Menikahi Seorang Miliarder Dunia

Menikahi Seorang Miliarder Dunia
Eps. 111 Seperti nya ada yang tidak beres dengan istri ku!


__ADS_3

"Hey!" Darren sangat terkejut melihat istri nya sudah menangis seperti itu.


"Aku ingin naik itu Darren! Katanya kau akan turuti semua kemauan ku hari ini. Tapi, kenapa kau melarang ku sekarang!" Rengek Viola pada suaminya.


"Bangun!" Darren menatap intens istri nya yang masih jongkok di hadapan nya itu.


Saat ini mereka menjadi pusat perhatian semua orang. Mereka tau siapa orang yang sedang mereka perhatikan itu. Dengan sangat cepat mereka hendak memfoto kejadian tersebut. Namun dengan sangat sigap nya para bodyguard sudah turun tangan agar nama tuan muda mereka tidak tercemar.


"Aku tidak mau! Aku mau naik itu Darren." Viola terus saja berisikeras dengan keinginan nya.


"Viola Talisa!" Suara Darren sudah terdengar serius oleh Viola. Membuat Viola yang mendengar nya langsung terdiam dan berdiri dari posisi nya yang tadi.


Darren yang Viola reaksi dari Viola hanya bisa menghela nafas nya itu. Ia bukan malu karna di tatap oleh banyak orang. Tapi, ia paling tidak suka melihat pendamping hidup nya itu seperti orang yang tidak memiliki etika.


"Kita pulang sekarang!" Darren pun hendak meraih tangan Viola.


Viola tidak menjawab sedikit pun ia hanya diam saja tanpa menatap kearah Darren. Viola benar-benar ingin naik bus yang ada di halte bus tersebut. Viola sendiri merasa sangat kecewa saat apa yang dia ingin kan harus pupus begitu saja.


"Aku hanya ingin naik bus itu, apa harus sesusah ini?" Lirih Viola di dalam hatinya. Tanpa ia sadari air mata nya itu terus saja keluar.


Darren menatap wajah Viola yang terus saja tertunduk. Saat mereka ingin masuk kedalam mobil. Darren hendak membantu Viola naik, namun dengan sangat cepat nya Viola menolak bantuan Darren.


Mobil mereka pun akhirnya pergi menjauh dari area yang mereka kunjungi tadi. Namun, mata Viola terus saja tertuju kearah bus yang sangat ingin ia naikin itu. Helaan nafas Viola yang sudah kecewa terdengar oleh Darren.


"Istriku?" Panggil Darren.


"Emh," jawab Viola yang hanya melihat kearah luar kaca mobil mereka.


"Aku bukan melarang mu menaiki bus itu! Namun, aku khawatir bagaimana kondisi di dalam bus tersebut." Darren meraih tangan Viola dan mengelus nya


Viola tidak menjawab sedikit pun, ia hanya diam saja di sepanjang jalan nya membuat Darren merasa bersalah. Darren juga menyesal karna sudah membentak istri nya. Walaupun orang-orang disana tidak mendengar bentakan dari nya. Namun, bagi Viola itu terdengar sangat jelas. Tidak hanya Viola para bodyguard juga mendengar nya.


"Kencan yang sangat buruk!" Ujar Viola pada Darren. saat mobil mereka sudah sampai di kediaman Darren. Tanpa menunggu di bukakan oleh supir mereka Viola turun begitu saja.


"Viola," Darren yang melihat perilaku Viola merasa heran. Tidak biasanya Viola bersikap seperti itu.


"Mengapa akhir-akhir ini kau sensitif sekali istriku?" Darren menatap nanar kepergian Viola.


Kepala pelayan yang melihat Nyonya muda mereka masuk begitu saja tanpa menyapa dirinya merasa sangat bingung. Biasanya nyonya muda mereka tidak pernah seperti itu.


"Ada apa dengan nyonya muda?" Pak Dadang menatap punggung nyonya muda nya yang sudah menghilang.


Kini pak Dadang kembali terkejut saat melihat tuan muda nya itu masuk secara terburu-buru karna mengejar nyonya muda mereka.


"Perang dunia seperti nya akan segera dimulai!" Ujar pak Dadang dengan menggelengkan kepalanya.


