Menikahi Seorang Miliarder Dunia

Menikahi Seorang Miliarder Dunia
Eps. 75 Aku ingin pulang kerumah ku!


__ADS_3

"Sial! Mengapa Darren sangat perhatian padanya? Perempuan itu tidak memiliki kelebihan sedikit pun! Mengapa Darren lebih memilih nya di bandingkan diriku!" Kesal Laura di dalam hati nya. Ingin sekali rasanya ia menghabisi Viola saat ini juga.


Darren melihat Viola sudah terduduk di lantai. Ia langsung berjongkok dan menatap ke wajah istri nya yang terus menangis.


"Istriku, jangan menangis! Aku paling tidak suka melihat mu menangis." Darren menghapus air mata Viola dengan lembut.


"Ini semua salah mu! Gara-gara mu aku jadi menangis di depan semua orang. Mereka pasti sedang menertawakan ku! Hisk hisk hisk." Viola kembali menangis. Rasa malu bercampur sakit jadi satu di dalam hati nya.


Tatap mata Darren tertuju kearah mereka semua yang hanya tertunduk tidak berani menatap kearah tuan muda mereka yang berusaha menenangkan nyonya muda nya.


"Lihatlah istriku! Mereka semua tidak berani menertawakan mu. Jadi berdiri lah dan duduk di sofa. Aku akan menghubungi Kasella dan dia akan segera mengobati luka mu." Darren mengangkat tubuh Viola untuk berdiri.


"Aku tidak mau duduk! Aku mau pulang." Viola kembali memberontak seperti anak kecil yang membuat Darren sedikit kuwalahan menghadapi nya.


"Baiklah istriku." Darren segera menghubungi supir pribadi yang ia perintahkan untuk mengantarkan Viola kemana saja.


Tidak menunggu waktu yang lama supir pribadi Viola sudah tiba di depan perusahaan Darren dan segera masuk untuk menjumpai tuan muda nya itu.


"Pak, antar istri saya kembali ke kediaman." Perintah Darren pada pak Sukirman.


"Baik tuan muda." Jawab pak Sukirman dengan kepala tertunduk nya.


"Istriku pulang lah dulu sama supir pribadi. Aku akan segera menyusul mu setelah masalah disini selesai. Ingat jangan melakukan hal yang bisa membuat mu terluka lagi!" Darren membelai rambut Viola dengan sangat lembut nya.


"Aku tidak mau kembali ke kediaman mu!" ujar Viola dengan suara sesenggukan nya.


"Apa maksudmu tidak ingin pulang ke kediaman ku? Bukan kah tadi kau bilang ingin pulang istriku?" Mata Darren menatap intens kearah Viola.


"Aku tidak ingin tinggal bersama mu lagi! Aku ingin pulang kerumah ku sendiri." ujar Viola pada Darren membuat Darren menjadi sangat marah.


"Kau itu istri ku! Jadi rumah mu adalah di kediaman ku." Darren menghela nafas nya dan berjalan mendekat kearah Viola.


"Viola, jangan terus-terusan menguji kesabaran ku! Aku khawatir tidak bisa mengontrol nya dan bisa mengakibatkan menyakiti mu. Jadi ku mohon menurut lah!" Bisik Darren pada Viola. dengan sorot mata yang lembut pada Viola.


Viola yang mendengar bisikan dari suaminya langsung menatap kearah Darren dengan sangat terkejut. Ia baru sadar dari tadi Darren berusaha bersikap tetap lembut padanya walaupun dia sudah membentak nya dan berbicara kasar padanya. Padahal semua orang tau betapa kejam dan dingin nya Darren terhadap semua orang. Hanya pada nya lah Darren sedikit mentolerir nya.


"Jika kau tidak bisa menahan nya, kenapa tidak kau keluarkan saja amarah mu itu?" Viola berbicara pelan pada Darren. Hanya mereka berdua saja lah yang mendengar perkataan masing-masing.


"Mereka sedang apa?" Pikir Laura menatap kearah Darren dan juga Viola.


"Aku tidak ingin menyakiti orang yang aku sayangi!" ujar Darren dengan suara yang sangat pelan.


