
Setelah melakukan hubungan panas mereka. Darren langsung terlelap tidur di samping Viola. Perlahan Viola membuka mata nya dan menatap wajah suaminya itu dengan sangat dalam.
"Darren, untuk seketika aku takut kehilanganmu." Lirih Viola di dalam hati nya.
Viola menyentuh mata Darren yang tertutup dengan sangat lembut. Di cium nya mata Darren dan tanpa terasa air mata Viola mulai menetes.
"Haruskah aku egois?" Tanya Viola dan terus menatap wajah Darren.
"Aku mencintaimu Darren!" ujar Viola pada Darren dengan memeluk tubuh Darren dengan sangat erat.
"Aku tau itu." Darren mulai membuka matanya dan membalas pelukan Viola pada dirinya.
"Da-darren bukan nya tadi kau sedang tidur?" Tanya Viola dengan suara yang terbata-bata.
"Tadi nya aku memang sedang tertidur! Namun, karna ada seseorang yang terus saja menyentuh wajah ku ini dan menciumi nya. Jadi nya aku terbangun oleh mu." Darren mencubit hidung Viola yang menatap dirinya.
"Kau itu menyebalkan sekali!" Ketus Viola. Viola pun langsung membalikkan tubuhnya dan membelakangi Darren.
Darren hanya tersenyum saja melihat tingkah istri nya. Perlahan Darren memajukan tubuh nya dan memeluk Viola dari belakang.
"Istriku, lahir kan lah anak untuk ku." Bisik Darren di telinga Viola membuat wajah Viola langsung memerah.
"Darren jangan bercanda!" Viola berusaha melepaskan pelukan Darren dari nya.
"Aku tidak bercanda," jawab Darren dengan suara datar nya.
"Ta-tapi pernikahan kita--" Viola tidak sanggup untuk melanjutkan perkataannya lagi pada Darren.
"Aku mengerti ketakutan mu. Tapi, Viola aku janji aku tidak akan meninggalkan mu. Kita akan berpisah jika kau menginginkan nya. Dan kita akan terus bersama jika kau juga menginginkan nya." Darren langsung membalikkan tubuh Viola menghadap kearah nya.
"Darren kau yakin?" Tanya Viola dengan sangat ragu.
"Pernah kah kau melihat aku ragu dalam keputusan yang sudah ku buat?" Darren kembali bertanya pada Viola.
"Tidak," Viola menggelengkan kepalanya itu.
"Istriku berjanji lah pada ku!" ujar Darren pada Viola.
"berjanji soal apa Darren?" tanya Viola dengan mata yang penuh tanda tanya.
"Istriku, di dalam hidup ku hanya akan ada satu orang wanita saja. Yaitu diri mu! Berjanji lah kau tidak akan pernah meninggalkan ku apa pun yang terjadi nantinya." Darren mulai berbicara serius pada Viola membuat suasana menjadi sangat canggung.
"Darren kau tidak perlu seserius itu." Viola berusaha mencairkan suasana yang sangat mencekam bagi nya.
"Aku tidak bercanda Viola!" Darren menatap Viola dengan tajam.
"Baiklah, baiklah! Kau tidak bercanda." Viola mengalihkan pandangannya.
"Istri ku, kau tidak ingin berjanji pada ku?" Tanya Darren dengan penuh penyelidikan nya.
"Darren, tanpa kau suruh pun aku pasti akan selalu bersama mu! Lagian aku juga tidak memiliki keberanian untuk meninggalkan mu." Jawab Viola sedikit kesal.
"Jujur saja ketika aku sudah mulai menyayangi seseorang! maka, aku benar-benar takut untuk kehilangan orang tersebut." Darren pun kembali memeluk tubuh Viola dengan erat.
Viola yang melihat suasana sudah tidak terkendali langsung menatap kearah Darren dengan sangat serius nya.
"Darren boleh aku bertanya sesuatu?" Tanya Viola pada Darren.
"Tentu saja istriku," Darren merapikan rambut Viola dengan sangat lembut.
"Sebenarnya ada apa dengan para pelayan tadi?" Tanya Viola kembali pada Darren.
__ADS_1
"Aku hanya memberikan pengarahan sedikit pada mereka." Darren pun mencium kening Viola dengan lama.
