Menikahi Seorang Miliarder Dunia

Menikahi Seorang Miliarder Dunia
Eps. 58 kesialan pak Dadang


__ADS_3

"Kakak ada apa dengan mu?" Tara pun menghampiri kakak nya itu dan menatap wajah kakak nya dengan sangat intens.


"Tara, kau dari mana saja?" Viola mencoba mengalihkan pertanyaan adik nya itu.


"Aku menginap di rumah Meli kak. Kakak apa yang terjadi pada mu sebenarnya?" Tara kembali menanyakan pertanyaan awal nya itu pada kakak nya.


"Kau mandi lah dulu!" Perintah Darren pada Tara agar istri nya itu tidak merasa kebingungan lagi.


"Aku sudah mandi kakak ipar." Jawab Tara dengan sedikit kesal nya.


"Kakak apa yang terjadi padamu?" Tanya Tara lagi dengan intonasi nya yang sedikit kesal.


"Tara, kakak tadi jatuh di taman dan kepala kakak terkena batu kerikil." Jelas Viola pada Tara.


"Benarkah itu?" Tara menautkan kedua alis nya menatap kearah kakak nya tersebut.


"Tentu saja, sejak kapan aku membohongi mu Tara." Viola hanya bisa meyakinkan adik nya nya itu. Ia juga berharap adik nya dapat percaya akan ucapan nya.


"Baiklah kak jika seperti itu. Oh iya kak tadi aku kerumah kak Shelly! Aku juga melihat kak Shelly kepalanya di perban." ujar Tara pada Viola dengan memegang tangan kakak nya.


"Aku lupa! Shelly juga pasti sedang terluka seperti aku." gumam Viola di dalam hati nya.


"Kakak mengapa kau diam saja?" Tara yang melihat kakak nya itu hanya diam semakin curiga.


"Kakak tidak apa-apa sayang." balas Viola dengan tersenyum pada Tara.


"Kak, aku sangat merindukanmu." Tara memeluk tubuh kakak nya dengan sangat erat.


"Kakak juga merindukan mu Tara," Viola membalas pelukan adik nya itu. Dia juga sangat merindukan Tara. Walaupun adik nya sedikit cerewet dan suka membuat masalah tapi Viola sangat menyayangi nya.


"Istri ku, sekarang kau harus kekamar! Sebentar lagi Kasella akan datang untuk mengobati mu." Darren hanya bisa menghela nafasnya saja melihat kehangatan diantara kakak beradik itu.


"Kakak ipar boleh tidak aku bersama kakakku?" Pinta Tara sedikit memelas pada kakak ipar nya.


"Boleh ya Darren?" Viola juga melakukan hal yang sama dengan Tara.


"Adik ipar, kakak mu itu butuh istirahat! Jika kau bersama nya pasti kakak mu tidak akan beristirahat." Ujar Darren pada mereka berdua lagi.


"Kakak ipar aku mohon." Tara terus saja memohon pada kakak ipar nya itu.


"Sudah lah Tara! Kakak ipar mu itu benar. Setelah kakak membaik kakak akan bersama mu kok." Viola berusaha membujuk adik nya itu. Dia sendiri tau maksud dari kata-kata Darren padanya.


"Tapi, kak.."


"Adik ipar, jangan membantah! Setelah aku membawa kakak mu masuk ke kamarnya. kau datang lah keruang kerja ku! Ada hal yang ingin aku bicarakan dengan mu." perintah Darren dengan suara berat nya.


"Darren kau ingin membicarakan apa pada Tara?" Viola yang mendengar ucapan Darren merasa ada yang aneh.

__ADS_1


"Istri ku, kau itu harus banyak diam. Tidak semua hal harus kau ketahui! Setelah semua nya sudah selesai aku akan memberitahu mu." Darren pun mengangkat tubuh Viola dan memasuki lift pribadi mereka.


Darren menekan tombol lift pribadinya, sementara Tara masih menatap ke arah kakak ipar dan juga kakak nya itu. Dia sendiri merasa takut jika harus bertatap muka dengan kakak ipar nya. Apalagi kakak iparnya menyuruh nya untuk menemui nya dan berbicara berdua saja membuat Tara semakin ketakutan.