Suara itu terdengar sangat pelan di telinga Viola. Ia sempat tidak percaya dengan apa yang di katakan Darren pada nya.

__ADS_1


"Tidak! Dia tidak mungkin bilang sayang padaku. Aku pasti salah dengar." gumam Viola di dalam benak nya dan masih menatap kearah Darren.


Mata mereka saling bertemu dalam waktu yang lumayan lama. Viola mencoba mencari kebenaran di mata suaminya ini. Sedangkan Darren memikirkan bagaimana bisa istrinya memiliki mata seindah ini?


"Sekarang pulang lah! Bukan kah kau ingin pulang?" Darren langsung membuat Viola mengalihkan tatapan mata nya kearah lain.


"Aku tidak mau pulang! Jika aku harus pulang maka itu harus kerumah ku." Viola terus saja bersikukuh dengan perkataan nya.


Jika itu orang lain maka sudah habis oleh Darren. Namun, ini berbeda! gadis yang sangat keras kepala ini terus-menerus menguji kesabaran Darren. Bagaimana bisa seorang Darren yang terkenal dingin bisa menahan rasa sabar nya terlalu lama.


"Jika kau ingin pulang kerumah mu, maka kau harus pulang bersama ku kesana!" Tatap tajam Darren membuat Viola sedikit memundurkan langkahnya.


"Sayang biarkan lah dia pulang! Bukan kah kau masih ada aku?" Laura berusaha mencari kesempatan di antar pertengkaran Hebat Darren dan Viola.


"Nona Laura sebaiknya anda diam saja! Atau anda akan mendapatkan masalah yang lebih besar lagi." Bobby menatap sinis kearah Laura membuat Laura menelan saliva nya itu.


"Kemarilah!" Darren menghela nafasnya dengan berat dan menyuruh Viola untuk mendekat padanya.


"Aku tidak mau." Viola tidak berani melangkah kaki nya itu. Saat ini ia takut menatap wajah suaminya sendiri.


"Sayang, kemarilah! Kau sedang terluka. Jika kau tidak ingin pulang, maka duduk lah dulu di sofa ini!"


"Sayang!" Kejut semua orang yang ada di sana di dalam hatinya.


"Kau itu memang sangat keras kepala!" Darren pun mendekat kearah Viola dan mengendong Viola untuk duduk di sofa.


"Darren! Apa yang kau lakukan? Kau tidak lihat apa? di sini masih ada orang." Viola sangat terkejut dengan tindakan Darren. Ia langsung menundukkan wajah nya itu di bidang dada suaminya.


"Untuk apa aku harus malu? Bukan kah kau itu istri ku?" Darren tersenyum tipis melihat wajah istri nya yang terlihat malu.


"Mereka pasti sedang menatap kita Darren!" Viola menekankan kalimat nya pada Darren.


"Kalian melihat nya?" Darren menatap kesemua orang yang berada disana.


"Tidak tuan muda." Jawab mereka semua secara serempak kecuali Laura. Mereka harus bilang tidak walaupun mereka semua melihat nya dengan sangat jelas.


"Kau dengar kan? Mereka saja tidak melihat kita! Jadi untuk apa kau malu istri ku? Sekarang duduk lah disini dengan baik dan jangan memberontak." Darren sudah mendudukkan Viola di sofa.


"Sial! Bisa-bisanya dia pamer kemesraan dihadapan ku!" Kesal Laura menatap kearah Darren.


"Sekarang berdiri lah di hadapan ku dengan rapi! Kecuali kau Bob," Darren memerintahkan mereka semua untuk berdiri di hadapan nya dan juga Viola yang duduk di sofa.


"Seperti nya aku terkena imbas yang lebih besar dari pada mereka semua." Lirih Bobby di dalam benak nya. Ia kembali berdiri di belakang sahabat nya sekaligus atasan nya itu.

__ADS_1


"Siapa dari kalian yang akan menceritakan kejadian hari ini pada ku?" Mata Darren satu persatu tertuju pada mereka namun, mereka hanya diam saja.