"Darren aku sedang bertanya! Berhenti lah bermain-main dengan rambut ku." Ketus Viola pada Darren.
"Aku tidak melarang mu bertanya pada ku! Maka, kau juga tidak boleh melarang ku untuk bermain-main dengan rambut mu yang lembut ini." Seringai tipis Darren mulai terukir di wajah nya.
"Terserah kau saja! Oh iya Darren kau bilang hanya memberikan pengarahan saja pada mereka. Tapi, kenapa gadis itu seperti memohon pada mu agar tidak di masukan ke penjara?'' Viola terus saja bertanya pada Darren membuat Darren menghentikan kegiatan nya itu.
"Kau itu polisi ya? Selalu saja bertanya pada ku seperti sedang mengintrogasi ku saja." Darren mencubit hidung Viola dengan gemas.
"Darren sakit tau! Bertanya saja salah." Viola memajukan bibirnya itu karna kesal.
Darren yang melihat bibir kecil itu maju lagi membuat nya ingin memakan bibir istri nya itu kembali.
"Kau mau apa?" Viola langsung menahan bibir suaminya yang hendak mengarah ke bibir nya.
"Tentu saja memakan bibir mu itu." Jawab Darren dengan sangat enteng.
"Enak saja! Jawab dulu pertanyaan ku tadi." ujar Viola dengan suara yang di tekan nya.
"Oh come on baby, itu bukan hal yang penting! Yang lebih penting sekarang adalah memakan bibir mu itu." Darren merasa frustasi ketika Viola menolak dirinya kembali.
"Bagi mu penting! Tapi bagi ku tidak." Jawab Viola dengan senyum mengejek nya pada Darren.
"Viola Talisa!" Darren menatap tajam kearah Viola membuat Viola langsung terdiam.
"I-iya," Viola menelan saliva nya dengan susah ketika melihat wajah Darren serius menatap kearah nya.
"Aku mohon," Darren langsung menggenggam tangan Viola dengan wajah nya yang di buat seperti anak-anak.
"What!" Viola sangat terkejut melihat pria yang sangat dingin bisa bertingkah seperti anak-anak di hadapan nya itu.
"Sekali saja!" Pinta Darren sedikit memelas pada Darren.
"Aku seperti ini hanya pada mu saja. Tidak pada orang lain!" Tegas Darren menatap wajah Viola.
"Baiklah aku akan memberikan apapun yang suami ku ini inginkan, tapi ada satu syarat." Viola menaik turun kan alis nya pada Darren.
"Apa syarat nya istriku?" Tanya Darren pada Viola.
"Syaratnya kau harus memberitahu ku kenapa gadis itu memohon agar kau tidak memasukan nya ke penjara?" Viola kembali mengulangi pertanyaannya itu pada Darren.
Darren menghela nafas nya karna rasa keingintahuan istri nya membuat dirinya sendiri kuwalahan.
"Kau yakin ingin mengetahui nya?" Tanya Darren dengan nada serius nya.
"Tentu saja yakin suamiku." Balas Viola dengan wajah yang sangat yakin.
"Baiklah jika kau yakin! maka, aku akan memberitahukan nya pada mu." Darren pun langsung menyuruh kepala pelayan datang ke kamarnya melalui walkie talkie nya.
Tidak butuh waktu yang lama pak Dadang pun sudah berada di dalam kamar tuan nya setelah mendapatkan ijin untuk masuk kedalam kamar tuan muda nya itu.
"Tuan muda, ada apa memanggil saya?" Tanya pak Dadang dengan kepala yang tertunduk.
perlu di garis bawahi ya! pak Dadang masuk kedalam kamar Darren dengan kepala yang tertunduk. sementara Viola yang belum mengenakan pakaian nya langsung di balut selimut tebal oleh Darren sehingga tubuh nya yang polos itu sama sekali tidak terlihat oleh pak Dadang.
"Bawa rekaman cctv yang ada di lantai bawah sekarang!" Perintah Darren pada pak Dadang.
"Baik tuan muda," pak Dadang memundurkan langkahnya dan langsung meninggal kan kamar tuan nya itu.
Sementara Viola yang mendengar ucapan Darren merasa janggal dan menatap kearah Darren dengan intens.
