
"Tapi, pak mereka bukan seperti orang yang sedang terburu-buru mengejar pekerjaan mereka. Namun, mereka lebih terlihat seperti orang yang habis di marahi." Viola masih menatap mereka semua yang berlari dari lantai 1 masuk ke lift menuju lantai lain nya.
"Baiklah jika nyonya muda tidak percaya!" Pak Dadang pun mengambil alat komunikasi walkie talkie yang merupakan telpon genggam yang bisa menghubungkan kesemua pelayan yang ada di kediaman tersebut melalui gelombang radio.
"Untuk semua pelayan yang ada di kediaman tuan muda. Segera ke lantai 1!" Perintah pak Dadang melalui sambungan walkie talkie nya.
"Pak! Mengapa saya tidak pernah melihat alat ini sebelumnya?" Tanya Viola pada Dadang ketika melihat alat komunikasi tersebut.
"Maaf nyonya muda, sebelum nya saya ingin memberikan alat komunikasi ini pada nyonya. Namun, karna kejadian tersebut, jadi nya saya lupa memberikan komunikasi ini Nyonya muda." Pak Dadang pun menunduk kan kepalanya di hadapan Viola.
"Baiklah pak. Tidak apa-apa kok pak!" Balas Viola dengan senyum di wajah nya.
Selang beberapa saat 50 pelayan yang ada di kediaman tersebut pun sudah ada di hadapan Viola dan langsung membuat Viola sangat terkejut.
"Pak, mengapa bapak memanggil mereka semua?" Viola menatap kearah para pelayan yang ada dihadapannya.
"Nyonya muda, bukan kah nyonya ingin tau mengapa mereka semua tadi buru-buru?" Pak Dadang yang mendengar pertanyaan nyonya muda nya hanya bisa tersenyum dan menatap tegas kearah seluruh pelayan yang berada di depannya.
"Iya sih pak!" Viola yang tau ucapan nya salah langsung menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal itu.
"Baiklah nyonya muda. Nyonya boleh bertanya pada mereka sekarang." Pak Dadang pun mempersilahkan nyonya nya itu dengan sangat hormat.
"Baiklah pak!" Viola yang merasa tidak enak hati langsung melangkah maju mendekati mereka semua yang sudah berbaris rapi.
"Kalau boleh saya tau, mengapa kalian semua terlihat terburu buru tadi?" Tanya Viola dengan senyuman nya menatap kearah para pelayan. Namun pelayan tersebut hanya ketakutan dan diam saja.
Pak Dadang yang melihat tidak ada respon sama sekali dari bawahan nya langsung melangkah maju dengan sangat marah.
"Apa kalian tidak dengar apa yang di katakan nyonya muda ha?!" Bentak pak Dadang pada mereka semua. Sehingga membuat mereka semakin ketakutan.
"Pak mengapa kau memarahi mereka?" Viola yang terkejut mendengar suara pak Dadang yang sangat lantang langsung menatap kearah pak Dadang.
"Maaf nyonya muda, saya seharusnya lebih berhati-hati lagi dalam berbicara! Namun, mereka harus di tegaskan. Jika tidak maka saya yang ada di tegaskan oleh tuan muda karna kelalaian saya." ujar pak Dadang pada Viola dan kembali menatap kearah para bawahan nya.
"Jawab lah! Apa yang dikatakan nyonya muda pada kalian tadi! Jika kalian tidak menjawab, maka kalian tau bukan bagaimana kemurkaan tuan muda!" Tatap tajam kearah pelayan yang ada disini.
"Sudah pak! Mereka sekarang sudah sangat ketakutan. Jadi hentikan lah!" Tegas Viola pada pak Dadang. Pak Dadang pun terdiam dan kembali menundukkan kepalanya di hadapan nyonya muda nya itu.
"Maaf kan saya nyonya muda." Pak Dadang memundurkan langkahnya dan sekarang berdiri di belakang nyonya muda nya.
Viola tersenyum melihat kearah para pelayan yang masih menunduk dan menarik nafas nya "baiklah! Kalian tidak perlu takut sekarang. Oh iya kamu." Viola pun menunjuk salah satu pelayan yang ada di hadapannya.