"Ya kau benar!" Supir yang mengantar atasan nya tadi langsung menghampiri kepala pelayan yang ada di sana.


"Bagaimana kau bisa tau?" Pak Dadang menatap kearah supir tersebut.


"Tentu saja aku tau! Karna saat aku ingin membukakan pintu mobil untuk nyonya muda. dengan sangat cepat nya nyonya muda sudah membuka pintu mobil itu dan pergi begitu saja. Dan hal yang sama pun terjadi pada tuan muda." Jelas supir tersebut pada kepala pelayan.

__ADS_1


"Seperti nya mereka sedang bertengkar!" Pak Dadang menghela nafas nya dan pergi meninggalkan supir pribadi Darren sendirian


disana.


...🌾🌾...


"Kau itu kenapa?" Darren menarik tangan Viola yang hendak merebahkan tubuh nya di atas ranjang.


"Aku tidak apa-apa!" Viola menghempaskan tangan Darren dan langsung menjatuhkan tubuh nya di atas tempat tidur mereka.


"Jika kau tidak apa-apa, kenapa kau bilang kencan kita buruk?" Tanya Darren dengan suara yang di tekan.


"Memang kenyataannya seperti itu bukan." Sinis Viola.


"Viola! hanya karna aku tidak mengijinkan mu menaiki kendaraan tersebut kau harus seperti ini!" Darren benar-benar sangat lelah melihat tingkah istri nya itu.


"Kau tidak tau kan betapa aku sangat menginginkan nya. Jika kau jadi aku maka kau akan merasakan bagaimana kesal nya jika keinginan mu tidak di turuti." Viola memilih menutup wajah nya dengan selimut. Ia sangat malas jika harus bertatap muka dengan pria yang sudah membentak nya itu.


"Yasudah aku minta maaf." Darren memilih untuk mengalah saja. Ia tidak ingin terus-menerus berdebat dengan Viola.


"Percuma kau minta maaf pada ku. Kenyataan toh aku juga tidak di boleh kan untuk naik bus tadi." Ujar Viola. Ia tidak ingin permintaan maaf an dari Darren. Ia hanya ingin naik kendaraan umum tadi.


"Baiklah kita akan naik bus yang ingin kau naikin tadi." Darren menghela nafas nya itu.


Viola yang mendengar ucapan Darren langsung menyingkirkan selimut nya dan menatap kearah suaminya dengan penuh penyelidikan nya itu.


"Kau tidak bercanda kan?" Viola menatap intens kearah Darren.


"Kenapa kau tiba-tiba mengijinkan aku naik kendaraan umum tadi? Bukan nya kau sangat melarang aku untuk menaiki kendaraan tersebut." Viola merasa curiga terhadap suaminya itu.


"Kau itu ya!" Darren mencubit gemas pipi Viola, "bukan nya tadi kau berisikeras untuk naik kendaraan tersebut. Jadi kenapa sekarang kau banyak bertanya!"


"Karna aku tidak percaya sama ucapan mu. Kau terus saja membohongi ku sejak tadi." Ketus Viola.


"Aku membohongi mu? Kapan?" Darren menatap kearah Viola.


"Kau lupa tentang kesepakatan kita tadi saat di mall milik mu itu." Sinis Viola pada Darren.


"Oh God! Itu bukan menipu sayang. Tapi itu adalah sebuah trik agar kau masuk kedalam permainanku." Jelas Darren pada Viola.


"Sama saja!" Viola menatap Darren dengan sangat kesal.


"Yasudah jika kau tidak percaya!" Darren hendak meninggalkan Viola sendirian di kamar nya itu.


"Darren kau ingin kemana?" Viola langsung menahan tangan Darren.


"Aku ingin keruang kerja! Banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan." Jawab Darren dengan suara datar nya.


"Darren tapi tadi kau bilang kau akan naik bus itu bersama ku." Viola benar-benar bingung dengan sikap suaminya yang suka sekali berubah rubah seperti itu.


"Aku memang bilang seperti itu. Tapi, aku tidak bilang kita akan pergi sekarang." Senyuman tipis mulai terukir di wajah Darren.