"Bob! Apa yang terjadi pada istri ku? Mengapa dia bisa terluka? Mengapa dia hampir terbentur oleh pintu lift? Mengapa kalian semua tidak bekerja dengan baik dan malah berkumpul disini semua seperti orang yang sedang berkampanye!" Darren menatap tajam kesemua orang yang terlihat sudah sangat gemetaran


"Jawab!" Kini Darren menatap tajam kearah sahabat nya yang sudah melakukan kesalahan besar dengan tidak menjaga ketertiban di perusahaan nya.


Bobby diam saja, dia bukan tidak ingin menjawab pertanyaan dari sahabat nya. Namun, Bobby menunggu emosi sahabat nya itu sedikit mereda agar tidak terlalu marah jika ia menceritakan kejadian hari ini. Tapi apakah Bobby yakin sahabat nya tidak akan marah walaupun emosi nya sudah mereda, ketika ia tau apa yang telah istri nya lalui?


"Maaf tuan muda saya tidak bisa menceritakan nya pada anda. Kejadian nya terjadi begitu saja!" Bobby berusaha melerai waktu pada Darren. Ingin sekali rasanya ia memberitahu kejadian hari ini besok saja pada Darren.


"Baiklah! Tidak ada diantara kalian yang ingin menjelaskan nya pada ku bukan? Maka, jangan salahkan aku jika mengetahui nya dari sumber yang lain! Kalian akan tau apa akibat nya." Darren tersenyum tipis saja pada mereka semua.


🧑 : Bagaimana ini? Kita tidak mungkin menceritakan kesalahan kita sendiri pada tuan muda.


🧒 : Tapi, akan lebih mengerikan lagi jika tuan muda mengetahui nya dari yang lain.


Para karyawan yang berada di sana sudah sangat cemas pada nasib mereka. Mereka sangat takut jika mereka di pecat oleh Darren. Syukur lah jika Darren hanya memecat mereka saja. Namun, itu tidak akan cukup bagi seorang Darren yang membiarkan mereka hidup dengan tenang. Darren pasti akan merusak nama mereka sehingga mereka akan sulit mendapatkan pekerjaan di tempat lain.


Darren berjalan mendekat kearah Viola berusaha mencari tau semua yang terjadi pada istrinya sendiri.


"Istriku, apa yang sedang terjadi hari ini pada mu?" Darren duduk di sebelah istri nya dan menatap dengan lembut.


"A-aku .." Viola tidak tau harus mengatakan apa pada suaminya. Ia khawatir jika ia mengatakan nya maka bagaimana dengan nasib semua orang yang ada di sini.


"Baiklah! Aku tau kau masih syok. Aku tidak akan memaksa mu." Darren membelai rambut Viola dengan sangat lembut.


"Oh iya, ada apa istri kecil ku ini datang kemari? Bukan kah kau tadi sedang tidur ketika aku berangkat?" Darren berusaha bertanya dari tahap yang lebih kecil dulu pada Viola.


"Trik mu luar biasa Darren!" Bobby yang mengerti akan ucapan Darren hanya tersenyum tipis.


"Mengapa dia malah berbincang disana? Sedangkan aku disini sudah sangat lelah berdiri dengan menggunakan high heels!" Gerutu Laura.


"Itu salah mu yang tidak membangun kan ku! Kau tau Darren sudah 1 minggu ini aku selalu bangun terlambat. Itu semua karna aku selalu menunggu mu pulang larut malam dan setelah kau pulang aku akan berpura-pura tidur." Viola berbicara dengan panjang pada Darren.


"Benarkah itu?" Darren terus saja menatap kearah Viola yang terus berbicara dengan semangatnya dan melupakan apa yang terjadi pada dirinya sendiri untuk saat ini.


"tentu saja benar! aku merasa bersalah karna aku ikut mendiami mu selama seminggu ini. padahal kau sendiri juga melakukan hal yang sama pada ku. tapi, karna aku adalah orang yang sangat baik jadi aku berniat untuk membuat kan mu sarapan dan mengantarkan nya sendiri keperusahan mu. Namun.." Viola tidak melanjutkan perkataannya dan menatap kearah Laura dengan kesal.


Laura yang tau dirinya sedang di tatap oleh Viola berusaha berpura-pura tidak menyadari nya. Jika Darren melihat Viola menatap nya maka habis lah dia.


^^^Bersambung...^^^


...****************...

__ADS_1


__ADS_2