"Sa-saya nyonya muda?" Pelayan tersebut yang ketakutan karna di tunjuk oleh Viola langsung maju satu langkah lebih depan dari pelayan yang lain nya dengan sangat gemetar.
__ADS_1
"Iya kamu. Kenapa harus takut seperti itu? Saya tidak makan orang loh!" Seloroh Viola pada mereka. Namun, mereka tidak bergeming sedikitpun yang membuat Viola merasa pusing karna kecanggungan yang ada disana. "Kamu kerja di bagian apa?"
"Sa-saya di bagian lantai 3 nyonya muda." Jawab pelayan itu yang masih tertunduk.
"Baiklah, kamu boleh kembali ke barisan mu sekarang!" Viola tersenyum kepada mereka. Viola juga merasa geli melihat mereka yang berbaris seperti itu karna Viola teringat masa-masa sekolah nya dulu.
"Ba-baik nyonya muda." Pelayan itu pun memundurkan langkahnya dan kembali berdiri dengan badan tegak dan kepala tertunduk.
"Jadi pertanyaan saya sekarang buat kalian! Kenapa kalian sangat terburu-buru tadi?" Tanya Viola lagi pada mereka.
Mereka semua yang ada di sana hanya saling tatap tatapan saja karna, mereka sendiri bingung harus menjawab apa.
"Tidak perlu takut! Jawab lah..." Ujar Viola lagi pada Mereka.
"It-itu Nyonya muda," ketika salah satu pelayan ingin menjawab. Namun pelayan yang ada di samping nya langsung mencubit pelayan tersebut agar tidak salah bicara.
"Itu apa?" Tanya Viola lagi. Namun, mereka semua kembali diam membisu. Viola hanya menarik nafas nya lagi dan membuangnya.
"Jawab lah!" Tatap tajam pak Dadang yang membuat mereka semakin ketakutan.
"Pak??" Viola pun langsung menatap pak Dadang dengan sudut matanya.
"Maaf nyonya muda." Balas pak Dadang yang kembali terdiam.
"Maaf nyonya muda, kami semua tadi sedang sibuk dengan pekerjaan kami. Makanya kami terburu-buru seperti tadi." Wati yang mengerti akan senyum kecewa dari nyonya muda nya. Dengan ragu ia angkat suara.
"Bukan nya kalian ini rame. Jadi mengapa sangat sibuk dengan pekerjaan kalian?" Tanya Viola lagi pada mereka.
"Nyonya muda, mereka memang sangat rame tapi untuk kediaman sebesar ini harus membutuhkan tenaga yang lebih banyak lagi." Pak Dadang yang melihat bawahannya kembali diam langsung menghela nafas nya dan menjawab pertanyaan nyonya muda nya itu.
"Jadi maksud bapak para pekerja di sini termasuk sedikit?" Viola merasa aneh dengan jawaban pak Dadang padanya.
"Dulu mungkin sudah cukup nyonya muda. Namun, karna sekarang sudah ada nyonya jadi saya rasa tuan muda harus menambah para pelayan lagi. Agar nyonya selalu berada di pantau an kami." Jelas pak Dadang pada Viola.
"Pak saya tidak mengerti!" Viola hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya saja.
"Nyonya muda, saya akan menjelaskan nya pada nyonya sekarang." Pak Dadang menarik nafas nya dalam-dalam.
"Setiap lantai masing-masing memiliki 6 pelayan yang akan mengurus dan membersihkan lantai tersebut. Kecuali lantai 6 nyonya, karna di lantai 6 hanya tuan muda saja yang membersihkan nya. Jadi 6 di kali 5 lantai berarti sudah ada 30 pelayan yang akan berada di dalam kediaman ini nyonya." Pak Dadang kembali menarik nafasnya dan menjelaskan secara terperinci agar nyonya muda nya itu tidak bingung lagi.
