian dan sedih.

__ADS_1


^^^Bersambung....^^^


...****************...


__ADS_2