
"Nona Vivian tuan Anggara ingin menemui mu." ujar salah satu bodyguard pada Vivian.
"Tuan Anggara? Bukan kah itu papa nya Erik ya." Vivian pun langsung berdiri dan menatap kearah bodyguard tersebut.
"Iya nona Vivian," balas bodyguard itu.
"Baiklah dimana aku harus menemui nya?" tanya Vivian pada bodyguard tersebut.
"Kau tidak perlu menemui nya nona, karna tuan Anggara yang akan kemari untuk menemui mu." Ujar bodyguard itu lagi.
"Tuan Anggara nona Vivian sudah mengijinkan mu untuk menemui nya. Kau boleh masuk sekarang!" Bodyguard tersebut pun mempersilahkan tuan Anggara untuk masuk dengan sangat hormat.
Anggara memasuki apartemen putra nya itu yang dimana sudah dijaga ketat oleh bodyguard Anggara agar tidak ada yang masuk.
"Selamat siang nona Vivian!" Anggara pun berjalan mendekati Vivian dan tersenyum tipis padanya.
"Selamat siang juga tuan Anggara," balas Vivian dengan sangat sopan. "Silakan duduk tuan! Oh iya Erik tidak ada disini. Jadi, jika tuan ingin menemui nya sebaiknya tuan datang saja ke perusahaan milik Erik." Sebenarnya Vivian sangat takut menghadapi ayah dari orang yang sangat ia cintai itu. Namun, ia berusaha untuk menahan rasa takut nya agar tidak terjadi apa-apa pada bayi nya.
"Saya ingin menemui anda!" Tuan Anggara menatap Vivian dengan sudut matanya.
"Menemui saya?" Vivian menautkan kedua alisnya dengan heran. "Mengapa tuan ingin menemui saya?"
"Kau seharusnya tau nona!" Tuan Anggara menatap kearah perut Vivian yang sudah besar itu.
"Apa maksudmu tuan?" Vivian yang sudah takut langsung memegang perut nya.
"Nona Vivian saya tidak ingin anak ini lahir!" tuan Anggara langsung berbicara dengan penuh penekanan nya.
"Deg!" Vivian langsung lemas ketika mendengar ucapan dari seseorang yang akan menjadi grandfather dari bayi nya sendiri.
"Bagaimana bisa kau berbicara seperti itu tuan! Mau bagaimana pun dia akan menjadi cucu mu dan ini juga darah daging dari anak mu tuan." Vivian berdiri dengan wajah yang sudah emosi dan menahan air matanya.
"Kau seharusnya berpikir nona! Jika, keluarga Erik tidak menyetujui hubungan kalian. Lalu, kenapa kau mau memiliki anak bersama nya ?'' tuan Anggara menatap tajam kearah Vivian. "Saya membiarkan kalian selama setahun ini hanya untuk membuat putra ku merasa kebahagiaan sebentar bersama mu! Setelah itu saya akan memisahkan kalian! Karna derajat kalian itu sangat jauh berbeda!"
"Saya tidak akan mengugurkan kandungan saya ini!" Vivian yang sudah tidak bisa menahan air matanya, langsung berlari meninggalkan tuan Anggara disana.
Tuan Anggara yang melihat Vivian berlari meninggalkan mereka langsung memerintahkan bodyguard nya untuk mengejar Vivian.
......................
"Erik angkat telfon mu!!" Vivian sudah sangat takut, dengan tangan yang gemetar sambil berlari dia menelfon Erik. Tidak menunggu waktu yang lama Erik pun mengangkat panggilan dari Vivian.
"Hallo sayang," sapa Erik dengan sangat lembut nya.
"Erik tolong aku! Papa mu ingin membunuh anak kita." Vivian yang terus berlari menahan rasa sakit pada perut nya yang sudah besar itu.
__ADS_1
"Apah..! Papa ingin membunuh anak ku?" Erik yang terkejut langsung bangkit dari kursi kerja nya. "Sayang tenanglah! Aku akan segera kesana."
"Cepat lah! Aku sedang dikejar oleh bodyguard papa mu." Vivian yang masih memegangi perutnya dan terus berlari.
"Aku akan kesana!" Erik pun memutuskan panggilannya.
Vivian yang sudah sangat lelah berlari, ia pun beristirahat sebentar dibawah pohon yang besar. Para bodyguard terus mencari Vivian melihat kesana kesini. Namun, tidak melihat Vivian sama sekali.
Sementara Erik sangat cemas memikirkan keadaan gadis yang ia cintai. Dia sangat takut terjadi apa-apa pada Vivian dan bayi nya. Walaupun mereka tidak menikah namun Erik menganggap Vivian itu istri nya. Erik berniat setelah Vivian melahirkan akan menikahi nya.
"Pa..! Jika terjadi sesuatu pada Vivian dan juga anak ku. Aku tidak akan bisa untuk memaafkan mu!" Erik membawa mobil nya dengan sangat cepat.
...πΎπΎ...
Vivian yang sedang bersembunyi dibawah pohon yang rindang terus saja melihat kearah pria yang mengejar nya. Dia merasa lega ketika pria yang mengejar nya itu sudah tidak terlihat lagi. Namun...
