Menikahi Seorang Miliarder Dunia

Menikahi Seorang Miliarder Dunia
Eps. 126 hubungan kami salah?


__ADS_3

"Ada apa?" Tanya Andhika dan langsung memeriksa tubuh Viola.


"Viola tadi sadar! Namun dia pingsan lagi." Jelas Darren pada Andhika.


Andhika yang mendengar ucapan Darren hanya tersenyum kecil saja.


"Darren Viola baik-baik saja! Ini biasa bagi seorang pasien yang baru saja melewati masa kritis nya." Ujar Andhika pada Darren.


"Benarkah?" Darren menatap wajah Andhika dengan sangat intens.


"Tentu saja benar! Kau tidak perlu khawatir Darren. Viola sudah baik-baik saja saat ini." Andhika menepuk pundak sahabat nya dan langsung meninggalkan ruangan tersebut. Andhika ingin permasalahan sahabat nya cepat terselesaikan.


Darren merasa sangat lega mendengar ucapan dari Andhika. Darren kembali menggenggam tangan Viola dan tertidur di samping Viola.


Sementara Bobby yang saat ini berada di dalam mobil terus saja menatap wajah Shelly sekilas lalu kembali menatap kearah jalan.


"Nona Shelly, sebenarnya ada apa dengan dirimu? Kenapa aku begitu mencemaskan mu." Ujar Bobby dan terus saja mengemudikan mobil nya.


Tidak menunggu waktu yang lama Bobby pun sampai di apartemen nya. Dengan sangat cepat Bobby mengangkat tubuh Shelly secara perlahan.


"Tuan Bobby ada apa?" Tanya security apartemen Bobby.


Bobby tidak menjawab sama sekali. Ia saat ini tengah fokus pada Shelly dan langsung masuk ke dalam apartemen nya. Diletakkan nya kepala Shelly secara perlahan di atas tempat tidur milik nya itu.


"Kau wanita pertama yang tidur di atas ranjang ku nona Shelly." Ujar Bobby dengan tersenyum tipis di bibir nya.


Bobby adalah pria yang tidak suka bergaul dengan wanita manapun. Hanya sesekali saja jika ia menjalankan perintah dari Darren untuk menyelidiki seseorang yang memang harus berhubungan dengan wanita. Darren dan Bobby adalah dua lelaki yang sama sekali tidak suka terlalu dekat dengan seorang wanita. Namun Bobby, sedikit memiliki rasa kemanusiaan di banding kan Darren.


"Bik nah!" Teriak Bobby.


"Iya tuan," bik nah yang di panggil oleh Bobby langsung berlari menghampiri tuan nya itu.


Bik nah adalah pekerja paruh waktu di apartemen Bobby. Bobby tidak ingin ada seseorang di dalam apartemen nya jika malam hari. Oleh karna itu bik nah hanya bekerja di saat Bobby sudah pergi dan pulang dari perusahaan Darren. Namun, karna saat ini Bobby pulang secara tiba-tiba membuat bik nah sedikit terkejut.


"Bik, tolong ambil minyak angin sekarang!" Perintah Bobby pada bik nah.


"Baik tuan," bik nah pun langsung pergi dan mengambil barang yang di suruh oleh Bobby.


Bobby yang sudah berada berdua di dalam kamar bersama Shelly hanya mengelus lembut pipi Shelly.


"Nona Shelly kau benar-benar sudah menarik perhatian ku," ujar Bobby pada Shelly.


Tidak menunggu waktu yang lama bik nah pun kembali ke kamar Bobby dan menyerahkan minyak angin tersebut pada Bobby.


"Ini tuan minyak angin nya," ucap bik nah.


"Baik bik, terimakasih!" Bobby langsung mengambil minyak angin tersebut dan mengusap nya ke bagian kening dan hidung Shelly.


"Maaf tuan bibik lancang. Tapi kalau bibik boleh tau gadis ini siapa ya tuan?" Tanyak bik nah dengan suara yang ragu. Namun bik nah juga merasa sangat penasaran dengan wanita yang belum pernah bik nah liat sebelumnya.


"Tunangan saya bik!" Jawab Bobby dengan suara datar.


"Tu-tunangan tuan?" Wajah bik nah terlihat sangat terkejut.