__ADS_1


"Apa maksudnya Darren?" Viola menautkan kedua alisnya menatap kearah Darren.


"Kita akan pergi setelah bodyguard ku kembali dari misi yang sudah ku tugas kan pada nya." Ujar Darren.


"Tapi kapan bodyguard mu akan kembali? Darren aku ingin pergi sekarang!" Lirih Viola pada Darren.


"Bersabarlah istri ku." Entah sudah berapa kali Darren menghela nafasnya itu.


"Bagaimana kalau kita saja yang pergi kesana Darren? Kan sudah ada kau yang menjaga ku! Jadi, kita tidak usah menggunakan para bodyguard mu itu." Viola berusaha menyalurkan ide nya itu pada Darren.


"Tidak boleh!" Tegas Darren pada Viola.


"Tapi kenapa?" Viola hanya bisa menahan rasa kekesalan nya saja.


"Karna di luar sana sangat banyak orang. Aku takut lengah saat menjaga mu." Darren menatap Viola dengan aura yang ia miliki itu. Benar-benar menakutkan.


"Darren sebenarnya ini kencan kita berdua atau beramai-ramai sih! Mengapa semuanya harus di awasi oleh orang-orang mu." Protes Viola. Ia sangat tertekan oleh sikap suami yang sangat posesif itu. Kencan yang seharusnya romantis menjadi sangat canggung karena di tatap terus-menerus oleh orang-orang dari suaminya.


"Tentu saja ini kencan kita berdua." Jawab Darren dengan sangat mudah nya.


"Berdua kau bilang? Jadi kau anggap apa orang-orang mu yang selalu mengikuti kemana pun kita pergi itu." Sinis Viola pada Darren.


"Anggap saja mereka tidak ada! Lagi pula mereka juga tidak akan berani protes jika kita melakukan hal yang sangat romantis." Darren menatap istrinya dengan senyum tipis.


"Jangan yang enggak-enggak!" Tegas Viola pada Darren. "Selagi orang-orang mu mengikuti kemanapun kita pergi. Jangan harap kau bisa melakukan hubungan mesra pada ku."


"What's!" Darren yang mendengar ucapan Viola menatap tidak percaya.


"Yasudah kau pergi sana! Jika para bodyguard mu sudah kembali dengan misi gak jelas mu itu, kau baru boleh memanggil ku kembali." Viola mendorong Darren.


"Istriku kau tidak boleh menghukum ku dengan tidak memberikan ku jatah." Darren tidak ingin pergi ia masih merasa kesal dengan ucapan Viola.


"Minta saja jatah pada bodyguard mu itu." Darren hanya tersenyum kecil saja.


"Kau gila ya! Bagaimana bisa pedang beradu dengan pedang." Kesal Darren.


"Itu urusan mu!" Viola pun langsung memejamkan mata nya. Karna Darren tidak ingin pergi ia lebih memilih untuk berpura-pura tidur.


"Siapa suruh kau dari tadi membuat ku kesal!" Gumam Viola di dalam hati nya. Ia benar-benar puas membuat suaminya merasa kesal.


Darren yang melihat Viola tidak menjawab ucapan nya lagi. hanya bisa mengerutkan kening nya itu dan menatap Viola dengan wajah yang menahan emosi.


"Seperti nya ada yang tidak beres dengan sifat istri ku ini! Aku harus membawa nya menemui Andhika untuk memeriksa di dalam kepalanya itu. sebenarnya ada apa dengan nya." Ujar Darren pada dirinya sendiri.


"Bagaimana bisa dia menyuruh ku untuk bermain dengan bodyguard ku sendiri. Memikirkan nya saja aku tidak sanggup apalagi harus melakukan nya." Darren merasa jijik jika harus membayangkan ucapan dari Viola.


Ia pun memilih untuk meninggalkan Viola sebentar selagi menunggu kedatangan para bodyguard nya kembali. Karna Darren juga ingin kelantai 6 untuk memastikan sesuatu di dalam ruangan tersebut. Sementara Viola yang mendengar ucapan dari Darren berusaha menahan tawa nya agar tidak terdengar oleh suami nya itu.


^^^Bersambung...^^^


...****************...

__ADS_1


__ADS_2