__ADS_1
"Ada apa istri ku?" Darren tau istri nya sedang menatap dirinya itu.
"Darren mengapa kau harus merepotkan pak Dadang untuk mengambil rekaman cctv itu? Kau kan bisa menceritakan nya saja pada ku." Ketus Viola pada suaminya itu.
"Istri ku, akan sangat melelahkan jika harus menceritakan keburukan seseorang! Jadi lebih baik kau melihat nya saja sendiri agar semuanya lebih jelas lagi." Darren hanya menghela nafas nya saja.
"Kau memang Mr.ice," sungutnya pada Darren.
"Dan kau Miss.ice." balas Darren dan tersenyum kecil pada Viola.
"Aku? Yang benar saja. Aku itu tidak sedingin dan sekejam diri mu." Ujar Viola dengan wajah kesal nya.
"Tapi kau sudah menjadi istri ku! Maka kau juga harus menerima semuanya yang bersangkutan tentang diri ku." Darren tidak mau kalah pada Viola.
"Terserah mu saja." Viola sudah lelah jika harus berdebat dengan suami nya.
Tok, tok, tok
"Masuklah!" Perintah Darren.
Pak Dadang pun langsung masuk keruangan tersebut dengan membawa flashdisk yang dimana rekaman cctv yang tuan muda nya itu ingin kan.
"Tuan muda, ini rekaman cctv nya." Pak Dadang menyerahkan flashdisk itu pada Darren.
"Terimakasih pak. Bapak sudah boleh keluar sekarang!" Perintah Darren kembali pada pak Dadang.
"Tuan muda, bisakah tuan mengampuni Lisa? Setidaknya berikan saja dia hukuman lain." Pak Dadang berusaha memohon pada tuan muda nya itu untuk berbaik hati sedikit kepada keponakan nya.
"Keluar lah! Aku sedang tidak ingin membahas soal itu untuk saat ini." Tatap tajam Darren pada pak Dadang membuat pak Dadang menelan saliva nya.
"Tapi tuan muda--"
"Pak keluarlah dulu! Saya akan berusaha membujuk suami saya. Bapak tenang saja!" Viola tersenyum kearah pak Dadang. Ia tidak ingin pria paruh baya itu terkena amukan oleh suaminya yang seperti singa.
"Terimakasih nyonya muda," ujar pak Dadang dengan sangat rasa berterimakasih nya itu.
"Yasudah bapak boleh pergi sekarang." Perintah Viola pada pak Dadang.
"Baik nyonya muda," pak Dadang pun dengan sangat cepat meninggalkan kamar tuan dan nyonya muda nya.
Darren yang sudah melihat kepergian pak Dadang ia pun mengalihkan pandangannya dan menatap kearah Viola.
"Seyakin itu kah kau bisa membujuk ku Viola Talisa?" Tanya Darren dengan menautkan alis nya menatap kearah Darren.
"Tentu saja," jawab Viola dengan suara percaya dirinya.
"Tapi, seperti nya dalam hal ini akan sangat sulit bagi mu untuk membujuk ku." Darren mencubit pipi Viola dengan sangat gemas nya.
"Kenapa sulit?" Tanya Viola pada Darren.
"Kau akan mengetahui nya jika kau melihat rekaman cctv ini." Darren hanya menggelengkan kepalanya.
Ia pun keluar dari dalam selimut tebal nya dan turun dari ranjang nya. lalu mengambil celana nya yang sudah ia lempar ke sembarangan arah dengan sangat cepat Darren memakai celana nya itu.
"Darren kau mau kemana?" Tanya Viola dengan wajah bingung nya menatap kearah Darren.
"Mengambil laptop! Kau ingin melihat rekaman cctv itu kan?" Darren menghela nafas nya itu.
Viola tidak menjawab Darren. Ia hanya menganggukkan kepalanya yang menandakan apa yang di katakan Darren benar.
Darren yang sudah mengambil laptop nya yang ada di meja sofa kamar nya. Ia pun kembali menghampiri istri nya itu dan langsung memasukan flashdisk tersebut di laptop. Dengan sangat seriusnya Viola melihat rekaman cctv tersebut dalam keadaan Darren memeluk tubuh Viola.
__ADS_1
^^^Bersambung....^^^
...****************...