"Ada apa ya? Apa kakak ipar ingin memarahi ku karna pergi kerumah kak Shelly? Tapi kan aku sudah meminta izin!" Semua pertama keluar begitu saja di kepala Tara. Jujur dia merasa sangat bingung dengan keluarga nya saat ini.


"Non, apa non baik-baik saja?" Pak Dadang yang melihat Tara diam saja berusaha menanyainya.


"Pak, apa aku melakukan kesalahan? Makanya kakak ipar menyuruh ku untuk menemui nya?" Tanya Tara pada pak Dadang.


"Non Tara tenang saja, non tidak membuat kesalahan. Karena jika non membuat kesalahan non harus memasuki ruangan merenungkan kesalahan yang ada di lantai 4." Jelas pak Dadang pada Tara. Pak Dadang berusaha menyemangati non nya itu.


"Iya pak kau benar! Yaudah pak saya kekamar dulu ya! Soalnya saya dari luar jadi saya harus berganti pakaian dulu." ujar Tara pada pak Dadang.


"Baik non." Balas pak Dadang dengan sangat hormat.


"Non, memang tidak melakukan kesalahan. Kami lah yang melakukan kesalahan besar yang bisa mengakibatkan kami kehilangan nyawa." Ujar pak Dadang dengan suara kecil nya menatap kearah Tara.


Sementara pelayan yang lainnya masih berada di tempat nya walaupun sudah di suruh untuk membuat makanan yang sehat untuk nyonya muda nya itu.


"Apa yang kalian tunggu!" pak Dadang yang melihat mereka masih berdiri disitu merasa sangat pusing. Untuk pertama kalinya pak Dadang merasa kuwalahan dengan pekerjanya sebagai kepala pelayan.


"Maaf pak," jawab mereka serentak dan hendak melakukan pekerjaan yang ditugaskan oleh tuan muda mereka.


"Tunggu! Masing-masing dari kalian harus memasuki ruangan merenungkan kesalahan selama 2 jam secara bergantian." Perintah pak Dadang lagi pada mereka.


"Bagus, sekarang lakukan tugas kalian dengan benar! Aku tidak ingin ada kesalahan lagi." Tegas pak Dadang pada mereka.


"Baik pak," mereka pun pergi dari hadapan pak Dadang dan melakukan aktifitas mereka masing-masing.


"Aduh!! Dokter Andhika ternyata memiliki nyali yang sangat besar. Ini sudah 7 menit dan dokter Andhika belum datang juga. Bagaimana jika tuan tau pasti dia akan marah besar pada semua orang." Pak Dadang merasa sangat takut. Dia merasa hari ini adalah hari kesialan nya.


"Mengapa Kasella belum kekamar saya juga!" teriak Darren dari alat komunikasi walkie talkie nya yang membuat lamunan pak Dadang pun langsung buyar dan juga membuat nya sangat terkejut.


"Tuan muda, mungkin sebentar lagi dokter Andhika tiba di kediaman tuan." jawab pak Dadang dengan nada takut nya.


"Pak Dadang! Saya masih menghargai anda sebagai kepala pelayan disini karna anda adalah orang pilihan mama saya. Tapi, jika anda selalu membuat kesalahan saya tidak akan segan-segan pada anda. Jadi, jika dalam waktu 3 menit Kasella belum tiba juga! Maka anda dan pelayan yang lainnya juga akan merasakan akibatnya." Tegas Darren pada pak Dadang. Pak Dadang yang mendengar ucapan tuan muda nya dengan segera menelan saliva nya dengan sangat susah.


"Ba-baik tuan muda." Pak Dadang merasa gemetar di seluruh tubuh nya mendengar ucapan tuan muda nya yang sudah sangat serius itu.


"Saya harap Kasella akan datang sesuai keinginan saya. Dan anda akan baik-baik saja." Begitulah kata-kata yang Darren ucapkan terakhir kali nya.


"Iya tuan muda," pak Dadang yang sudah menjawab nya langsung terduduk lemas di sofa. Dia sangat takut apa yang akan terjadi padanya jika dokter Andhika datang terlambat.


"Pak, mengapa kau terduduk seperti orang yang tidak makan selama berhari-hari?" Kasella yang berada di depan pintu hanya merasa heran melihat kelakuan semua orang yang berada di rumah sahabat nya itu.