"Sedangkan 20 karyawan lain nya berkerja di luar kediaman. Jadi nyonya, tuan muda kan memiliki 6 paviliun. yaitu 3 paviliun belakang dan 3 paviliun samping yang akan menjadi tempat tinggal para karyawan, bodyguard, dan juga supir. Jadi di masing-masing paviliun ada 2 pelayan yang akan merawat dan juga membersihkan nya nyonya muda. Sehingga 12 pelayan sudah terpakai oleh paviliun saja nyonya. Sekarang hanya sisa 8 karyawan yang tugas nya di bagian halaman depan dan belakang. Sedangkan untuk kebun bunga dan buah itu tukang kebun yang menjaga nya nyonya." Timpal pak Dadang dengan menghela nafasnya itu.
Viola yang mendengar nya semakin merasa pusing. Baru saja ia kembali tapi semua yang ada di hadapannya semakin membuat nya kepusingan saja.
__ADS_1
"Baiklah pak saya mengerti! Oh iya pak di mana Tara?" Tanya Viola ketika ia sadar tidak melihat keberadaan adik nya itu.
"Nyonya Tara katanya ingin melihat hasil nilai kelulusan nya di sekolah nyonya muda." jawab pak Dadang kembali.
Saat itu Tara sedang duduk di halaman belakang. Namun dia juga bosan dan memilih untuk ke sekolah nya dan juga kumpul bersama teman nya.
"Oh baiklah pak jika seperti itu." Viola merasa tenang karna adik nya tidak berada di sini. Karna jika Tara ada di situ maka urusan nya akan semakin runyam.
"Iya Nyonya muda." Balas pak Dadang pada nyonya muda nya.
Suasana kembali senyap, tidak ada satu pun diantara mereka yang bersuara. Viola semakin merasa pusing, dia tidak mungkin terus saja mengajak mereka bicara sedangkan mereka semua hanya diam saja dan mengiyakan semua perkataan nya.
"Istriku! Mengapa kau belum kekamar kita?" Darren yang melihat Viola masih berdiri di ruang tengah langsung menghampiri Viola.
Sedangkan Viola yang mendengar suara Darren langsung terkejut. Begitu juga dengan yang lain nya. Mereka tidak hanya terkejut namun juga sangat takut.
"Darren! Kau mengejutkan ku saja." Ketus Viola pada Darren.
"Kau itu!" Darren pun mengacak-acak rambut Viola ketika melihat bibir istri nya itu yang sudah manyun.
"Kalian semua! Mengapa masih disini?" Darren pun kembali menatap mereka dengan tajam.
"Darren aku yang menyuruh mereka kesini. Karna, tadi kulihat mereka berlarian seperti sedang di kejar singa!" Sindir Viola pada Darren.
"Jadi maksud mu aku singa nya ya?" Darren menatap dingin ke arah Viola.
"Ti-tidak bukan itu maksud ku Darren!" Viola yang melihat Darren menatap nya merasa takut.
"Istri ku! Kau jangan banyak bicara, luka mu itu belum pulih jadi sebaiknya kita kekamar." Darren pun menggenggam tangan Viola.
"Dan kalian semua bubar lah! Kerja kan apa yang harus kalian kerjakan!" Tegas Darren pada mereka. Dengan segera pak Dadang pun menyuruh mereka untuk pergi dari sana.
"Tuan muda, nyonya muda. Saya permisi!" Pak Dadang yang sudah menyuruh para bawahan nya untuk pergi dari hadapan tuan muda nya. Kini giliran pak Dadang yang juga ingin membiarkan majikan nya itu berdua saja.
Sekarang hanya ada Darren dan Viola di ruang tengah. Viola yang bingung dengan keadaan yang di lihat hanya bisa mengelus kepala nya.
"Istri ku! Apalagi yang kau tunggu? Sekarang segeralah beristirahat!" Perintah Darren pada Viola.
"Darren tadi kau sedang apa di luar?" Viola yang penasaran dengan keadaan yang terjadi di luar langsung menatap kearah suaminya itu.
"Istri ku! Jika kau sudah sembuh kau boleh bertanya semau mu! Sekarang kembali ke kamar." Perintah Darren lagi pada Viola dengan sangat tegas nya.
^^^Bersambung...^^^
__ADS_1
...****************...