"Nona kau mau lari kemana?" Para bodyguard langsung menatap kearah Vivian dari belakang, membuat Vivian sangat terkejut.
"Tu-tuan! Kumohon biarkan aku pergi." Vivian memundurkan langkah kaki nya menuju kearah jalan raya.
"Nona tolong jangan merepotkan kami! Kami hanya menjalankan tugas saja." Bodyguard berjalan perlahan mendekati Vivian.
Erik yang hendak menyebrang jalan melihat Vivian yang sedang berjalan kearah jalan raya.
"Vivian apa yang kau lakukan? Itu sangat berbahaya!" Erik pun turun dari mobil nya begitu saja dan berlari kearah Vivian.
Ketika Erik berlari menghampiri Vivian dia pun melihat para bodyguard papa nya mendekati wanita nya itu.
"Berani kalian menyentuh wanita ku!" Teriak Erik dari jauh membuat bodyguard itu terkejut.
"Tuan Erik!"
"Sayang!" Teriak Vivian yang langsung tersenyum melihat kearah Erik, tanpa Vivian sadari dia masih berada di tengah jalan raya saat ini.
"Vivian awassss...!!!!" Teriak Erik yang hendak menarik Vivian, ketika mobil melaju cepat kearah Vivian. Namun...
"Brukk..!" Suara tabrakan yang cukup keras membuat Erik langsung terdiam lemas ketika orang yang ditabrak itu adalah Vivian.
"Vivian..!" Erik pun berlari menghampiri Vivian yang sudah terseret ke sudut jalan raya.
"Vivian bangun kumohon, bangunlah!" Teriak Erik ketika melihat sekujur tubuh Vivian penuh dengan darah.
"Cepat panggil ambulance..!" Erik menatap tajam kearah bodyguard yang masih terbengong di banyak kerumunan orang.
__ADS_1
"Ba-baik tuan." Dengan tangan yang sedikit mengetar bodyguard itu pun menelfon dan tidak lupa juga memberi pesan singkat pada tuan Anggara yang langsung membuat tuan Anggara sangat terkejut dan keluar dari apartemen milik putranya itu.
"Vivian bangunlah..! Lihat ini! Kau tidak sayang pada anak kita? Dia sebentar lagi akan bersama kita. Jadi bangunlah!" Erik terus saja menangis dengan memeluk tubuh Vivian yang masih lemah itu.
Vivian membuka matanya perlahan menatap kearah Erik dengan tersenyum dan memegangi pipi Erik.
"Sayang kau sudah bangun? Sayang ku mohon bertahan lah! Sebentar lagi ambulance akan datang." Erik langsung menatap kearah Vivian dengan mata yang masih basah.
"Sayang jangan menangis." Vivian berbicara dengan nada yang menahan rasa sakit nya.
"Bagaimana bisa aku tidak menangis ketika melihat mu seperti ini." ujar Erik yang masih menggenggam tangan Vivian.
"Sayang kumohon jika terjadi sesuatu pada ku nanti, kau harus tetap hidup." pinta Vivian yang masih menatap kearah Erik.
"Kau itu bicara apa sih!" bentak Erik yang semakin ketakutan. "Tidak akan terjadi apa-apa pada mu!" timpal nya.
"Iya aku tau sayang. Aku hanya bercanda." Vivian tertawa kecil dengan menahan sakit nya.
"Sudah kau harus tetap bertahan!"
Tidak menunggu waktu yang lama ambulance pun datang. Vivian yang masih dalam kondisi parah berusaha menahan rasa sakit nya di depan Erik agar dia tidak khawatir. Namun ketika Vivian masuk kedalam ambulance dan Erik hendak ikut masuk juga. Tiba-tiba tatapan mata Erik terhenti pada pria paruh baya yang berdiri tidak jauh dari nya.
"Erik..!" panggil tuan Anggara menatap kearah putra nya.
"Pa..! Kau melakukan kesalahan yang sangat besar!" Erik menatap tajam kearah papa nya dan langsung meninggalkan papa nya disana.
Ketika ambulance sudah pergi meninggalkan tuan Anggara. Dia pun menatap kearah bodyguard yang dia suruh itu dengan sangat marah.
"Kalian itu bisa bekerja tidak...!" Raung tuan Anggara pada para bodyguard
"Maaf kan kami tuan," bodyguard itu pun menundukkan kepalanya dan meminta maaf.
"Aku menyuruh kalian untuk mengejar nya bukan membunuh nya!" sergah tuan Anggara lagi.
"Maaf tuan, Maaf.." bodyguard tersebut terus saja meminta maaf.
"Untuk apa kalian meminta maaf pada ku! Jika masalah ini sampai ke telinga putra sulung ku. Maka habis lah kalian semua!" tuan Anggara masih berusaha mengatur nafasnya itu.
"Kami janji tuan kami tidak akan membiarkan tuan Evan mengetahui nya." Bodyguard tersebut pun menatap kearah tuan Anggara.
"Kuharap begitu!" Tuan Anggara pun meninggalkan para bodyguard itu dan pergi menaiki mobil nya dengan perasaan takut dan bersalah.
^^^Bersambung....^^^
...****************...
__ADS_1