"Iya bik! Bik keluar lah dulu. Saya dan tunangan saya butuh istirahat!" Perintah Bobby dengan suara yang sedikit di tekan nya.


"Ba-baik tuan," bik nah yang mengerti nada dari suara Bobby langsung memilih untuk pergi.


Bik nah yang berada di luar kamar Bobby terus saja berpikir.

__ADS_1


"Bagaimana bisa tuan Bobby sudah bertunangan? Sedangkan saya saja tidak pernah melihat tuan Bobby membawa seorang wanita ke apartemen ini." Pikir bik nah.


"Ah sudah lah! Lagian itu juga tidak ada urusan nya sama sekali dengan saya." Bik nah yang sudah pusing memikirkan konflik permalasahan dari atasan nya langsung memilih untuk melupakannya saja.


Saat Bobby sedang membelai lembut rambut Shelly. Tanpa Bobby sadari wajah Bobby sangat dekat dengan Shelly.


"Nona Shelly maafkan aku," ujar Bobby dan mencium sekilas bibir Shelly.


......................


Keesokan hari nya.


Darren yang masih tertidur di samping Viola dengan menggenggam tangan Viola. Mulai membuka mata nya saat ada seseorang yang tengah mengelus kepala Darren.


"Istriku," wajah Darren yang terlihat sangat kacau membuat hati Viola terasa sangat sakit.


"Da-darren," lirih Viola dengan air mata nya itu.


"Istriku tunggu lah sebentar! Aku akan memanggil Kasella sekarang." Darren hendak bangkit dari duduk nya. Namun, tiba-tiba saja Viola menahan tangan Darren.


"Ada apa sayang?" Di tatap wajah Viola dengan lekat.


"Darren kenapa kau terlihat seperti ini?" Di rapikan nya rambut Darren yang berantakan itu.


"Sayang jangan pikir kan kondisi ku dulu saat ini. Yang harus di pikirkan itu adalah kondisi mu!" Darren mengusap pipi Viola dan tersenyum pada Viola.


"Darren apakah kau membenciku?" Viola menatap wajah Darren dengan sangat dalam.


"Tentu saja tidak sayang! Bagaimana bisa aku membencimu jika aku saja sangat men-"


"Nyonya muda anda sudah siuman?" Andhika tiba-tiba saja masuk keruangan tersebut.


"Itu tidak penting nyonya muda," jawab Andhika dan tersenyum pada Viola.


"Jaga pandangan mu Kasella!!" Darren menatap tajam kearah Andhika membuat Andhika langsung menghela nafas nya.


"Huft! Disaat seperti ini bisa-bisanya kau cemburuan." Andhika menggelengkan kepalanya itu dan mulai melanjutkan pemeriksaan pada Viola.


"Kau mau apa?" Darren melihat tangan Andhika menyentuh Viola.


"Oh sobat! Ku mohon kurangi dulu sifat posesif mu itu." Kesal Andhika.


Darren yang tau kondisi saat ini bukan lah hal yang tepat untuk cemburu hanya bisa merelakan Viola di periksa oleh Andhika membuat Andhika tersenyum puas.


"Oh ya dok! Bagaimana dengan bayi ku? Dia baik-baik saja bukan?" Viola sadar akan satu hal dan langsung menatap wajah Andhika.


"Darren aku hamil! Kita akan segera mempunyai anak." Wajah Viola tampak sangat berbinar menatap kearah Darren.


"Ada apa?" Viola yang melihat Darren dan juga Andhika hanya diam saja membuat Viola kebingungan.


"Sayang istirahat lah dulu! Nanti akan ku jelaskan semua nya pada mu." Darren mengelus lembut kepala Viola.


"Emh baiklah Darren," Viola yang merasa masih pusing di kepalanya langsung memejamkan matanya itu.


Darren yang melihat Viola sudah tertidur menghela nafas nya dan mencium kening Viola sangat lama. Ada perasaan takut yang menghantuinya saat Viola menanyakan tentang bayi mereka.


"Kasella keluar lah! Aku ingin bicara pada mu." Aura dingin Darren kembali seperti sebelumnya membuat Andhika sedikit bergidik.