"Dokter Andhika! Syukurlah kau datang di waktu yang tepat." pak Dadang yang melihat dokter Andhika sudah datang merasa sangat senang.

__ADS_1


"Pak, apa kedatangan ku itu membuat mu sangat senang?" Andhika hanya tersenyum saja melihat pak Dadang yang sangat cuek berubah menjadi orang yang sangat senang.


"Maaf Dokter Andhika," pak Dadang hanya tersenyum saja pada Andhika. Sementara Andhika hanya bisa menggelengkan kepalanya nya.


"Benar-benar aneh!" ujar Andhika dengan suara pelan nya.


"Mari dokter Andhika saya antar kekamar tuan muda," pak Dadang pun mempersilahkan Andhika untuk berjalan memasuki lift umum begitu juga dengan pak Dadang.


"Terimakasih dokter Kasella kau sudah datang di waktu yang tepat! Karna dengan begitu nyawa saya tidak jadi terancam." pak Dadang tersenyum setelah selesai dengan gumaman di dalam hati nya itu.


"Pak, kau baik-baik saja kan?" Andhika yang melihat pak Dadang tersenyum merasa merinding. Dia seperti merasa memasuki rumah yang banyak hantu nya karna tingkah semua orang yang aneh.


"Saya baik-baik saja dokter Andhika." Balas pak Dadang. Akhirnya pak Dadang dan juga dokter Andhika tiba di lantai 2.


Ketika pintu lift sudah terbuka dengan segera pak Dadang mempersilahkan dokter Andhika untuk masuk kekamar tuan muda nya itu.


"Silahkan Dokter Andhika."pak Dadang tersenyum pada dokter Andhika dan membuka pintu kamar tuan nya itu secara perlahan.


"Terimakasih!" ujar Andhika pada pak Dadang dan memasuki kamar Darren.


Darren yang masih duduk di samping Viola menatap tajam kearah orang yang masuk kekamar nya itu. Sementara Andhika sudah berusaha mengatur nafasnya dan menelan saliva nya dengan sangat susah. Dia sendiri sudah sebisa mungkin untuk datang tepat waktu. Namun apalah daya dia terlambat 2 menit yang membuat seorang Darren menjadi marah.


"Kau sudah tidak ingin bekerja dengan ku lagi ya dokter Kasella!!" sergah Darren pada Andhika dengan suara beratnya.


"Tentu saja saya masih ingin berkerja dengan mu tuan muda," jawab Andhika dengan menghela nafas nya. Sebenarnya Andhika merasa kesal jika mendengar sahabat nya itu memanggil dirinya Kasella.


"Jika kau masih ingin berkerja dengan ku mengapa kau bisa terlambat?" suara Darren sudah bergema di seluruh kamarnya itu. Membuat Viola terbangun dari tidurnya dan menatap kearah pria yang ada di samping nya itu.


"Darren mengapa kau berteriak?" Viola mengucek matanya dan menatap kearah Darren.


"Sorry istriku!" Darren membelai rambut Viola dengan sangat lembut dan mencium pucuk tangan Viola.


"Sial! Bisa-bisanya dia bersikap lembut seperti itu di depan istrinya setelah meneriaki ku!" Kesal Andhika di dalam hatinya menatap kearah sahabat nya itu.


"KASELLA!! Jangan pernah berbicara buruk tentang ku di dalam benak mu itu!" Darren pun kembali menatap sahabatnya dengan sangat tajam.


"Bagaimana bisa dia mengetahui nya?" Andhika terkejut mendengar ucapan Darren padanya.


"Darren, aku tidak membicarakan mu. Oh iya bagian mana yang sakit? boleh aku melihat luka istri mu itu?" Andhika pun berusaha mengalihkan perhatian sahabat nya itu dan ingin menghampiri Darren.


"Tunggu dulu! Dimana perawat wanita mu? Bukan nya aku menyuruh mu untuk membawa perawat wanita?" Darren menatap tajam kearah sahabat nya.


"Apa!! Perawat wanita?" Andhika langsung terkejut mendengar ucapan Darren padanya.


^^^Bersambung...^^^


...****************...

__ADS_1


__ADS_2