"Ada apa?" Tanya Andhika saat mereka sudah berada di luar ruangan.

__ADS_1


"Bagaimana konsekuensinya saat aku memberitahukan pada Viola bahwa bayi kami sudah tidak ada lagi?" Tanya Darren pada Andhika.


"Di lihat dari kondisi istrimu. Mungkin tidak akan ada masalah sama sekali! Karna Viola saat ini sudah baik-baik saja." Jawab Andhika menurut ilmu kedokteran nya.


"Bagaimana dengan perasaan nya?" Tanya Darren kembali.


"Jika soal perasaan maka sudah pasti itu akan sangat sakit sekali." Andhika hanya tersenyum kecil saja.


"Aku takut dia akan meninggalkan ku jika mengetahui kebenaran nya." Darren menghela nafas nya itu menatap kearah dalam ruangan Viola.


"Kau harus menerima nya sobat! Apapun itu dia berhak mengetahuinya." Andhika menepuk-nepuk pundak Darren.


"Bagaimana jika dia meninggalkan ku?" Darren menatap wajah Andhika.


"Kau juga harus terima! Lagian dari awal hubungan kalian memang sudah salah." Andhika hanya bisa mengatakan hal yang sebenarnya saja.


"Salah? Apa hubungan kami ini salah?" Ujar Darren dengan ekspresi wajah yang sulit di artikan.


"Hubungan kalian mungkin tidak salah. Tapi kalian salah dalam memulai hubungan ini. Darren, pikirkan lah satu hal! Hubungan kalian sudah terlalu banyak sekali kesalahpahaman. Kau tau karna apa?" Andhika menautkan kedua alis nya itu.


"Karna apa?" Darren menjawab sebuah pertanyaan dengan pertanyaan kembali pada Andhika.


"Itu karna kau terlalu menyembunyikan semua masa lalu mu dari istri mu hanya karna kau takut istri mu itu tidak terima dengan masa lalu mu itu. Darren dari awal kau memang sudah mencintai nya tapi karna rasa ketakutan mu itu lebih besar dari pada rasa cinta mu. Membuat kau sendiri jauh dari nya." Andhika tersenyum pada Darren.


"Ternyata selama ini kesalahan ada pada ku." Darren mengusap wajah nya dengan kasar.


"Jika kalian jodoh maka mau bagaimana pun kalian akan tetap bersama." Andhika yang sudah berusaha menghibur sahabat nya langsung berjalan menjauh dari Andhika.


"Kasella kau mau kemana?" Darren menatap Andhika.


"Banyak pasien hari ini! Jadi aku sangat sibuk." Jawab Andhika dan kembali berjalan.


Sementara Darren hanya bisa diam saja mengingat perkataan Andhika pada nya. Namun tiba-tiba saja ada suara seseorang dari arah samping nya membuat Darren menoleh.


"Nak," panggil omay.


"Mama, omay." Darren hanya tersenyum tipis saja.


"Bagaimana kondisi Viola?" Tanya mama Darren pada Darren.


"Viola sudah baik-baik saja ma!" Jawab Darren.


"Bagus lah jika seperti itu! Mama dan juga omay sudah bisa tenang." Mama Darren menghela nafas nya dengan lega.


"Nak ada apa dengan mu? Kenapa kau terlihat masih sedih? Bukankah Viola baik-baik saja?" Omay menatap lekat wajah cucu nya itu.


"Viola belum tahu tentang keguguran yang terjadi pada nya omay," ujar Darren dengan suara berat nya.


"What's? Ma bagaimana ini?" Aurora menatap kearah mama mertuanya.


"Tenang lah Ra! Kita akan memberitahukan nya secara pelan-pelan. Mama yakin Viola pasti mengerti." Ujar omay pada Aurora dan juga cucu nya.


"Semoga saja begitu ma," mama Darren hanya bisa berharap Viola baik-baik saja setelah mengetahui semuanya.


"Viola aku harap kau tidak akan meninggalkan ku jika kau mengetahui bahwa kau kehilangan bayi kita." gumam Darren dengan wajah yang tampak cemas.


Mereka semua memilih masuk kedalam menemani Viola di dalam yang masih berisitirahat.


^^^Bersambung...^^^

__ADS_1


...****************...


__ADS_2